
“Akibat jurus serudukan banteng dan badak Septi, pak Yusuf langsung stroke! Hebat banget kan, si Septi?” Pak Haji yang menceritakannya tak kuasa menyudahi tawanya. Masih pagi dan ia baru pulang dari Magelang bersama Septi maupun pak Yusuf yang kini ada di kursi roda.
Pak Yusuf sengaja dibawa karena di Magelang pun sudah tidak ada yang mengurus. Istri baru pak Yusuf yang sebelumnya merupakan biduan, telah menipu pria itu mentah-mentah. Setelah menjadi bagian dari biro umroh bodong, wanita itu minggat bersama suami aslinya membawa banyak uang dan memaksa pak Yusuf untuk membayar semua kerugian.
“Loh, memangnya pas nikah, Pak Yusuf enggak tahu seluk-beluknya?” Kalandra yang awalnya hanya berniat mengantar Arum ke rumah makan, malah ikut nimbrung mendengar drama terbaru dari keluarga Septi.
“Ya enggak ... si Yusuf kan govlok, kena lepet, eh pelet dia! Di sekolahin tinggi-tinggi sampai mondok di pesantren ternama di Jawa Timur, malah govlok minta ampun! Kopet emang!” sergah pak Haji antara emosi tapi juga mengejek pak Yusuf. Lantas, apakah sampai sekarang kalian belum tahu apa itu yang dimaksud kopet dan kerap diucapkan pak Haji maupun Septi di beberapa kesempatan?
Arum yang duduk di sebelah Kalandra, menghela napas dalam sambil mengelus perutnya menggunakan kedua tangan. “Jadi maksudnya, itu wanita sama suaminya sengatnya bekerja sama buat nipu pak Yusuf, ya? Mirip kasus orang pasar, Mas! Bedanya, suami temenku kenanya sama pemandu karaoke!” ia menatap sang suami dengan tatapan sungguh-sungguh.
“Dek Arum, ini juga biduan di karokean!” yakin pak Haji.
“Lah, jangan-jangan, masih orang yang sama, yah, Mbah?” sergah Arum.
“Bisa jadi juga Dek Arum. Hahaha, ... kapok, kapok, kapok!” Pak Haji benar-benar bahagia.
Arum juga turut merasakan kebahagiaan itu walau orang yang dimaksud ada di hadapannya duduk di sebelah Septi memakai kursi roda. Selain itu, pak Yusuf juga terlibat jauh lebih kurus sekaligus tak terawat. Selain warna kulitnya yang menjadi hitam kusam, wajahnya juga berjerawat.
“Terus, ini mau gimana? Masa balik ke Bu Fat? Enggak adil dong, masa pas susah malah balik ke yang sudah dibuang?” ucap Kalandra dengan santainya.
“Ini kata Septi mau didacin ke tukang rongsokk sebelah kontrakannya!” sergah pak Haji yang makin heboh dalam tawanya.
Arum dan Kalandra juga turut merasa bahagia.
__ADS_1
“Sebenarnya kalau masalahnya kayak gini, cukup diurus saja, Pak. Laporkan ke polisi karena jatuhnya penipuan. Nanti saya bantu urus deh, biar Pak Yusuf enggak rugi-rugi amat. Enggak adil buat ibu Fatimah andai Pak Yusuf memaksanya menerima Bapak Lagi, sedangkan Bapak beneran sedang terpuruk,” ucap Kalandra.
Mendengar ucapan Kalandra, Septi langsung melow, berkaca-kaca sementara bibirnya komat-kamit khas akan menangis.
“Beneran bisa diurus, kan, Pak Pengacara?” segah pak Haji yang sepenuhnya serius.
Kalandra mengangguk-angguk. “Bisa, Mbah. Di dunia ini enggak ada kejahatan yang sempurna, kok. Pasti ada celah buat urus ini. Soalnya tuman kalau orang seperti mereka dibiarkan.”
“Tentunya Pak Yusuf juga wajib minta maaf penuh ke Septi khususnya ibu Fatimah. Saya yakin, sebagian penderitaan sekaligus luka-luka mereka akibat keputusan semena-mena pak Yusuf juga jadi alasan kesulitan ini menimpa pak Yusuf,” ucap Arum.
“Bener, Mbak. Bener banget itu. Aku saja mikirnya gitu!” sergah Septi tersedu-sedu sambil menyeka sekitar matanya.
Arum balas menatap Septi. “Nanti semua keputusan ada di tangan kamu maupun mamah kamu. Tapikan cerainya sudah talak tiga dan tinggal diproses pengadilan saja buat putusannya, kan? Ya enggak bisa balik lah.”
Sambil memangku Aidan, Kalandra sungguh mengurus kasus pak Yusuf. “Gini loh Mas Aidan, besok kalau kamu besar, kamu juga harus kayak Papah, ya. Kelak, Mas juga harus bisa merangkul musuh-musuh Mas agar bisa jadi teman bahkan keluarga seperti ini. Jadi orang baik enggak ada ruginya kok. Asal baiknya juga tahu posisi. Kalaupun bukan kita yang menikmati secara langsung, kebaikan yang kita lakukan juga biasanya akan berdampak pada orang-orang terkasih kita,” batin Kalandra berharap Aidan mampu mengikuti jejaknya.
