Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
80 : Sedang Ingin Dimanja


__ADS_3

Keesokan harinya, sekitar pukul delapan pagi, Kalandra keluar dari kamar dengan kepala yang masih setengah basah. Kalandra hanya memakai kaus oblong putih polos yang dijodohkan dengan celana kolor warna hitam di atas lutut. Gaya yang benar-benar membuat pria itu tampak sangat santai, seolah Kalandra tidak akan bepergian.


Yang pertama Kalandra cari tentu Arum dan Aidan. Walau sadar keduanya tak mungkin masih di kamar yang ada di seberang kamarnya, ia tetap ke sana, mengetuk pintu sebelum membukanya dan malah mendengar suara sang mamah yang memintanya masuk.


Kalandra terbengong-bengong melihat pemandangan di sana. Arum tengah membantu ibu Kalsum memakai gaun kebaya yang akan dipakai di pernikahan mereka.


“Pengantinnya saja enggak heboh, kok Mamah ....” Kalandra yang memang menggoda sang mamah, sengaja tak melanjutkan ucapannya.


“Lah, ... besok kan Mamah juga jadi manten!” balas ibu Kalsum dengan yakinnya. Ia mematut penampilannya pada cermin rias di sebelahnya. Sementara Arum yang baru mundur langsung disita oleh Kalandra.


Kalandra langsung mendekap Arum dari belakang, mengunci pundak kanan Arum hingga dekapan yang ia lakukan benar-benar mengunci tubuh Arum. Ketika Arum langsung kebingungan dan jelas terlihat malu karena gugup, tidak dengan Kalandra yang malah langsung memejamkan kedua mata dan tampaknya malah tidur.


Ibu Kalsum yang melihatnya menjadi tersenyum geli kemudian berkata, “Mas, kok kelakuanmu jadi enggak jelas mirip kelakuannya pak Haji!” Ibu Kalsum tidak bisa untuk tidak tertawa.


Arum pun menjadi sibuk menahan tawa apalagi Kalandra yang disamakan dengan pak Haji langsung protes.


“Ke calon sendiri, Mah. Aku enggak berkelana mencari janda lain seperti yang pak Haji lakukan!”


Apa yang baru saja Kalandra katakan malah membuat kedua wanita di sana makin sibuk tertawa. Aidan yang awalnya tidur pulas di tengah tempat tidur sampai terbangun dan langsung tengkurap.


“Pah ...,” panggil Aidan sambil menatap Kalandra yang masih memeluk Arum.


Kalandra langsung menghampiri Aidan. Pria itu tidak mengembannya, tapi malah tiduran di sana sambil mendekap gemas Aidan.


“Mamah perhatikan, kok kalian jadi lebih gelap, yah?” ucap ibu Kalsum memandangi Arum maupun Kalandra, silih berganti.


Arum hanya diam, mengerling bingung, tak paham dengan maksud ibu Kalsum.


“Eh, si Mamah bilang gitu, mau jadi mbah duken apa gimana?” goda Kalandra tetap menanggapi sang mamah dengan santai.


“Mbah duken gimana? Itu loh, kulit kalian rada gelap, apa efek mantai? Apalagi kamu Mas, kelihatan banget!” balas ibu Kalsum masih protes.

__ADS_1


“Hitam putih kulit kami, enggak akan melunturkan cinta kami kok, Mah!” ucap Kalandra sambil menahan senyum geli. Lain dengan Arum yang ia pergoki menjadi tersipu.


Ibu Kalsum menggeleng tak habis pikir. “Kan, makin enggak jelas mirip pak Haji kelakuanmu, Mas!”


Kalandra langsung tertawa lemas. “Tolong Mah, jangan samakan aku sama pak Haji lagi.”


Ibu Kalsum kembali menggeleng tak habis pikir. “Hari ini kalian harusnya ke rumah orang tuanya Bilqis, kan? Dari kemarin enggak jadi-jadi?”


“Sorean saja, Mah. Hari ini mau fokus rehat. Rasanya badan remek dan otak pun panas banget!” keluh Kalandra yang terpejam walau tengah bersama Aidan.


“Ya sudah, jaga kesehatan, jangan sampai sakit. Minum vitamin apa suplemen,” ujar ibu Kalsum. Lain dengan Arum yang langsung pamit untuk menyiapkan Kalandra makan.


Beres makan bahkan sampai disuapi oleh Arum di kamar, Kalandra mengajak Arum dan Aidan berjemur di halaman rumah.


“Mas beneran enggak enak badan?” tanya Arum yang kemudian berkata, “Aku beneran khawatir, loh.”


“Mungkin mau flu, ya. Tenggorokan juga kayak radang,” jawab Kalandra masih bertahan mengemban Aidan. Ia balas menatap Arum yang memang menatapnya cemas.


“Jangan sama tukang urut lah, kamu aja!” sergah Kalandra.


Arum yang geli pada ucapan Kalandra refleks mencubit perut calon suaminya itu. “Mas yah ... beneran mirip pak Haji!”


