
“Kalaupun Ojan enggak jodoh dengan salah satu dari anak kalian, yang penting Ojan jangan sampai jodoh dengan wariyem! Soalnya sejauh ini, gara-gara terbiasa ngeledekin Fajar, saya jadi takut Ojan kena batunya. Semacam, ... karma. Tuh buktinya, ... sekarang si Septi malah dikejar-kejar mantan wariyem yang tobat, diajak nikah, gara-gara mulut saya enggak sengaja nyumpahin!” ucap pak Haji yang lagi-lagi meriahkan suasana. Karena gara-gara ucapannya, semuanya jadi sibuk menahan tawa.
“Uaaah! Akhirnya dapat!” ucap Septi yang baru saja datang mengangkat karung pusri bersih, berisi es batu dalam kemasan plastik ukuran satu koma lima kilo gram.
“Itu berat, loh!” sergah Sekretaris Lim. Ia langsung mendekat dan berniat membantu karena ia juga sampai menurunkan kedua anak Widy dari punggung sekaligus dekapannya.
Sekretaris Lim berniat membantu Septi, tapi Septi menolak.
“Nggak apa-apa, Mas. Sudah biasa. Wah ini baru pertama kali, pembelinya pada mandiri! Nanti sekalian langsung dicuci, ya. Mangkuk sama gelas dan seperangkatnya!” ucap Septi yang kemudian terbahak.
“Si Septi daripada dibelikan traktor buat bajak sawah, malah milih memperluas dagangan begini. Padahal kalau mau bajak sawah, tenagamu lebih ada ketimbang tenaganya Anggun!” ucap pak Haji masih jadi pela*y*an idaman.
“Pak Gede tega banget. Masa iya aku disuruh bajak sawah. Sudah gembrot begini, hitam legit, dikiranya sapi guling gosong!” balas Septi yang sudah langsung bergegas menggepluk es. Tak lupa, ia juga memuji Kalandra yang sudah mengisi setiap gelas dengan perasan jeruk kemudian mencampurnya dengan cairan gula.
“Kamu kalau mau sama Andri juga pasti bahagia dunia akhirat, Sep!” ucap Kalandra.
“Sapi satu, Pak Pengacara!” seru pak Haji mengingatkan.
Septi sudah langsung tertawa lemas. Namun karena di waktu itu ibu Fatimah yang mengemban Sepri datang bersama Nissa termasuk dokter Andri, keadaannya menjadi berbeda. Tiap saat terus dicie-cien oleh pak Haji maupun Kalandra tentu membuat kebersamaan mereka jadi berbeda. Karena terkadang, rasa canggung itu mendadak hadir walau mereka sepakat untuk biasa-biasa saja, menjadi besti hingga akhir hayat.
“Ini banyak tamu ...,” ucap dokter Andri yang sudah memakai pakaian biasa. Celananya saja sudah bukan lagi celana panjang, melainkan celana selutut.
“Tamu tak diundang, tapi sebelum pulang wajib bayar, Mas!” ucap Septi yang kemudian tertawa. Tawa yang juga menular pada dokter Andri walau pria itu masih jaim.
Dokter Andri langsung membantu Kalandra setelah membiarkan sang putri bersama ibu Fatimah.
__ADS_1
“Mi, Umi ... saya sudah jadi papah yang baik buat Septi, kan?” ucap pak Haji tak mau menyia-nyiakan kesempatan dan sengaja mencuri perhatian calon istri. “Lihat, keringetan begini!” Ia sengaja memamerkan keringatnya, agar ibu Fatimah tahu, ia sudah sangat bekerja keras hanya untuk membantu Septi.
“Disayang, Mah. Disayang, ... biar kontrakannya tiba-tiba jatuh dari langit, berjejer di sebelah kontrakan yang sudah ada,” ucap Septi lagi.
“Nah, itu ... kapan dihalallin? Mumpung lagi bareng begini, banyak saksi!” sergah Kalandra yang langsung mengambil satu gelas besar es jeruk racikannya, setelah ia membagikannya kepada semuanya dibantu juga oleh dokter Andri.
Kalandra tak langsung minum karena ia sengaja membiarkan Arum minum terlebih dahulu melalui sedotan.
“Pak Pengacara memang teladan romantis. Yuk, Mi. kita juga ikutan!” sergah pak Haji bersemangat.
“Dihalalkan dulu!” ujar Kalandra.
