
“Memangnya papah kamu ke mana?” tanya Fajar refleks sambil mengunyah bakso sesaat setelah ia melepas maskernya. Untung Septi tidak memergoki karena di waktu yang sama, calon istrinya itu tengah menunduk untuk memotong bakso beranak di mangkuknya.
“Tobat, tobat! Untung enggak ketahuan. Lagian itu tukang gigi dipesenin gigi kok kayak enggak niat banget. Takut enggak dibayar apa gimana?!” kesal Fajar dalam hatinya dan buru-buru memakai master.
Tahu keadaannya begini, reader pasti mendoakan agar tukang giginya malah lupa dan tidak pernah membuatkan Fajar gigi palsu. Setega itu memang kita ke pongah!
“Di Magelang katanya. Kalau masih hidup,” balas Septi dengan santainya.
Mendengar itu, Fajar langsung syok. “Loh, maksudnya kalau masih hidup bagaimana? Memangnya papah kamu lagi kritis dirawat di sana, apa bagaimana?”
“Penginnya sih gitu. Kritis kesehatan sama materi juga biar kapok!” balas Septi makin emosi saking melahap semangat bakso beranak yang tengah disantap.
Fajar makin tidak paham, tapi ia menjadi ingat, “Oalah iya ya ... Magelang kena dampak erupsi gunung Merapi, ya?”
Septi menatap Fajar. “Ayang tahu dari mana?”
“Itu di tivi-tivi ... beritanya lagi heboh,” balas Fajar.
“Oh, tivi? Aku enggak punya tivi ya enggak tahu, Yang!” balas Septi dengan jujurnya.
“Hah? Masa iya kamu enggak punya tivi?” heran Fajar.
“Iya. Dulu aku jual niatnya buat kondangan nikahan mbak Arum, eh malah aku jatuh dan kakiku kena kaki gajah!” cerita Septi lagi.
“Hah? Gimana sih ceritanya? Jual tivi buat kondangan, tapi kamu malah kena kaki gajah?” ucap Fajat menerka-nerka, tapi Septi dengan santai mengangguk sambil terus mengunyah.
“Apa gara-gara pernah kena kaki gajah, tubuh kamu yang dulu ramping, sekarang jadi mirip gajah?” lanjut Fajar refleks.
“Hah?” refleks Septi syok dengan pertanyaan yang baru saja ia dapatkan dari Fajar. “Apa maksudnya, Yang? Aku enggak salah dengar, kan?”
“Aduh ... mateng, mateng!” batin Fajar ketar-ketir mengutuk kelancangan mulutnya yang tidak memiliki rem. “Kamu dengarnya apa, sih? Tadi aku lagi bahas gajah duduk, merek sarung yang mau aku siapin buat bagi-bagi THR ke keluarga!” yakinnya.
__ADS_1
“Oh iya, sebentar lagi kan puasa, ya?” saut Septi masih asyik makan.
Saking lahapnya Septi dalam makan, Fajar sampai ngeri. Fajar sampai merasa dirinya sudah langsung kenyang tanpa harus makan. Ditambah, diam-diam Fajar sengaja memastikan isi dompetnya. Dompetnya benar-benar langsing, hanya dihiasi uang lima puluh ribu.
“Andai keadaan berbalik. Septi yang langsing, dompetku yang gembrot karena kebanyakan isi!” batin Fajar lemas lantaran hanya memiliki uang segitu.
“Baksonya enak banget ih!” lirih Septi sambil melongok etalase baksonya.
Melihat itu, Fajar buru-buru menyuguhkan bakso di mangkuknya kepada sang calon istri. “Kalau Septi sampai nambah, ... duhhhhh, alamatnya enggak bisa bayar!” batinnya.
“Sudah habisin saja. Kalau nambah kasihan yang lain, masih antre gitu takutnya mereka enggak kebagian!” ucap Fajar dengan segala rayuannya agar ia dilihat sebagai pria tanggung jawab nan cool oleh Septi.
Septi termangu menatap Fajar, terpesona. Ada pria sebaik dan sepengertian Fajar. “Ini Ayang beneran udah enggak mau?” lirihnya memastikan.
Belum sempat menjawab, perut Fajar malah keroncongan dan bunyi sangat nyaring. Beberapa orang yang ada di sekitar mereka, langsung kompak menoleh, menatap Fajar.
“Perut Ayang keroncongan lih, Yang. Ayang kelaparan,” ucap Septi berbisik-bisik, dan juga merasa malu sendiri lantaran perut Fajar sampai keroncongan. Menegaskan calon suaminya itu lapar.
“Sudah enggak usah nambah. Minumnya juga air putih saja, ya. Aku ambilin soalnya sibuk banget tuh antre. Ayo makannya cepet juga, gantian sama yang lain, kasihan mana ada yang lagi hamil itu di depan ikut antre. Ya ampun antreannya panjang banget, sepanjang kenangan!” ucap Fajar buru-buru bangkit dari tempat duduknya.
“Dipikir-pikir, semenjak sama Septi, aku makin boros. Kalau kayak gini caranya mending memelihara tuyul!” batin Fajar yang langsung migren gara-gara baru juga keluar dari kedai bakso dan Septi habis 2 porsi, calon istrinya itu sudah minta dibelikan nasi Padang.