Kalandra yang menahan senyumnya tak lantas membiarkan Arum pergi. Ia mencekal sebelah pergelangan tangan Arum, membuat calon istrinya itu mendekat kepadanya. Ia sengaja mengubah genggaman tangannya untuk mendekap pinggang Arum. Iya, ia mendekap mesra calon istrinya itu dan tak berniat mengakhirinya dalam waktu dekat.


Arum menunduk kemudian tersenyum. Ia tak berniat menolak apalagi pergi. “Ini Mas Kala kayaknya memang sedang pengin dimanja. Ini wujud asli Mas, ya?” Senyum di wajahnya makin lepas ketika lawan bicaranya juga tersenyum pasrah terbilang manja kepadanya. Malahan, Kalandra sampai menci-um keningnya sangat lama.


Arum langsung bergidik lantaran bibir Kalandra terasa panas, menegaskan pria itu benar-benar sakit. Itulah alasannya memeluk Kalandra, mencurahkan kepedulian sekaligus rasa sayangnya.


“Ke klinik dulu, yuk?” bujuk Arum lirih sambil tetap memeluk Kalandra.


“Nanti minum obat rumah saja,” balas Kalandra meyakinkan.

__ADS_1


Arum yang sempat menahan napas hanya untuk menyimak balasan Kalandra, berangsur mengembuskan napas pelan melalui mulut. Ia menyandarkan kepalanya ke tubuh Kalandra, merasa sedih karena calon suaminya itu malah sakit di detik-detik menuju hari pernikahan mereka.


Selang sekitar sepuluh menit kemudian, ada sebuah motor yang mendekat. Arum yang awalnya masih nempel karena memeluk Kalandra walau Aidan masih menjadi bagian dari mereka, berangsur menyudahinya tanpa benar-benar melepaskan diri dari dekapan Kalandra.


“Yang, itu suaminya Ririn,” ucap Kalandra.


Firasat Arum langsung tidak enak apalagi jika melihat raut wajah suami Ririn, pria itu cenderung marah. “Ini jangan sampai ada adegan Sambo sama ibu PC di hidup kita, Mas!” keluh Arum.


Kalandra langsung memelotot syok mendengarnya, kebingungan, dan ia tak membiarkan Arum maju menghadapi suami Ririn.


“Sudah lepas saja, dia mau ngapain, biar aku yang urus!” lirih Arum berbisik-bisik, sengaja meyakinkan Kalandra.


Kalandra mendengkus dan tetap tidak melepaskan Arum. Ia maju lebih dulu walau sepanjang itu, Arum juga terus mendahuluinya. Arum jelas berusaha melindunginya.


“Tega kamu, ya, Kal! Kamu begini mesra-mesraan bareng calon istri kamu, setelah kamu berulang kali meleceh-kan istri aku!” ucap suaminya Ririn.


“Kamu sadat, bilang begitu ke aku?!” tegas Kalandra.


Arum langsung bergidik ngeri, merasa tak habis kepada suami Ririn. “Si Ririn ngaku diapain saja? Ngaku dibanting sama diraba-raba juga enggak kayak ibu PC?” sewotnya.


Suami Ririn langsung kebingungan menatap Arum.


“Buktinya apa? Kalau cuma aduan itu cenderung halu apalagi dia saja haus perhatian gitu ke calon suamiku! Kemarin nih, aku sampai suruh dia nikah sama tiang listrik saking kesalnya sama kelakuannya!” setelah mengomel demikian, Arum juga berkata, “Bentar, jangan bawa-bawa marwah keluarga dan demi melindungi harga diri istri kayak yang lagi viral. Aku ambilin bukti betapa istri kamu pengin cerai dari kamu biar jadi janda terus nikah sama Mas Kalandra!”


Tanpa menunggu izin atau setidaknya respons, Arum langsung pergi dan berniat mengambil ponsel Kalandra.


“Mas hape Mas di mana?” tanya Arum sambil menoleh, lupa belum mengetahui keberadaan ponsel Kalandra.


“Kemarin kan di tas kamu, Yang. Kamu yang pegang, kan?” balas Kalandra sampai berseru lantaran jarak mereka terbilang jauh.


“Oh oke!” balas Arum kembali bersemangat. Tak sabar rasanya memberi Ririn pelajaran.

__ADS_1


“Logikanya kalau aku ada main dengan wanita lain termasuk itu Ririn, aku enggak mungkin jor-joran dan sebebas itu kasih hp aku ke calon istriku!” tegas Kalandra. “Lagian Ririn ngakunya mau cerai dan aku sudah konfirmasi ke kamu, tapi kamu diam saja makanya aku belum bisa ambil sikap dan selama tiga hari terakhir, aku sengaja menampung curhat Ririn. Tentu Arum tahu, dan yang bikin aku enggak habis pikir, Ririn sampai menghina calon istriku!” tegasnya lagi. Sampai detik ini ia belum berniat membuka gerbang rumah orang tuanya sebelum suami Ririn mengetahui kenyataan versinya.


__ADS_2