Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
101 : Mulai Merintis Bisnis


__ADS_3

“Mas, aku butuh kompor. Paling enggak dua lagi biar besok masaknya cepet.”


“Iya, aku tahu. Daripada segepok berlian, kamu kan lebih bahagia kalau dikasih kompor dan wajan.”


“Ah, kata siapa, Mas? Kalau memang dikasih ya aku mau-mau saja!” Arum yang nyaris meninggalkan Kalandra, buru-buru balik badan.


Kalandra yang sedang mengancing kemeja lengan panjangnya sambil mematut pantulan bayangannya di cermin rias yang ada di kamar, menjadi tercengang.


Setelah sempat terdiam dan membuat suasana kamar mereka makin hening, Kalandra yang sudah terlihat sangat segar karena pria itu memang baru beres mandi, berkata, “Ini tadi aku salah ngomong, ya?”


Arum yang sudah ada di depan pintu langsung menggeleng. “Enggak, sih.”


Kendati demikian, Kalandra tetap merasa dirinya telah salah bicara, apalagi perkara segepok berlian.


“Kapan, Mas, segepok berliannya?” lanjut Arum.


Kalandra langsung mesem. Ia berangsur menatap Arum. “Nanti aku kirimi fotonya dulu.”


“Foto? Maksudnya, aku milih-milih dulu, gitu, Mas?” todong Arum bersemangat. Tapi bukannya menjawab, Kalandra yang tertawa malah menghampirinya kemudian memeluknya.


“Fotonya dulu, barangnya nyusul. Bantu doa yang kenceng biar cepat dapat rezeki buat belinya!” ucap Kalandra masih mesem-mesem.


“Siap, Mas. Nanti aku bisa ngomong lebih kenceng dari mamah pokoknya!” Arum menahan tawanya. “Lagian Mas ngadi-ngadi. Bahas-bahas berlian. Siapa juga yang enggak mau!”


Kalandra hanya menahan tawanya kemudian berangsur memandangi wajah Arum. Wanita itu baru saja mengakhiri dekapan mereka, tapi langsung membantunya mengancing setiap kancing kemeja yang belum terkait.


“Kamu bahagia, kan?” tanya Kalandra serius.

__ADS_1


Sebelumnya, Kalandra belum pernah seserius sekarang. Bahkan walau sebelum menikahinya, Kalandra tipikal pendiam dan baru akan berbicara jika perlu.


“Mas, ih. Jangan tanya yang gitu-gitu, aku parno!” keluh Arum sambil merengut. Arum takut, ada maksud lain semacam firasat dari pertanyaan yang baru saja Kalandra tanyakan. Itu juga yang membuatnya sebal menahan waswas.


Kalandra menahan tawanya kemudian membingkai erat kedua sisi wajah Arum karena memang gemas. “Aku hanya mastiin. Soalnya dari kita menikah, kamu beneran enggak pernah istirahat. Di rumah pun, ada saja yang dikerjain.”


Menyimak itu, Arum langsung tersipu. “Aku enggak hanya bahagia, Mas. Karena aku bahagia banget!” ucapnya yang kemudian juga berkata, “Makasih banyak, ya!”


Kalandra yang mesem berangsur mengangguk-angguk. Kemudian ia sengaja memejamkan mata, memajukan wajahnya kepada Arum, sambil mengerucutkan bibir berisinya. “Jangan pura-pura enggak tahu! Aku tahu kamu tahu apa yang aku mau!” ucap Kalandra yang meski niatnya pura-pura mengomel kepada Arum, tapi tetap saja menjadi menahan tawa. Membuat kebersamaan mereka yang harusnya romantis malah menjadi lawak.


Karena meski Arum sudah berangsur menge-cup bibir Kalandra, wanita itu malah sibuk menahan tawanya.


Hari-hari selanjutnya, mereka sibuk menjalankan bisnis baru mereka. Satu keluarga bekerja sama, bersama Aidan yang juga ikut membantu atas keantengannya bermain di troli bantu jalan.


Semacam plastik vakum, label produk, bumbu-bubu sudah mulai disiapkan. Meski memang akan lebih nyaman jika memakai kantong plastik, Kalandra sengaja menjadikan konsep ramah lingkungan untuk wadah usahanya. Ia menggunakan besek atau itu pithi, anyaman bambu yang bisa terurai dengan baik jika sudah tidak dipakai. Namun untuk pembelian dalam jumlah banyak, atau semacam pembelian khusus untuk paket hadiah, Kalandra juga sudah sampai menyiapkan kantong ramah lingkungan.


“Sayang ... sayang, tunggu!” ucap Kalandra sambil mempersiapkan kamera di ponsel pintarnya.


