
“Jangankan Ibu sama anak Ibu, yah, Bu. Lamaran saya saja ditolak.” Sekretaris Lim sengaja menjadi pengendali roda kehidupan seorang ibu Muji. Ia tengah berusaha melanjutkan perdebatan sengit yang dilakukan dengan sangat cantik oleh Widy kepada ibu Muji, beberapa saat lalu.
Ibu Muji langsung tercengang, menatap tak percaya kehadiran Sekretaris Lim. Sementara di sebelahnya dan baru ia tatap, sang putra tampak jauh lebih tenang, meski jika dilihat dari ekspresinya, dokter Andri juga tak kalah terkejut.
“Sejak penolakan itu, saya sudah langsung curiga, pasti ada yang sudah bikin gara-gara dan sampai bikin Widy trauma. Dan ternyata memang benar, Ibu jawabannya!” lanjut Sekretaris Lim.
“Dirujak sampai lembut saja, Mas, mamah saya. Dibilangin sama keluarga apalagi orang yang dia sepelekan, mana mempan. Memang harusnya dirujak sama orang lain yang lebih dari dia. Biar enggak bikin malu terus!” kesal dokter Andri yang kemudian melenggang pergi untuk membuang keperluan infus yang tak terpakai.
Sekretaris Lim langsung menggeleng tak habis pikir. Ia berangsur bersedekap, dan memang siap merujak ibu Muji hingga lembut sesuai permintaan dokter Andri. “Sekarang lawan Ibu Saya!” tegasnya. “Karena jika menurut Ibu, Widy tidak selevel dengan Ibu, saya bisa jadi lawan yang levelnya jauh lebih tinggi dari Ibu!”
“Sudah, sekarang mau Ibu apa? Saya ladenin mumpung saya belum kembali ke Jakarta!” lanjut Sekretaris Lim.
Ibu Muji tetap diam dan kemudian menunduk dalam. “Jangan ikut campur lah kalau enggak tahu duduk permasalahannya.”
“Tentu saya akan ikut campur karena seperti yang saya bilang tadi, lamaran saya ditolak gara-gara Ibu!” tegas Sekretaris Lim berusaha membuat Ibu Muji jera. Wanita itu langsung sibuk menghindari tatapannya dan terlihat sudah langsung takut.
Pria berkemeja putih dipadukan dengan celana panjang warna abu-abu rapi khas orang kantoran di sebelahnya, dirasa ibu Muji memang bukan orang biasa. Dari fisiknya yang bersih dan tampan, itu tampang fisik orang kaya. Apalagi, Sekretaris Lim juga terlihat jelas masih berdarah chinese. “Tapi masa iya, ada cina yang mau sama Widy? Dari mana ceritanya? Namun andaipun Widy nyewa nih orang buat ngerjain aku, si Widy duit dari mana?!” batin Ibu Muji lagi makin berpikir keras. Terlebih ketika Widy dan ibu Ripah kembali, Sekretaris Lim juga langsung memanggil wanita itu.
“Ya ampun ini ... apa lagi, ini? Masalah baru,” batin Widy yang belum apa-apa sudah sibuk menelan ludah karena merasa sangat tak habis pikir.
“Kamu menolak lamaran saya gara-gara ibu-ibu ini?” todong Sekretaris Lim masih bersedekap sekaligus menyikapi keadaan dengan tegas.
Dokter Andri yang duduk di kursi kerjanya langsung bengong menatap Widy karena ia memang menunggu tanggapan wanita itu. Benarkah pria kaya yang kemarin sore muntaber dan memang sempat diurus Widy, sudah sempat melamarnya?
__ADS_1
Widy langsung memelotot syok. “Masa iya, harus sejujur ini?” lirihnya merasa ngenes sekaligus tertekan.
“Ya enggak apa-apa. Logikanya kalau kamu memang wanita enggak benar seperti yang ibu ini tuduhkan, harusnya kamu menerima lamaran saya, dan kamu bisa memanfaatkan saya buat balas dendam ke dia!” tegas Sekretaris Lim, tapi di hadapannya, Widy langsung menggeleng tegas. Jelas Widy tidak setuju.
