Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
186 : Di Klinik Dokter Andri


__ADS_3

Ke klinik dokter Andri, otomatis bertemu dengan pemiliknya. Namun, Widy berusaha bersikap sebiasa mungkin. Seolah semuanya baik-baik saja. Seolah memang tidak pernah ada yang spesial di antara dirinya dan dokter Andri. Malahan, dokter Andri yang terlihat tidak bisa bersikap biasa-biasa saja. Dokter Andri terlihat sangat tersiksa.


“Dy ...?” lirih Kalandra yang jadi ikut khawatir ke Widy karena dokter Andri malah jadi tidak bisa fokus. Pak Haji yang ditangani sudah sampai berisik.


“Enggak apa-apa, Mas. Aku bisa. Termasuk juga dia, ... dokter Andri bisa karena dia sudah dewasa. Nah, anak-anakku, ... anak-anakku cuma punya aku.” Widy berbisik-bisik membalas Kalandra.


Kalandra mengangguk-angguk, setuju dengan cara pikir Widy. “Sebenarnya Mas juga kasihan ke Andri. Namun mau bagaimana lagi? Kalau kalian sampai tetap maju, yang ada anak-anak kamu yang jadi korban. Mas bisa saja ngelibas si ibu Muji. Masalahnya, kalau dia malah dendam, terus diam-diam nyakitin kamu sama anak-anak kamu? Yang ada kena semua. Maaf banget, ya. Awal mula ini kan juga gara-gara Mas yang berharap kamu sama Andri jodoh.”


“Sudah, Mas. Enggak usah dibahas,” balas Widy meyakinkan.


“Ya sudah,” lirih Kalandra yang kemudian masuk ke ruang pemeriksaan. Di sana, pak Haji tengah merintih, mengeluhkan matanya yang terancam tak bisa melihat janda bohay lagi.


Kemudian, Widy yang memilih menunggu di luar, mendapati Sekretaris Lim yang baru keluar dari lorong sebelah dan merupakan keberadaan toilet. Tadi, pria itu izin ke toilet. Ternyata Sekretaris Lim muntaber parah. Wajahnya yang sangat tampan khas orang chinese dan mirip Tuan Maheza, pucat berkeringat. Buih keringat sebesar biji jagung kerap mengalir dari sana. Bergegas Widy membimbing, mengarahkan pria itu untuk duduk di bangku sebelah ia terjaga. Karena walau ada ajudan khusus yang mengawal Sekretaris Lim, yang namanya orang sakit pasti butuh perhatian lebih. Apalagi ajudan yang mengawal juga tampak sungkan sekaligus serba salah.


Sekretaris Lim mirip orang linglung. Disuruh mengunyah roto sobek yang Widy suapkan pun, yang ada pria itu malah bengong. Namun sebenarnya, Sekretaris Lim melihat wajah Widy mirip wajah mamahnya, walau keduanya dalam wujud berbeda. Widy memakai jilbab, sang mamah yang sangat keibuan, menggerai rambut panjang indahnya yang bergelombang.


“Kalau mau infus semalam saja, pasti enakan enggak lemes banget. Tapi coba makan dulu walau dikit-dikit, terus minum air putihnya dibanyakin, obatnya diminum biar cepat mampet.” Yang Widy tahu, muntah sekaligus berak dan kini Sekretaris Lim mendadak buru-buru pergi ke toilet lagi, benar-benar sangat menyiksa. Jadilah ketika pria itu keluar, tanpa mengurangi rasa hormat, Widy yang sibuk meminta maaf, menuntun Sekretaris Lim untuk minum obat agar segera mampet.


“Pak,” lirih Sekretaris Lim pada sang ajudan lantaran ia tak mungkin berpegangan pada Widy, bahkan walau wanita itu tampak tulus dan memang peduli. Ditinggal saja, wanita bernama Widy itu langsung menyusul.


“Dek Widy, ... katanya mata saya ada gejala katarak!” rengek pak Haji meminta perhatian.

__ADS_1


Widy yang melongok dari pintu sebelah Sekretaris Lim duduk, refleks menahan senyumnya. “Yang penting hati Mbah enggak katarak juga, Mbah!”


“Oh, tentu! Hati saya masih dipenuhi janda pokoknya!” balas pak Haji yakin.


Kalandra yang kehidupannya paling normal, langsung ngakak mendengar itu. “Mbah ... Mbah! Ada-ada saja! Gimana bisa lihat janda cantik lagi kalau mata Mbah saja, katarak? Sana ke Cicendo Bandung. Di sana khusus pengobatan mata. Bagus, dijamin topcer!”


