Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
97 : Bulan Madu Rasa Liburan Keluarga


__ADS_3

“Nanti sebagiannya bakarnya di api unggun, kan? Biar Aidan juga enggak kedinginan. Kalau sudah malaman lah baru ke hotel. Kita ke sininya sampai agak malam,” ucap Kalandra sambil menyuapi Aidan MPASI, apalagi Arum juga sudah sampai kembali menyuapinya.


Mereka tengah makan bersama disuapi pasangan satu sama lain. Sesekali, pak Sana akan juga akan jail, menggoda Aidan yang tampak ingin turut makan ikan bakar.


“Nanti jatah bakar-bakar, biar Papah saja. Susun api unggun juga, nanti Papah yang urus. Toh, api unggunnya juga enggak besar-besar amat, kan?” ucap pak Sana yang kemudian berkata, “Kalau bisa malah pengin sewa tenda gitu. Tidur di tenda pasti lebih seru. Ala-ala kemah kan.”


“Di sini banyak semut merah loh, Pah. Perhatiin tuh, nah Yang. Aku digigit semut, bentol nih, Yang!” ucap Kalandra yang berakhir merengek sambil memamerkan sikut tangan kanannya yang bentol besar.


Namun, pak Sana dan ibu Kalsum yang melihat hal tersebut kompak berkata, “Alaaaah, ... digigit semut saja laporan! Man-ja!”


Arum langsung terbahak menertawakan Kalandra yang diseraang kedua orang tuanya. Suaminya itu tidak terima dan langsung sibuk menjelaskan sambil terus merengek layaknya bocah. Sungguh kebersamaan yang sangat seru. Terlebih orang tua Kalandra juga tak segan meledek putra kesayangannya itu. Orang-orang di sekitar mereka sampai menjadikan kebersamaan mereka sebagai pusat perhatian.


“Iya, Mas! Papah disosor angsa saja, sampai sarung Papah bolong, biasa saja. Malahan Papah diomelin Mamah kamu gara-gara sarung pemberiannya bolong! Bayangin, sakit berdarah karena bokkong Papah sampai berdarah disosor angsa, makin sakit gara-gara Mamahmu lebih sayang sarung ketimbang ke Papah!” ujar pak Sana yang kali ini bercerita sampai menggebu-gebu. Sebelumnya, ia belum pernah begitu.


Tidak ada yang tidak tertawa karena mereka yang awalnya menonton sekaligus menyimak, juga ikut tertawa.


“Tapi beneran sih, Pah. Kalau angsa beneran susah dihindari. Angsa, kalkul, maaf, nih mo-nyet, sama maaf banget juga karena aku harus bilang, ... an-jing.” Kini giliran Arum yang cerita.


Sadar semuanya langsung menyimak apalagi ibu Kalsum juga memintanya untuk segera melanjutkan ceritanya, Arum pun melanjutkan ceritanya. “Dulu ya, pas aku masih kecil, kan ada tetanggaku yang terbilang kaya dan dia hobi pelihara gitu. Dia punya kalkul banyak, angsa, mo-nyet, sama an-jing. Itu loh, Mas. Rumah yang di sebelah tanggul dekat rumah orang tuaku. Yang gedong gede keramik biru telor bebek itu. Itu kan dulu punya banyak. Tapi karena lama-lama diprotes tetangga, jadi sekarang tinggal angsanya saja.”


“Itu kalau peliharaannya lepas dari kandang apa rante, beneran deh. Anaknya tetangga yang masih kecil se-Aidan gini, telinganya nyaris putus gara-gara buat rebutan mo-nyet sama an-jingnya. Makanya dulu, kalau mau lewat sana, belum apa-apa sudah panas dingin duluan.” Arum mengakhiri ucapannya sambil meringis ngeri.


“Asli itu ngeri, Mbak!” Ibu Kalsum meringis ngeri menatap Arum.


Pak sana langsung berdeham, kemudian membuka sebotol air mineral yang juga ia minum. “Memangnya, aparat desanya enggak gerak? Itu kan bahaya banget,” ucap pak Sana.


“Sudah Pah. Awalnya kan warga rame-rame. Pemuda setempat, terus pak RT, terakhir sama pak RW. Namun karena tetap enggak digubris, pihak desa sampai turun langsung,” jelas Arum. “Kalau dulu kan masih bebas pelihara gitu, atau karena memang warga enggak tahu. Kalau sekarang sih setahu aku enggak boleh.”


