
Malam menjelang hari pernikahan, baik Kalandra apalagi Arum, malah tidak bisa tidur. Keduanya kompak keluar dari kamar walau tidak janjian. Malahan setelah salat malam bersama, Arum membuat kopi hitam untuk mereka. Mereka mengobrol banyak hal termasuk hubungan Resty dan Tomi yang sengaja mereka kawal diam-diam. Setelah kopi hitam habis, Arum sengaja membuat salad buah karena Kalandra kelaparan, tapi pria itu sedang malas makan nasi.
Adzan subuh berkumandang tak lama setelah Arum selesai mandi. Kemudian wanita itu membukakan pintu untuk rombongan periasnya yang datang. ART yang malam ini tidur di rumah untuk bantu-bantu lebih awal, langsung membimbing rombongan perias masuk, termasuk itu menyiapkan makanan dan camilannya. Sedangkan Arum pamit untuk salat subuh bersama Kalandra berikut kedua orang tua pria itu lebih dulu. Beres salat subuh berjamaah, Arum langsung menjalani rias bersama ibu Kalsum. Keduanya dirias bersebelahan oleh perias yang berbeda.
Kalandra dan pak Sana dijatah memomong Aidan yang kebetulan baru bangun. Aidan langsung kebingungan ketika sang mamah dirias dan di sana pun banyak orang. Kalandra memandikan Aidan sendiri, tapi ketika Widy dan keluarga Arum datang, Widy yang mengambil alih. Ibu Rusmini yang bertugas memomong anak Widy yang masih kecil karena biar bagaimanapun, Kalandra juga wajib bersiap-siap. Namun setelah Kalandra siap dan sampai memakai pakaian pengantin, Aidan yang sampai memakai beskap sekaligus blangkon kembali ikut Kalandra.
Tak beda dengan Arum dan ibu Kalsum yang sudah langsung membuat sangat pangling setelah menjalani rias, para wanita dari keluarga Arum juga menjalani rias, termasuk itu Herni, istri kakak Arum.
“Nyaman, dandan begitu?” tanya Kalandra yang sibuk tersipu memandangi Arum. Calon istrinya itu dirias pengantin adat Jawa Solo. Benar-benar membuat pangling. Sedangkan kebaya pengantin warna putih gading yang dipakai juga memperindah tubuh Arum yang ramping.
Kalandra tidak bisa berkata-kata, tak kuasa menjelaskan penampilan calon istrinya yang kelewat memukau, sempurna di matanya.
“Kalau kamu nyaman begitu, tiap hari kita bisa nikahan, Yang,” ucap Kalandra benar-benar manis di hadapan semuanya. Orang tuanya yang ada di ruang keluarga sana bersama keluarga Arum yang tidak menjalani rias, menjadi sibuk menggoda mereka.
“Kalau tiap hari nikah, kalian ya ngabis-ngabisin catatan sipil, Mas. Buku nikah kalian bisa buat jaminan hutang di warung makan!” ucap ibu Kalsum yang tetap memakai jilbab untuk penyempurna kebaya keemasannya.
Ketika yang lain sibuk menahan tawa termasuk Arum yang tengah disuapi salad buah oleh Kalandra, Kalandra yang juga telah kembali memangku Aidan berkata, “Mamah ini. Kalau aku sampai jadiin buku nikah sebagai jaminan hutang di warung makan, itu berarti?”
__ADS_1
“Berarti Mas habis makan di warung itu tapi lupa enggak bawa uang atau malah bayar tapi enggak ada kembalian, terus yang punya warung bilang suruh ngutang dulu, nanti kalau sudah ada uang pas tinggal dianterin uangnya. Makanya Mas yang enggak enak, ninggalin buku nikah buat jaminan!” sergah ibu Kalsum yang walau sedang bercanda, tetap dalam konteks mendoakan yang baik-baik untuk anak, menantu, maupun cucu-cucunya.
Kemudian Kalandra sengaja menghubungi sopir travel yang ia jatah menjemput tetangga Arum karena biar bagaimanapun, Kalandra akan menjadikan semua tetangga Arum saksi pernikahannya.
Tak kalah heboh, Septi juga sudah mandi dan siap ke salon.
“Kamu dapat uang dari mana? Aku saja belum dapat uang, dan kerja bikin bata semalam pun baru akan cair gajinya minggu depan,” ucap Angga yang sudah diomeli Septi untuk menenangkan sang bayi. Bayi Septi bangun langsung menangis dan dikata Septi sudah langsung membuat mentalnya down.
