
Bawaan yang harusnya hanya untuk orang tua Arum, sengaja Arum bagikan kepada tetangga. Hanya satu paket yang disisakan dan itu untuk ibu Nur yang selama ini membantu Arum. Ibu Rusmini memang tetap dikasih, tapi jatahnya yang harusnya sangat banyak, tak lebih dari jatah tetangga yang langsung sibuk mengucapkan terima kasih.
Semua tetangga diundang ke pernikahan Arum dan Kalandra. Nantinya, mereka cukup kompak berkumpul karena akan disewakan mini bus untuk pergi ke hotel resepsi pernikahan Arum dan Kalandra digelar.
“Aku enggak main-main, Mak, Dy, Gus. Dua hari lagi rumah ini akan dirobohin. Dan mulai besok juga, aku akan minta orang buat buatin Mamak rumah kecil-kecilan.” Arum sengaja pamit, tapi sebelum itu, ia dan Kalandra sudah mengatur semuanya. Dari semacam agenda perobohan, hingga pembangunan rumah untuk sang mamak.
“Kamu berani nikahin anak orang dan bahkan sampai punya anak tiga, otomatis kamu juga harus lebih mikir!” Agus juga sampai menjadi bahan teguran Arum. Kemudian tatapannya teralih kepada Widy. “Punya suami ganteng, bisa bikin perut kamu kenyang, Dy? Bisa, suami ganteng kami bikin anak-anakmu hidup berkecukupan?”
“Sekarang sudah jelas, kan? Kalian hanya punya waktu dua hari. Mau kalian ngontrak atau bangun rumah di tempat lain termasuk tempat ini, terserah. Aku ingin lihat usaha kalian apalagi kamu, Gus! Orang tua sama adik kamu sampai tinggal di sini. Makanya karena itu, setiap Widy tahu aku mau ke sini, hawanya dia ke aku musuh! Sadar dia rumah ini aku yang bangun makanya dia takut, aku rebut sementara keadaannya, dia sengaja boyong keluarga kamu biar dapat cinta kamu! Saking bucinnya dia ke kamu, jadinya otaknya enggak bisa mikir. Entah memang beneran bucin atau kamu jampii-jampiin, aku enggak tahu, ya. Yang jelas, kamu itu beneran enggak tahu malu! Benalu, suami gagal, bapak enggak modal!” tegas Arum. “Enggak apa-apa aku kalian anggap jahat. Yang penting kalian mikir, biar hidup kalian ada kemajuan dan tentunya lebih berguna!”
Arum memberikan Aidan yang sudah bangun kepada Kalandra yang masih berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
“Iya, ... nanti kita langsung ke dokter, ya. Pilek ya, Aidan pilek ....” Kalandra pergi tanpa pamit, tapi ia mendadak ingat. “Aku memang akan lapor ke dinas pendidikan kabupaten, tapi aku juga akan kasih waktu dua hari. Selama dua hari ini, kamu bisa berubah enggak! Yang, ayo pulang habis ini masih harus mampir ke rumah ibu Nur, kan? Ini Aidan mau langsung ke dokter.”
Arum yang masih berdiri di depan teras rumahnya, menoleh sekaligus menatap Kalandra. Ia mengangguk sanggup sambil menghela napas pelan. Tak pernah terbayangkan olehnya, kunjungannya ke sana malah membuat Aidan langsung pilek.
Ketika akhirnya Arum menghadap ketiga manusia di hadapannya, ia pun kembali menghela napas. “Cari suami ganteng boleh, tapi ya yang doyan kerja. Yang mau tanggung jawab. Cuma ganteng tapi enggak doyan kerja ya sama saja bun-nuh diri, kan? Ganteng, penyayang, tanggung jawab, punya banyak kerjaan. Tuh, Mas Kalandra. Tapi semuanya balik ke kita sih, ya. Jodoh kan memang cerminan diri. Karena sekadar tahu diri saja enggak bisa, ya Tuhan langsung jodohinnya sama selevelnya.” Arum mengangguk-angguk sambil tersenyum miris.
