Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
66. Aku Bukan Panti Sosial


__ADS_3

“Huh!” Septi mengembuskan napas panjang melalui mulut, kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat duduk keberadaannya.


Septi sama sekali tidak peduli pada Anggun dan anak-anaknya walau ia tahu, mereka merupakan keluarga sang suami. Malahan, ia marah. Tentunya, ia malu kenapa kelakuan keluarga suaminya malah begitu.


“Bisa-bisanya mereka jadi penge-mis! Enggak tahu malu banget! Kerja, kek! Kebiasaan dimanja ya jadinya gitu. Awas saja kalau mas Angga masih mau urusin mereka. Aku pites sampe lepek pokoknya!” batinnya masih belum bisa mengakhiri kekesalannya. Apalagi gara-gara Anggun, ia nyaris celaka. Mobilnya sempat terguncang-guncang nyaris tergeletak. Bayangkan jika mobilnya benar-benar tergeletak gara-gara menabrak tubuh Anggun.


“Harusnya lawan tubuhnya si Anggun itu truk, baru sepadan!” Dalam hatinya, Septi masih sibuk meluapkan kekesalannya. Bahkan walau akhirnya ia sudah bertemu dengan Angga.


Angga yang kulitnya menjadi sangat bersih karena tidak pernah panas-panasan lagi, apalagi membuat batu bata, langsung merasa heran kepada Septi. Karena jika dilihat dari tampang Septi yang kali ini sudah berhijab rapi, Angga yakin suasana istrinya itu sedang tidak baik.


Setelah sampai duduk di sebelah Septi, Angga bertanya sambil menatapnya, “Kenapa, sih?”


“Ya Alloh, ... kok nasibku gini amat? Masa si jandes Arum saja keliling motoran sama mas Kala bak dunia hanya milik mereka berdua, eh aku selalunya hanya di depan sel tahanan saja!” kesal Septi dalam hatinya. Raganya memang ada di sebelah Angga, tapi tidak dengan hati dan pikirannya yang sudah dikuasai dengki kepada Arum. Iya, ia selalu iri pada semua yang Arum miliki. Masalahnya, makin ia berusaha mengejar Arum, makin jauh di depan juga wanita itu. “Kan jadi kesel banget!” ucap Septi refleks terbawa emosinya.


Angga mengernyit. “Kamu ada masalah?”


“Banget! Hidupku memang sudah sangat penuh masalah, Hon! Bayangin saja, masa janda kamu mau nikah sama si Kalandra!” ucap Septi yang kemudian berkata, “Kamu tahu Kalandra, kan? Pria kaya yang ganteng dan sempat digosipin dengan janda kamu! Main du-kun pasti itu!” Septi tanpa sadar telah mengeluarkan unek-unek atas keiriannya.


Angga mengernyit serius. Tak semata keluh kesah Septi baginya tidak beralasan, tapi mengenai pernikahan Arum dan Kalandra.


“Serius, mereka malah akan menikah? Kok bisa padahal mereka apalagi kalau dilihat dari latar belakang, ibarat langit dan bumi? Kalandra langit, dan Arum bumi tercuram!” batin Angga.

__ADS_1


“Hon, kok kamu malah bengong, sih?” keluh Septi jengkel. Ia yang kaus perhatian sekaligus kasih sayang, sengaja mendekap manja tubuh suaminya.


Setelah menghela napas pelan, Angga balas memeluk tubuh Septi yang makin lama makin bengkak dan ia paham, itu efek kehamilan Septi yang makin besar. Walau jika dibandingkan dengan saat Arum hamil Aidan, tentu sangat jauh.


Saat hamil Aidan apalagi setelah akhirnya melahirkan, tubuh Arum masih terbilang sangat ideal. Mungkin karena Arum sibuk bekerja dan semua kalori apalagi lemak ja-hat yang membuat tubuh membengkak, terbakar habis. Tentunya kenyataan tersebut tidak Septi alami karena di rumah saja, Septi memiliki ART. Dan tentunya juga, Angga tidak tahu bahwa sang mamah pernah merasakan sulitnya menjadi seorang ART di rumah Septi.


Sampai detik ini, Septi memang sengaja menutup-nutupi semua kekacauan dalam hidup mereka. Bua hanya mengenai kehancu-ran kehidupan keluarga Angga. Karena kasus sang mamah pun, ia sembunyikan. Septi terlalu malu menceritakannya kepada Angga. Apalagi jika ia harus menceritakan kemungkinan sang bapak yang malah selingkuh.


“Duniaku lebih bu-ruk dari gado-gado keasinan terus kebanyakan micin sama gula juga, sampai-sampai, rasanya enggak layak banget!” batin Septi merasa sangat lelah. Termasuk juga mengenai USG janinnya, ia belum mengabarkannya kepada Angga.


“Kamu kapan keluarnya sih, Hon? Aku di rumah sendirian, tahu!” keluh Septi.


