
Dering tanda pesan masuk di ponsel Arum dan Kalandar yang nyaris terdengar berbarengan, membuat Kalandra yang tengah memandikan Aidan di kamar mandi, menjadi sibuk mengernyit.
“Sayang, kamu perhatiin hape kita. Berisiknya barengan,” ucap Kalandra pada Arum yang tengah memandikan Azzura dan itu masih ada di sebelahnya.
Arum menoleh ke nakas selaku keberadaan ponsel mereka yang memang bersebelahan. Karena sebelum memandikan anak-anak, ia sudah terlebih dulu membereskan tempat tidur termasuk nakasnya. Tentunya, semuanya sudah dalam keadaan rapi, walau dalam hitungan menit, jika Aidan sudah ‘beraksi’, semuanya akan kembali layaknya kapal pecah. Alasan tersebut pula yang membuat Kalandra melarang Arum sibuk beres-beres. Kalandra tak mau Arum kelelahan karena sebanyak apa pun Arum membereskan, keaktifan Aidan yang memang sedang aktif-aktifnya, akan berkali lipat lebih cepat lagi dalam memberantakan.
Arum menoleh, menatap Kalandra yang masih menjadi suami siaga. Karena sekadar mengurus anak termasuk itu memandikan dan juga memakaikan pakaian, Kalandra sudah sangat lihai. “Itu pesan WA. Terus barengan gitu, sepertinya dari semacam grup. Grup keluarga paling. Mamah, apa papah.” Arum yakin begitu karena ia dan Kalandra memang tergabung dalam grup yang sama dan itu grup keluarga yang hanya berisikan mereka dengan orang tua Kalandra.
“Mamah, atau papah? Mereka kan lagi jalan-jalan sama mas Azzam,” ucap Kalandra yang kemudian mengeringkan tubuh Aidan menggunakan handuk khusus milik bocah itu. Tak lupa, ia sengaja menggelitiki Aidan hingga acara mandi mereka makin ceria.
“Coba dilihat, takutnya penting, Pah. Ini aku tanggung sebentar lagi, mbak Azzura masih betah berendam santai begini,” ucap Arum.
Kalandra yang menyanggupi sambil mengemban Aidan yang tubuh ya sudah pria itu lilit menggunakan handuk, sengaja mengecup pipi kanan Arum, sebelum ia benar-benar keluar dari kamar mandi.
“Innalilahi ....”
“Siapa yang meninggal, Pah?” Arum langsung panik, bergegas mengangkat Azzura dari bak mandi khususnya.
Arum buru-buru melongok layar ponsel sang suami. Layar ponsel Kalandra dihiasi ruang obrolan grup pengabdi musafir cinta yang dibuat menggunakan akun pak Haji.
“Pak Haji?” lirih Arum sambil menatap sang suami, setelah sebelumnya, sampai tidak bisa berkata-kata.
Pak Haji : Lihat, sarapan rasa cinta buatan umi Fatimah tercinta. Mana sarapan kalian?
WA tersebut menjadi WA pertama dari pak Haji, setelah sebelumnya, sederet anggota grup dimasukkan dan membuat dering pemberitahuan membisingkan ponsel.
Arum terdiam bingung lantaran sang suami tiba-tiba tersenyum jail kepadanya. Senyum jail yang perlahan menjadi tampang tak berdosa.
“Papah mau apa? Ini ekspresinya mendadak modus banget!” tanya Arum jadi tegang sendiri.
Di tempat berbeda, pak Haji masih duduk santai di depan kontrakan Septi.
Teng-klung ....
__ADS_1
Dering tanda pesan masuk membuat pak Haji yang tengah mengunyah bolu di dalam mulutnya, tak jadi meminum tehnya.
Pak Haji yang baru pamer kemesraan penasaran, tanggapan apa yang diberikan oleh anggota grup WA-nya.
“Eeeeghh!” Akan tetapi, Pak Haji malah mendadak tersedak bolu di dalam mulutnya yang tiba-tiba saja sulit ditelan hanya karena menu sarapan yang Kalandra kirimkan. Tak main-main, Kalandra mengirimkan foto pria itu tengah memeluk sekaligus menc*i*um pipi kiri Arum.
Pak Pengacara : Judulnya, sarapan halal. Habis mandiiin anak-anak, tinggal mandi bareng mamahnya, terus jalan-jalan. Yang belum halal jangan bilang jan*cvk (emoji ketawa sampai nangis miring 9)
Septi yang ikut menyimak, sudah langsung tertawa sampai menangis, selain wanita bertubuh semok itu yang perlahan merosot dari bangku dan berakhir terduduk lemas di lantai. Tampah berisi potongan sayur untuk gorengan sampai terbalik dan otomatis, isinya juga tumpah.
“Kalian kenapa, sih?” tanya dokter Andri penasaran.
“Cek hape, Mas. Cek hape! Ih, Mas enggak update banget!” ucap Septi di tengah tawa lemasnya. Namun baru saja, pak Haji yang masih menatap saksama layar ponsel berkata, “Janc*vk!”
