
Kehancuran keluarganya membuat Angga di ambang kegamangan. Dunia seorang Angga yang selama ini selalu menjadikan keluarga sebagai nomor satu, runtuh tak berupa. Terlebih, Septi istrinya bukan Arum yang walau akan sibuk memberinya saran tapi juga sampai memberinya modal, uang.
Septi murni marah-marah, pemarah tulen. Sikap sekaligus watak yang jujur saja baru Angga ketahui. Apalagi, tanpa orang tuanya, Septi juga bukan siapa-siapa. Membayar biaya lahiran yang akhirnya tidak sampai sesar karena bayi malah mendadak keluar di depan pintu rumah sakit Arum bekerja saja, Septi tidak bisa. Iya, bayi yang sangat mirip Supri itu keluar tanpa bimbingan dokter. Meski tentu saja saat mengeluarkannya, Septi mirip orang kesurupan yang sampai mencekikk Angga.
Hamil dengan siapa, nikah dengan siapa, itulah yang pak Haji selaku saudara Septi ucapkan, ketika pada akhirnya, pria tua itu datang menebus Septi berikut sang putra yang sungguh tidak memiliki kaki kanan layaknya Supri.
“Bapak Tua, hobi banget ngeledek! Kalau Bapak Tua mau, ambil saja sana tuh bayi!” kesal Septi yang sudah dibolehkan duduk sambil tetap selonjor mengingat kesehatan Septi langsung drop setelah melahirkan.
“Sudah tua begini disuruh urus bayi!” balas pak Haji.
“Lah, ... suruh urus bayi mengakui diri sudah tua, tapi suruh kejar janda muda semangatnya lebih dari empat lima!” sinis Septi.
Pak Haji langsung kikuk. “Urusannya beda, kalau janda muda apalagi yang cantik kayak Arum, bisa bikin aku lebih muda!” ucapnya sambil duduk di kursi sebelah ranjang bayi Septi yang kemudian ia amati. “Mirip siapa sih ini? Ini kamu sebenarnya bikinnya sama siapa, sih?”
Angga yang masih ada di sana, benar-benar diabaikan. Pria itu merasa sudah tak memiliki harga diri lagi. Apalagi ternyata, si pak Haji saudaranya Septi itu sangat tergila-gila kepada Arum.
“Arum, ... aku minta tolong ke Arum saja, apa malah ke Fajar, ya? Bentar, deh ... aku begini kan gara-gara Fajar!” batin Angga menjadi kesal sendiri.
Hari ini menjadi hari terakhir izin Angga. Karenanya, setelah menitipkan Septi kepada pak Haji, Angga juga akan menyempatkan diri untuk mengurus keluarganya yang kini tengah berada di tempat penampungan. Angga berniat meminjam uang kepada Arum yang ia yakini makin punya banyak uang.
Kedatangan Angga ke kantinnya yang kebetulan sedang sepi, membuat Arum menyikapinya dengan terjaga. Arum menatap sinis Angga yang tampak gengsi kepadanya.
“Ada apa lagi?” tanya Arum sinis sambil bersedekap dan sengaja memulai lantaran Angga melempem dan tak kunjung melakukannya.
“Kalau ke sini bukan buat Aidan dan malah buat keluarga kamu lagi, mending Mas pergi karena taflon-taflonku sudah aku cuci. Eman-eman kalau sudah bersih buat na-bok Mas.” Arum sudah terlalu hafal pada tabiat bapaknya Aidan. Keluarga, keluarga, dan terus saja begitu.
“Rum ... aku mohon, Rum.”
__ADS_1
“Ta-iiiii!” sergah Arum.
“R-rum ....”
“Beneran masih buat keluarga kamu, Mas? Kamu sama sekali enggak mikirin Aidan? Dasar bapak ra ngutek!”
“Aidan punya kamu, Rum!”
“Tapi Aidan juga butuh figur bapak dari kamu, Mas! Mati saja kalau kamu masih belum paham juga, Mas!”
“Iya, Rum ....”
“Mati sekarang!”
“Kalau aku mati sekarang, yang urus semuanya siapa, Rum?”
“Se-tan!” Arum benar-benar geram.
“Sekarang gini saja, aku teleponin Dika. Biar Dika yang urus semuanya. Berbulan-bulan dia kabur ra ngutek, masa duit sejuta dia enggak punya? Kalau dia ngaku tetap enggak punya, suruh jual gin-jal apa gimana, pokoknya. Begini kan, yang kamu mau? Keluargamu beneran mental ta-ii! Dari dulu andai aku enggak mikirin omongan mamakku yang memaksaku bertahan, nadjiiiz aku, Mas! Bahkan sekarang, kalau aku enggak lihat kamu sebagai bapaknya Aidan walau kamu durhakanya level dakjal, ... sudah aku rica-rica kamu!”
“Iya, Rum ... iyaaa.”
