Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
195 : Senyum Bahagia


__ADS_3

“Kamu jadi orang kok sombong banget! Cantik enggak, kaya ya cuma titipan!” omel pak Haji. “Bantu orang tua, apa salahnya?” lanjutnya yang memang sampai ngos-ngosan. “Istri saya yang cantik-cantik saja enggak sombong!”


“Eh, saya bukan istri Mbah!” kesal ibu Muji.


“Oh, jadi situ ingin saya jadikan istri? Sudah sana, janda dulu, biar saya renovasi akhlak situ!” semprot mbah Haji.


“Ih, nadjeez! Suami saya saja lebih ganteng dari situ!” balas ibu Muji.


“Saya doakan suami situ nikah lagi biar situ kapok!” balas pak Haji.


“Dasar aki-aki, susah tua lidahnya malah makin lemas!” omel ibu Muji buru-buru pergi, sesaat setelah mendorong paksa pak Haji yang sampai tersungkur ke trotoar jalan sekitar.


“Ya ampun!” kesal pak Haji sembari melepas kepergian ibu Muji. “Kualat kamu ya, sama orang tua!”


Ibu Muji yang awalnya hanya melangkah cepat, berangsur lari sambil sesekali menoleh ke belakang hanya untuk memastikan pak Haji yang ia khawatirkan mengejar. Walau tanpa ia duga, ia yang melangkah di sebelah kiri malah mendadak jadi korban tabrak motor gede yang melaju terbilang kencang.


“Nah, kapok!” ucap pak Haji refleks ketika melihat tubuh ibu Muji terpental dan berakhir meringkuk di trotoar, lebih parah dari apa yang baru saja wanita itu lakukan kepadanya. “Moga-moga yang nabrak langsung kabur saja, biar tuh mamahnya si dokter lebih kapok!”


“Apanya yang kapok Embah Sayang ...?” bisik Widy Wariem yang diam-diam datang dan langsung duduk meringkuk di sebelah pak Haji.


Pak Haji langsung syok, sempat sesak napas, tapi usahanya kabur yang kesulitan, malah membuat sang wariyem menggendongnya dengan perkasa.


“Pantesan di Fajar pongah mau sama wariyem. Ternyata wariyem pun ada gunanya. Perkasa gini padahal jelas-jelas tubuhku lebih gemuk!” batin pak Haji yang baru saja melewati tubuh ibu Muji. Sesuai doanya, sang penabrak sudah langsung kabur, selain ibu Muji yang entah pingsan atau malah sampai sekarat parah.

__ADS_1


“Tak gendong, ... ke mana-mana. Tak gendong ....”


Tentunya, pak Haji juga sangat terhibur dengan alunan karoke si Widy Wariyem.


“Mbah Ayang! Mbah suka karokean juga, enggak?” tanya Widy wariyem sambil mengemban soundsystem-nya di depan dada.


“Suka. Suka banget. Hayo, kapan-kapan kita duel!” jawab pak Haji bersemangat.


“Kalau karaokean, kita cukup duet, Mbah. Kalau mau duel, kita di kasur saja!” balas Widy wariyem masih usaha menggoda pak Haji.


“Sudah dibilang, saya enggak doyan batangan, yang doyan itu si Fajar!” omel pak Haji.


“Asli itu enggak, Mbah? Dari tadi nama Fajar disebut mulu. Berasa langsung disinari kehangatan matahari pagi, walau baru dengar namanya!” balas Widy wariyem jadi kepo ke Fajar.


“Kerja di bank, berarti orangnya bersih, yah, Mbah?” Widy wariyem makin penasaran.


“Ya bersih, gigi atasnya yang depan saja sampai enggak ada!” yakin pak Haji keceplosan.


“Hah, sampai enggak ada gimana, maksudnya, Mbah?” balas Widy Wariyem.


Sadar dirinya telah keceplosan, pak Haji sengaja berkata, “Ya bersih enggak ada kumannya! Kan dia rajin perawatan!”


“Ihhhh, jadi gemes! Berarti cucoek banget yah, Mbah Ayang!” Widy Wariyem sudah langsung heboh.

