
“Naik becak sama delman saja sampai harus ke Yogyakarta, ... kalian ini yah, norak! Di kecamatan sama pasar depan juga masih banyak! Ckckckck!” ucap pak Haji sengaja mengh1na rombongan Kalandra yang tiba-tiba saja mengajaknya berkomunikasi lewat sambungan telepon video.
Pak Haji duduk sila di bangku depan kontrakan Septi yang memang masih menjadi tempat tinggalnya. Berteman sepiring pisang goreng dan segelas besar teh manis buatan ibu Fatimah, sarapan paginya benar-benar sempurna.
“Ini lihat. Setelah sarapan halal, tinggal sarapan yang bikin perut kenyang!” ucap pak Haji sengaja memamerkan sarapan yang dimaksud. Di seberang sana, Kalandra yang mengarahkan kamera ke rombongan yang baru turun dari delman dan becak, langsung tertawa.
“Berarti Septi beneran bakalan punya adik, ya, Mbah?” tanya Kalandra yang kemudian tertawa.
Pak Haji langsung tersipu malu. “Doakan saja, ... siapa tahu saya beneran jadi bisa punya penerus Musafir Cinta selain Ojan!”
“Kalau keturunan ibu Fatimah kayaknya enggak bakalan dapat restu buat jadi generasi penerus musafir cinta, sih!” komentar Arum sambil menyantap wingko hangat di seberang sana. Jailnya Kalandra yang langsung mengarahkan kamera ke sang istri yang berkomentar, pria itu juga tak segan menempelkan pipi ke pipi Arum disusul Kalandra yang langsung mengecup gemas sebelah pipi Arum.
Pak Haji yang iri tak segan mengacungkan jari tengah tangan kirinya pada Kalandra. Namun yang ada, bukannya marah atau setidaknya tersinggung, Kalandra malah jadi tidak bisa berhenti tertawa.
“S-sayang ... Sayang. Itu kemarin baru ada yang nikah, tapi kok bulan madunya cuman ke luar kecamatan, yah, enggak sampai keluar kota?” ucap Kalandra sengaja menjadi kompor untuk pak Haji.
“Pak Pengacara bikin gara-gara, ya! Kalau saya sampai pergi ke lain negara bagaimana?” balas Pak Haji.
“Ya malah bagus kalau memang benar, Mbah! Ajak istri baru jangan lupa. Siapa tahu beneran jadi dapat anak laki-laki!” balas Kalandra sengaja menantang.
“Mi Umi ... Mi, sini, Mi! Sini, kita bahas bulan madu lagi. Bulan madu halal bin ibadah!” seru pak Haji dan sampai membuat Kalandra sibuk menahan tawa bersama Arum.
Tak lama kemudian, ibu Fatimah yang membawa baskom sedang berisi bahan gorengan, keluar. “Ada apa?” tanyanya sambil menatap tak habis pikir sang suami yang begitu hobi merengek manja kepadanya.
__ADS_1
“Umi ... Umi Fatimah. Katanya si Mbah mau ngajak Umi bulan madu ke luar negeri. Umi mau enggak? Siap-siap loh, bentar lagi kan lebaran haji. Minta naik haji saja sekalian bulan madu. Ibadah halal kan?” ucap Kalandra dari seberang sana.
Ibu Fatimah yang menyimak langsung menggeleng tak habis pikir. “Kalian sama saja kalau sudah bercanda!”
Di seberang sana, lagi-lagi Kalandra tertawa. “Tapi Ibu Fatimah mau kan, naik Haj, mumpung suasananya pas?”
Apa yang baru saja Kalandra katakan berhasil mengetuk hati seorang ibu Fatimah. Keinginan itu sungguh tumbuh, tapi mendadak ia kubur lantaran sadar tak mungkin bisa.
Sadar sang istri jadi diam, tapi diamnya malah diselimuti banyak kesedihan, pak Haji sengaja menegur. “Mi, ... Umi mau? Kalau iya, mau umrah dulu, apa langsung haji? Kalau Haji kan wajib daftar dulu, paling tahun depan. Makanya Umi makin dikencengin doanya, doakan Mbah biar tetap sehat biar kita sama-sama sampai janah!” ucapnya lembut, mencoba merayu sang istri. Namun karena dari seberang sana Kalandra malah terbahak-bahak, ia sengaja menjadikan ponselnya itu sebagai ganjal *4****.
“S-sayang ... ini kamera mengarah ke mana?” suara Kalandra terdengar kebingungan.
“Enggak tahu, Mas. Ini gelap gini, tapi itu mirip kain sarung pak Haji,” balas Arum dengan suara tak kalah bingung.
“Duduk, Mi. Sini duduk. Hari ini juga, Mbah urus Haji apa umrahnya. Kalau memang bisa, langsung haji saja,” bujuk pak Haji lagi.