“Mulai sore ini juga, pasir sama meterial bakalan diantar. Sementara dua hari lagi, aku sama Mas Kala juga bakalan kembali datang buat robohin rumah ini. Kalau Mas Bayu berani larang-larang aku robohin rumah ini, berarti dia wajib balikin semua uang yang aku pakai buat bangun rumah ini.” Arum menyeringai, merasa sangat miris pada kelakuan keluarganya khususnya kelakuan sang mamak dan Widy, apalagi Agus. “Mas Bayu enggak mungkin berani karena alasannya jarang kasih-kasih bahkan sekadar ke ibu saja, ya memang dia saja pas-pasan. Belum lagi istrinya juga tegas. Ya memang jadi istri harus gitu, soalnya kalau bukan ngandelin suami dan sama-sama kerja sama suami sendiri, ngandelin siapa? Ngandelin suami tetangga? Menurutmu gimana, Gus? Setelah begini, otak kamu masih macet? Widy, anak-anak kalian termasuk orang tua kamu, itu murni tanggung jawab kamu, ya. Sementara adikmu, lepas. Diajari kerja dan hidup mandiri biar enggak mengikuti jejak kamu soalnya semacam hidup malas dan jadi benalu memang bisa jadi budaya!”
Para tetangga yang masih terjaga sekaligus sengaja menunggu Arum dan Kalandra, kompak mengantar. Apalagi selain tahu Kalandra anak DPR kesayangan mereka, mereka juga sampai diundang ke pernikahan Arum dan Kalandra. Tentunya, sikap baik Kalandra apalagi Arum, menjadi alasan utama mereka bersikap sangat hangat layaknya sekarang.
“Besok saya ajak Bapak saya ke sini, biar Bapak lihat langsung keadaan jalannya yang memprihatinkan. Soalnya tadi saya langsung laporan katanya enggak ada permintaan khusus makanya bantuan yang datang ya bantuan jatah biasa,” jelas Kalandra sambil memasuki mobilnya. Ia memang akan mengemudi, tapi ia masih mengemban Aidan.
__ADS_1
Satu hal yang membuat Kalandra makin muak kepada Widy dan Agus termasuk itu kepada ibu Rusmini. Karena menurut tetangga, kelakuan Widy dan Agus apalagi ibu Rusmini memang sudah sangat keterlaluan. Itu kenapa, mereka tak segan datang di setiap Arum datang dan pasti ada keributan. Keributan yang terjadi lantaran Widy tidak rela Arum datang apalagi kalau Arum sampai tinggal dan kembali mengambil rumahnya. Sebab alasan orang tua Arum memiliki rumah gedong, dan Widy juga sampai sarjana, ya karena Arum bekerja bertahun-tahun lamanya di luar negeri.
“Lusa, kita ke sini lagi,” ucap Kalandra, masih tetao memangku Aidan walau ia mulai mengemudikan mobilnya.
Aidan menjadi makin manja kepada Kalandra. Bocah itu tidak mau jauh-jauh dari Kalandra. Beruntung Kalandra penyayang, apa kabar jika yang Aidan inginkan sekelas Angga bapaknya yang semacam urus hanya ala kadarnya?
“Iya, Mas. Ini nanti sebelum ke rumah ibu Nur, kita mampir dulu ke toko material, ya,” sanggup Arum.
Tak mau membuat Kalandra lelah apalagi kurang fokus dalam menyetir, Arum mencoba mengambil alih Aidan. Namun, bocah itu tidak mau dan langsung merengek, menghasilkan tangis yang begitu nelangsa. Arum refleks berkaca-kaca menatapnya dan memang langsung ikut nelangsa. Arum berpikir, Aidan begitu karena ikut merasa nelangsa. Aidan semacam merasa trauma pada omelan sang nenek. Karena saat sebelum Angga menjatuhkan talak kepada Arum, Aidan juga langsung menangis kejer ketika mendengar suara lantang Anggun dan ibu Sumini yang sibuk menghakimi Arum.
“Sudah enggak apa-apa, aku bisa kok. Lagian, nyetirnya juga enggak buru-buru. Aidan ini sudah terbiasa dengan ketenangan. Aidan beneran enggak bisa dikasa-rin. Ah ... napasnya makin sesak. Sabar yah, Mas. Sabar, habis ini pasti sembuh.” Kalandra yang berucap lirih juga mengunci kepala Aidan menggunakan ci-uman. Tentu Aidan tidak bisa diperlakukan keras apalagi ka-sar. Karena lingkungan bayi itu tumbuh saja, benar-benat lingkungan yang hangat. Sebab semelelahkan dan sepelik apa pun kehidupan seorang Arum, kepada Aidan, Arum memperlakukannya sangat spesial.
__ADS_1