Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
150 : Hore, Mas Aidan Datang!


__ADS_3

“Dih, Sep, ... kamu keterlaluan banget! Patah semua tulang Papah kalau begini caranya!” rengek pak Yusuf.


Karyawan di sana tak ada yang berani mendekat apalagi menolong. Semuanya kompak pura-pura tidak tahu, memilih menyibukkan diri dengan merapikan semua yang berantakan di sana khususnya sepeda motor yang sampai remuk.


“Pokoknya aku enggak mau tahu, Pah. Kalau cara Papah terus begini, aku enggak segan laporin Papah ke polisi!” tegas Septi.


“Tapi Papah beneran lagi enggak ada duit, Sep!” mohon pak Yusuf. “Mau kamu belek perut Papah pun, enggak akan ada duit yang keluar!”


“Taiii banget emang kamu, Pak!” kesal Septi yang sudah akan menjatuhkan diri ke tubuh sang papah.


“Oke, Sep. Oke!” ucap pak Yusuf menyerah.


Misi hari ini selesai. Tak sia-sia dari kampung ke Magelang dan sampai nyaris tujuh jam perjalanan. Juga, pak Haji yang merasa bangga karena akhirnya Septi bisa tegas, mau belajar dari arahannya. Membuatnya merasa pengorbanan yang ia lakukan hingga mereka sampai ada di sana, tak sia-sia.


“Sebenarnya kamu mau menikah sama laki-laki macam apa sih, Sep?” tanya pak Yusuf kesulitan dan memang mendadak tidak bisa bangun. Bergerak saja, ia hanya mempu melakukannya dengan sangat terbatas.


“Sep, ini tolong bantu Papah, dong. Papah enggak bisa gerak,” rengek pak Yusuf masih merengek kesakitan.


“Nah, loh ... jangan-jangan langsung stroke? ” ujar pak Haji curiga karena pak Yusuf sampai jadi begitu.


“Biarin sih, biar enggak ada yang mau sama Papah lagi. Syukurin, azab nyata ini!” ujar Septi yang malah kegirangan saking keselnya kepada sang papah. Baginya, akan jauh lebih aman jika sang papah beneran stroke agar tidak hobi nikah lagi dan pada akhirnya hanya dikuras harta kekayaannya oleh si wanita.

__ADS_1


***


Sementara itu di tempat berbeda, Angga tengah mengantar setiap pesanan nugget. Pria itu menggunakan motor mengunjungi setiap rumah, kantin, atau warung yang memesan dan sebelumnya memang order lewat WA. Terakhir Karena rumah paling jauh, Angga mengajak tarkan pesanannya ke rumah Widy.


Ini menjadi kali pertama Angga mengantar pesanan ke rumah Widy dan memang menjadi pesanan paling banyak. Karena walau sebelumnya Angga sudah menawari, Widy menolak dengan dalih takut merepotkan. Namun tampaknya kini wanita itu sudah yakin bahwa Angga memiliki sistim antar pesanan. Pengantaran yang dilakukan serempak berdasarkan kapan pesanan itu dibuat, sesuai periodenya karena memang akan sangat mempengaruhi waktu antarnya.


Rumah orang tua Widy yang otomatis juga rumah orang tua Arum, sukses membuat Angga pangling. Di tanah terbilang luas di sana tak lagi dihiasi rumah gedong berukuran besar. Sebab kini hanya meninggalkan bangunan gubuk kecil di sebelah bekas bangunan rumahnya. Keadaan tersebut membuat Angga berpikir, apakah rumah orang tua mantan istrinya itu telah menjadi korban bencana alam? Kapan? Angga sungguh ingin tahu walau tentu saja kepeduliannya itu sudah sangat terlambat. Karena jangankan menjadi suami yang baik di masa lalu kepada Arum yang sudah sangat mengabdi, menjadi papah yang layak untuk Aidan saja, tidak.


“Tapi ini beneran, rumah Widy?” pikir Angga yang memang menjadi tidak yakin. Karenanya, ia sengaja memastikan dan setelah ia melongok di rumah sangat sederhana yang bagian depannya merupakan warung, ia melihat sang mantan ibu mertua tengah mewadahi air di kantong biasa orang membuat es batu.


