
“Pah, hari ini pulang cepat, kan?” bisik Arum begitu bersemangat sembari memandikan Azzam di bak mandi khusus.
Kalandra yang baru datang sama sekali tidak curiga dengan keceriaan Arum. Apalagi jika sedang bersama anak-anak khususnya ketika sedang mandi, Arum tak hanya ceria, tapi juga sampai heboh.
“Hari ini kan hari terakhir pak Maheza di sini. Katanya dia mau ke pabrik. Ya paling aku kerja setengah hari buat menghormati mereka. Masa iya ada tamu, aku tinggal terus,” balas Kalandra yang kemudian mencari Azzura. Seperti biasa, jika tidak menyusu, bayi itu tidur. Bahkan walau baru mandi, kalau tidak ada Kalandra, Azzura lebih memilih tidur.
Di ranjang bayi, Kalandra mendapati sang putri. “Mbak, tidurnya enggak bagi-bagi? Ini Papah sudah pulang, loh.”
Arum yang ditinggalkan berangsur menyusul sambil mendekap Azzam yang ia balut handuk biru. “Sayang, aku masih mau ngobrol.”
Mendengar sang istri kembali merengek, Kalandra yang baru mengangkat Azzura langsung menoleh. “Ada kabar baik?” tanyanya, dan sang istri langsung sibuk mengangguk.
Kalandra langsung penasaran. “Coba cerita!” Walau menyimak, Kalandra juga tidak bisa berpaling pada penampilan sang putri yang makin menggemaskan hanya karena bandana stroberi yang dipakai selaras dengan dress maupun kaus kaki Azzura.
Arum menceritakan semuanya. Mengenai hubungan Widy dan Sekretaris Lim.
“Wah, bakalan ada yang sibuk rebonding janur kuning kalau gini ceritanya!” ucap Kalandra yang kemudian tertawa lantaran teringat kata-kata pak Haji yang akan meluruskan semua janur kuning andai Widy sampai menikah dengan laki-laki lain.
Arum ikut tertawa sambil terus mengurus Azzam.
“Jadi, acaranya mau gimana?” tanya Kalandra kepo.
“Katanya nanti sore, baru mau main lagi. Sebenarnya dia ambil keputusan gitu karena Widy bilang, enggak enak kalau sampai bentar-bentar ketemu,” cerita Arum lagi.
“Ya sudah, hari ini jangan pada pulang dulu. Pulangnya besok saja pas rombongan pak Maheza juga balik ke Jakarta. Kalau ke sana-sana mainnya kan repot,” balas Kalandra.
Arum langsung mengangguk setuju.
__ADS_1
“Ini Mbak Azzura gemesin banget sih. Nanti sekalian tolong masukin ransel yah, Yang. Mau aku bawa kerja. Tuh langsung senyum kegirangan. Hahahaha.” Kalandra heboh.
“Papah ih ... masa anak sendiri mau dimasukin ransel?” tegur Arum yang tengah memakaikan pakaian bernuansa stroberi juga kepada Azzam. Bedanya kalau pakaian Azzura disertai bandana, punya Azzam dilengkapi topi.
“Sekalian sama mamahnya juga enggak apa-apa dimasukin. Nanti deh, kalau sudah boleh dibawa liburan, kita liburan bareng, ya. Sekalian Papah sama Mamah, mau bulan madu lagi,” ucap Kalandra yang mengakhiri ucapannya dengan tertawa.
Arum hanya tersipu sambil menggeleng. “Suamiku mulai eror!” ucapnya yang malah makin membuat Kalandra terbahak.
“Yang, ... dirasa-rasa, kayaknya aku masuk angin. Enggak nak banget!” keluh Kalandra yang kemudian naik ke tempat tidur bahkan berangsur merebahkan Azzura di sana.
“Untung aku masih nifas, kalau enggak pasti dikira lagi isi lagi dan Papah yang dikira ngidam,” ucap Arum.
Kalandra yang meringkuk langsung cekikikan. “Jangan secepat itu. Yang kemarin saja masih membekas. Aku masih lemas ingatnya.”
“Bentar, ... beresin Mas Azzam dulu. Nanti baru kerokin Papah,” ucap Arum.
“Jangan dong. Bentar, Pah,” ucap Arum yang buru-buru mempercepat kinerjanya.
***
Sekitar pukul sembilan, Kalandra yang ketiduran setelah dikeroki, sengaja Arum bangunkan. Sesuai rencana, hari ini suaminya hanya kerja setengah hari, ditambah Kalandra yang memang tidak nak badan.
