Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
250 : Duh, Kok Jadi Gini?


__ADS_3

Seiring bergulirnya waktu, Anggun menjadi makin bersemangat dalam bekerja. Baik pekerjaan di sawah yang kadang membuatnya nyaris setengah sekarat, maupun pekerjaan di rumah utama milik pak Haji. Di rumah gedong berlantai dua itu, Anggun bekerja layaknya ART kebanyakan, mengurus dua istri pak Haji berikut keluarga yang tinggal di bawah atap sama. Terakhir ketika sore menjelang petang, Anggun akan mencari sekaligus memberi pakan ikan lele dumbo. Penuh semangat bahkan kadang sambil menyanyikan lagu dangdut, Anggun memenuhi tiga kolam ikan lele dumbo yang ada di belakang kontrakan ia tinggal, menggunakan pakan sejenis kangkung, daun talas, mengkudu matang, dan juga pakan lain yang kadang sudah pak Haji siapkan.


Hanya saja, alasan Anggun sangat semangat bukan karena anak-anaknya. Malahan Anggun lupa kepada anak-anaknya. Termasuk kepada Supri yang sempat menjadi satu-satunya cinta seberapa pun menyebalkan pria itu. Tanpa terkecuali alasan Supri sampai masuk bui dan itu sampai membuat Septi melahirkan Septi. Belum alasan Supri kehilangan mata kanannya yang sampai bita permanen dan itu efek mengintip Arum mandi. Semua yang berkaitan dengan Supri apalagi anak-anaknya, bagi anggun sungguh sudah tak penting lagi. Rasa cintanya kepada dokter Andri lah penyebabnya. Kini bahkan Anggun ingin memiliki tubuh langsing agar ia bisa meluluhkan hati seorang dokter Andri.


“Mbak Anggun sudah jenguk anak Mbak, atau setidaknya memikirkan mereka?” Itulah pertanyaan yang dokter Andri berikan kepada Anggun ketika mereka bertemu.


Di senja menuju petang dan kerap menjadi nuansa romantis bagi mereka yang sedang kasmaran layaknya Anggun kini, malah menjadi mendadak horor bagi dokter yang didatangi. Tentu saja karena kini benar-benar sunyi.


Pulang tidak ada Nissa di rumah dan dokter Andri ketahui sedang ikut jualan di warung Septi, dokter Andri memang akan langsung ke sana. Dokter Andri terlalu takut diapa-apakan oleh Anggun. Apalagi kini tidak ada ibu Fatimah maupun pak Haji karena keduanya pun sedang bantu-bantu di warung sambil mengasuh Sepri dan juga Ojan. Di sana dokter Andri sungguh hanya sendiri karena sang papah pun masih tugas di puskesmas.


“Asli, kalau Nissa enggak telanjur dekat dengan Septi dan Septi sekeluarga termasuk pak Haji juga baik banget, aku sudah pindah dari sini semenjak Anggun mendadak lebih 4gresif dari wari4!” batin dokter Andri segera menuju motornya yang terparkir di depan kontrakan.


Anggun yang ditinggalkan buru-buru mengikuti. Seperti semenjak Anggun tertarik kepada dokter Andri, kali ini wanita yang tubuhnya dua kali lipat lebih besar dari Septi juga merias wajahnya sedemikian rupa, dan bagi Anggun sangat sempurna. “Mas Dokter baik banget mau memikirkan anak-anak saya.”


“Hanya orang tua enggak mikir sekelas Mbak saja yang enggak pernah memikirkan anak-anaknya!” tegas dokter Andri. Ia marah, tapi yang dimarahi malah tersipu hingga ia makin yakin, otaknya Anggun sudah hanya tinggal cangkang terapuh. “Kalau terus-terusan begini, yang ada aku khawatir ke diriku sendiri. Takut aku jadi enggak waras!” batinnya langsung terkejut bahkan jatuh tertindih motornya lantaran Anggun mendadak duduk di boncengan tanpa izin atau setidaknya permisi.

__ADS_1


“A-duh ....” Dokter Andri juga langsung sibuk meringis, menahan sakit yang begitu kuat di kaki kirinya dan memang tertindih motor.


Dokter Andri sampai tidak bisa berkata-kata karena rasanya benar-benar berat sekaligus menyakitkan. Terlebih ternyata, Anggun ikut jatuh dan sampai menindih motor bagian belakang.


