Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
40 : Mobil, Rumah, Umrah Untuk Mamaknya Aidan


__ADS_3

Kalandra, dengan segala kebaikan sekaligus perhatian pria itu kepada Aidan, membuat seorang Arum istirahat dengan leluasa untuk pertama kalinya. Meski tentu saja, jauh dari sang buah hati walau mereka masih berada di bawah atap yang sama, tetap membuat Arum tidak bisa sepenuhnya tenang.


Di kamar tamu yang ada di kediaman Kalandra, Arum berangsur duduk. Di luar sana hujan ringan masih berlangsung. Arum melihatnya melalui jendela sebelah taman yang hanya ditutup gorden tipis.


Di saat seperti ini, lagi-lagi bukan keluarga sendiri yang mengulurkan tangan kemudian merangkul, meringankan beban yang silih berganti menghampiri. Sering aku heran, kenapa aku sampai begini? Padahal jelas, adanya aku dalam dunia ini bukan karena aku jatuh dari langit. Aku sungguh memiliki orang tua. Aku juga memiliki keluarga, batin Arum yang tiba-tiba merasa sangat nelangsa.


Sebab setegar apa pun dirinya, seberapa keras pun ia menyelesaikan semua pekerjaan sekaligus cobaannya, Arum juga manusia bahkan wanita biasa yang masih memiliki hati dan tak jarang akan merasa sangat nelangsa layaknya sekarang. Hanya saja, Arum juga tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan karena kenyataan itu malah akan membuatnya semakin direndahkan oleh mereka yang hanya memandangnya sebelah mata.


Setelah menghela napas pelan, Arum memutuskan untuk tidur. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu karena Arum yang merasa baru tidur, sudah mendengar alarm di ponselnya. Ajaibnya, selama itu juga Arum sama sekali tidak dibangunkan oleh Kalandra. Atau malah, Arum yang kebangetan dan sampai tidak sadar ketika pria itu membangunkannya?


“Kamu sudah mau ke rumah sakit? Ya sudah sana nanti kalau Aidan nangis, aku antar soalnya stok ASIP-nya juga sudah habis. Semalam, Aidan ngasinya kenceng banget,” jelas Kalandra yang berdiri di ambang pintu.


“Berarti semalam Aidan sempat bangun? Mas beneran enggak bangunin aku?” Arum terheran-heran.


“Kan sudah asa ASIP. Ada empeng juga. Sudah sana kamu lihat dulu anaknya.”


Jujur, kenyataan Kalandra yang pernah menganggap sang istri belum meninggal, membuat Arum waswas. Arum takut, Kalandra yang sangat peduli sekaligus menyayangi Aidan, akan tetap menganggap Aidan baik-baik saja walau sebenarnya tidak. Namun setelah Arum memastikan, nyatanya Aidan baik-baik saja.


Kalandra berangsur masuk mendekati Arum. “Kamu berani ke rumah sakit sendiri?”


“Berani Mas, soalnya jam segini sudah banyak yang ke masjid. Kalau ada apa-apa, aku cukup teriak.” Arum membereskan tiga botol dot yang dua di antaranya ada di atas kepala Aidan. Di belakang sebelah kanannya, Kalandra terdengar menguap sebelum akhirnya malah membantingkan diri ke sofa panjang yang ada di depan bibir tempat tidur.


“Mas kurang tidur?” tanya Arum sambil menatap Kalandra. Pria itu meringkuk layaknya anak kucing yang sedang mencoba tidur dengan damai.

__ADS_1


“Enggak juga. Aku menikmati ronda bareng Aidan apalagi kalau malam kayak tadi, dia banyak ngoceh. Rame banget,” ucap Kalandra sambil tetap meringkuk sekaligus terpejam.


Arum langsung tersipu. “Mas mau aku buatkan teh manis panas?” Di depan sana, Kalandra langsung mengangguk-angguk. Bisa ia pastikan, ronda yang Kalandra lakukan demi menjaga Aidan, membuat Kalandra kewalahan.


Pagi datang dengan cepat membuat Arum juga kembali melihat pak Haji. Tampaknya jurus yang Kalandra layangkan kepada pria itu sama sekali tidak mempan. Karena kini saja, pak Haji sudah duduk di tempat selama tiga hari terakhir pria itu mengawasi Arum.


Susah banget ya jadi janda, apalagi kalau yang deketin orang punya power. Mau muda atau malah tua bangkkee, pasti akhirnya begini. Mau menolak sekeras apa pun, ya datang lagi, datang lagi, batin Arum.


Sekitar pukul sembilannya, Kalandra dan Aidan datang. Kalandra sudah mandi, tapi bayi yang mulai berisik dengan beberapa celotehan itu belum.


