Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
161 : Kenang-Kenangan Tak Terlupakan


__ADS_3

“Alhamdullilaaaaaah!” ucap pak Haji. “Alhamdulilah, ... apa dibacain ayat kursi, apa malah dibacain ... yasin, ya? Soalnya kan, orang kayak Fajar yang cintanya berat di harta, ihhh ... enggak banget deh!”


“Kalau perempuan yang berharap hidup lebih baik dengan menikahi laki-laki yang lebih kaya, sih wajar ya. Secara kan perempuan ibarat tulang rusuk. Contoh sederhananya, andai Ibu Fatimah mau menikah saya agar jadi memiliki kehidupan lebih baik.” Kali ini, pak Haji menjadi kerap melirik wanita bercadar hitam di sebelahnya. Tentu saja, ia sedang berusaha atau itu modus namanya.


Ibu Fatimah yang masih mengemban Sepri, berangsur menunduk.


“Ih Pak Gede, modusnya tetep saja diselipin!” sebal Septi. “Yang serius, dong!”


“Masalahnya kalau di hadapkan dengan janda bohey, otak saya langsung oleng!” ucap pak Haji, tapi dalam sekejap, Septi berhasil membuatnya balik badan.


“Ya ampun, Sep! Masa iya kamu kuat angkat tubuh saya? Lah ngapain tadi kamu enggak banting saja si Fajarnya buat jadi kenang-kenangan tak terlupakan?”


Pak Haji hendak menoleh, tapi Septi menahannya dengan dalih, agar pak Haji tidak oleng lagi hanya karena melihat ibu Fatimah.


“Terus gimana, Pak Gede? Ih, yang serius, dong!” rengek Septi.


Sambil terus memunggungi Septi dan ibu Fatimah, pak Haji berkata, “Ya sudah, memangnya apa lagi yang mau dipermasalahkan? Malahan harusnya kamu merasa bersyukur karena ini terjadi sebelum kalian nikah. Andai kalau kejadiannya setelah nikah, yang ada kamu jadi sapi perah dan dia tinggal malas-malasan di rumah!”


“Yang penting sekarang kamu tetap fokus usaha saja. Jadikan pengkhianatan si Fajar ini sebagai pelajaran, sebagai cambuk buat kamu makin sukses agar saat sukses nanti, kamu bisa dadah-dadah ke dia sambil minta maaf karena di masa lalu, kamu enggak sekeren di masa depan! Hahaha. Jadi besok sebelum puasa, kita adain syukuran putusnya kamu sama Fajar. Nanti saya pesenin tumpeng ke Arum. Kita makan di sana sambil karaokean.” Pak Haji mengakhiri nasihatnya dengan menyanyikan lagu “Rungkad”. Namun hanya karena ibu Fatimah berdeham, Musafir Cinta pemuja janda itu langsung kembali bersikap maskulin sambil sesekali berdeham.


“Terus, apa lagi yang ingin kamu tanyakan?” lanjut pak Haji kali ini refleks balik badan, membuat matanya lagi-lagi menuju kedua mata ibu Fatimah. “Masya Alloh, Ibu Fatimah. Walaupun wajah kamu sangat berminyak karena kamu harus menjalani hidup ini dengan kepedihan menjadi tukang gorengan, jauh di lubuk hati saya tetap ada cinta untuk nama Anda!”


Menyaksikan itu, Septi langsung mendengkus. “Pak Gede ih kebiasaan. Aku colok nanti matanya biar enggak bisa lihat janda!”


“Ya Alloh, Sep! Jangan karena kamu lagi patah hati, yang lain enggak boleh jatuh cinta! Ngapain juga kamu bersusah hati padahal dia saja pasti langsung cari yang baru. Enggak banget kalau kayak gitu. Cinta boleh, tapi jangan govlok!” tegas pak Haji.


Septi menggeleng cepat menepis anggapan pak Haji. “Enggak ... aku enggak patah hati, Pak Gede. Aku hanya dendam karena dia sudah sangat memandang rendah aku!” setelah berbicara demikian, ia juga berkata, “Aku pengin balas dendam! Macam, bikin kenangan tak terlupakan!”

__ADS_1


Membahas kenangan tak terlupakan, yang ada di ingatan pak Haji hanyalah ketika dirinya mengejar Widy.


“Kirim saja wariyem! Iya, kirimi dia wariyem!” yakin pak Haji.


“Wariyem? Wariyem itu apa, Pak Gede?” balas Septi sambil sesekali mengerjap.


“Wanita perkasa, ... i-dem!” balas pak Haji yang kemudian jadi bingung sendiri. Namun setelah ia tak sengaja menoleh ke belakang dan membuatnya mendapati salon lengkap dengan wariyem yang tengah berdiri di depan pintu, aki-aki itu langsung terlonjak ketakutan. Ia masih terlalu trauma dengan kenang-kenangan yang diberikan oleh Widy Wariyem. Namun sebelum ia benar-benar pergi, ia sengaja memberi Septi saran agak sesat.


“Itu tuh, yang namanya wariyem!” bisik pak Haji sambil melirik yang ada di belakang dan sampai sekarang masih berdiri di depan pintu sambil kipas-kipas menggunakan kipas lipat bulu, warna pink.


