Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
176 : Selir-Selir Pongah


__ADS_3

“Wid ... Widy ada di sini?” batin Fajar.


Pesan dari Widy barusan yang juga sampai disertai foto Honey dan Septi, langsung mengacaukan kehidupan seorang Fajar. Fajar yang sampai detik ini masih selalu memakai masker, melongok gelisah suasana di depan sana. Jujur, Fajar sangat ingin memastikan, tapi melihat wanita kadal di depan sana masih berlagak layaknya fans garis keras untuknya, pria itu ragu.


“Tapi aku kangen Widy ...,” galau Fajar, apalagi ia yang sudah selesai dengan pekerjaannya, bisa dengan bebas melakukan apa pun, termasuk itu sekadar memastikan keberadaan Widy di luar.


Masalahnya andai Fajar keluar, si Honey pasti akan langsung nempel, selain di depan sana yang juga masih ada Septi. Bisa langsung dirujak ia oleh keduanya bahkan oleh Widy andai wanita itu memang ada di depan juga.


“Ini kalau dilihat, ngambil fotonya ini dari depan mesin ATM. Kayaknya si Widy memang di sini.” Fajar galau, tapi ia tidak mau rasa menyiksa itu bertahan lebih lama lagi. Karenanya, ia nekat keluar dan membuat Honey langsung histeris.


“Ah! Ayang Fajar!” Honey langsung menempel ke dada Fajar.


Septi yang awalnya sudah ke halaman depan bank untuk pulang, langsung tertawa sampai lemas. “Langgeng-langgeng ya, kalian! Gemes banget lihatnya! Cucoek meong pokoknya!”


Mendengar itu, Widy yang baru keluar dari ruang ATM, juga sampai agak membungkuk menahan tawanya.


“Eh, ada Mbak Widy? Ayo, Mbak, mampir ke es Gepluk Cap Gajah Duduk punyaku. Es aku tolong di endorse biar enggak kendors, Mbak! Ke Mas Angga saja, Mbak mau bantu, masa ke aku yang imut segede ini, Mbak enggak mau bantu!” Septi sengaja menggoda Widy, bersikap semanis mungkin agar wanita yang ia ketahui sangat lihai dalam berdagang itu mau membantunya.


“Ya Alloh Sep, kamu sok manis gitu, bukannya luluh, yang ada malah mau muntah lihatnya!” cibir Fajar jujur sambil melirik tak habis pikir mantan calon istrinya.

__ADS_1


Septi tak jadi menyalakan mesin motornya bersama tatapannya yang langsung menatap syok Fajar. “Mun-tah? Mas Fajar bilang gitu ke aku, pasti karena Mas lagi kesurupan. Muntah apaan, dulu saja waktu kita mau nikah, dunia ini serasa hanya milik kita berdua. Yang lain pokoknya cuma ngontrak atau malah numpang lewat. Jangan lupa, ya, dulu situ sering uwel-uwel aku! Semenit enggak dapat kabar dari aku, katanya bikin situ nahan rindu berasa menahan ribuan bisul. Tuh, WA-nya belum aku hapus sengaja buat bukti. Soalnya kan situ ternyata, tipe-tipe yang lain di mulut, lain lagi di hati. Lain lagi di gigi! Hahahaha!” Setelah berbicara panjang lebar demikian, Septi sengaja berkata, “Ya kan Mbak Widy? Gigi pongah! Hahahahah!”


Widy yang masih menahan tawanya, berangsur mengangguk-angguk. “Enggak kuat aku, Sep!”


“Urusan itu gampang, Mbak. Tinggal calling-calling pak Haji. Walau sudah bau tanah, gitu-gitu dia perkasa. Enggak kayak yang pongah onoh, noh! Hahaha!” balas Septi merasa puas dengan hinaannya sendiri.


“Kadal emang kamu Sep!” omel Fajar yang kali ini sampai mendelik sambil berkecak pinggang menatap sebal Septi.


“Kadal tapi pernah sayang?” goda Septi tetap saja ceria. “Mas Fajar, aku mau kasih breaking news. Bahwa per hari ini, berat badanku udah turun tiga kilo! Awas loh kalau aku udah seksi lagi dan kamu ngiler mohon-mohon ke aku. Ih, ndajees!” lanjutnya kembali terbahak.


