
“Yang, ... besok jadi hari terakhir kita cuti bersama, kan?” ucap Kalandra yang baru keluar dari kamar mandi.
Melangkah cepat, Kalandra langsung mengambil posisi tidur di belakang punggung Arum. Kemudian, ia menghela napas panjang sambil memejamkan kedua matanya. Mencoba serileks mungkin. Kalandra merasa kelelahan, dan memang merasa sangat lelah karena dari sebelum hari pernikahan mereka hingga hari ini, mereka malah tidak ada waktu untuk benar-benar santai.
“He’um.” Arum yang Kalandra ketahui sedang menyusui Aidan hanya bergumam sambil mengangguk lemah.
“Besok kita di rumah saja, ya? Istirahat total, badanku rasanya remek. Ngrememeh ....” Kalandra mengakhiri ucapannya dengan mendengkus pelan, merasakan tubuhnya yang terasa meriang.
“Asal masih napas, Mas.”
Jawaban Arum barusan dan terdengar melantur, seolah menjadi panggilan tersendiri untuk seorang Kalandra. Pria itu berangsur membuka kedua matanya, kemudian agak bangun untuk melongok wajah Arum.
“Oalah, ... pantas. Sudah tamasya ke pulau mimpi duluan, makanya jawabannya melantur,” lirih Kalandra yang kemudian menjadi tersipu.
Melihat wajah Arum membuat Kalandra teringat kejadian sore tadi, ketika mereka masih di peternakan. Sebelum mereka pulang, Kalandra dengan sengaja menjaili Arum, membopong tubuh istrinya itu kemudian berusaha melemparnya ke kolam lele. Arum nangis kejer sekaligus ketakutan. Ekspresi lucu yang kini menjadi alasan seorang Kalandra kembali tertawa. Namun karena kedua rekan kamarnya sudah lelap, Kalandra berusaha menahan tawanya.
“Kayaknya Arum juga kecapian, sih. Apa besok undang tukang pijat saja, ya?” Kalandra memutuskan untuk menarik laci nakas paling atas, yang ada di sebelahnya. Ia mengambil stok koyok dari sana. Menggunakannya di kedua telapak kaki, tengkuk, pinggang, dan juga kedua sisi punggung. Hal yang juga turut ia lakukan kepada Arum. Malahan kepada Arum, ia sampai memijat telapak kaki wanita itu layaknya pijatan terapi.
“Hah! Waktunya tidur!” lirih Kalandra bersemangat kemudian turut menyelimuti tubuhnya menggunakan selimut yang sebelumnya sudah kembali ia selimutkan ke tubuh Arum.
“Memang cape banget, tapi rasanya juga bahagia banget!” batin Kalandra. Ia yang sudah berbaring berangsur meringkuk dan nyaris mendekap Arum dari belakang. Namun, posisi tersebut membuat tubuhnya yang benar-benar lelah, merasa menjadi makin tidak nyaman.
***
Pagi sekitar pukul delapan, Kalandra baru kembali bangun setelah sebelumnya menunaikan salat subuh tapi pria itu melakukannya di rumah, tidak sampai berjamaah di masjid raya bersama sang papah. Alasan Kalandra bangun pun tentu saja karena Aidan yang membangunkannya.
Seperti yang Kalandra duga, sang istri yang sudah tidak ada di kamar, ia temukan di dapur dan baru saja menyalakan kompor. Arum merebus air dalam jumlah banyak.
“Mau ngapain, Yang?” tanya Kalandra.
“Mau masak basur.” Arum tersenyum tak berdosa tapi ia mendadak terlonjak kaget karena dari samping selaku keberadaan pintu dapur menuju belakang rumah Kalandra, ibu Kalsum berteriak panik.
__ADS_1
“Si Mamah emang, suaranya lebih merdu dari toak,” ucap Kalandra sembari menggeleng tak habis pikir. Seperti biasa, bukan orang tuanya jika dalam kebersamaan tidak sampai heboh.
Di belakang rumahnya sana, ibu Kalsum lari ketakutan karena basur yang dibe-lih sang suami malah berlari mengejarnya dengan keadaan leher mengucurkan darah deras.
“Papah doanya yang bener, dong! Mamah beneran takut ini!”
Walau ibu Kalsum sibuk mengomel, selain menanggapi dengan sangat santai, pak Sana juga kerap tertawa sekaligus menjaili sang istri.
“Basur sama entok emang gitu kalau dibe-lih,” lirih Arum yang memperhatikan kehebohan mertuanya di belakang sana. Ia melakukannya dari depan pintu di sebelah Kalandra. “Udah sana bantuin!” lanjutnya kali ini menegur sang suami lantaran baru saja, ibu Kalsum sampai menangis, setelah sebelumnya sampai terpeleset dan terbanting hanya karena wanita itu sibuk menghindari kejaran basur.
“Maaf, Mah. Maaf,” ucap pak Sana yang antara merasa bersalah tapi masih saja tidak bisa untuk tidak tertawa. Tentu saja ia menertawakan ekspresi lucu sang istri.
Arum yang juga menjadi sibuk tertawa, sengaja mengumpet ke dekat kompor agar tidak terlihat sang mamah mertua. Sebab Arum yakin, mamah mertuanya itu akan merasa sangat malu jika tahu ia menyaksikan kejadiannya.
“Mas, ... Mamah sampai pipis di celana ini, gimana!” keluh ibu Kalsum enggan dibangunkan lantaran telanjur ngompol di celana.
Ibu Kalsum memilih tetap meringkuk di pekarangan belakang rumahnya yang terbilang masih luas. Selain itu, di belakang pekarangan rumahnya juga masih banyak rumah warga lainnya, meski dari semuanya tidak ada yang lebih mewah dari rumahnya.
