
“Sebenarnya, ... aku enggak mau melukai Sepri lebih dalam lagi, Mas!” lirih Septi mengakhiri ucapannya sembari menunduk dalam. “Namun sebisa mungkin, aku akan selalu menyayangi Nissa karena pada kenyataannya, aku memang sudah telanjur sayang ke Nissa ....” Berat sekali rasanya mengatakan itu karena pada kenyataannya, yang ingin Septi rasakan adalah mengenai kebersamaan mereka yang hakiki.
Septi ingin bersama-sama dengan dokter Andri maupun Nissa. Benar-benar selamanya.
“Caramu begini malah tanpa kamu sadari sudah membunuuh mental Sepri, Sep. Pelan-pelan, Sepri harus dibiasakan bersosialisasi. Pelan-pelan, tuntun dia buat mengubah kekurangannya menjadi hal yang tidak sembarang orang bisa melakukannya.” Dokter Andri berucap lirih sekaligus hati-hati. Ia benar-benar sedang berusaha meyakinkan Septi.
“Katakanlah Sepri memang cac4t, tapi bukan berarti kamu malah dengan sengaja membuat mentalnya juga cac4t,” lanjut dokter Andri. Di hadapannya, Septi yang masih menunduk, sudah langsung berlinang air mata.
“Enggak apa-apa Sepri cac4t, yang penting akhlaknya enggak. Dengan kata lain, sudah menjadi kewajibanmu, kewajiban kita buat didik dia karena biar bagaimanapun, kita sebagai orang tua, keluarganya, ibarat lingkungan utama dia tumbuh.”
“Sikap dan sifat kan bisa diubah oleh faktor lingkungan. Enggak ada anak yang tiba-tiba jadi pemalas atau malah kurang 4jar. Lihat Anggun dan anak-anaknya. Semuanya kembali pada lingkungan seseorang tumbuh. Orang tua sebagai sumber didik utama menjadi penentunya karena ibaratnya, kita sebagai orang tua akan menjadi contoh anak-anak. Sedangkan anak-anak ibarat cerminan dari kita karena otomatis mereka juga tanpa sengaja merekam kebiasaan yang kita lakukan, kemudian mempraktikkannya.”
Karena Septi terus menangis, dokter Andri berangsur mendekapnya dengan hati-hati. “Ini aku meluk kamu, tapi tolong jangan dibant1ng, ya!” ucap dokter Andri.
Septi yang dipeluk dokter Andri sudah ingin tertawa dan memang refleks memukull asal lengan kiri pria itu.
“Asliiiiii, ih. Jangan dibantingg!” lirih dokter Andri sambil terus menahan tawanya. Jiwa humornya mendadak meronta-ronta hanya karena disandingkan dengan Septi yang biasanya asal nyerocos bak kereta tak berem.
Tanpa Septi maupun dokter Andri ketahu, Nissa yang awalnya sudah sangat mengantuk, langsung tersenyum senang menyaksikannya. Nissa berangsur turun, memeluk keduanya secara bersamaan hingga kedua sejoli itu terkejut.
“Aku juga sayang banget ke Dek Sepri. Ke Mas Ojan aku juga sayang meski Mas Ojan jail banget dan seringnya enggak nyambung!” ucap Nissa jujur sambil menengadah, menatap kedua wajah di hadapannya yang sudah langsung menyambutnya dengan senyum haru.
“Tentu. Nissa harus sayang ke Dek Sepri dan Ojan. Nissa harus jadi kakak yang baik buat mereka walau Ojan lebih tua dari Nissa!” ucap dokter Andri dan Nissa yang diajak komunikasi langsung mengangguk riang.
__ADS_1
Septi sampai tersedu-sedu, kemudian menggunakan kedua sikut yang mengenakan lengan panjang hangatnya, untuk menyeka setiap air matanya. Septi tidak bisa berkata-kata karena ia begitu bahagia.