“HEH! INI AKU BENERAN MARAH BAHKAN EMOSI. AKU SERIUS LAGI NGOMONG SAMA KAMU, MAS! IYA IYA, BISA-BISANYA KAMU MASIH BEGITU!”
Teriakan Arum barusan mengusik mereka yang ada di sekitar sana. Arum tidak malu, termasuk juga dengan Angga yang sudah kehilangan urat malu demi keluarganya. Bahkan meski Arum menatapnya penuh amarah, Angga sama sekali tidak keberatan atau sekadar risi.
Sambil masuk ke kantin bagian dalam, Arum berkata, “Aku enggak mau bantu kamu kalau kamu saja masih enggak mikir gitu.”
__ADS_1
“R-rum, ih ....”
“Minta ke Septi saja sana. Apa malah ke si Fajar, si sahabat se-sat!”
“Sudah biarin saja Anggun sama si Supri. Keplak kepalaku kalau mereka enggak menikmati penangkapan. Mereka pasti malah seneng karena di penampungan disediain makan gratis. Sudah biarin saja, mereka pasti betah. Termasuk anak-anak, pasti lebih bahagia karena enggak harus nge-mis lagi!” Diam-diam, Arum merasa sangat bahagia lantaran keputusannya sengaja tidak langsung memberi Angga bantuan, sukses membuat pria itu nyaris menangis.
“Jadi orang yang punya harga diri sama ketegasan dikit kenapa, Mas? Kamu itu sudah kenyang makan bangku sekolahan, kan? Kamu dikuliahin mahal-mahal, kerja pun di bank dan posisinya mapan, bukan gini. Pantas saja kamu dilepeh sama keluarga kamu. Wong kamu yang mengaku sebagai kepala keluarga saja lembek! Kamu enggak lupa kan, dulu pas aku masih jadi istrimu dan aku bilang begini, langsung kamu ta-bok?” ucap Arum yang kemudian membuatkan kopi hitam untuk pembeli yang memang baru datang. Pembeli tersebut sampai menatap bingung Angga yang masih berdiri di sebelahnya dan tadi sedang dimarahi Arum.
“Itu Aidan nganggur, main sendiri di boks, kamu ya blas enggak ada rasa kebapakannya,” ucap Arum sembari kembali setelah mengantarkan kopi.
“Izinku hanya sampai sore ini, Rum,” mohon Angga.
“Sudah, sekarang kamu ngandang lagi saja sana ke penjara. Urusan keluargamu, nanti aku yang urus. Nanti aku ben-turin kepala mereka ke tembok biar mereka mikir. Termasuk si Andika, nanti aku juga bakalan susul dia. Nanti aku keplak kepalanya pakai taflonku biar otaknya mikir!” yakin Arum.
“Aku serius, Rum!” mohon Angga.
“Aku juga serius, Mas!” tegas Arum yang kemudian menghubungi nomor Dika, di hadapan Angga. “Aku sudah dapat nomor ponsel terbaru Dika dari temannya. Aku bakalan masukin dia ke penjara atau tempat penampungan juga kalau kerjaannya terus kabur lupa keluarga. Mau jadi bang toyib dia, bisa-bisanya jadi laki-laki kok kelakuan ta-i! Ban-ci saja enggak begini. Didikanmu ini!” ucap Arum yang kemudian langsung memarahi Dika habis-habisan setelah telepon yang ia lakukan, dijawab.
“Kalau kamu tetap kabur, aku pastikan kamu jadi buron, ya! Besok paling telat, dan kamu wajib pulang. Urus mamakmu! Aku sudah serahin foto sama data lengkap kamu ke polisi, Dik. Kamu masih enggak percaya? Nanti aku minta bantuan mas Kala buat urus kamu!”
“Ingat, paling telat besok. Kalau kamu tetap enggak pulang dan enggak ada kerja samanya, awas saja!” Arum menutup sambungan teleponnya kemudian menatap bengis Angga yang langsung buru-buru menunduk tak berani menatapnya.
“Awas saja kalau kamu dan keluarga kamu berani bikin malu lagi! Sumpah, beban hidup Aidan walau masih bayi begini beneran berat. Oh, kamu anaknya si ono, yang keluarganya nge-mis di sana? Kamu enggak mikir kalau itu beneran beban?” kesal Arum. Ia memilih pergi meninggalkan Angga yang sudah langsung menjadi pusat perhatian.
Angga yang mulai sadar, menyesali keadaan berangsur masuk ke kantin bagian dalam. Ia jongkok menghampiri Aidan, tapi bocah itu terus menolak.
“Bayi itu enggak bisa dibohongi mana yang tulus dan mana yang sekadar formalitas, Mas!” sindir Arum.
__ADS_1
“Aku ya sayang ke Aidan kok Rum,” keluh Angga.
“Ta-ii, lah!” tepis Arum karena ia saja merasakannya sendiri betapa Angga yang sekarang belum bisa lebih berharga dari angga yang dulu. Ta-i!