“Yuk, Mi. Di hadapan banyak saksi, kamu maunya kapan?” yakin pak Haji setelah sebelumnya sampai menyuguhkan segelas es jeruk jatahnya, untuk ibu Fatimah.
“Dirembuk saja Pak Gede, mumpung banyak orang,” ucap Septi yang tengah menggepluk es lagi untuk dijadikan es gepluk. “Nanti aku undangin Papahku buat jadi saksinya biar dia merasakan, gimana rasanya ditinggal!” lanjutnya bersemangat sambil terus menggepluk esnya.
Seperti arahan yang sudah kompak dikatakan, akhirnya ibu Fatimah ditanya, kemudian langsung memberikan keputusan. Kapan pun pak Haji siap, ibu Fatimah juga siap asal jangan hari ini.
“Ibu Fatimah tahu banget kalau Mbah Haji pasti minta hari ini,” ucap Kalandra yang lagi-lagi paling aktif tertawa.
Kendati demikian, gara-gara Kalandra juga, semua suami jadi menyuapi istrinya. Apalagi para istri memang sibuk mengurus anak. Termasuk pak Haji, pria itu sungguh terinspirasi dari cara Kalandra.
“Mbah, sudah dapat janda idaman, otomatis pensiun dari musafir cinta, kan?” tanya Arum sambil mengunyah soto ayam kuah kuning di dalam mulutnya dan itu masih disuapi Kalandra.
“Pokoknya kalau sudah nikah masih pecicilan cari janda, aku kurung Pak Gede di keranda!” tegas ibu Fatimah sambil menatap sengit pak Haji yang masih duduk di hadapannya.
__ADS_1
Semuanya jadi kompak tertawa.
Dengan sabar pak Haji menghela napas dalam. “Umi jangan begitu dong. Ngapain Umi mengurung saya di keranda? Cukup kurung saya di hati Umi saja!” yakinnya benar-benar lembut penuh cinta.
Mereka yang ada di sana sampai tersedak karena tawa mereka.
“Gumoh ... gumoh kalau gini caranya. Nanti kalau sudah nikah, kayaknya aku wajib ngontrak sendiri kalau gini caranya!” ujar Septi yang makin membuat semua orang dewasa di sana terbahak.
“Nanti kamu nginep di kontrakan dokter Andri saja, nanti saya pura-pura nggrebek!” ujar pak Haji yang langsung memeriahkan tawa di sana.
“Dek Nissa, Dek Nissa mau, kan, kalau Ibu Septi nikah sama Papah?” ujar pak Haji sengaja.
Detik itu juga tawa di sana senyap. Semua mata langsung menjadikan Nissa sebagai fokus perhatian tanpa terkecuali dokter Andri yang duduk di sebelah sang putri. Lain dengan Septi yang tetap menggepluk esnya. Septi bahkan tak mau menganggap berarti walau Nissa berdalih mau memiliki ibu seperti Septi. Pak Haji dan Kalandra sampai berisik gara-gara kenyataan tersebut. Keduanya menjodoh-jodohkan dokter Andri dan Septi. Karena selain dokter Andri dan Septi sama-sama tak terikat dengan siapa pun, Septi yang sekarang juga sudah sangat berubah.
“Nanti buka klinik. Yang jadi dokter, dokter Andri, yang urus keperluan kantin ibu Septi,” ucap pak Haji lagi.
“Kalau mau nikah, nikah sekalian. Mumpung kami di sini, biar bisa jadi saksi kebahagiaan kalian!” sergah Widy meyakinkan.
Namun, Septi dan dokter Andri tetap kompak diam. Dokter Andri hanya tersenyum santai, sementara Septi hanya tersenyum hambar sambil terus meracik es gepluknya. Es gepluk yang juga langsung jadi hidangan favorit khususnya bagi anak-anak termasuk Nissa.
“Dek Nissa, kalau punya ibu Septi, tiap hari bisa makan es gepluk cap ibu Septi. Bukan Cap Gajah Duduk lagi!” yakin pak Haji lagi masih usaha mencarikan jodoh untuk Septi.
“Pak Gede pengin saya kasih lampu merah, yaaa?” sebal Septi sembari menyuguhkan dua porsi es gepluk untuk pak Haji dan juga ibu Fatimah yang sudah duduk bersebelahan.
Siap-siap kondangan ke pak Haji sama Ibu Fatimah, ya.
__ADS_1