“Waria, Pak Gede!” balas Septi dengan berbisik juga.


“Nama kekiniannya wariyem. Itu saya yang kasih nama!” yakin pak Haji. “Bilang saja kalau Fajar naksir dia. Kasih alamatnya si Fajar, bikin wariyem klepek-klepek ke Fajar biar dia terus ngejar si Fajar tanpa ampun! Tewas-tewas kalau dipepet wanita perkasa batangan gitu! Hahaha, rasain si Fajar. Sudahlah, sudah sore bentar lagi ashar. Mau salat dulu biar makin unyu!” ucap pak Haji buru-buru sementara yang dimaksud unyu versinya sama saja dengan imut sekaligus awet muda.


Kepergian pak Haji yang ceria layaknya biasa apalagi jika dihadapkan dengan janda, membuat Septi mengatur rencana. Dan baru saja Septi ingat, saat antre membeli esnya, Fajar sempat digoda wariyem bernama Honey itu.


“Mah, bentar pulangnya bareng. Aku ke si Honey dulu!” pamit Septi.


Tentu ibu Fatimah sudah langsung paham maksud sekaligus tujuan sang putri. “Kamu yakin? ” serunya sengaja meyakinkan.


“Sangat yakin, Mah! Nanti kalau masih dendam juga, sekalian aku banting!” lanjut Septi sengaja berseru karena kini ia sedang menyeberang. Takut balasannya tak sampai terdengar sang mamah.


Meninggalkan Sepeti yang siap memberi Fajar kenang-kenangan tak terlupakan dibantu sang wariyem, di rumah makannya, Arum masih sibuk berkutat di dapur. Arum tak hanya mengawasi pekerja karena ia juga tak segan membantu menyiapkan setiap pesanan.


“Mbak, ... Mas Kala sudah pulang itu. Katanya mau belanja keperluan bayi? Ya sudah sekarang Mbak siap-siap,” ucap ibu Kalsum.


Arum langsung sigap. “Oke, Mah. Tolong bilangin ke Mas Kala, aku mandi dulu.”

__ADS_1


“Ya sudah, kamu hati-hati, jangan buru-buru.” Walau sudah sampai berucap demikian, ibu Kalsum tetap merasa ada yang kurang jika dirinya tidak langsung memantau, menyaksikan sang menantu yang perutnya sudah sangat besar, secara langsung.


“Ayo, takutnya lantainya juga licin.” Ibu Kalsum sampai menggandeng Arum. Ia masih trauma dengan Bilqis yang dulu meninggal saat hamil. Jadi kepada Arum, ia sungguh sangat menjaga.


Sementara itu di pelataran rumah makan, Aidan tengah berbahagia mencoba sepeda barunya. sepeda roda tiga yang Kalandra dorong melalui dorongan di belakangnya.


“Nah, gitu! Wah hebat kamu Mas, sudah langsung bisa gowes. Nanti kalau sudah pinter Papah beliin yang rada gede!” girang Kalandra apalagi Aidan sudah langsung serius belajar.


“Loh, kok loyo?” Kalandra masih tertawa sambil keliling tempat parkir mendorong sepeda Aidan. “Capek, ya? Ya sudah, Papah dorong saja. Jadi sekarang kalau Mas mau jalan-jalan enggak hanya jalan atau diemban. Sekarang kan sudah punya sepeda.”


“Nah, besok kalau Mas sudah dewasa, tinggal Papah yang minta bonceng ke Mas! Kalau Mas gede, Mas sayang juga kan, ke Papah?”


Aidan yang tampaknya kelelahan hanya mengangguk-angguk.


“Waaaah, sepeda baru?” heboh Arum, sekitar setengah jam kemudian.


Arum keluar dari rumah makan dengan keadaan rapi dan rambutnya masih setengah basah. Suasana juga sudah petang ketika ia memergoki sang suami tengah sangat memanjakan sang putra.


“Mah, Mah ... tolong fotoin.” Arum langsung heboh meminta bantuan ibu Kalsum untuk mengabadikan kebersamaan keluarga kecilnya. Ia ingin mengabadikan setiap kebersamaan dan ia yakini bisa menjadi cerita bahkan keajaiban untuk hubungan mereka di masa depan.


“Di situ gelap. Bentar-bentar cari cahaya yang agak lumayan. Nah sebelah sana, kalian sebelah sana.” Ibu Kalsum sibuk mengarahkan.


“Mas, Aidannya jangan digendong. Biarin saja di sepeda dulu bentar. Kan judulnya saja momen pas dibeliin sepeda baru dari Papah. Biar jadi kenang-kenangan tak terlupakan.” Arum tak kalah heboh dari mamah mertua.


Kalandra yang merasa terharu karena sang istri begitu menghargai hadiah pemberian darinya, langsung tersipu. “Si paling bisa!” ucapnya menjadi gemas sendiri sambil mencubit pipi Arum yang sudah makin berisi.


Ibu Kalsum mendapatkan momen natural bin langka tersebut. Momen yang sangat menggemaskan hingga sebagai sosok yang mengabadikannya, ia juga menjadi bangga.

__ADS_1


__ADS_2