“Dulu, pas Papah masih bujang,” ucap pak Sana yang kemudian melirik sang istri yang langsung menahan senyum menatapnya.


Membuat Arum dan Kalandra yang melihat interaksi tersebut juga turut merasakan kebahagiaan keduanya.

__ADS_1


“Iya, dulu pas Papah masih bujang, masih SMP, itu kan Papah kalau libur ke sana. Bunen namanya. Nah, di sana masih banyak ba-bi hutan atau itu ce-leng. Ada harimau juga yang jaga penembahan itu!” lanjut pak Sana.


“Wah, serem bener tempatmu, Mbak!” komentar ibu Kalsum.


“Dulu, Bu!” tepis Kalandra layaknya anak kecil sambil mengunyah makanan suapan Arum.


Arum langsung mesem.


Di balik keseruan Arum dan Kalandra sekeluarga, ponsel Arum tak hentinya berdering. Antara dering tanda pesan masuk sekaligus telepon masuk dan semua itu dari Septi. Namun Arum yang sedang ingin fokus dengan keluarga barunya, memilih mengabaikannya. Alasan yang juga membuat Septi meraung-raung mirip orang kesuru-pan di dalam kamarnya.


Ketika akhirnya mereka selesai dengan acara bulan madu rasa liburan keluarga, Arum menyempatkan waktu untuk mengecek ponselnya. Malam ini, mereka akan menginap di salah satu hotel yang ada di sana.


Sederet pesan masuk maupun panggilan tak terjawab dari nomor ponsel Septi, benar-benar mengganggu Arum. Belum membaca pesannya saja, Arum sudah pusing.


Arum bisa saja mengabaikan semua pesan tersebut. Namun Arum takut, memang ada yang penting.


“Ada apa, sih?” tanya Kalandra yang baru berhasil membuka pintu kamar hotel mereka akan menginap.


Kalandra yang juga mengemban Aidan, menatap khawatir sekaligus curiga sang istri.


“Kalau memang dia ganggu, ya diblokir saja, sih. Daripada kamu enggak tenang. Toh, sejauh ini kamu juga sudah terlalu santai, kamu terlalu baik ke dia.” Kalandra mengunci pintu hotelnya.


Dari sekian banyak pesan yang Septi kirimkan, foto kedua kaki Septi, langsung mengusik Arum. Arum sampai memelotot, menatapnya penuh saksama.


“Kakinya, Mas. Ini asli, kan?” Arum syok, dan memang khawatir.


Kalandra langsung melongok. “Mungkin itu teguran buat dia, apalagi makin ke sini bukannya lebih dewasa, apa paling tidak bertanggung jawab ke kehidupannya termasuk bayinya, dia malah makin parah.” Kalandra yakin itu.


“Dia mau pinjam uang buat berobat, Mas.” Arum masih cerita. Mereka melangkah santai kemudian duduk di tempat tidur bernuansa putih di sana.


“Ya enggak apa-apa. Kamu ada uang gitu? Maksudnya, memangnya kamu ada uang? Masih cukup buat kamu?” Kali ini, Kalandra sengaja menggoda sang istri yang langsung menahan senyum kemudian bersandar manja ke bahunya.

__ADS_1


“Yang, sekarang serius. Gini, kalau Septi memang sakit, suruh langsung berobat. Ke klinik apa rumah sakit, nanti biayanya aku transfer. Sekalian, itu bapaknya kalau masih enggak kasih kabar, nanti aku bantu buat bikin laporan ke polisi sebagai pencarian orang hilang. Biar ada kejelasan. Dan andai kabar nikah lagi memang benar, bisa dikasih sanksi,” lanjut Kalandra yang kemudian sengaja berkata, “Eh, Yang. Koreksi. Bilang yang mau transfer kamu, bukan aku. Takutnya dia GR! Nanti aku sama kamu juga yang repot!”


Arum meringis menatap Kalandra. “Serba salah emang berurusan sama Septi.”


“Tahu-tahu pengantin baru, masih saja digangguin, ya!” balas Kalandra yang kali ini sewot.


Arum langsung kikuk, kemudian fokus membalas pesan Septi. Sedangkan Kalandra memilih tiduran bersama Aidan.