***
Sejak shalat subuh, Nissa dan Septi begitu kompak. Pak Haji sudah langsung menangkap kenyataan tersebut sebagai hal yang mencurigakan. Puncaknya ketika Septi juga sampai memandikan Nissa kemudian mendandani gadis kecil itu, mengurusnya dengan tuntas. Perhatian Septi ke Nissa mirip seorang mamah yang sangat menyayangi putrinya.
Pak Haji mengh4ntamkan tangan kanannya ke meja kecil yang belum lama pria itu taruh di depan bangku, di depan kontrakan Septi tinggal. Ulah yang juga sudah langsung membuat Septi dan kebetulan membimbing Nissa maupun Sepri untuk sarapan di depan kontrakan, itu di bangku sebelah pak Haji duduk, langsung terkejut.
“Kenapa, Pak Gede?” tanya Septi sambil menyuapi Sepri. Makanan Sepri dan Nissa tak sama dan sampai beda piring. Cermat ia menyuapi kedua makanannya, takut tertukar karena rasanya pasti beda.
Sembari meluruskan punggungnya, Pak Haji yang hanya memakai kaus lengan pendek polos warna putih dipadukan dengan sarung, berkata, “Kayaknya lebaran Haji memang jadi. Kita enggak hanya korban perasaan karena kita juga akan korban sapi! Sapitri!” Ia melirik Septi penuh arti yang ia pergoki diam-diam menepis lirikannya sambil menahan senyum. Septi tersipu, wajahnya sampai merah merona. Alasan yang juga membuat hati kecilnya bergejolak bahagia!
“Tuh kan ... senyum-senyum gitu. Mirip orang waras!” Pak Haji makin kegirangan.
“Yang benar saja Pak Gede! Kok mirip orang waras, terkesannya aku enggak waras!” protes Septi.
“Jadi, Pak Gede beneran mau pensiun?” tanya Septi memastikan. “Tapi ya bukan berarti janda enggak waras yah, Pak Gede! Yang enggak waras ya ... yang merasa mabook alias baper sendiri! Bukan salah janda, judulnya!”
“Lah, ... buktinya si dokter Andri. Dia juga jadi ikut enggak waras gara-gara kamu. Masa iya dia mau sama kamu, padahal yang langsing seksi sekaligus cantik, banyak!” balas pak Haji.
“Yang langsing seksi dan cantik, memang banyak. Namun yang bikin beliau sama Nissa nyaman, mungkin kebetulan memang hanya aku yang cantik dan seksinya masih didelay, Pak Gede!” balas Septi.
Pak Haji langsung ngakak. “Manggilnya sudah ganti jadi beliau. Hahahaha!”
__ADS_1
“Miiiiii, Miiii Sayang, sini, Miiiii! Ini, bentar lagi kita bakalan mantu. Si Sepri bakalan punya Papah! Enggak tanggung-tanggung, kurban sapi dapat menantu dokter, Mi! Kalau gini caranya, kita bikin kliniknya dipercepat, yah, Mi!”
Ibu Fatimah yang langsung buru-buru keluar dari dalam rumah, juga langsung menyimak. Wanita bercadar abu-abu itu langsung tersenyum haru. Walau kenyataan Ojan yang membawa wajan berisi nasi dan juga minyak jelantah bekas goreng ikan asin, sudah langsung membuatnya sibuk istighfar.
“Sini ... sini, makannya jangan di wajan!” bujuk ibu Fatimah.
Pak Haji sudah langsung memperhatikan tingkah aneh cucunya. “Jan, jangan gitu dong. Dengerin Umi. Bener kata Umi, makannya pakai piring. Lihat, Sepri sama Kak Nissa saja makannya pakai piring. Eh kamu pakai wajah begitu. Itu kepala kamu juga kenapa jadi mirip baceman minyak begitu. Ih, kamu habis ngapain?”