“Nah ... karena aku sudah yakin Mas enggak mungkin langsung dapat uang, makanya kemarin aku jual tivi. Malu kan Mas, diundang langsung eh kita enggak datang. Belum lagi nanti aku mau ketemu sekaligus nyawer mas Denny Caknan!” ucap Septi antusias sembari memilih setiap gamis terbaiknya dari lemari.
Angga menghela napas dalam. “Jual tivi?”
“Ya iya, kenapa? Tivi-tivi orang tuaku. Salah siapa mereka enggak tanggung jawab. Lagian masa iya dua ribu dua puluh tiga masih nonton tivi? Enggak zaman!” balas Septi dengan santainya.
“Sekarang gini saja, Mas. Itu deller motor juga Mas saja yang urus. Aku percaya Mas bisa apalagi sebelum ini kan Mas sudah terbiasa bekerja keras. Mas ibarat suami idaman yang pinter cari duit tapi juga bapak rumah tangga yang baik. Oh iya, Mas.” Septi terus berbicara panjang lebar. “Oh iya, Mas. Hari ini kita enggak usah masak. Nanti kita numpang sarapan, makan siang, sama makan sore saja di pernikahan Jandes Arum sama mas Kala! Lumayan bisa irit budget! Berarti hari ini Mas bisa lebih santai, cukup beres-beres rumah, pel sama cuci bajunya jangan lupa yah, Mas. Pakai tangan saja irit listrik sama air!”
“Terus kalau semuanya serba aku, kamu ngapain?” Angga masih bertutur sabar.
__ADS_1
“Aku? Ya jelas aku jadi istri yang cantik lah, Mas! Mas ini, ... memangnya Mas enggak mau punya istri cantik?” sewot Septi. “Alasan janda Mas bisa seglowing sekarang kan karena punya suami yang tepat. Dan aku setelah menikah dengan Mas, aku mau Mas jadi yang pertama sekaligus yang terakhir.”
“Kalau kamu mau aku jadi yang pertama sekaligus terakhir, anak ini harusnya anakku, bukan malah anak tiri kakak perempuanku!” sergah Angga.
Untuk sejenak, Septi kebingungan. Ia tidak begitu paham dengan apa yang Angga katakan. Walau mulai menduga-duga maksudnya, ia terlalu takut mengungkapnya sebab semua yang berkaitan dengan Supri, tak ubahnya mimpi buruk untuknya. Apalagi setelah Supri kecelakaan dan sampai kehilangan kaki kanan, yang malah sampai menimpa anak yang Septi lahirkan.
“Ya sudah, kalau gini caranya, berhubung bayi kamu belum dikasih nama, mulai sekarang kasih nama Sepri saja. Septi sama Supri, biar cinta kalian abadi!” kesal Angga tapi masih dengan suara lembut.
“Mas, tega kamu!” kesal Septi, tapi Angga tak peduli dan malah dengan sengaja mengajak sang bayi mengobrol asyik. Angga terus memanggil bayi Septi dengan panggilan Sepri.
“Wis, jor mamakmu yang stres. Kita mandi, Papah enggak akan benci atau sekadar kesal ke kamu karena biar bagaimanapun, kamu enggak salah. Ke depannya pun, Papah bakalan fokus urus kamu, biar mamak kamu suruh jual yang lain saja kalau dia mau apa-apa,” ucap Angga yang mau memandikan Sepri.
“Eh, Mas. Lama-lama kalau aku kesel ke Mas, Mas juga bisa aku jual! Aku dacin di rong-sok sebelah!” semprot Septi sampai menyusul Angga.
Namun, Angga yang mulai kebal kepada Septi, memilih abai.
Tak kalah rempong dari Septi, tetangga Arum juga tengah bersuka cita bergantian naik ke bis pariwisata jumputan untuk mereka. Sedangkan Arum dan Kalandra berikut rombongan juga sudah ada di jalan. Kalandra dan Arum membawa rombongan keluarga Widy dan ibu Rusmini. Kalandra menyetir sendiri. Sedangkan rombongan ibu Kalsum dan pak Sana, bersama keluarga kakak laki-laki Arum. Mereka disopirkan oleh sopir pribadi orang tua Kalandra.
__ADS_1