“Yang ih, nasi Padangnya menggoda banget! Itu pakai rendang, gulai kaki kambing atau gulai ikan, ya Alloh Ayang aku ngiler!” rengek Septi sambil mengguncang-guncang sebelah lengan Fajar yang masih ia dekap erat menggunakan kedua tangan.
“Istighfar, Yang. Istighfar. Nanti kebayanya enggak ada yang muat. Ayang mau, kebayanya pakai karung bekas wadah bawang merah yang bolong-bolong dan itu harus di tambal? Atau kalah Ayang mau pakai kresek yang ditambal-tambal biar muat di tubuh Ayang?” ucap Fajar. Menyadari Septi langsung keki, Fajar sengaja menggiring calon istrinya itu ke sebelah trotoar jalan.
“Kol badan aku makin lama makin melar, yah, mirip badannya si mbak Anggun!” keluh Septi menatap risi tubuh sekaligus penampilannya sendiri.
“Loh, memangnya nih anak enggak sadar yah, kalau selama ini dia kelebihan bobot?” batin Fajar.
“Ayang, bentar lagi puasa. Ayang enggak mau kita sahur bareng-bareng, jadi pasangan samawa lebih awal?” ucap Fajar yang sukses membuyarkan renungan Septi.
__ADS_1
“Maksudnya gimana, Yang?” tanya Septi memastikan.
“Kita nikah dulu aja, yuk. Resepsinya nyusul. Lagian kalau dipikir-pikir, daripada buat resepsi heboh-heboh, mending buat tabungan masa depan loh, Yang. Emang Ayang enggak mau umroh apalagi haji?” lanjut Fajar yang dalam hatinya berkata, “Padahal biar lebih irit!”
“Iya, sih ... bagus gitu, buat masa depan. Tapi kalau kita enggak resepsi heboh, kurang greget Yang. Foto-Fotonya gimana? Sama buat kasih tahu ke orang, gini loh pernikahan kita yang penuh cinta dan mewah!” balas Septi mencoba menawar sekaligus meminta solusi terbaik kepada Fajar yang ia ketahui sangatlah bijaksana.
Fajar menghela napas dalam kemudian menggunakan kedua tangannya untuk membingkai gemas wajah gembul Septi. “Masalah foto-foto, gampang! Nanti aku cetak beberapa foto pemandangan buat layar belakang foto kita. Kamu mau latar foto pemandangan apa? Kabah? Menara Eiffel? Monas? Pegunungan? Bunga sakura?”
“Enggak modal banget?” batin Septi mendadak merasa sangat ngenes.
“Jadi nanti kita ijab kabul saja, habis itu foto-foto di berbagai latar pemandangan yang sudah kita pilih!” lanjut Fajar.
“Kalau gitu caranya, apa bedanya sama pas aku nikahan sama si mas Angga?” batin Septi makin ngenes. Namun andai ia tidak mau, kesempatan memiliki suami idaman layaknya Fajar juga otomatis hangus!
“Duh, gimana dong?” batin Septi menjadi galau di tengah suasana sore yang berangsur menjadi petang.
Teeettttt!
Dari sebelah ada yang mengklakson. Ternyata Arum yang melakukannya. Arum menyetir mobil barunya sendiri didampingi oleh Kalandra yang memangku Aidan. Tak hanya Kalandra dan Arum yang tersenyum bahkan tertawa sambil menatap mereka. Karena Aidan juga heboh dadah-dadah kepada Septi dan Fajar.
“Berasa lagi syuting film Ada Apa Dengan Septi Dan Fajar!” ujar Kalandra setelah sampai turun.
Kalandra menjadi bagian dari antrean bakso yang baru saja Fajar dan Septi tinggalkan gara-gara Fajar kehabisan uang. Sementara Arum memilih menunggu di dalam mobil.
“Jancuuukkk emang nih dua orang bikin iri terus!” batin Septi sinis dan buru-buru memasang senyum kepada Arum sambil membawa Fajar kabur dari sana.
Fajar segera menuntun sepeda motornya, menstater, tapi tak kunjung hidup hingga Kalandra yang menjadi menertawakannya juga sampai menghampiri.
“Ya ampun, Jar! Itu bensin kosong! Mau distater apa di jeglak-jegleg sampai tahun depan ya tetap enggak jalan, bensinnya aja kering!” tegur Kalandra yang lagi-lagi menertawakan pasangan paling epik di hadapannya.
Di dalam mobil, Arum sudah sampai menangis karena terlalu sibuk tertawa.
__ADS_1
“Ini gimana lagi ceritanya? Sumpah aku beneran sudah enggak ada uang, beli bensin pakai apa? Masa iya daun dikiranya aku sundel bolong yang beli sate bayarnya pakai daun?” batin Fajar tak karuan dan benar-benar kacau. Ia sampai berkeringat.
“Itu di depan bensin, Yang!” ujar Septi mengingatkan lantaran sang calon suami malah bengong lemas dan terlihat sangat kebingungan.