“Assalamualaikum, Bu? Maaf, saya mau antar pesanan Widy.” Jujur, hanya untuk mengucapkannya, Angga membutuhkan keberanian sekaligus nyali yang sangat besar. Di hadapannya, ibu Rusmini kebingungan menatapnya. Wanita yang namanya terbilang sangat mirip dengan nama mamah Angga itu, seolah tidak mengenali Angga.


“Saya Angga, Bu. Mau antar pesanan nugget Widy,” lanjut Angga yang mengakhirinya dengan senyum tak berdosa. Barulah setelah itu, ibu Rusmini seolah langsung ngeh atau itu paham.


“Hah? Gimana, Mak, enggak jelas? Ini si Salwa nangis terus dari tadi. Ya ampun, kepalaku berasa sampai sudah retak,” balas Widy yang tangan kirinya masih diperban.


Sadar sang anak kewalahan mengurus ketiga anaknya yang terus saja ingin menempel kepada Widy, ibu Rusmini segera mengambil Salwa, mengembannya secara paksa lantaran bocah itu tidak mau.


“Ayo ikut Nini, tungguin Mas Aidan, nanti Mas Aidan mau datang lagi. Wawa sayang Mas Aidan, kan?” bujuk ibu Rusmini yang sangat tahu, jurus andalan membujuk anak perempuan Widy itu wajib menggunakan Aidan.


Salwa yang matanya sudah basah, langsung mengangguk-angguk nurut. Membuat ibu Rusmini segera menggiring dua anai Widy yang masih tersisa dan memang tampak tantrum.

__ADS_1


“Sini ikut Nini dulu, Ibu lagi masak. Sini, sini, tunggu Mas Aidan,” bujuk ibu Rusmini. Padahal, tidak ada janji Aidan akan datang.


Widy malah yang jadi khawatir, takut anak-anaknya tantrum makin parah kalau Aidan tidak benar-benar datang. “Nanti kalau enggak datang beneran, pasti pada ngereog berjamaah, Mak!” lirih Widy khawatir.


Ibu Rusmini jadi kebingungan dan refleks menelan ludah. “Nanti teleponin lah, Mamak juga kangen.”


Widy yang mematikan kompornya karena ia harus menemui Angga, berangsur menghela napas. “Kan baru kemarin ke sini, mereka kan sibuk benget.”


“Ya dicoba dulu.” Kali ini ibu Rusmini benar-benar memohon karena ia memang sangat rindu pada Aidan maupun kebersamaan keluarga kecil mereka yang dilengkapi oleh Kalandra maupun Arum.


Sementara itu di luar rumah, setelah membuka wadah penampung yang menghiasi motor matic bagian belakangnya, Angga yang memboyong dua kantong besar dari sana, langsung membawanya masuk. Walau tentu saja, ia hanya berani sampai depan pintu. Rasanya sangat aneh. Mereka yang sempat dekat kini malah menjadi orang asing yang terlibat dalam kerja sama.


Sore sudah makin redup menyisakan kesibukan yang harus segera diselesaikan layaknya apa yang tengah Angga lakukan. Namun, pria itu langsung dibuat terkejut ketika melihat penampilan Widy yang sekarang. Bukan karena wanita itu tak berjilbab, tapi karena luka-luka Widy khususnya yang di wajah dan juga tangan kiri. Lukanya sangat parah termasuk yang di wajah, dan bisa Angga pastikan akan sulit hilang jika tidak ditangani secara khusus.


“Parah banget loh, itu. Kamu sudah berobat?” sergah Angga.


Widy yang menjadi canggung, berangsur mengangguk-angguk. Ia masih menutupi perban di tangan kirinya menggunakan kain jarit. Kali ini Widy memang memakai kemeja lengan pendek. Karena selain memang sangat risi sekaligus sakit, memakai lengan pendek lebih disarankan untuknya yang tangannya memang masih bengkak.


“Sudah, Mas. Sudah diobati. Terus, itu totalnya jadi berapa?” balas Widy yang sampai tersenyum canggung.


Angga baru akan meletakan dua kantong besar di tangannya, tapi di luar, ibu Rusmini sudah heboh bersama ketika anak Widy yang salah satunya wanita itu gendong.

__ADS_1


“Mas Aidaaaaan! Hore, Mas Aidan datang lagi! Hore ... horeee!”


Tak hanya suara heboh tersebut. Sebab klakson mobil yang terdengar makin mendekat, juga turut melengkapi kehebohan tersebut.


__ADS_2