Septi : Aku sudah di klinik, Mbak. Tapi kata dokter, semacam gejala kaki gajah. Tapi kata pak kyai, aku kesambet juga.


Arum Jandes Weres : Itu teguran buat kamu. Makanya kamu belajar buat jadi lebih baik lagi. Kamu sampai kehabisan uang, memangnya deler motor kamu tutup?


Septi : Belum sih, Mbak. Tapi aku enggak boleh ambil uang di sana sembarangan karena itu kan semacam bisnis keluarga dan hasilnya harus dibagi rata. Tapi kata mereka, papahku buka cabang di Kroya dan katanya dua sekaligus, rame banget di sana.


Arum Jandes Weres : Ya sudah, sekarang aku mau tanya ke kamu. Kamu ngerasa enggak, apa yang kamu dan keluarga kamu rasakan, sebelumnya juga pernah kalian perbuat ke aku dan Aidan?


Detik itu juga Arum menyimpan ponselnya ke dalam tas di pundaknya. Kemudian ia menaruh tasnya ke meja sebelah, sebelum akhirnya ia meringkuk di dada Kalandra.


“Mas, aku lagi galau. Kesel banget kalau ingat yang sudah-sudah. Sebelum akhirnya aku kenal lebih dekat dengan Mas, dan sampai sekarang masa lalu itu masih saja mengikuti. Enggak bermaksud lemah dan enggak mensyukuri apa yang sudah aku punya. Rasanya sekesel ini,” ucap Arum lirih.


Kalandra yang awalnya tengah menatap Aidan sambil meledeki bocah itu, refleks terdiam. Ia langsung menyikapi keadaan dengan serius seiring kedua tangannya yang mengelus pelan kepala Arum. “Enggak apa-apa, sih. Normal, wajar kalau kamu kesal. Malah aku bingung kalau kamu biasa saja. Tapi kesalnya jangan lama-lama. Waktumu terlalu berharga buat orang seperti mereka.”


Arum mengangguk-angguk. “Iya, Mas. Ini saja aku batasi cuma sebentar, kok.”


“Aku enggak mau, masa laluku yang beneran gelap, bikin aku jadi pribadi yang gelap juga, Mas. Lingkunganku sudah penuh sama orang toxic yang hobi menjadikan orang enggak bersalah bahkan itu orang terdekat, sebagai pelampiasan. Contohnya saja mamakku. Mamak membenciku hanya karena saat hamil aku sampai aku bayi, bapakku selingkuh. Terus Widy, sebelumnya dia kesel ke aku dan dia sampai dendam hanya karena tetangga kami sering membanding-bandingkan dia dengan aku. Nah kalau keluarga bapaknya Aidan, mereka kesel ke aku karena takutnya setelah nikah sama aku, aku enggak izinin bapaknya Aidan kasih uang ke mereka kayak biasa. Padahal aku malah ikut jadi tulang punggung ya Alloh. Uangku banyak banget habis sama mereka. Terus kalau bapaknya Aidan, jujur dia sering KDRT, Mas.”


Mendengar Angga sering KDRT, Kalandra langsung berusaha duduk kemudian menatap Arum penuh keseriusan melebihi sebelumnya.


“Apalagi setelah aku hamil Aidan. Pasti ada aja gara-gara. Tam-par, apa ... ya ... sesak banget kalau dibahas. Tapi ya bukan berarti aku melampiaskannya ke Aidan. Karena andai itu sampai terjadi, apa bedanya aku sama mamakku.” Arum mengakhiri ucapannya dengan mendengkus pasrah.


“Jujur, aku sakit hati pas tahu Angga sering KDRT padahal kamu lagi hamil Aidan. Besok deh, kalau aku ketemu dia. Aku kasih dia pelajaran.” Kalandra sampai tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Kemudian, Kalandra membingkai wajah Arum menggunakan kedua tangannya. “Kamu tetap jadi Arum yang baik, ya. Yang kuat, tegas, lawan luka-luka dari mereka dengan kebahagiaan sekaligus kesuksesanmu. Mulai awal bulan depan kita urus rumah makan kita. Ayo, kita bahagia dan kaya bersama!”


Ucapan Kalandra barusan benar-benar manis. Arum langsung tersipu kemudian menghadiahi suaminya itu dengan ciu-man bibir yang tak kalah manis.


__ADS_2