“Ih, Sist Septi, ... Ayang Fajar kan jatah aku!” sebal Honey. Tak tanggung-tanggung, walau tatapannya tertuju kepada Septi, tubuhnya sudah mirip katak bangkong yang menempel di tubuh Fajar. Kedua kakinya menempel di kedua lutut Fajar, membuat Fajar sempoyongan kehilangan keseimbangan karena biar bagaimanapun Honey tetap berat apalagi tubuh laki-laki dan perempuan biasanya lebih berbobot laki-laki.


Widy sudah sangat tidak karuan. Tak hanya tertawa lemas, tapi ia juga sampai kebelet pipis. Buru-buru ia menuju motornya yang terparkir di seberang motor Septi.


Widy yang merasa kecolongan, tak bisa berbuat banyak selain merelakan fotonya yang akan Septi jual ke pak Haji untuk membeli popok dan susu anaknya. Iya, Widy juga tahu bahwa wanita itu memiliki anak yang lahir istimewa, yang mana bapak dari anak Septi malah suami Anggun.


“Honey si Madu, bye bye ... langgeng-langgeng, ya! Wajib sampai akhir hayat! Besok kalau kalian beneran sampai nikah, aku kado obat kuad! Hahahaha. Eh Mas Fajar, tuh dua kantong itu, itu semua pakaian yang dulu Mas kasih ke aku. Makan tuh onderdil! Terus kalau Mas beneran minta balikin yang sudah aku makan, ambil sana di spiteng! Hahahaha!” Walau sudah membawa motor bebek tuanya yang tentu saja jauh dari kata modis apalagi glamor, Septi tetap usaha meminta Widy untuk membantu usaha esnya.


“Nanti aku kasih gratis, Mbak.”

__ADS_1


“Besok ya! Besok aku mampir sekalian ngabuburit!” sanggup Widy.


“Ah siiiiaaap!” Setelah sampai mengucapkan terima kasih, Widy sampai menekan klaksonnya dan sengaja ia tujukan pada Fajar dan Honey. Sampai detik ini, Honey masih menjelma menjadi kodok bangkong yang mendekap erat Fajar.


Hingga akhirnya, baik Fajar maupun Honey, berakhir jatuh berjamaah. Beberapa dari meraka yang menyaksikan kenyataan tersebut sudah langsung bersorak, menertawakan keduanya.


“Honey, kamu ngapain, sih?” kesal Fajar.


“Aku mau lindungi kamu dari godaan lalat-lalat yang mendekat, Ayang!” manja Honey.


Kini, giliran Widy yang menekan klakson, selain wanita cantik itu yang sudah bersiap pergi. Fajar dan Honey yang masih meringkuk dan tengah berusaha duduk, langsung menjadikan ulah Widy sebagai pusat perhatian.


“Mas Fajar!” seru Widy yang langsung sukses membuat Honey mendadak berpegangan erat ke leher Fajar sebagai wujud dari rasa cemburunya.


“Oh Honey kadal! Ini aku enggak bisa napas!” keluh Fajar sambil berusaha mengakhiri kedua tangan Honey, tapi sayangnya kali ini, Honey dalam mode perkasa. Tenaga Fajar tak ada apa-apanya.


Widy yang nyaris ngompol memilih pergi. “Langgeng-langgeng yah, kalian. Mas Fajar, sampai akhir menutup mata, yah, sama si Cantik! Aku tunggu undangannya!”


Mendengar apa yang Widy katakan dan itu doa terbaik untuk hubungan mereka, Honey mengakhiri kedua tangannya dari leher Fajar. Detik itu juga Fajar langsung tergeletak karena kehabisan oksigen. Sementara di depan, Widy sudah pergi.

__ADS_1


“Alhamdullilah kalau gini. Aku kasih napas buatan!” ucap Honey bersemangat dan langsung membuka masker Fajar yang tak kunjung merespons. Dan setelah ia membuka mulut pria idamannya itu .....


“Aaaarrrrggggg! Pongah!” teriak Honey sangat kemayu sekaligus histeris. Namun semua yang ada di sekitar sana termasuk itu tukang dawet ayu yang masih berjualan, malah sangat terhibur oleh keterkejutan Honey.


__ADS_2