
Menyesal menjadi satu-satunya yang ibu Lasmi rasakan sekarang. Namun, bukan karena ibu Lasmi sampai disidang dan harus menandatangani hitam di atas putih dan dikuatkan oleh adanya materai di sana. Sebab alasan ibu Lasmi menyesal karena wanita itu merasa telat memperdaya sekaligus menguras kekayaan seorang Kalandra.
“Andai aku melakukan ini saat Kalandra sedang jatuh-jatuhnya. Andai aku melakukan ini saat Kalandra masih sering tidur di makam Bilqis. Andai saat itu aku langsung menikahkan Kalandra, pasti anak perempuanku tak jadi janda hanya karena memiliki suami kikir!” batin ibu Lasmi.
“Kamu enggak pernah benar-benar mencintai Bilqis. Ibu yakin, sekarang Bilqis ada di sini dan dia sudah menangis darah. Bilqis mati gara-gara hamil anak kamu, tapi kamu dengan mudah berpaling dan bahagia dengan wanita lain!” Ibu Lasmi menatap pedih Kalandra yang kembali mendekap Arum, setelah sebelumnya Kalandra menyiapkan surat perjanjian untuknya. Surat perjanjian mengenai ibu Lasmi yang dilarang berulah lagi.
“Ibu DPR mau siram wajah Ibu Warisan pakai air putih? Bentar saya saja yang dekat karena kalau Ibu DPR yang siram dari sana, pasti enggak kena total!” ucap pak Haji yang dengan penuh semangat mengguyur wajah ibu Lasmi menggunakan segelas air putih miliknya.
“Ya ampun!” kesal ibu Lasmi yang jujur saja terlalu syok karena ia pikir, tadi pak Haji hanya sedang bercanda.
“Ibu Lasmi ingin anak saya stres, tega-teganya Ibu bilang begitu? Tega kamu ya, Bu! Lama-lama makin enggak kenal aturan!” ucap ibu Kalsum. “Dasar sableng! Minta warisan kok sama besan! Tiap bulan saja setiap gaji Bilqis dikirim ke kamu. Kurang-kurang Kalandra nambahin. Maaf ini saya wajib bahas. Situ masih punya otak dan ingatan masih bisa dipakai, enggak? Situ ingat, setiap Bilqis pakai perhiasan kalau pergi sama situ pasti disikat. Setia Bilqis punya tas, pakaian, dan semua barang yang rada bagus pasti ludes. Semua barang yang tentu saja dari kami. Sampai-sampai, pas tetangga apalagi keluarga besar enggak sengaja ketemu Bilqis setelah Bilqis bertemu kalian, mereka kompak laporan, Bilqis kayak enggak keurus. Pakaian sama sandangnya kucel! Padahal itu ditukar oleh kalian!” emosi ibu Kalsum.
Pak Haj yang mendengar itu sengaja menambahi, “Janc*uk, emang! Sue! Bahaya ini. Enggak jadi ambil jandanya. Saya mau cari yang lain saja!”
Jadi, alasan Kalandra sekeluarga merasa jauh lebih dihargai setelah memiliki Arum sebagai menantu, tentu karena Arum jauh lebih menghargai apa yang mereka berikan. Malahan setiap pemberian dari Kalandra, sekadar pembungkusnya saja ikut Arum simpan secara khusus di etalase penyimpanan yang menghiasi sudut kamar mereka. Tentunya, adegan raibnya hadiah juga tak sampai keluarga Arum lakukan, walau jika dilihat dari materi, keluarga Arum jauh lebih tidak punya dari keluarga Bilqis.
“Wah, parah banget sih kalau sudah kayak gitu,” batin Arum. “Pantas Mas Kala seneng banget lihatin aku pas aku beresin setiap pembungkus hadiahnya kemudian aku susun rapi di etalase!”
“Dari tadi, Anda terus-menerus bilang, kami, apalagi saya tidak benar-benar tulus ke Bilqis. Sekarang saya tanya, Anda sendiri bagaimana?” kesal Kalandra yang kembali berdiri.
__ADS_1
“Dia kan enggak punya otak, Pak Pengacara. Ya enggak bida mikir juga!” yakin pak Haji kemudian bersedekap sambil menatap tak habis pikir ibu Lasmi. “Saya enggak jadi ambil anaknya yang janda lah. Takutnya malah saya sampai diracun hanya agar dia dapat warisan. Ibu ini kan DUTA WARISAN. Yang dikit-dikit minta jatah warisan!”
“Kalaupun masih hidup, Bilqis pasti memilih bunuh di*ri ketimbang hidup tapi punya Ibu DUTA WARISAN seperti Anda!” kesal Kalandra. Walau ia berucap lirih, ucapannya tak kalah menusuk dari tatapannya kepada mantan mertuanya itu. “Anda tahu di mana keberadaan pintu? Pergi secepatnya sebelum saya berubah pikiran. Sebab orang tua seperti Anda sudah tergolong sebagai orang tua tukang eksploitasi anak!”