“Itu bayarnya bisa nyicil, enggak? Soalnya ini kan mau lebaran, harus mikirin bayar THR karyawan!” balas pak Haji.


“Kalau Mbah bayarnya sampai nyicil, hasilnya juga nyicil. Dalam artian, berarti ditanganinya juga nyicil!” Kalandra langsung heboh. Tawanya sampai menular ke Widy.


Namun, Widy tak berani lama-lama menampakkan diri bahkan sekadar wajah di sana karena dokter Andri menjadi galau di setiap melihatnya, apalagi jika tatapan mereka sampai bertemu, walau itu terjadi karena tidak sengaja.


Tahu Widy datang ke klinik, ibu Muji buru-buru datang. Takut dokter Andri digoda Widy. Karena walau datangnya rombongan, bagi ibu Muji, Widy tetap salah.


“Dia sedang antar saya!” tegas Sekretaris Lim sudah langsung sebal karena baginya, cara ibu Muji bertanya kepada Widy sangat kasar. “Memangnya, Ibu ini ada kepentingan apa?”/Ia masih menghakimi ibu Muji melalui tatapan sekaligus ucapan tajamnya.


Kalandra yang mendengar suara ibu Muji dan sampai dibalas oleh Sekretaris Lim, sengaja memastikan. Tak ada lagi tawa renyah karena ulah pak Haji. Malahan, ia meminta Widy membawa Sekretaris Lim pulang ke rumah pak Sana. Kalandra merasa malu, andai tamu dari Jakartanya mengenal ibu Muji yang medit bin pelit, padahal jika dibandingkan dengan keluarga Tuan Maheza, tentu ibu Muji tidak ada apa-apanya.


Setelah melongok sekaligus memastikan kepergian mobil Sekretaris Lim, kini fokus perhatian Kalandra telah sepenuhnya tertuju kepada ibu Muji. “Ibu Muji, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Ibu, kalau Ibu berani macam-macam ke Widy sekeluarga, berarti Ibu juga harus siap berhadapan dengan saya!”


“Oh ... jadi, si Widy sudah ngadu macam-macam?!” sergah ibu Muji sewot.

__ADS_1


Kalandra yang terkejut dan sempat tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat, akhirnya berkata, “Oh, ... jadi ternyata Ibu Muji malah sudah sampai macam-macam? Emang dasar tua-tua enggak mikir sih yah, Ibu ini! Sudah tua bukannya mikir, masih saja egois!”


“Eh, Kalandra, kamu kalau ke orang tua yang sopan, ya!”


“Ya tergantung orang tuanya kayak apa! Kalau orang tuanya macam Ibu Muji, ngapain harus sopan kalau Ibu Saja enggak pernah sopan?!” Kalandra tak kalah ngegas, bahkan jauh lebih sewot dari Ibu Muji. “Memangnya, Ibu enggak kasihan ke anak Ibu? Ibu enggak kasihan ke Nissa? Ibu enggak kasihan ke keluarga Ibu? Ibu enggak kasihan ke diri Ibu sendiri? Ibu yakin masih mau hidup seperti ini? Cepat taubat kamu, Bu!”


“Kalandra!”


“Jangan sampai, Ibu kena Azab, terus enggak ada kesempatan buat tobat!” Kalandra memilih pergi, tak sudi berurusan dengan wanita seperti ibu Muji lagi yang walau diingatkan, masih merasa paling suci. Mirip kasus saat ibu Fatimah mamahnya Septi belum tobat.


Tentunya, kepergian Kalandra yang menggunakan motor matic, otomatis membuat pak Haji yang awalnya menumpang ke mobil mahal Sekretaris Lim, tertinggal.


“Dok, si Kalandra ke mana? Kok enggak balik-balik?” tanya pak Haji masih bertahan berbaring. Menggunakan kacamata yang ia terima dari dokter Andri, pandangannya menjadi jauh lebih lumayan.


Padahal, yang ditanya pak Haji dan itu dokter Andri tengah galau. Hingga pak Haji lelah menunggu pun, tampaknya kecil kemungkinan Kalandra akan kembali.


“Ini jangan-jangan, saya ditinggal, yah, Dok?” protes pak Haji berangsur duduk.


“Hah? Kok Mbah masih di situ?” Dokter Andri kebingungan dan sampai berdiri kemudian mendekati.


“Lah, dari tadi kan saya di sini, nunggu si Kalandra atau Dek Widy!”

__ADS_1


“Loh, nih orang berarti ditinggal?” batin dokter Andri masih kebingungan.


__ADS_2