“Kalau dipikir-pikir, mamah sama papahnya Mas Kala, mirip aku sama Mas Kala lah wong kemarin saja, pas mau dicegurin ke kolam lele, aku nyaris ngompol juga di celana. Lihat, si Papah bahagia banget sampai jongkok-jongkok nahan tawa,” batin Arum yang diam-diam mengintip dari sebelah pintu lantaran penasaran. Alasan yang juga membuatnya tahu, kedua basur yang dibe-lih malah sudah kabur jauh.
“Oalah!” ucap Kalandra dan pak Sana refleks melihat kepergian basurnya yang kompak melangkah cepat sekaligus beriringan.
Kalandra dan sang papah kompak berlari, mengejar, membuat ibu Kalsum ditinggal dan wanita itu kembali merengek. Karenanya, Arum yang menolong dan membuat ibu Kalsum makin sibuk merengek menahan malu.
“Mamah sampai ngompol, Mbak!” enggak apa-apa, Mah. Enggak apa-apa. Ya sudah, Mamah sekalian mandi saja. Nanti basurnya biar aku yang masak apalagi ada bibi yang bantu-bantu.” Arum terus berusaha menenangkan mamah mertuanya.
“Ya sudah, sini Aidannya sekalian mandi sama Mamah, tapi kamu tolong siapin air hangat buat Aidan dulu, ya.” Ibu Kalsum yang berangsur lebih tenang, mengambil alih Aidan yang juga langsung mau dengannya.
Santai hari ini benar-benar terealisasi. Walau tentu saja, di beberapa kesempatan Kalandra akan sibuk mengurus pekerjaan lewat ponsel maupun laptop. Di teras samping rumah, kebersamaan mereka terjalin. Hanya Kalandra dan Arum karena Aidan tengah pulas di boks bayi yang keduanya sanding.
Dering tanda pesan WA masuk di ponsel Arum, tak hanya mengusik Arum. Sebab Kalandra yang duduk di hadapannya juga tak kalah terusik. Apalagi, pesan WA yang masuk terus berlanjut.
__ADS_1
Arum segera memastikannya. Di sela kesibukannya menatap layar laptop sambil sesekali mengetik di papan tik laptopnya, Kalandra mendapati Arum yang menjadi lemas bahkan sedih. Istrinya itu mendadak berkaca-kaca.
“Kenapa, Yang?” sergah Kalandra yang masih berbicara dengan suara lirih.
Berlinang air mata, Arum memberikan ponselnya kepada sang suami. Kalandra langsung menyikapinya dengan sangat serius. Pria gagah itu tak lagi fokus ke hal lain termasuk pada laptop yang sejak satu jam lalu, sudah menyita kesibukannya. Kalandra langsung fokus menatap layar ponsel Arum.
Ternyata Arum mendapat pesan dari pekerja
dapur rumah sekaligus kantin rumah sakit yang Arum gantikan. Pekerja tersebut sedang membutuhkan pekerjaan sekaligus biaya cukup besar. Karenanya, pekerja tersebut dan bernama ibu Yuli, sengaja izin ke Arum. Ibu Yuli ingin kembali mengambil alih pekerjaan yang sudah Arum ambil alih, beberapa bulan terakhir.
“ALHAMDULLILAH!” Kalandra benar-benar bersyukur. Ia langsung kegirangan menyalami Arum.
“Selamat, yah, Yang!” ucap Kalandra.
“L-loh, Mas! Ini ibarat di pekerjaan resmi, aku ini di PHK, loh!” protes Arum.
Kalandra menertawakan tanggapan Arum. “Bukan perkara itu. Namun setidaknya, selamat karena dengan kata lain, kamu akan jadi orang yang bisa agak santai!”
“Mas Kala ih, aku beneran sedih karena jadi enggak punya pekerjaan tetap, eh Mas malah ....” Arum menjadi sewot.
“Sudah, enggak usah sedih. Nanti aku traktir bakso di sebelah perempatan lampu merah. Asli bakso di sana enak banget, Yang! Kamu harus coba, biar nanti sekalian kita rayain, hari Dwi Arum Safitri akan menjadi orang santai!” Kalandra sengaja meledek istrinya, terlepas dari ia yang tak kuasa mengendalikan tawa girangnya.
“Hari PHK kok sampai dirayain ya Alloh Mas Bojo.Terus, orang santai apa? Pengangguran sukses, iya!” sewot Arum masih menangis.
Baru Arum sadari, bersama Kalandra dirinya menjadi sangat manja. Layaknya sekarang, ia sampai merengek-rengek.
“Satu minggu lagi, kita kan mulai buka orderan bebek, ayam, sama ikan itu loh, Yang. Ya sudah, seminggu ini istirahat total dulu,” yakin Kalandra.
“Oh, ... satu minggu lagi beneran dimulai, Mas?” balas Arum langsung bersemangat.
“Ya sengaja aku adain dadakan. Karena aku tahu, istriku paling enggak bisa diem. Kamu itu tipikal yang bisa sakit atau malah setress kalau enggak punya kesibukan apalagi kesibukan yang menghasilkan uang, kan?” balas Kalandra tak lagi menertawakan Arum. Malahan, ia menatap wanitanya itu penuh cinta. Lihatlah, setelah terlihat tak percaya, Arum langsung tersipu dan juga tersenyum kegirangan.
__ADS_1
“Cantiknya kalau lagi gitu,” ucap Kalandra sengaja memuji.
Arum langsung kikuk seiring kedua pipinya yang menjadi bersemu. “Aku memang secantik ini, Mas!” ia sengaja membalas pujian Kalandra. Lihatlah, suaminya itu langsung terbahak, menggunakan tangan kanannya untuk membekap mulut guna meredam tawa.