Septi yang penasaran buru-buru memastikan. Meraih ponselnya yang masih ada di bangku putih sebelah pintu kontrakannya.
Widy : Belum sarapan. Masih mager.
Tak beda dengan Kalandra, Widy juga sampai menyertakan foto. Foto yang langsung membuat pak Haji misuh-misuh. Sebab foto yang Widy kirimkan berupa foto tangan kanan Sekretaris Lim yang masih mendekap mesra pinggang Widy, sementara kaki kanan Sekretaris Lim tampak menindih kaki kanan Widy. Mereka masih memakai piama lengan panjang sama.
Pak Pengacara : Mager halal itu. Mana halalmu, Mbah? (Emoji ketawa sampai nangis sekaligus miring tujuh)
Angga : Kapan mau ke KUA, Mbah? Haruskah saya yang jadi penghulunya?
Pak Haji : Kamu jadi pendeta saja, Mas Angga. Kan kamu sudah niat enggak nikah lagi.
Angga : Takut wariyem pada tobat, kalau saya beneran jadi pendeta, Mbah.
Pak Haji : Urusan Wariyem biar jadi urusan Septi. Dia kan cukup keluarin jurus seruduk banteng! Itu kenapa Widy langsung sepi.
Widy : Mau otw sarapan halal juga, Mbah (emosi ketawa sampai nangis)
Pak Haji : Bikin pengin ih!
__ADS_1
Pak Pengacara : Hahahaha
Pak Haji : Yang masih duda sama janda, enggak usah komentar. Mode nyimak saja kayak Septi sama pak dokter. Tahu-tahu nikah. Sapi satu ekor dong! Hahahaha.
Angga : Mode nyimak
Pak Haji : Haha, pak pendeta!
Septi langsung geleng-geleng dan memutuskan tak lagi menyimak grup yang bisa membuatnya bengek dadakan itu. Susah payah ia mengumpulkan potongan sayurannya dan berniat mencucinya agar tidak mubazir.
“Gara-gara grup se*s*at! Bakal daganganku jadi korban!” keluh Septi yang masih kesulitan mengontrol tawanya.
“Eh, Mas? Sekarang kan masih suasana lebaran. Masa si Nissa sekolah?” sergah Septi walau Nissa memang tak sampai memakai seragam sekolah. Nissa memakai pakaian muslim lengkap dan biasanya menjadi salah satu seragam sekolah gadis kecil itu ketika ramadan.
“Mau ikut piket, soalnya mbahnya bentar lagi juga piket pagi,” ujar dokter Andri.
“Wah ... wah, nasib pak Duda yang satu ini kalau kata orang tua itu ‘ndoresani’ alias memilukan. Ya sudah di sini saja, kan banyak orang. Daripada ikut kerja kan bosan. Mending di sini, bisa bebas main sekalian lihat gajah sama jerapah urus sawah!” ucap pak Haji. Jelas yang ia maksud gajah dan jerapah itu Anggun dan Supri.
Tak hanya pak Haji yang kasihan kepada Nissa. Karena Septi juga merasa, andai Sepri besar, putranya pasti akan mengalami masa-masa sulit seperti Nissa. “Nissa enggak usah ikut, takutnya nunggu papah jadi bosan. Di sini saja, banyak teman. Apalagi kalau nanti rombongan bude Arum datang. Kalaupun nanti Tante pergi jualan, Nissa kan bisa main sama Sepri.”
“Si Septi emang ijo ke uang. Masih nuansa lebaran, sudah asal jualan. Dasar mangas!” ucap pak Haji.
Septi langsung tertawa sampai lemas. “Banyak yang sudah order, pak Gede. Sampai sudah ditransfer bayarannya.”
“Wah ... berarti diam-diam kamu banyak duit dong Sep!” sergah pak Haji penasaran.
Alasan yang langsung membuat Septi bungkam karena takut, jika ia jujur, pak Haji tak lagi memberinya upah uang tambahan.
Tak lama kemudian, pak Haji sudah memantau Anggun dan Supri yang pada akhirnya nyemplung ke sawah. Angga juga diam-diam mengawasi dari kejauhan. Tentu saja, kedua manusia itu tak langsung bekerja layaknya manusia normal. Keduanya masih melakukan segala sesuatunya dengan malas-malasan. Walau ketika pak Haji mengomel, omelan pria berkepala pelontos itu tak ubahnya cambuk yang detik itu juga membuat Anggun maupun Supri, tunggang langgang.
“Heh, Supret! Tukeran. Masa aku yang tandur di lumpur dalam begini, kamu yang ndaut di daratan!” protes Anggun.
Padahal tanpa harus dijelaskan harusnya Anggun paham, bahwa alasan suaminya mendapatkan pekerjaan lebih ringan darinya karena Supri hanya memiliki satu kaki.
__ADS_1
Namun Angga yang menyaksikan sangat berharap, Anggun dan Supri akan segera menjadi manusia yang lebih berguna.