Angga langsung menatap heran Septi yang masih menyandar manja, tapi tak hentinya berkeluh kesah, meluapkan kekesalan kepadanya. “Memangnya mamah sam papah ke mana, kok kamu sampai sendirian?”


“Oh iya, ... lima hari lagi aku boleh pulang. Aku dapat banyak potongan karena selama di sini, aku bersikap sangat baik.” Angga mengabarkan kabar bahagianya.


Septi menatap tak percaya Angga. Ia benar-benar syok dan sama sekali tidak merasa bahagia, padahal harusnya, ia bahagia karena dengan kata lain, mereka tak terpisahkan lagi. “Harusnya aku bahagia, loh. Tapi kok rasanya senyes ini? Aku beneran malu kalau mas Angga tahu keadaan keluargaku!” batin Septi lagi. Rasanya terlalu memusingkan, ia sampai merasa lelah luar biasa. Selain itu, bagi Septi Angga juga sudah tidak menarik lagi apalagi jika dibandingkan dengan Kalandra yang akan menikah dengan Arum. “Kok nasib si jandes Arum lebih beruntung, ya?” batinnya lagi.


“Kok kamu enggak seneng?” tanya Angga pada Septi yang menjadi meringkuk loyo dalam dekapannya.


“Kata siapa?” balas Septi malas.

__ADS_1


Angga masih adem ayem saja. Ia tersenyum bahagia lantaran akhirnya, ia akan merasakan kebebasan dan tak lagi menghabiskan waktunya di penjara. Meski jika boleh jujur, di penjara, hidupnya jauh lebih sejahtera. Ia tak harus banting tulang terlalu keras hanya untuk menghidupi keluarganya yang dihasilkan sebanyak apa pun, masih saja kurang. Buktinya, beberapa bulan di sana, selain menjadi menikmati indahnya kehidupan, Angga juga sampai gendutan. Ia tak sekurus sebelumnya.


“Dek, pinjem hapenya dong buat telepon mbak Anggun. Aku mau hubungin mbak Anggun mau ngabarin kalau lima hari lagi aku keluar dari penjara,” ucap Angga.


Mendengar itu, Septi langsung marah. Ia menarik diri dari dekapan seorang Angga. “Kamu apa-apaan, sih, Hon? Istri kamu, aku apa mbakmu? Dikit-dikit, Mbak. Dikit-dikit, Mbak. Pas sama janda kamu, yang kamu urusin juga masih saja mbak kamu? Jangan-jangan sebentar lagi kamu juga jadiin aku janda hanya demi mbakmu?” cerocosnya.


“Mikir dong. Dia sudah punya suami. Anaknya saja sudah sebanyak itu. Sudah tua dan sudah selayaknya dia bisa tanggung jawab ke diri sekaligus anak-anaknya. Andaipun dia jadi janda, bukan berarti dia bisa seenaknya menerima bantuan dari saudaranya. Kecuali kalau kamu sultan sekelas Raffi Ahmad atau kamu malah adiknya Cipung yang hartanya enggak akan pernah habis walau kamu bakar. Lah kamu ... enggak kerja kaki buat kepala dan kepala buat kaki saja, masih serba kurang!” keluh Septi emosional.


Apa yang Septi keluhkan persis seperti yang sering Arum lakukan. Bedanya, Arum mengatakannya dengan jaug lebih halus. Awalnya Arum begitu, tapi setelah Angga menam-parnya, disusul Anggun dan ibu Sumini yang sampai mengero-yok Arum, mulai detik itu juga Arum berhenti mengeluh.


Septi meninggalkan Angga di tengah kekesalannya. “Kamu sudah menandatangani perjanjian. Kalau kamu masih saja mau mengurus keluargamu apalagi si Anggun, ... balikin semua yang sudah orang tuaku kasih!” tegasnya.


Angga yang masih duduk langsung terkesiap. Ia benar-benar tak menyangka Septi akan setega itu kepadanya.


“Kenapa harus seterkejut itu? Kamu sudah menandatangani surat perjanjiannya dan kamu juga sudah janji ke aku maupun orang tuaku, loh. Secepat ini kamu amnesia?!” lanjut Septi.


Angga berangsur duduk. “Aku pikir, selama aku di sini, kamu mengurus keluargaku. Aku pikir kamu peduli ke keluargaku!” ucapnya mohon pengertian.


“Kamu pikir aku janda kamu yang akan memberi kamu dan keluargamu cuma-cuma? Kamu pikir, aku panti sosial?!” balas Septi masih emosional.


Angga menghela napas dalam. “Sep,” ucapnya tertahan lantaran di depan sana, Septi meringis kesakitan sambil memegangi pangkal perut menggunakan kedua tangan seiring tubuh Septi yang perlahan merunduk.

__ADS_1


“Sakit ... Sakit banget!” lirih Septi. Di hadapannya, Angga langsung menghampiri.


Terpikir oleh Septi, apakah ia tengah mengalami kontraksi? Ia akan melahirkan lebih awak dari HPL?


__ADS_2