“Dy, kamu bikin pak Haji, patah hati lagi ini?” ucap Kalandra ketika memergoki Widy di ruang keluarga. Di karpet lantai, iparnya itu tengah menemani anak-anak bermain. Karena sekelas Aidan yang balum ada dua tahun saja sudah tidak mau diam dan benar-benar aktif. Sampai-sampai, pemandangan rumah rapi sudah tidak pernah menghiasi kediaman pak Sana. Pasti saja ada mainan yang terserak bahkan kadang menyempil. Tak jarang, mereka akan terkejut ketika tak sengaja menginjak atau malah menindih mainan yang bunyi.
Widy yang duduk sila, langsung tersipu. Ia tahu maksud Kalandra.
“Bakalan ada yang sibuk rebonding sama smooting janur kuning ini alamatnya!” lanjut Kalandra yang menerima sepatu kerjanya dari Arum.
__ADS_1
“Mas, ih,” lirih Widy.
Arum berangsur duduk di sebelah Kalandra.
“Kamu dari tadi belum duduk, Yang? Ya ampun miri baling-baling!” tegur Kalandra.
“Baru beres, Yang. Dan ini beneran baru mau santai. Ngantuk juga,” balas Arum sambil meringkuk dan bersandar pada bahu Kalandra.
“Ya sudah Mbak istirahat. Aku masih di sini, dan anak-anak pun anteng. Akur mereka kalau suruh berantakin mainan,” ucap Widy yang kemudian berkata, “Kembar masih tidur, kan?” Ia berangsur berdiri.
“Ya sudah, Yang. Kamu istirahat saja mumpung ada Widy, takutnya kamu juga tumbang.” Kalandra sampai membimbing Arum masuk ke kamar mereka.
Sambil melepas kepergian Arum dan Kalandra, Widy kembali mengawasi ketiga anaknya yang masih anteng main. Malahan, Aidan yang selalu rusuh, membuat setiap mainan berantakan dan tak segan merebut mainan yang tengah dimainkan anak Widy.
“Mas Aidan kok enggak mau diem, Mamah. Nakal,” keluh anak tertua Widy sampai menjauh dari Aidan.
“Kakak, Mas Aidan enggak nakal. Mas Aidan cuma terlalu aktif. Lihat,” ucap Widy berusaha menenangkan sang putra yang kali ini mendadak dipeluk Aidan. “Tuh kan, Mas Aidan sayang banget ke Kakak. Buktinya langsung dipeluk gitu.”
Tak lama kemudian, Kalandra keluar. Ia tak lagi pusing apalagi meriang efek khas masuk angin setelah sampai dikeroki dan mengambil waktu untuk tidur penuh.
“Sekarang Mas Aidan sudah jadi jagoan loh. Hati-hati pokoknya,” ucap Kalandra sambil menahan senyumnya kemudian membiarkan kedua kakinya didekap erat oleh Aidan. Mungkin efek sedang serba gemas, kepadanya pun, Aidan berusaha mengangkat.
“Ya nggak kuat lah, Mas. Sini, Papah yang gendong Mas!” gemas Kalandra yang lagi-lagi tertawa. Ia sampai mengangkat-angkat tubuh Aidan hingga bocah itu terbahak kegirangan.
Widy yang masih memakai masker layaknya orang dewasa di rumah Kalandra langsung mesem. Berharap, nantinya Sekretaris Lim juga sehangat Kalandra kepada Aidan. Muara kasih ayah sambung yang sampai melebihi ayah kandung. Tak ada yang menyangka Kalandra hanya ayah sambung Aidan. Begitu juga keluarga Kalandra. Semuanya begitu tulus hingga Aidan juga sangat dekat bahkan ketergantungan kepada Kalandra sekeluarga.
“Walau Lim bilang hanya tinggal punya papah, kalau Lim saja bisa sehangat Mas Kala, itu beneran lebih dari cukup. Bismillah!” batin Widy.
__ADS_1
Karena Kalandra akan pergi, Widy sengaja mengambil alih Aidan, mengembannya penuh sayang dan membawanya pergi ke dapur. Ia pergi bersama ketiga anaknya, setelah sebelumnya Kalandra yang pamit sampai berjanji, pria itu hanya bekerja setengah hari dan siap menjadi tuan rumah ketika Sekretaris Lim bertamu. Sungguh kakak ipar yang juga sangat bertanggung jawab.