Ibu Fatimah nurut-nurut saja karena memang ingin umrah atau naik haji seperti yang diarahkan Kalandra.
Setelah ibu Fatimah duduk, pak Haji sengaja mengambil ponselnya. Pak Haji langsung mengarahkan kamera ponselnya pada kebersamaannya dan ibu Fatimah. “Besok pas kami umrah atau naik haji, kami bakalan langsung telepon atau rekam videonya buat kalian. Kami bakalan naik unta!”
“Untanya langsung encok kalau sampai kalian naikin!” ucap Kalandra yang lagi-lagi tertawa.
“Ibu Fatimah, ... sini gabung. Nih, di belakang kami ada candi Borobudur! Udara di sini kalau pagi-pagi gini seger banget! Tuh kan, masih banyak kabut!” ucap Arum yang kemudian mengambil alih kendali ponselnya untuk mengarahkan kameranya ke sekeliling, hingga rombongan mereka termasuk anak-anaknya yang bersama pak Sana dan ibu Kalsum, tersorot.
__ADS_1
“Sebenarnya pengin banget, Mbak Arum. Masalahnya ini masih ngawasin Anggun, kan,” balas ibu Fatimah jujur.
“Memangnya bikin ulah lagi itu manusia, Bu?” tanya Arum dan kali ini langsung terdengar sewot.
Ibu Fatimah menghela napas pelan sekaligus dalam. “Sekarang memang sudah jadi rajin. Shalat selalu tepat waktu juga, tapi yaitu, ada maunya. Si Anggun kan naksir dokter Andri. Ketakutan si dokter Andrinya gara-gara dipepet terus. Itu kemarin juga katanya, ada pasien wanita yang di4muk Anggun gara-gara Anggun cemburu, seolah Anggun itu pasangannya dokter Andri.”
Arum yang sudah langsung memasang wajah tidak nyaman langsung menggeleng tak habis pikir. “Kalau sudah begitu saya jadi prihatin, yah, Bu. Jadi curiga juga. Sebenarnya memang ada kelainan atau memang dasarnya pas pembagian otak, dia bolos?”
“Hahaha ... Ibu Pengacara. Untuk pertama kalinya, jurus taflonmu mental dan enggak mempan. Jangankan taflon, dukkun sakti mandra berguna saja, kayaknya enggak sanggup kalau yang dilawan sekelas Anggun yang bebalnya kebangetan!” Pak Haji kesulitan menyudahi tawanya.
Ibu Fatimah berangsur menyisihkan baskom berisi bahan gorengannya, menaruhnya di lantai bawah bangku takut Sepri atau Ojan datang dan malah buat mainan karena dua hari berturut-turut, hal tersebut sungguh terjadi.
“Ini kan perjanjiannya kami kasih dia waktu satu minggu. Kalau satu minggu dari hari kemarin dia enggak berubah jadi lebih baik juga, kami sepakat enggak mau menerima dia lagi. Saya sengaja memberi dia kesempatan untuk ke sekian kalinya karena saya tahu makna kesempatan itu sangat luar biasa. Sebelum di titik sekarang pun, saya bukan orang baik. Termasuk sampai sekarang, saya masih belajar buat jadi orang baik. Hanya saja, jika kesempatan yang terus kami berikan malah dia sepelekan, saya termasuk orang di sini juga enggak bisa terus direpotin,” jelas ibu Fatimah.
Dari seberang, Arum sudah langsung mengangguk-angguk prihatin di tengah tatapan wanita itu yang nasih tampak sangat prihatin.
“Tapi asli loh, kalau aku yang jadi Andri juga pasti takut. Dikejar-kejar orang bar-bar enggak pernah mikir. Suh, jangan sampai agenda 4muk-mengamuk sampai terulang deh!” komentar Kalandra yang kemudian sampai menanyakan perkembangan hubungan Septi dan dokter Andri, tapi pasangan paruh baya yang ditanya, kompak menggeleng.
“Nah itu, Septi beneran enggak mau nikah lagi. Malahan Anggun yang terus pepet si Andri. Hahahaha!” sergah pak Haji yang lagi-lagi kesulitan tertawa. Apalagi ketika Anggun yang sudah memakai baju ke sawah datang dengan rias tebal di wajahnya yang tidak menyatu dengan warna kulit Anggun lantaran kelewat dekil.
“Jadi artis kamu, Nggun ... Ngunn! Sini, saya foto!” ucap pak Haji di sela tawanya.
“Jangan lah Pak Haji. Saya berani dandan begini kan hanya buat Mas Dokter Andri!” Anggun malu-malu menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajah.
__ADS_1
Sementara yang menyaksikan, baik itu Arum dan Kalandra yang masih menghiasi layar ponsel pak Haji, juga ibu Fatimah yang masih di sana, langsung istighfar sambil menggeleng tak habis pikir.