
“Biar saya yang coba kudanya dulu!” ucap pak Haji heboh berniat naik ke kuda pengantin sunat milik sang cucu.
Suasana rumah makan Arum tak hanya ramai, tapi juga meriah atas adanya pasukan drum band maupun kuda lumping yang akan mengiringi pengantin sunat di sana. Adalah mas Fauzan atau itu Ojan—cucu laki-laki pertama pak Haji dan digadang-gadang menjadi generasi penerus musafir cinta di masa depan. Cucu yang juga menjadi kesayangan pak Haji apalagi mas Ojan merupakan satu-satunya anak laki-laki.
“Jangan, Mbah. Bahaya!” tegur Kalandra sembari menahan pak Haji agar mengurungkan niatnya.
Pak Haji tidak terima dan menatap kesal Kalandra. “Saya tuan rumah loh Pak Pengacara. Tuh lihat, istri saya saja sudah dirias mirip bidadari surga!”
“Andai Mbah sampai terdepak kuda, musafir cinta beneran binasa karena generasi yang akan melanjutkan, masih piyik begini!” yakin Kalandra.
Sebagai tuan rumah acara, khusus hari ini, waktu Kalandra sekeluarga benar-benar fokus kepada acaranya pak Haji.
“Terus, ... terus, ... saya ngapain dong, Pak Pengacara?” tanya pak Haji yang menjadi tidak jadi naik kuda pengantin sunatnya.
Tanpa pikir panjang, Kalandra langsung menuntun pak Haji ke sebelah. Di sana ada rombongan kuda lumping yang juga sudah siap pentas. Semua warga sampai kepo dan begitu antusias menonton.
Layaknya kemeriahan pada kebanyakan, mereka juga mengabadikan momen keramaian di sana menggunakan ponsel canggih masing-masing, menjadi rekaman video.
“Sudah langsung saja, Pak Gede! Pak Gede jadi barongannya, mendemnya-mendem janda! Biar sekali dapat, langsung banyak!” yakin Septi yang walau tengah sibuk mengurus prasmanan khusus es gepluk, tetap saja masih aktif memperhatikan suasana.
“Pinter kamu, Sep! Gara-gara terbiasa minum obat cinta dengan dosis tepat sih, ya!” ucap pak Haji semringah.
“Ini baru dokter. Bayangkan kalau gebetanku du*kun dan sekelasnya, Pak Gede! Bisa-bisa omonganku jadi petuah dan aku digendong ke sana ke sini kayak macam du*kun cilik Ponari!” balas Septi sembari meracik setiap esnya.
“Kasihan yang gendong lah! Punggungnya pasti remuk bahkan lama-lama bus*uk kalau yang digendong segede kamu!” balas pak Haji mantap menghi*na layaknya biasa.
Tak hanya Septi yang langsung terbahak. Karena Kalandra yang tengah memegangi sekaligus menjaga pak Haji juga sudah langsung sibuk menahan tawa.
__ADS_1
“Mah, lihat ... suamiku kalau sudah sama pak Haji apalagi ditambah Septi, beneran enggak ada wibawa-wibawanya!” ucap Arum yang mengawasi dari lantai atas bersama ibu Kalsum.
Ibu Kalsum hanya mesem sebelum akhirnya mengawasi kedua cucunya yang tetap anteng tidur di dalam troli, walau suasana di bawah benar-benar ramai. Lain dengan Aidan yang ikut heboh bersama sang kakek di bawah sana, menonton drum band dan juga kuda lumping. Tampak jelas jika Aidan terpukau pada kedua hiburan yang pak Haji sajikan dan sukses menyedot perhatian banyak orang.
“Ke depannya, siap menampung acara besar lagi, yah, Mbak?” ucap ibu Kalsum.
Arum yang awalnya masih mengawasi suasana di bawah, berangsur menatap sang ibu mertua. Senyum hangat menghiasi wajahnya. “Iya, Mah. Lumayan banget. Ke depannya pun bisa buat usaha anak-anak.”
“Nah iya, siapin semuanya sekarang buat masa depan anak-anak! Mamah makin semangat, enggak sabar lihat anak-anak. Mas Aidan, ... Mbak Azzura, Mas Azzam, adik-adik mereka,” ucap ibu Kalsum antusias.
