Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
211 : Selangkah Lagi


__ADS_3

Suasana yang cenderung sunyi, menyelimuti pertemuan Kalandra dan Sekretaris Lim, dengan Agus. Mereka tidak hanya bertiga karena Widy juga ikut serta, menjadi saksi bisu kebersamaan di sana. kebisuan yang terjadi karena pihak Widy khususnya Sekretaris Lim, merasa sangat muak kepada Agus.


Sepanjang kebersamaan, tangan kanan Sekretaris Lim terus saja menggenggam tangan kiri Widy. Saking eratnya genggaman tangan keduanya, ruas jemari tangan kanan dan tangan kiri mereka, terisi oleh jemari satu sama lain.


“Andai saya tidak melihat kamu sebagai ayah dari ketiga anak Widy, sudah saya lempar kamu ke jurang atau malah lava pijar agar kamu terpanggang!” kesal Sekretaris Lim.


Agus mendengkus sebal dan sengaja menepis tatapan tajam mata sipit Sekretaris Lim yang memang masih memakai kacamata bening.


“Orang begini kalau dibilangin bukannya malu, tapi malah ngelunjak! Lihat saja nanti kalau cara kamu begini terus, pasti hukuman kamu bakalan lebih berat,” ucap Kalandra yang kemudian berkata, “Tapi kayaknya kamu malah sengaja memperpanjang hukuman agar bisa makan sama tinggal gratis!”


“Hem ...,” lirih Agus sengaja menyepelekan ucapan Kalandra, walau yang ada, ulahnya itu membuat sepatu pantofel Kalandra mendarat di kepalanya.


“Sakit, Mas!” keluh Agus sembari mengelus-elus bekas sepatu Kalandra di kepalanya.


“Otak kamu tuh yang sakit!” kesal Kalandra sembari memakai kembali sepatu sebelah kanannya.


“Memang bikin emosi sih, kalau berurusan dengan orang seperti Agus ini. Daripada malah makin emosi, lebih baik kita pergi. Pastikan saja dia mendapatkan hukuman paling berat! Termasuk mengenai penelantaran anak, dia juga wajib dapat!” ucap Sekretaris Lim. “Satu lagi! Malam ini juga, kami akan menikah. Saya akan menikah dengan Widy, jadi andai kamu berani macam-macam lagi, ancaman saya yang akan membuang kamu ke lava, beneran bukan hanya sekadar ancaman!” lanjut Sekretaris Lim dengan suara sampai gemetaran saking emosinya.


Apa yang baru saja Sekretaris Lim katakan, langsung menarik perhatian seorang Agus. Agus dengan penampilannya yang dekil dan tak setampan dulu ketika masih menjadi suami Widy, menatap tak percaya Sekretaris Lim kemudian berganti pada Widy yang terus menunduk.


“Kamu sengaja menikah dengan pria sipit ini agar kamu bisa menikah denganku lagi, kan?” tebaknya menerka-nerka, menatap Widy penuh kepastian.

__ADS_1


“Apaan? Siapa juga yang mau nikah lagi sama kamu? Jadi orang kok pede banget! Jangankan menikah lagi, kenal kamu saja, aku beneran sudah ogah!” kesal Widy sambil menatap Agus. “Alasanku masih mau ke sini dan itu menemui kamu, agar aku bisa mengabarkan secara langsung ke kamu, bahwa lepas dari kamu, aku dan anak-anakku menjadi sangat bahagia!” Saking emosinya, Widy juga sampai gemetaran. Tak hanya suara, tapi juga tubuhnya.


Bukannya emosi atau setidaknya tersinggung, Agus malah tersenyum senang. Kalandra makin geregetan hingga memilih mengajak Widy dan Sekretaris Lim pergi dari sana. Apalagi setelah dipertemukan pun, jangankan meminta maaf, merasa bersalah saja, Agus tampak jelas tidak merasakannya.


“Dy, aku yakin kamu enggak akan pernah bisa melupakanku!” teriak Agus yang kali ini sampai berdiri sekaligus tertawa.


Di depan sana, Sekretaris Lim buru-buru membekap kedua telinga Widy dari belakang sambil buru-buru membawa Widy pergi dari sana.


“Biarkan dia terus berbicara. Anggap saja itu satu-satunya hiburan untuknya tanpa harus membuat kita sudi mendengarnya!” bisik Sekretaris Lim kepada Widy yang kedua telinganya masih ia bekap.


Kalandra yang mendengarnya malah makin jengkel kepada Agus yang di belakang sana tengah diamankan oleh petugas untuk kembali dikandangkan.