“Biar saya yang antar walau saya enggak jadi ambil anaknya yang janda. Saya sedang berbaik hati apalagi sekarang sedang bulan puasa!” ucap pak Haji bersemangat mengantar ibu Lasmi.
Ibu Lasmi langsung melirik bengis pak Haji tanpa sudi disentuh apalagi sampai diantar pria tua itu.
“Sudah, terima saja. Paling kalau saya gemes, saya jorogin alias dorong pakai tenaga dalam!” yakin pak Haji.
Arum berangsur berdiri dan memfokuskan tatapannya kepada ibu Lasmi. “Ini Ibu mau pergi, sudah paham belum, jika apa yang Ibu lakukan salah? Jika cara Ibu meminta warisan ke besan tak hanya salah tetapi juga tak beradab? Jangan diulangi kalau Ibu beneran enggak mau berurusan dengan polisi.”
“Ibu seangkuh itu padahal buat hidup saja, Ibu sengaja jadiin anak-anak Ibu sapi perah. Ibu tanpa tahu malu meminta jatah warisan. Sadar, Bu. Sadar sebelum Ibu benar-benar enggak punya kesempatan buat hidup normal!” yakin Arum.
“Enggak punya kesempatan buat hidup normal, contohnya stroke, ya? Enggak apa-apa sih, biar nyusul ibu Muji. Mereka kan satu spesies! Biar mereka bisa satu geng!” yakin pak Haji.
Namun layaknya ibu Muji, ibu Lasmi juga tetap merasa tak bersalah. Ia pergi dengan keangkuhan yang malah sengaja disombongkan.
Pak Haji yang masih kepo, sengaja mengikuti kepergian ibu Lasmi. “Penasaran, tuh orang tadi ke sininya naik apa? Gayanya mirip nyonya direksi, sombongnya lebih tajam dari aroma sambal terasi!”
__ADS_1
Kepergian ibu Lasmi membuat Arum menyadari, ketimbang dirinya, Kalandra sekeluarga jauh lebih terluka gara-gara ulah wanita itu. Apalagi jarak pernikahan Arum dan Kalandra yang terbilang singkat dari kematian Bilqis, selalu dijadikan senjata mematikan bagi yang tidak menyukai hubungan mereka khususnya pihak Bilqis.
Pak Sana yang sadar ulah ibu Lasmi menjadi beban bahkan duka tersendiri untuk keluarganya, sengaja berdeham. Ia mengajak semuanya duduk, siap-siap makan sekaligus buka puasa.
“Enggak usah dipikirkan. Karena orang-orang seperti ibu Lasmi, jauh lebih senang kalau kita sampai termakan omongan sekaligus ulah dia. Ke depannya pun kita wajib terbiasa menghadapi orang seperti dia. Walau memang tidak mudah, tapi bukan berarti kita memilih menyerah termasuk itu memberi apa yang mereka mau. Yang penting kita sudah punya hitam di atas putih dan sampai ada materai, kita bisa lebih mudah mengurusnya!” yakin pak Sana yang kemudian menggoda Aidan. Bocah itu mengambil ayam goreng bagian paha dari piring saji kemudian menyuapkannya kepada ibu Kalsum.
“Uti ... aaa?” tuntun Aidan sampai membuka mulutnya.
Ibu Kalsum yang telanjur jengkel kepada ibu Lasmi berkata, “Uti lagi sakit gigi. Jadi susah makan.”
“Oh, sakit gigi ...?” Aidan mengangguk-angguk.
“Iya, ... daripada Uti sakit hati. Mending Uti sama Mas Aidan saja sambil nahan sakit gigi!” ibu Kalsum memeluk hangat Aidan yang tetap menyuapinya ayam goreng. Hanya saja, kali ini Aidan sampai membuat paha ayam goreng itu menjadi suwir yang kecil hingga lebih mudah dikunyah layaknya apa yang selama ini sang Uti atau itu mbah Putri yang berarti juga nenek, lakukan kepadanya.
Melihat kebaikan sang putra, Arum menjadi berkaca-kaca. Ia mendongak, membuatnya menatap wajah Kalandra. “Mas Aidan manis banget. Mirip papah Kala sama Kung Sana!”
Kalandra yang walau langsung tersenyum mendengarnya, juga langsung berkaca-kaca. “Saat dewasa nanti, pasti lebih manis lagi!”
“Amin!” lirih Arum sambil tersenyum manis. Tak kalah manis dari sikap sang putra kepada neneknya. Ia berangsur memeluk Kalandra dan juga langsung dibalas oleh Kalandra.
__ADS_1
Novel Mas Aidan sudah ada ya. Jangan sampai ketinggalan : Talak Di Malam Pertama (Kesucian yang Diragukan)