
Andri : Kal, mamahku memangnya di situ? Soalnya sampai sekarang belum pulang, dan kata Nissa, tadi mamah bareng rombongan kamu.
Kalandra yang mendapatkan pesan dari sang sahabat sejak sekitar pukul sebelas malam, langsung mengernyit. Ia mengingat kejadian kemarin malam. Memang, mereka sempat nyaris satu rombongan, tapi itu hanya sampai ketika mereka berada di depan masjid. Selebihnya, mereka tak bersama lagi karena Kalandra hanya fokus dengan keluarganya maupun rombongan Tuan Maheza.
Kalandra : Enggak, Ndri. Cuma kebetulan tarawih bareng saja, dan kami memang sempat bareng sampai depan masjid biasa. Maaf baru bales, dari semalam setelah ketemu istri, langsung lupa sama hape.
“Sayang, aku sudah siapin air hangat buat mandi,” lirih Arum baru keluar dari kamar mandi dan sukses mengejutkan sang suami.
Kalandra langsung mengalihkan tatapannya dari layar ponsel. “Kamu sudah angkat airnya? Kalau kamu turun bero, gimana?”
Arum mengerucutkan bibirnya, ekspresi yang benar-benar manja. “Cuma setengah ember. Lebih berat Mbak Azzura.”
“Tetap saja beda,” balas Kalandra. Namun walau Arum sudah langsung menghampirinya, efek ia mendapat pesan dan itu balasan dari dokter Andri, ia sengaja memastikan. Walau tentu saja, ia membiarkan Arum duduk di pangkuannya.
“Innalilahi ....”
Mendengar ucapan tersebut tak lama dari sang suami yang mendekap pinggangnya, Arum sudah langsung terkejut. Ditambah lagi, kini sang suami tengah fokus ke ponsel.
“S-sayang, siapa yang meninggal?” lirih Arum sengaja memastikan layar ponsel Kalandra.
“Belum ... belum. Ini ibu Muji, kata Andri enggak pulang-pulang, eh pas semalam dicari ke masjid, sudah ada di pinggir jalan, sudah enggak sadar dan kayaknya korban tabrak lari,” jelas Kalandra masih berucap lirih dan tetap memangku Arum.
“Oalah ...,” lirih Arum belum berani berkomentar, walau jika ia ingat kelakuan ibu Muji ke Widy, ia benar-benar kesal.
***
__ADS_1
“Semalam ternyata ibu Muji kecelakaan, sehabis tarawih itu.” Dengan rambut masih setengah basah, Kalandra yang mengemban Azzura, membuka obrolan dalam kebersamaan mereka.
Sahur kali ini, mereka ketambahan Widy dan ibu Rusmini yang memang menginap. Sebenarnya tak hanya ibu Rusmini dan Widy berikut anak-anaknya yang menginap. Karena orang tua Resty juga ada di sana. Hanya saja, sepasang renta itu tidak ikut sahur karena disarankan lebih baik untuk tidak berpuasa. Apalagi baik ibu Ripah maupun pak Mul, memiliki obat yang wajib dikonsumsi tiga kali sehari.
Kini, membahas ibu Muji, semua mata kompak menatap Widy. Dan Widy paham, kenapa itu sampai terjadi.
“Kemarin terakhir, kita barengnya di depan masjid. Iya, kan, Dy? Terus kita berpencar, dan sebelum itu, Mamah memang sempat jadi kompor ke dia,” ucap ibu Kalsum.
“Dugaannya ibu Muji sih jadi korban tabrak lari, Mah,” ucap Kalandra sambil menimang-nimang Azzura yang memang paling tidak bisa jauh darinya. Yang awalnya tidur pulas layaknya Aidan dan Azzam, pasti akan langsung bangun dan nangis jika Kalandra pergi.
“Kalau enggak salah, terakhir, si Ibu Muji, bareng sama pak Haji, deh,” ucap Widy. Setelah ibu Kalsum cerewet memintanya untuk segera mengambil nasi dan bersiap sahur, ia buru-buru beranjak dan memang sampai mengambilkan untuk sang mamah juga.
“Terus, sekarang sudah dirawat?” ucap pak Sana yang siap menyantap makanan sahurnya. Makanan sahur yang kali ini dimasakkan khusus oleh Arum hingga ia sangat bersemangat memakannya karena yakin, rasanya seenak penampilan masakannya.