“Rekam jadi video, buat promosi. Yakinin pembeli kalau kita produksi rumahannya sangat steril. Lihat, dapur kita sampai seseteril ini,” ucap Kalandra.


“Aku perlu dandan enggak, Mas?” Arum langsung siaga karena biar bagaimanapun, ia yang baru mandi sama sekali belum sisiran apalagi merias wajah. Rambutnya saja masih dicepol asal.


Walau hanya ditertawakan oleh Kalandra, Arum langsung sigap buru-buru pergi. “Dandan dulu, Mas. Biar kamera Mas enggak kebakaran.”


“Enggak dandan pun, kamu tetap yang paling cantik buat aku, Yang. Ayo cepetan sini.” Kalandra yang memang memakai pakaian santai, tak kuasa mengakhiri tawanya.


“Tunggu, Mas. Enggak ada lima menit!” Kali ini Arum agak berseru.

__ADS_1


Ibu Kalsum yang tak sengaja melihat dari teras depan sambil memomong Aidan, langsung merasa memiliki kembaran. Karena belum lama menjadi istri Kalandra, Arum sudah lebih berisik darinya.


Kurang dari lima menit, Arum sudah kembali dengan rapi. “Ini kita syuting, yah, Mas? Harusnya dih sudah aman. Semuanya rapi dan memang terbiasa rapi. Ya sudah, Mas. Aku siap!”


“Bentar-bentar. Itu bibir kenapa semenor itu? Sini, sini dulu, jangan begitu.”


“Ah, Mas. Ini kan biar kelihatan di kamera. Biar gonjreng-gonjreng, Mas!”


Kehebohan Arum dan Kalandra yang malah mirip anak kecil membuat ibu Kalsum yakin, andai nanti Arum hamil, pasti anaknya perempuan. Apalagi selain pengantin baru itu sama-sama manja, Arum juga jadi hobi dandan.


“Nah, biar. Baguslah. Nanti kalau sudah satu tahun, adikin lagi. Biar rumah ini super rame pokoknya. Kurang kamar, bangun lagi di belakang!” ucap ibu Kalsum berbisik-bisik pada Aidan yang ia emban dan ikut cengar-cengir layaknya dirinya.


Video promosi benar-benar dimulai. Dari proses pembersihan bebek kemudian pemasakan dan terakhir pengepakan. Terakhir setelah semuanya terkemas, proses distribusi ke pembeli juga sampai direkam. Barulah di malamnya, Kalandra mengedit setiap rekamannya menjadi lebih baik lagi, di laptopnya.


Di tempat tidur, Arum yang duduk sila tengah sibuk membalas setiap orderan di ponsel Kalandra. Karena dari semua promosi yang mereka lakukan, Kalandra menjadi penjaring pembeli yang paling banyak. Yang beli ke Arum hanya beberapa. Namun Widy, Rani dan ibu Nur sudah sampai menjadi DP usaha Arum. Malahan hari ini, Widy sudah sampai berhasil menjual sembilan bebek. Kenyataan yang sangat Arum apresiasi.


Ada satu orderan di WA Kalandra yang langsung mengusik Arum. Itu kontak Irfan tapi memanggil Kalandra Mas. Bisa Arum pastikan itu Ririn.


“Diurus saja. Kalau beli mah oke, kalau macam-macam ya diulek aja buat bumbu penyedap, Yang,” ucap Kalandra masih fokus dengan kesibukannya mengedit. Karena bukannya fokus, ia malah tersipu memandangi sosok sang istri yang ada di video.


“Buat bumbu gimana, Mas? Yang ada pembeli bebeknya pada keracunan!” keluh Arum yang kemudian juga berkata, “Mase, ada yang minta versi ayam kampung sama ayam biasa.”


“Laksanakan, minggu depan pasti ada. Ayamnya nunggu panen dulu,” ucap Kalandra.


Namun, Arum yang merasa Kalandra sudah terlalu lama mengedit video bahkan ia sudah sampai sangat ngantuk, malah menjadi curiga. “Dari tadi Mas ngapain, sih? Masa iya, enggak beres-beres? Udah mau dua jam, loh! Nonton apa itu, aku jadi curiga.” Arum nekat menghampiri Kalandra.


Kalandra langsung tersipu, seperti biasa. Sibuk menahan tawa dan benar-benar ceria. “Nonton kamu ih.”

__ADS_1


“Ya Alloh, Mas! Kok di video aku cantik banget, ya? Langsing gitu, kulitnya juga glowing. Ah, ini kamera hape Mas jahat banget!” Arum duduk di pangkuan Kalandra karena suaminya itu juga sampai menuntunnya.


Kalandra mendekap mesra pinggang Arum menggunakan tangan kiri yang tidak memegang mouse. Mereka membahas video promosi yang kadang membuat mereka menahan tawa sampai lemas.


__ADS_2