Membahas pernikahan Widy dan Sekretaris Lim, hari ini juga dan itu setelah salat tarawih, acaranya memang akan terjadi. Pernikahan sederhana, baru ijab kabul dan memang baru pernikahan secara agama. Kendati demikian, keduanya tetap langsung mengurus sederet keperluan agar pernikahan mereka resmi di mata hukum. Widy juga menjadi warga Jakarta demi mempermudah urusan ke depannya. Jadi, hari besok juga, Widy juga sudah akan langsung mengurus pengunduran dirinya dari sekolah wanita itu mengajar.


“Dek Widy, kok aku lihat mobilnya si sipit yah, di depan?” pertanyaan dari pak Haji yang terdengar sangat penasaran, mengalihkan perhatian Widy yang sebenarnya sedang cukup melamun.


Widy langsung menoleh ke sumber suara pak Haji. Ia memergoki pria tua itu melangkah lemas menghampirinya dan memang baru datang. Tak beda dengannya, ketiga anaknya yang sedang makan juga langsung menjadikan kedatangan pak Haji sebagai fokus perhatian.


“Gimana, Mbah?” tanya Widy memastikan. “Tadi saya kurang fokus,” lanjutnya yang kali ini memang sambil kembali menyuapi si bontot Adelio dan tengah ia pangku.


“Jadi, dari tadi kamu melamunin aku, toh?” tanya pak Haji mendadak bersemangat.

__ADS_1


“Ih, fitnah banget ih si Mbah!” balas Widy yang kemudian sengaja mengabarkan rencana pernikahannya. Agar pemuja janda di hadapannya dan masih memakai kacamata khusus, tak lagi berharap kepadanya.


“Mbah, saya punya kabar bahagia!” ucap Widy menjadi tersenyum semringah.


“Wah, cocok ini! Saya memang paling cocok sama kabar-kabar bahagia, pernikahan contohnya. Pernikahan kita!” sergah pak Haji yang buru-buru duduk di tempat duduk kosong dan sudah ada segelas besar es teh yang dilengkapi irisan jeruk nipis.


“Itu punya Ayah Lim!” protes Salwa tak terima tempat duduk kosongnya ditempati pak Haji.


“Ayah Lim? Ayah Lim siapa? Ayah Abdul. Nama ayah, Abdul Goni!” ucap pak Haji berusaha hangat kepada Salwa yang memang duduk di kursi persis sebelahnya.


“Bukan ayah kamu, tapi ayah Lim!” protes Aldo yang tak kalah sewot dari Salwa.


Karena nama yang sama terus disebut, nama yang baginya tidak asing dan ia ketahui sebagai nama orang Jakarta yang telah melamar Widy, perasaan pak Haji juga ikut jadi tidak enak. Berdeham ia lakukan kemudian menghela napas dalam guna meredam semua rasa tidak nyaman yang sempat hadir tersebut.


“Dek Widy, si Lim itu, nama si sipit asal Jakarta itu, kan?” ucap pak Haji hati-hati demi menjaga perasaan sekaligus hatinya sendiri. Karena sampai detik ini, ia masih tidak rela jika Widy yang notabene janda incarannya, malah memilih pria lain dan itu Sekretaris Lim.


Mendengar nama calon suaminya disebut dan itu sudah langsung membuatnya damai, Widy juga membagi kebahagiaannya melalui senyum tak kalah hangat dari perasaan sekaligus situasi hatinya sekarang. “Selepas shalat tarawih, kami akan menikah, Mbah!” yakinnya.


“HAH?!” refleks pak Haji yang kemudian terlihat pilon. Dunia pria itu mendadak hening. Seolah kedua telinganya juga mendadak tak bisa bekerja dengan semestinya layaknya kedua matanya hanya karena kabar yang baru saja Widy sampaikan.


“Iya, Mbah! Nanti, setelah beres shalat tarawih, kami bakalan gelar ijab kabul. Mbah berkenan jadi saksi, kan?” lanjut Widy yang kemudian mengalihkan perhatiannya untuk fokus pada Adelio yang ia suapi. Namun di sebelahnya dan itu ditempati pak Haji, suara jatuh terdengar.

__ADS_1


“Mbaaaaah!” Ketiga anak Widy kompak memanggil pak Haji yang terkapar tak sadarkan diri meringkuk di lantai. Setelah Widy periksa, ternyata pria itu pingsan. Bahkan walau Sekretaris Lim yang baru datang, agar mengguyur wajah pak Haji menggunakan air cuci tangan di baskom kecil yang disediakan. Pak Haji tetap tidak mau membuka matanya.


__ADS_2