“Yang waras ngalah, Mas! Lagian, hidup saya terlalu berharga kalau hanya untuk meladeni orang seperti Ibu ini. Yang ada, saya bisa jadi ikut enggak waras! Gini-gini saya juga seorang ibu. Saya ingin tetap menjadi ibu yang baik tanpa harus merampas kebahagiaan darah daging saya sendiri hanya karena ego sekaligus pemikiran saya yang kolot bin kuno!” yakin Widy.
Sekretaris Lim yang menyimak, berangsur mengalihkan perhatian apalagi tatapannya kepada ibu Muji. “Ibu dengar, kan?” ucapnya memastikan, tapi yang diajak bicara tidak menjawab dan perlahan malah pergi, keluar dari ruang pemeriksaan di ruang kerja dokter Andri.
“Kalau mamah saya sudah keterlaluan, sudah langsung dirujak saja. Soalnya kalau sama keluarga, dia beneran enggak mau dengar, selain saya yang enggak mungkin ngamuk-ngamuk hanya agar ucapan saya didengar sama mamah saya sendiri!” ucap dokter Andri yang kemudian juga disusul minta maaf. Permintaan maaf yang sungguh dalam sekaligus berat.
Widy tidak menjawab, dan memilih fokus memberi pak Mul yang ketiduran, makan. Ia membangunkan pria itu, menuntunnya makan bubur ayam yang ia beli.
“Pinjam kursi,” ucap Sekretaris Lim yang mengambil kursi di depan dokter Andri. Ia menggunakan kursi tersebut untuk duduk ibu Ripah.
***
Widy : Mbak,
Pesan tanggung dari Widy membuat Arum yang tengah memperhatikan kedua wajah bayinya dan masing-masing ada di ranjang bayi, langsung terjaga.
Mbak Arum : Iya, Dy, kenapa? Aman, kan?
Widy : Enggak, Mbak! Soalnya si Lim bilang, dia mau nunggu!
__ADS_1
Membaca itu, Arum langsung menahan tawanya demi keamanan jahitan di jalan lahirnya, juga keamanan bersama. Apalagi di tempat tidurnya dan Kalandra, Aidan tak kalah pulas dari kedua adiknya.
“Ya Alloh, angkatlah setiap musibah dari keluarga hamba. Tolong biarkan Widy bahagia, tanpa peduli masa lalunya karena kini, dia benar-benar sudah berubah!” batin Arum.
Mbak Arum : Alhamdullilah kalau gitu, Dy.
Widy : Kok alhamdullilah sih, Mbak? Mbak tolongin ih, aku beneran enggak mau nikah lagi!
Mbak Arum : Ya memang alhamdullilah. Dari yang selevel Agus, terus kamu ditipu Fajar Pongah, terus ada pak Haji juga, dan terakhir dokter Andri yang sangat baik tapi mamahnya taaaiiii, sekarang kamu dapat yang lebih. Malahan, dia juga sanggup tunggu.
Widy : Tapi memang enggak apa-apa sih yah, Mbak. Lagian, siapa juga yang tahan nunggu lama-lama? Paling ujung-ujungnya jenuh terus nyerah.
Mbak Arum : Ya kita lihat saja, siapa tahu Lim satu di antara orang yang sukses dalam menjalani penantian.
Widy : MBAAAAAAAKKKKKKKK
Arum terkikik karena ia sudah bisa membayangkan ekspresi panik sekaligus takut Widy sekarang. Namun, ia masih sanggup membalas pesan adiknya itu.
Mbak Arum : Daripada sama Mbah Haji. Jadi ketiga, mbahnya mau katarak juga. Bahkan dia ngaku sendiri, hati dan kehidupannya ditakdirkan untuk menjadi musafir cinta yang mengabdi kepada janda-janda cantik di muka bumi ini.
Di depan ruang rawat ibu Ripah dan pak Mul dirawat, Widy yang duduk gelisah sambil memangku Salwa yang tak lagi tidur, diam-diam melirik Sekretaris Lim. Di tempat duduk tunggu sebelah sana, Sekretaris Lim tengah berbincang serius mengurus pekerjaan. Namun sesekali, pria itu akan menatapnya, dan itu membuat Widy sangat gugup.
Jadi, kira-kira, Sekretaris Lim siap menunggu berapa lama?
__ADS_1