“Bangun, Mbak. Jangan didudukin itu motornya! Mbak ini, ih! Sendi kaki saya serasa lepas gara-gara Mbak duduk di situ!” kesal dokter Andri yang sudah sampai menitikkan air mata. Apes benar nasibnya gara-gara dicintai wanita seperti Anggun yang serba sulit arahannya.


Dengan tampang tak tahu dosa, Anggun berangsur berdiri kemudian mengangkat motor dokter Andri, menjauhkannya dari pria itu. Akan tetapi, dokter Andri tetap tidak bisa menggerakkan kaki kirinya yang tadi sempat tertindih.


“Mas Dokter, ... terus ini gimana, dong?” Anggun benar-benar bingung ditambah lagi, dokter Andri masih saja menitikkan air mata. “Mas dokter yang kuat, ya. Sabar ... kita pasti bisa lalui ini!”


“Tolong carikan tukang urut, Mbak. Takutnya kalau sendi atau tulang sampai geser, saya agak sulit penyembuhannya karena faktor usia.” Dokter Andri terengah-engah menahan rasa sakit di kaki kirinya.


“Ya Alloh, Mbak! Ingin rasanya saya berkata kasar, kok ada orang enggak mikir banget kayak Mbak! Bisa-bisanya orang kayak Mbak dikasih hidup!” kesal dokter Andri dan perlahan meringkuk ke kiri lantaran tak kuat menahan sakit.


Dokter Andri merogoh saku sisi celana panjang sebelah kanannya. Ia mengeluarkan ponsel dari sana kemudian menghubungi pak Haji. Ia memohon pertolongan kepada pria selaku pemilik kontrakan. Sebab adanya Anggun yang tetap tidak bisa menjaga sikap, sudah membuat kaki kirinya cedera bahkan terluka parah.

__ADS_1


***


“Ya Alloh, harusnya yang duda-duda jangan sakit dulu sebelum mereka bersatu dengan pasangan halal. Kasihan kan enggak ada yang urus,” ucap pak Haji menatap prihatin keadaan dokter Andri yang tengah diurut.


Pak Haji sudah membuat dokter Andri memakai sarung setelah pria itu juga susah payah membantu dokter Andri melepas celananya. Di ruang depan kontrakan dokter Andri tinggal dan beralas tikar karakter, dokter Andri terbaring. Sesekali pria itu menggeliat kesakitan karena sendi pangkal paha kirinya memang sampai agak geser.


Ibu Fatimah yang baru datang sambil membawa nampan berisi dua gelas teh manis hangat dan sepiring gorengan, langsung menatap prihatin dokter Andri.


“Ya ampun ... itu alamatnya enggak bisa jalan, ya?” ujar ibu Fatimah menyesalkan keadaan.


“Nah iya, ... Septi sama Nissa belum pulang, Mi?” tanya pak Haji yang menerima nampannya dari sang istri.


“Belum, Mbah. Paling tanggung jadi belum tutup,” balas ibu Fatimah yang terpatahkan oleh jeritan Ojan yang menyebut Septi pulang.


Suasana sudah nyaris pukul tujuh malam ketika Septi yang langsung dimintai ikan asin pesanan Ojan oleh sang pemilik, melihat penampakan yang sukses membuat Septi merinding. Septi pikir, ada makhluk tak kasat mata layaknya buta ijo yang tengah menunggu di depan kontrakan dokter Andri, tepat di sebelah pintunya. Septi sampai melafalkan Ayat Kursi. Namun ternyata setelah Septi dekati, di tengah suasana temaram karena lampu teras belum dinyalakan, itu malah Anggun yang sedang duduk. Beda dari biasanya, Anggun yang emosional dan selalu meledak-ledak, Septi pergoki berlinang air mata sekaligus tersedu-sedu.

__ADS_1


Septi berpikir, alasan Anggun begitu karena keadaan dokter Andri memang parah. Hingga detik itu juga, dalam sanubarinya mendadak dihiasi kekhawatiran mendalam untuk dokter Andri. Terlebih tak lama setelah Nissa masuk kontrakan, gadis itu menangis meraung-raung memanggil sang papah.


“Duh, kok jadi gini, sih?” batin Septi tak tega melihat keluarga pak Duda. Di tikar karakter sana, ia yang melongok dari pintu mendapati Nissa mendekap dokter Andri yang sedang dipijat. Paha hingga ujung kaki dokter Andri sudah bengkak parah.


__ADS_2