“Sudah dibawa ke Banyumas, Pah. Stroke. Ibu Muji ada darah tinggi juga, kan. Jadi, kaki dan tangannya enggak bisa gerak dan ngomong pun susah,” jelas Kalandra.
“Berarti sudah sadar yah, sekarang?” lanjut pak Sana, tetap lahap walau sedang membahas kabar sedih. Karena selain itu menimpa ibu Muji yang sudah berulang kali kena teguran, masakan Arum yang tengah ia lahap, benar-benar enak seperti ekspetasi.
“Sudah, Pah. Nangis terus katanya,” balas Kalandra lagi, yang seperti biasa, kembali disuapi Arum dan memang menjadi bayi termuda Arum.
“Coba kalau sudah begitu, mau bagaimana? Mau menyadari kesalahannya dan mau berubah nggak?” komentar ibu Kalsum.
“Sudah, ... sudah, kita sahur dulu. Dua puluh menit lagi imsak,” tegur pak Sana.
“Papah lahap banget!” ucap Kalandra dengan mulut penuh suapan Arum. Ia menahan tawanya dan memang menertawakan sang papah.
__ADS_1
“Kangen banget sama masakan Arum. Berapa haru enggak makan masakan Arum jadi kurang selera makan,” ucap pak Sana yang kemudian langsung mendapat sindiran tajam dari sang istri.
“Kurang selera habis sepiring!” ucap ibu Kalsum yang selama Arum tidak masak, memang yang memasak. Sang suami langsung menahan tawa sambil menatapnya.
“Kan sayang istri, Mah!” ucap pak Sana.
“Ini sadis sebenernya,”ucap ibu Kalsum yang kemudian tertawa pasrah. Kalandra dan Arum yang sudah terbiasa, langsung tertawa. Lain dengan ibu Rusmini dan Widy yang hanya mesem dan tampak malu-malu.
“Ya sudah, nanti kalau ada waktu, aku masak banyak terus taruh di kulkas. Nanti kalau mau tinggal hangetin biar Mamah juga enggak capek, apalagi seharian, Mas Aidan juga nempel terus ke Mamah,” ucap Arum dan langsung disetujui oleh Kalandra maupun pak Sana.
“Loh, Mas. Mas kok ikut-ikutan setuju? Berarti Mas terpaksa juga, yah, makan masakan Mamah?” todong ibu Kalsum dan langsung membuat pak Sana sibuk menahan tawa.
Pak Sana menertawakan Kalandra yang sesekali ia lirik di tengah kesibukannya mengunyah.
“Ya kalau asa solusi lebih baik biar Mamah enggak capek, ... kenapa enggak, Mah?” balas Kalandra
“Ah, kamu Mas. Paling bisa jawabnya mirip papah kamu!” ucap ibu Kalsum. “Awalnya Mamah pengin belajar, tapi dipikir-pikir lebih bikin senang main sama mas Aidan!”
“Nah, kan, bener. Jadi, nanti masaknya langsung banyak, paling dipisah-pisah pakai kotak gitu, biar hangatinnya lebih ringkes enggak harus bongkar pasang,” tanggap Kalandra.
“Oke, nanti Papah Mamah, sama Mas Kala mau makan apa, didata, biar aku bisa siapin,” balas Arum.
“Nah, gitu. Nanti urusan belanja barang-barang, Papah siap urus, sekalian momong mas Aidan. Dia paling heboh kalau dibawa ke pasar!” timpal pak Sana bersemangat karena alamatnya kalau Arum yang akan masak, ia pasti akan selalu makan enak.
“Subahanalllooooh, mereka sekompak ini dan mereka beneran kompak dalam segala hal!” batin Widy takjub dengan kekompakan Arum dengan Kalandra sekeluarga. Termasuk itu ketika suara tangis Aidan terdengar, pak Sana yang sudah beres makan, langsung mengambil alih.
__ADS_1
“Biar Papah saja. Mas Aidan ...?” sergah pak Sana. Sekitar dua menit kemudian, pak Sana kembali sambil mengemban mas Aidan.
“Lama di sini aku bisa makin baper. Mereka sekompak itu. Pantes, mereka juga kompak bahagia. Moga nanti aku juga bisa begini sih sama keluargaku,” batin Widy yang baru ingat, tadi ia melihat nomor Sekretaris Lim mengiriminya WA. Namun karena ibu Rusmini sudah telanjur menegur takut Arum di dapur sibuk sendiri, ia jadi belum sempat membaca.