“Aku enggak bisa, dan memang takut buat mandiin,” ucap Kalandra menyerahkan sang bayi kepada pemiliknya. Arum ia pergoki menahan tawa dan ia yakini karena menertawakannya. Meski adanya pak Haji di sana membuatnya memiliki alasan jail kepada wanita itu.


“Mas, mamah kamu senyum-senyum gitu, efek sepagi ini sudah diapelin pak Haji, apa bagaimana?” ledek Kalandra.


“Ya sudah, Aidannya dimandiin dulu, nanti baru serahin lagi ke aku. Aku ke pak haji dulu.”


“Mas mau aku buatkan teh lagi?” tawar Arum.


“Kopi saja ...,” ucap Kalandra yang kemudian berbisik-bisik. “Kayak punya pak Haji!”


Arum tersenyum gemas pada ulah Kalandra yang mendadak hobi jail kepadanya. Namun ketika ia tak sengaja menoleh ke depan, pria tua berpeci putih yang menjadi tamu rutinnya, tampak gelisah. Pak Haji menatap tidak suka kebersamaan Arum dan Kalandra.


“Dek Arum, ... apa yang membuat Dek Arum lebih memilih pria ini, ketimbang saya?” todong pak Haji ketika Arum menyuguhkan kopi hitam pesanan Kalandra.

__ADS_1


“Lho, memangnya harus dijelaskan, yah, ....” Setelah bingung harus memanggil apa mengingat sikap baiknya kemarin malam belum bisa membuat pak haji jera, kali ini Kalandra memanggil pria di hadapannya dengan sebutan “Mbah.”


Pak Haji tercengang karena panggilan Kalandra barusan. Begitu juga dengan Arum, walau setelah itu, Arum langsung tersenyum dan perlahan sampai menahan tawanya. Namun jujur, Arum penasaran. Apa yang sebenarnya semalam Kalandra dan pak Haji bahas hingga pak Haji bertanya seperti tadi, selain pria itu yang sampai kembali? Padahal semalam, Kalandra tampak begitu yakin, pak Haji akan berhenti mengusik kehidupan Arum.


“Panjenengan lama-lama makin enggak sopan, ya? Lagian kalau Panjenengan mau menikahi Dek Arum, ngapain Panjenengan masih biarin Dek Arum kerja di sini? Dari pagi, ketemu pagi lagi. Dek Arum percayalah, daripada kamu menikah dengan dia, menikah dengan Mas akan jauh lebih membuat Dek Arum bahagia. Saya janji akan kasih Dek Arum rumah sama mobil sendiri,” ucap pak Haji meyakinkan.


Arum menjadi yakin, semalam Kalandra mengaku akan menikahinya agar pak Haji berhenti mengejarnya.


“Mbah, tolong jangan memaksa begitu. Lagian, istri Mbah memang mau karena Mbak Arumnya saja maunya sama saya?” sergah Kalandra.


“Masalahnya, saya sudah cinta mati ke Dek Arum! Dek, nanti kalau Dek Arum beneran mau menikah dengan Mas, kita bulan madunya sekalian umroh deh!” sergah pak Haji dan malah menjadi hiburan gratis untuk seorang Kalandra.


Kalandra menjadi sibuk menahan senyum dan beberapa kali menunduk. “Kemarin saya sudah menjelaskan, kan, Mbah? Mbah mau jaga jarak enggak dari Arum? Kalau Mbah tetap tidak mau, saya akan proses kasus ini ke polisi!” lirihnya yang kali ini sangat tegas karena ia sedang memberi pria tua di hadapannya peringatan keras.


“Daripada kamu, hartaku lebih banyak!” sergah pak Haji.


Kalandra hanya diam. Termasuk itu ketika pak Haji sampai menggebrak meja menggunakan kedua tangan.


“Mbah enggak usah begini, kecuali kalau mamahnya Aidan mau sama Mbah. Sekarang saya akan memberikan kesempatan terakhir kepada Mbah. Silakan tanya ke Arum, mau tidak dia menikah dengan Mbah. Kalau memang tidak, setelah ini, Mbah wajib jaga jarak,” tegas Kalandra.


“Dek, Mas serius ke kamu. Mobil, rumah, umroh, ... ya?” ucap pak Haji memelas menatap Arum.


Arum menggeleng cepat, dan dengan santainya Kalandra menahan senyum kemudian menyeruput kopi hitamnya. *Mobil, rumah, umroh*nya ditolak mentah-mentah sama mamaknya Aidan, batinnya yang malah ingin terus tertawa.

__ADS_1


__ADS_2