“Itu kepalanya, dia kasih pelumas minyak jelantah gitu loh, Pak Gede. Buat cocolan nasi. Enggak tahu kenapa dia begitu padahal di sini enggak ada yang gitu. Biasanya kalau anai kecil kan, ngikut-ngikut gitu, kan? Kata kekiniannya, terinspirasi jadinya contoh. Itu dia beneran enggak doyan makanan enak loh. Makannya ya yang serpihan sisa. Kayak gorengan, ikan, contohnya. Ya bukannya makan yang utuh malah makan rontokannya.” Septi menjelaskan serius dan buru-buru melipir karena di sebelah, dokter Andri melongok dari pintu.
“Aku enggak bermaksud jadi kompor yah, Pak Gede. Semuanya kan balik ke lingkungan, kebiasaan, sekaligus contoh. Aku malah baru kepikiran ini gara-gara pembahasan semalam dengan Mas Andri.” Septi masih meyakinkan. Ia membuka sempurna pintu kontrakan dokter Andri kemudian menuntun pria itu untuk duduk di kursi sebelah pak Haji. Kursi tunggal karena bangku yang pak Haji tempati sudah penuh oleh Sepri dan Nissa.
“Ada apa?” lirih dokter Andri serius. Selain sempat mendengar keributan dalam obrolan, baru kali ini ia melihat pak Haji seserius sekarang. Seriusnya cenderung marah.
“Ini loh, Mas. Si Ojan kan punya kebiasaan lain dari orang sini. Makan pakai wajan, cuma pakai minyak jelantah. Minyak bekas goreng. Paling favorit tuh dia makan pakai bekas goreng ikan asin dan makannya di wajan gitu. Makan gorengan apa pun, dia juga maunya rontokannya buat teman nasi. Kalau kayak gitu kan otomatis ada yang contohin, tapi di sini kan enggak ada. Di sini tiap hari mamah masak sehat. Nyaris enggak pernah masak ikan asin karena mamah memang sengaja masak buat Sepri juga. Paling bedanya ya ada cabainya dikit sama enggak pakai sama sekali buat Sepri.” Septi menjelaskan panjang lebar.
“Mungkin memang sudah jadi kebiasaan Ojan sebelum sama kalian. Terbukti, dia sampai sulit ngilangin kebiasaannya. Kita kan baru menduga-duga, tapi kan kelakuan anak juga tetap cerminan dari lingkungannya. Terlebih kan selama ini Pak Gede jadi musafir cinta,” komentar dokter Andri jauh lebih sabar sekaligus tertawa.
“Nah, Mbah, dengar! Gara-gara kebiasaan Mbah sibuk berkelana mencari janda, yang sudah ada malah dokorbankan! Padahal ini cucu kesayangan ini!” omel ibu Fatimah.
Pak Haj menatap sedih sang istri. “Kan Mbah sudah kasih tanggung jawab ke orang rumah, Miiii. Semuanya dapat jatah uang, termasuk buat Ojan makan minum, sandang,” yakinnya.
“Nyatanya begini. Gini-gini dia harapan keluarga loh!” balas ibu Fatimah buru-buru masuk ke kontrakan. Ia kembali dengan sepiring porsi makanan enak hasil masakannya. Ia memberikannya kepada Ojan, dan lihat, yang Ojan ambil hanya rontokannya. Solah memang bocah itu sudah dibiasakan hanya boleh memakan rontokkannya.
__ADS_1
“Kasihan aku lihatnya,” lirih dokter Andri masih mengawasi Ojan yang duduk pun maunya di lantai.
Septi yang masih berdiri di sebelah dokter Andri sambil menyuapi Nissa dan Sepri, juga merasakan hal yang sama dengan dokter Andri. Kasihan. Malahan Septi jadi berpikir, jangan-jangan alasan Ojan mirip kurang normal begitu, juga ada pengaruh makanan atau malah obat khusus.