Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
203 : Ikatan yang Makin Kuat


__ADS_3

“Jadi, kalau kamu masih sibuk kerja, saya pastikan, bakalan ada yang ngandangin kamu!” Yang Sekretaris Lim maksud ngandangin, ibarat dijemput paksa terus dikurung.


Padahal, kini tengah sesi tukar cincin, tapi yang dibahas malah kekhawatiran Sekretaris Lim terhadap Widy yang ia takutkan tetap sibuk kerja. Namun tentu saja, teguran penuh perhatian itu makin membuat Widy tersipu. Berhadapan sedekat sekarang dan menjadi tontonan semuanya saja, sudah bikin Widy tak karuan, kok iya masih menggoda Widy dengan kata penuh perhatian berhias tatapan penuh cinta dan senyuman yang sungguh membuat Widy nyaris tumbang.


Tak pernah terpikir sedikit pun oleh Widy bahwa nuansa cinta layaknya sekarang akan terjadi. Sebelumnya Widy sama sekali tidak berekspektasi, tapi kenyataan sungguh membuat wanita itu menjadi tak hentinya bersyukur.


“Arrrgggh! Hatiku remuuuukkkk! Janda kesayangan mau tukar cincin yang dengan kata lain, sekarang hanya tersisa Widy wariyem!” Pak Haji berakhir terduduk selonjor nyaris kejang-kejang.


Arum dan Kalandra yang sampai menggenggam kedua tangan satu sama lain sambil menyimak, tak bisa untuk tidak tertawa walau Pak Haji sudah begitu sejak awal. Sejak pihak Sekretaris Lim mengatakan akan ada sesi tukar cincin, padahal mereka pikir tak akan ada sampai situ.


“Tuh kakek beneran ajaib. Tapi ya enggak apa-apa, tanpa tuh kakek, hidup kita pasti kurang berwarna,” ucap Sekretaris Lim yang pada akhirnya tetap memasang cincin emasnya di jari manis tangan kirinya.


“Kalau boleh, saya mau bawa tuh kakek ke Jakarta. Tapi dipikir-pikir, daripada bawa dia, mending bawa kamu.” Lega, itulah yang Sekretaris Lim rasakan setelah akhirnya, cincin emas yang ia sematkan, terpasang pas di jari manis tangan Widy. Membuat pak Haji yang sedari tadi berdrama heboh sendiri, sampai guling-guling di lantai dan perlahan mencoba mendekat dengan cara merayap mirip ular.


“Dek Widy, pasangan cincinnya ke tangan saya saja. Kalaupun enggak muat, pasangin di jari kaki saja!” mohon pak Haji masih berusaha.


Widy yang baru mengambil cincin untuk Sekretaris Lim refleks menahan senyumnya. Tanpa menunggu lama apalagi takut anaknya menangis, Widy langsung memasang cincinnya. Seperti miliknya, cincin untuk Sekretaris Lim juga pas dan hanya ada sedikit sisa ruang untuk lepas pasangnya.


“Ajur, ... ajur! Bakalan sibuk rebonding janur kencur pokoknya! Eh, kok janur kencur, janur kuning!” keluh pak Haji benar-benar pasrah dan memilih tiduran di lantai.


“Lim! Kamu bikin kakek itu jadi setengah waras!” Sekelas Tuan Maheza sampai menitikkan air mata di tengah tawanya yang susah payah ditahan hanya karena menertawakan pak Haji. Lain dengan ibu Aleya yang sibuk mengelus perut sambil bilang, “Amit-amit”.


“Rum, itu orang mana? Kasihan banget, coba kita antar pulang saja. Aku minta supir suamiku buat antar juga enggak apa-apa. Histeris gitu, mirip sapi pas mau dibelih di hari kurban!” ucap ibu Aleya yang masih sibuk mengelus perut.


Arum yang juga tertawa, berangsur menatap ibu Aleya yang masih duduk di hadapannya. “Rumahnya dekat pasar kecamatan asalku. Gimana sih, ya. Memang adanya gitu. Aku, jadi bingung jelasinnya. Dia kan sudah punya dua istri dan paling demen ngejar cintanya janda cantik.”


“Astaga ....” ibu Aleya tertawa lemas.

__ADS_1


“Dy, ... coba kamu dadah-dadah ke si Mbah sambil pamer cincin, biar lebih sopan!” tegur Kalandra sambil menahan senyum.


Ibu Kalsum langsung tertawa heboh. “Bukannya lebih sopan, malah lebih remuk, Mas!”


“Lawak banget! Seheboh ini, pantas kamu betah bareng mereka!” komentar Sekretaris Lim yang juga menjadi sibuk menahan senyum.


“Bener sih, selelah apa pun kalau tiba-tiba bareng mereka, beneran enggak terasa,” balas Widy yang hanya berani sesekali menatap Sekretaris Lim.