__ADS_1


“Pokoke josss!” jawab pak Haji sambil memberikan kedua jempolnya ke Widy wariyem. Tak jauh dari rumah makan milik Arum, ia yang sengaja minta diturunkan, langsung menunjukkan kontak Fajar. Ada foto Fajar yang langsung membuat Widy Wariyem kegirangan.


“Sumpah, Mbah. Beneran JOSS! Aku langsung cocok, Mbah!”


“Tapi saya baru ingat kalau dia lagi dekat sama yang namanya Honey!” Tak lupa, pak Haji sengaja memberi foto Fajar dan Honey kiriman dari Septi.


“Ihh, ... Honey mah enggak selevel sama aku. Aku lebih keren dari dia. Lihat saja, nih ... bulu ketek aku saja warnanya lilac! Punya dia pasti pink, hmm basi! Terlalu biasa!”


Meninggalkan kebersamaan pak Haji dan Widy wariyem yang membuat pak Haji sibuk terbahak, kebersamaan rombongan Kalandra dan Tuan Maheza, menjadi lebih hangat karena kini, mereka berada di kediaman pak Sana. Membuat Arum maupun ibu Aleya, bergabung dengan leluasa karena biar bagaimanapun awalnya mereka tengah menjaga anak-anak mereka yang tidur.


Dalam kebersamaan tersebut, semuanya sepakat tidak membahas hubungan Widy dan Sekretaris Lim. Mereka takut membuat Widy makin takut. Alasan mereka membiarkan keduanya, agar hubungan Widy dan Sekretaris Lim, benar-benar mengalir dengan sendirinya.


“Kalau lusa mereka balik ke Jakarta, Ibu enggak jadi dibawa, kan, Rum?” tanya ibu Ripah berbisik-bisik kepada Arum yang duduk di sebelahnya.


Arum yang tak lagi memangku anak kembarnya, menatap ibu Ripah. “Kalau Ibu mau, lebih baik gitu. Namun kalau Ibu belum mau, ya enggak apa-apa di sini saja bareng aku sama Widy. Yang penting, Ibu sama Bapak, sehat.” Arum berbisik-bisik, sengaja meyakinkan.


Ibu Ripah buru-buru menggeleng. “Enggak. Enggak mau. Mau di sini saja sama kamu sama Widy!” yakinnya masih berucap lirih juga. “Ibu beneran enggak mau ke Jakarta, Rum! Ibu juga sudah bilang ke Widy.”


Kebersamaan mereka tengah terjalin di ruang makan milik keluarga Kalandra yang memang terbilang mewah sekaligus megah. Walau untuk tempat duduk, sebagiannya sampai memakai kursi plastik, kebersamaan mereka tetap hangat di antara obrolan renyah yang membersamai. Yang mana dalam kebersamaan tersebut, Salwa sampai ketiduran di pangkuan Sekretaris Lim. Bocah itu langsung lengket dengan Sekretaris Lim, bahkan walau keduanya jarang mengobrol dan paling hanya saling tatap beberapa kali. Kalaupun salin mengobrol, keduanya melakukannya dengan bergumam. Begitu pun dengan Widy yang duduk di sebelahnya, dan juga memangku sang putra yang nyaris sebaya Aidan.


Di sebelah Kalandra yang diam-diam menggenggam tangan Arum dan pria itu simpan di pangkuannya, Aidan yang dipangku pak Sana, menjadi satu-satunya balita yang belum tidur. Sementara di sebelah ibu Ripah dan pak Mul, di sana ada ibu Aleya yang merasa sangat terenyuh karena akhirnya bisa menjalani kebersamaan indah dengan kedua orang tuanya, walau baik ibu Ripah maupun pak Mul, tidak ada yang mengenalinya sebagai Resty sang putri.


Seiring rasa haru yang membuncah, ibu Aleya sengaja mendekap sebelah tangan sang suami kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Tuan Maheza. Ia sengaja bermanja, memberikan senyum bahagianya kepada sang suami yang juga langsung balas tersenyum bahagia sambil menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2