Arum yang menjadi tersipu, bertanya, “Memangnya, harus kasih adik berapa lagi, Mah?”
“Sebanyak-banyaknya, lah!” balas ibu Kalsum dengan entengnya.
Di lantai bawah dan di depan rumah makan yang sampai diteratag, Kalandra refleks menoleh sekaligus menengadah, membuatnya memergoki sang istri tengah berbincang bertabur senyum bahkan tawa dengan ibu Kalsum.
Pak Haji yang refleks memastikan apa yang Kalandra perhatikan, refleks berseru, “Es gepluk yang jual gajah duduk!”
Arum terpingkal-pingkal mendengarnya apalagi Septi langsung misuh-misuh.
“Tubuh gajah, rezeki juga gajah!” ucap Septi.
Acara syukuran sunat cucu pak Haji berangsur sangat meriah. Mereka yang ada di sana tak hanya terhibur. Karena beberapa dari mereka terinspirasi untuk menggelar acaranya di rumah makan Arum juga. Ibaratnya, acara pak Haji menjadi ajang promosi kinerja rumah makan Arum, apalagi acara di sana tak kalah dari acara di hotel ternama.
Meninggalkan suasana di kampung, di kota dan itu di Jakarta, Sekretaris Lim kembali dibuat tersipu oleh kelakuan istrinya. Di depan sana, Widy sibuk mengawasi sekitar seiring langkah wanita itu yang makin lama menjadi langkah yang begitu ragu.
“Ini ke mana, yah? Ini aku nyasar lagi? Ini rumah kenapa harus segede ini, sih Nampung seribu orang pun muat!” keluh Widy sambil terus melangkah.
__ADS_1
“Kenapa enggak tanya ke google saja, sih, Mah?” ucap Sekretaris Lim masih belum bisa menyudahi senyum khas kasmarannya.
Mendengar suara sang suami, Widy buru-buru balik badan. Ia dapati, di belakang sana, pria berkacamata itu sudah sibuk tersenyum karena ulahnya. Bisa kalian bayangkan betapa besarnya kediaman mereka yang memang masih merupakan kediaman Tuan Maheza.
“S-sayang!” rengek Widy buru-buru melangkah menghampiri sang suami. Ia yakin, Sekretaris Lim belum lama pulang. Terbukti, jas abu-abu yang pagi tadi ia pakaikan sudah menghiasi pundak pria itu.
“Papah pulang lebih awal?” sergah Widy.
“Mau ada acara buka bersama, jadi aku sekalian ajak Mamah. Anak-anak mau sekalian diajak juga? Tapi lebih baiknya jangan karena di sana banyak orang. Takutnya mereka juga enggak nyaman.”
“Enggak apa-apa, Pah. Di rumah saja. Di rumah pun sudah ada wahana main luas!”
Wahana yang Widy maksud tak beda dengan suasana wahana di pusat perbelanjaan. Selain banyak, tempatnya juga sangat luas hingga anak-anak Widy dan juga anak-anak Resty, bisa main dengan sangat leluasa. Bahkan tak jarang, orang tua Resty yang kelakuannya sudah kembali mirip anak-anak, turut bermain di sana. Selain itu, layaknya kedua anak Resty, ketiga anak Widy juga sudah langsung sekolah. Kehidupan mewah dengan pendidikan yang sangat terjamin benar-benar telah Widy dan anak-anaknya rasakan.
“Ini, aku mau antar ini dulu ke Aleya,” ucap Widy sembari menyodorkan karton cokelat yang ia bawa.
“Itu apa?” tanya Sekretaris Lim sembari merangkul sang istri.
“Tadi kami habis pergi, dan ini belanjaannya,” balas Widy yang hari ini memang baru diajak keliling salah satu mal oleh Aleya.
“Kamu beli apa? Jangan bilang, kamu enggak beli apa-apa. Atau beli tapi sedikit?!” tuding Sekretaris Lim sembari menatap curiga sang istri yang langsung membalasnya dengan tersenyum tak berdosa.
“Aku kan sudah punya semua, Pah. Kamu sudah sediain semuanya.”
“Ya tetap beda, Sayang!”
“Di mana-mana suami minta istri buat sehemat mungkin. Nah, Papah ....”
__ADS_1
“Jangan samakan aku dengan suami lain!” balas Sekretaris Lim sembari mencubit gemas hidung sang istri.