“Iya, sampai kayak enggak punya beban. Saya juga langsung betah di sini.” Sambil melirik Widy penuh arti, Sekretaris Lim berkata, “Pulangnya diundur saja kali, ya?”


“Bohong!” sergah Widy cepat karena telanjur tak percaya, pria yang baru saja mengikatnya itu benar-benar akan lebih lama tinggal di sana. Terbukti, Sekretaris Lim yang awalnya menahan tawa malu-malu, menjadi tersipu.


“Dua minggu lagi, saya pasti ke sini,” yakin Sekretaris Lim dan kali ini menatap Widy penuh keseriusan.


“Hafal jalan?” balas Widy.


“Sudah, Mbah. Istirahat. Mau ikut shalat tarawih, enggak?” tegur ibu Kalsum yang kemudian meminta sang suami untuk membantu sekaligus mengurus pak Haji.


“Saya belum menyerah, Pak DRP!” yakin pak Haji ketika pak Sana sampai jongkok hanya untuk membantunya.


“Iya, enggak apa-apa. Yang penting tahu batasan. Jangan ngomong kasar, apalagi nekat sentuh-sentuh. Kalau sampai terjadi, nanti saya sendiri yang antar Mbah ke kantor polisi!” balas pak Sana.


“Dengar papahnya Kalandra bilang gitu, saya jadi takut sendiri,” lirih Sekretaris Lim masih menggandeng Widy. Malahan, gandengan tangannya menjadi lebih erat.


“Jangan mikir macam-macam, doa terbaik saja. Semuanya pasti akan baik-baik saja,” lirih Widy meyakinkan sambil menatap Sekretaris Lim.


Setelah menyimak, Sekretaris Lim mengangguk. “Ya sudah, dua minggu lagi, saya pasti ke sini!”

__ADS_1


Mendengar penegasan barusan, Widy merasa, ada janji yang seketika mengikat hubungan mereka. Janji yang juga membuat status hubungan mereka makin kuat. Hati Widy menjadi berselimut rasa hangat karenanya.


Sebelum kebersamaan mereka benar-benar usai, mereka sengaja menunaikan shalat tarawih berjamaah di masjid kemarin. Semuanya tampak khusyu tanpa terkecuali pak Haji yang sedari awal kebersamaan sudah sibuk patah hati. Dan tak beda dengan acara kemarin, kali ini Arum juga kembali tidak ikut ditemani ibu Alea dan Cinta. Karena di tarawih kali ini, Cikho yang tidak tidur sengaja diajak oleh Tuan Maheza.


***


Dokter Andri : Assalamualaikum, Dy. Sudah tidur, belum?


Membaca pesan tersebut, Widy yang memang baru akan bersiap tidur, walau sang mamak maupun ketiga anaknya sudah lelap, menjadi bingung.


“Ngapain dokter Andri mendadak WA, memangnya dia enggak tahu kalau aku sudah lamaran?” pikir Widy yang kemudian refleks menatap cicin emas yang kini menghiasi jari manis tangan kirinya. Cincin emas yang sedang sangat berkilau-kilaunya, mirip hati dan cintanya kepada pemberinya.


“Ya sudah aku balas. Enggak sopan juga kalau nyuekin orang apalagi sahabat Mas Kala,” pikir Widy yang berangsur duduk di pinggir tempat tidur.


Widy : Walaikumsalam, Dok. Iya, ini baru mau tidur. Oh, iya, apa kabar mamahnya Dokter? Sudah mendingan, kan?


Seperti biasa, kali ini dokter Andri juga langsung membalas.


Dokter Andri : Alhamdullilah, Dy. Setelah proses panjang karena mamahku memang sekeras baja, ... akhirnya Mamah mau menyadari kesalahannya. Mamah juga ingin minta maaf ke kamu.


Widy : Oh, alhamdullah kalau gitu.


Dokter Andri : Dan yang lebih alhamdullilahnya lagi, akhirnya mamah restuin hubungan kita!


“Heh?” refleks Widy yang langsung tidak bisa membalas pesan dari dokter Andri lagi. Jemarinya mendadak kaku lantaran ia terlalu bingung.


Catatan : Buat kalian yang masih ikut baca, tolong cek rating alias bintang yang kalian kirim buat cerita ini. Kalau kalian merasa masih kasih bintang satu, mohon dikoreksi dulu karena bintang satu juga ibarat membunuh nyawa novel ini. Di segi penilaian sistim pun berpengaruh. Jangan spam apa bom like juga ya. Kasihan novel sama sayanya, sudah mau empat bulan kan, nulis penuh drama di tengah kesibukan. Lihat-lihat dikasih bintang satu, katanya kecewa. Tapi aku cek, masih ikutin like setiap babnya, jadi aku mikir, ini salah pencet apa bagaimana.

__ADS_1


__ADS_2