Pulang dari rumah makan Arum, pak Yusuf dititipkan ke rumah pak Haji. Septi pulang sendiri dengan berjalan kaki, tapi di kontrakan sudah sepi karena tentu saja, Sepri juga sudah dibawa jualan oleh ibu Fatimah. Karenanya, Septi memanfaatkan kesempatan tersebut untuk belanja ke pasar. Septi sungguh akan mulai usaha jualan es kepal dan juga macam-macam es lainnya layaknya saran pak Haji. Septi menggunakan pesangon modal dari sang bapak.
Bertemu dengan sang mamah di pasar yang sudah memilik lapak, perubahan Septi tersebut membuat sekelas ibu Fatimah bingung.
“Kamu sakit, Sep?” tanya ibu Fatimah.
“Aku pengin punya banyak duit, Mah. Aku bosen jadi orang miskinn!” tegas Septi. Di pinggir pasar tak jay dari jalan raya, ia segera menyiapkan dagangannya yang baru ia beli.
__ADS_1
“Ini anak kenapa ...?” ibu Fatimah makin bertanya-tanya.
“Ini apa yang kurang yah, Mah? Aku mau bikin es campur isiannya gini saja cukup, kan?” tanya Septi kebingungan karena ia memang sama sekali tidak paham dan hanya menerka-nerka melalui setiap apa yang selama ini ia beli di luar termasuk juga perihal es campur yang sedang ia racik.
“Itu ya kurang. Itu es teler apa es campur? Kalau es teler banyakin es serutnya,” ucap bu Fatimah sambil tetap menggoreng setiap pesanan yang berdatangan walau ia tengah mengemban Sepri. Bukannya memanfaatkan Sepri, tapi semenjak membawa Sepri walau ketidak sempurna fisik Sepri kerap ia pergoki menjadi gunjingan, jualan ibu Fatimah memang makin laris. Ditambah lagi, Sepri juga sering dapat hadiah dari orang pasar mirip saat Aidan masih Arum bawa ke pasar, sebelum menikah dengan Kalandra.
“Es, ya? Kedua es itu terlalu biasa sih Mah. Ini aku mau bikin es yang beda, Mah. Esnya diserut terus dikepal-kepal kayak yang di upin-ipin, terus masukin ke wadah, dikasih taburan jeli, rumput laut, sama buah, terus siram sirup kental, susu kental manis, sama susu yang kaleng ini,” jelas Septi.
“Enak banget itu pasti! Sudah langsung bikin!/Colokannya ke ruko sebelah saja, bilang Mamah yang titip, nanti urusan listriknya, tinggal hitung-hitungan. Sudah cepat mumpung pasar lagi rame-ramenya!” sergah ibu Fatima seiring hatinya yang langsung terenyuh. Perubahan Septi kini sungguh membuat perasaannya menjadi campur aduk.
“Ini laku, Mah, kalau dijual?” tanya Septi memastikan.
“Laku, pasti laku! Nanti Mamah kasih ukurannya. Sudah sana cepat colokin blendernya. Mamah beli dua!” balas ibu Fatimah meyakinkan sekaligus menyemangati.
Septi langsung tertawa dan mulai menghaluskan es batunya, memuk-ulnya sekuat tenaga agar lebih mudah ketika dihaluskan di blender. “Ini namanya es gepluk, bukan es kepal lagi. Tapi pas aku kecil, aku pernah beli, esnya diserut gosrok-gosrok gitu terus dikasih sirup aneka rasa, itu namanya es gosrok. Nanti lah, aku buat juga, modal es batu yang banyak pasti rame apalagi panas-panas gini. Kalau beli satu tiga ribu, kalau beli dua, lima ribu ini, Mah.”
“Iya, itu gelasnya yang kecil saja, kalau yang gede harga lima ribu. Jangan pakai pemanis buatan, pakai sirup utuh sama kental manis saja. Kita utamakan kualitas rasa, kalau sudah coba, mereka pasti suka dan bisa jadi langganan,” jelas ibu Fatimah yang sebenarnya sudah menangis, tapi ia terlalu pintar menyembunyikannya dari Septi.
“Mamah memang paling oye! Nyesel tuh si papah sudah lepasin Mamah!” jelas Septi dan langsung membuat sang Mamah penasaran.
“Oh iya, itu. Kok Mamah lupa tanya. Gimana-gimana? Ini kamu dapat uang dari mana?” sergah ibu Fatimah kepo kemudian meladeni pembeli yang baru saja datang.
Sambil meladeni setiap pembeli gorengannya, ibu Fatimah menyimak cerita Septi yang putrinya itu ceritakan dengan menggebu-gebu. Saking bersemangatnya, es yang tengah Septi sampai remuk tanpa menggunakan blender dan benar-benar hanya modal tongkat pukul.
__ADS_1