Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
216 : Janda Pengganti


__ADS_3

Saat mengunjungi rumah makan pun, Arum merasa tetap ada yang kurang karena biar bagaimanapun, di sana ada jejak-jejak kebersamaan.


Arum menemukan jejak keluarganya di sana. Padahal belum genap lima hari, tapi efek ponsel Widy eror, mereka belum bisa kembali berbincang melalui video call. Bersama Azzura dan Azzam, ia mengawasi suasana lantai atas yang mulai dihuni oleh pengunjung. Ada Aidan dan ibu Kalsum juga di sana. Mereka tengah menunggu kepulangan Kalandra dan pak Sana, tapi yang datang malah pak Haji.


“Di sini sudah enggak ada janda, kenapa Mbah masih saja berkelana?” singgung ibu Kalsum sembari menyuapi Aidan lantaran bocah itu sudah kelaparan, tak kuat menunggu Kalandra dan pak Sana. Terlebih di meja mereka, menu makan untuk Aidan sudah tersedia.


“Siapa tahu ada yang mau jadi janda atau malah menjandakan diri, Bu DPR!” balas pak Haji yang kemudian duduk di sebelah Arum.


“Menjandakan diri demi aki-aki yang enggak jelas dan kalau sudah dapat pun langsung dilepeh? Beneran harus mikir ulang!” sewot ibu Kalsum.


“Ya iya, beneran harus mikir ulang. Mikir ulang kenapa enggak sejak lama kenal terus nikah sama saya! Hahaha!” tanggap pak Haji makin membuat ibu Kalsum menanggapi dengan sewot.


“Oh, iya, Rum. Dua minggu lagi kan cucu saya mau sunat,” lanjut pak Haji.


Ketika Arum langsung menyimak dengan serius, tidak dengan ibu Kalsum yang malah bertanya, “Yang sunat beneran cucu, apa malah Mbah Haji?”


“Cucu lah. Kalau punya saya disunat lagi, yang ada habis. Nanti yang ada saya jadi pakai rok. Pakai lipen dan otomatis satu geng sama si Fajar and Wariyem!” balas pak Haji dan langsung membuat ibu Kalsum maupun Arum yang sedang galau total, terbahak.


“Tapi kayaknya lucu loh, Mbah kalau Mbahnya pakai rok. Pakai lipen—lipstik. Terus bajunya yang bikin masuk angin!” tanggap ibu Kalsum.


“Kayaknya langsung jadi wariyem idaman lah ya!” balas pak Haji dengan bangganya dan langsung membuat tawa ibu Kalsum makin menjadi-jadi.


“Bentar, jangan bercanda dulu. Ini beneran serius, semacam trobosan baru. Gini loh, Rum. Niat hati ingin saya sampaikan, kepadamu yang pernah sangat saya cintai. Loh, kok mendadak nyanyi!” Pak Haji yang sempat meminta Arum apalagi Ibu Kalsum diam, malah terbahak sendiri.


“Oke, ... sekarang saya serius. Saya berniat menyewa rumah makan ini buat resepsi kitanan cucu. Karena tamu undangannya lumayan, saya sengaja minta tukang tendang. Jadi, kalau tamunya habis salaman terus beres makan, tuh tukang tendang langsung berakhir. Tendang tuh tamu yang sudah beres, biar enggak lama-lama di sini. Biar enggak sempit banget gitu!” jelas pak Haji.

__ADS_1


Arum dan ibu Kalsum tetap belum bisa sepenuhnya serius karena keduanya pun masih sibuk menahan tawa.


Setelah berdeham guna meredam tawanya, Arum berkata, “Kalau memang mau ada semacam resepsi, bisa dikondisikan, Mbah!”


“Yang penting ada duitnya, Mbah. Ada harga, ada barang. Nanti depan rumah makan bisa diteratag. Dihias kayak di hotel-hotel pas Mbak Arum sama Mas Kala nikahan,” yakin ibu Kalsum.


“Kira-kira, itu bakalan habis berapa harga, Rum? Bu DPR? Soalnya kalau hanya sepuluh juta, saya ... lemes soalnya saya maunya yang ratusan juta! Hahaha!” Pak Haji kembali tertawa lepas.


“Sombong!” sindir ibu Kalsum.


“Nanti sekalian ditotal, ya. Syukur-syukur ada bonusan janda cantik! Sewa rumah makan, dapat bonus janda cantik!” lanjut pak Haji makin bersemangat.


“Janda lagi, janda lagi!” sebal ibu Kalsum yang kemudian kembali fokus menyuapi Aidan.


“Kalau Mbah memang mau, nanti langsung kita bahas sama suami saya. Sama papah mertua saya juga biar lebih terarahkan,” ucap Arum.


Apa yang pak Haji katakan barusan sampai membuat ibu Kalsum menangis menahan tawa.


“Bu DPR, Bu DPR kenapa? Ini kan bukan sinetron ikan terbang! Ini acara novel yang sengaja dibikin lucu biar puasanya makin semangat!” yakin pak Haji menertawakan ibu Kalsum.


“Lah si Mbahnya keterlaluan. Masa iya gajah Septi. Itu kan konteksnya, Mbah sama saja menyamakan Septi dengan gajah!” balas ibu Kalsum.


“Lah, kenyataannya juga gitu. Septi masih kayak gajah walau ngakunya sudah turun lima kilo!” yakin pak Haji.


“Jadi ini serius, yah, Mbah? Nanti ada tambahan Septi dibiknin tempat khusus berarti biar lebih elegan,” ucap Arum yang dalam hatinya sudah langsung mengucap syukur. Tak menyangka, orang yang selalu membuat ulah malah menjadi orang pertama yang menciptakan trobosan baru dalam usaha rumah makannya. Rumah makannya akan disewa mirip restoran apalagi hotel ternama!

__ADS_1


“Tempat khususnya jangan kuburan, yah, Rum. Soalnya saya belum siapin kain kafan buat si Septi!” lanjut pak Haji yang kali ini kembali tertawa. Namun, baik ibu Kalsum maupun Arum langsung menggeleng tak habis pikir.


“Ini yang mau sunat, kelak bakalan jadi calon musafir Cinta pemuja janda. Pokoknya kobaran api pemuja janda enggak akan ada matinya! Paling nanti dia jatahnya di novel Mas Aidan, yah, Mas!” ucap pak Haji lag.


Bersama tawa yang akhirnya reda, ponsel Arum berdering. Dering tanda video call masuk. Dari nomor baru, dan Arum tak berniat mengangkatnya. Bahkan walau terulang tiga kali, Arum tetap membiarkannya.


“Sekarang memang banyak penipuan dengan modus macam-macam,” ucap ibu Kalsum.


“Sini, Rum. Biar saya yang jawab. Kalau niatnya memang enggak benar, biar saya kirim doa balasan!” yakin pak Haji.


“Langsung pingsan kayaknya pihak sana kalau lihat wajah yang keluar, malah wajahnya si Mbah!” komentar ibu Kalsum yang lagi-lagi terbahak.


“Pingsan, ... pingsan pihak sana!” lirih pak Haji bersemangat menerima ponsel Arum.


Bersama sang mamah mertua, Arum jadi serius menyimak. Pak Haji sudah langsung menjawab, membuat layar ponsel Arum dihiasi gambar lain.


“Hallo, assalamualaikum?”


“Heh, mantan jandaku!” pak Haji langsung heboh lantaran yang menelepon sungguh Widy.


“Innalilahi, ... kok Mbah haji?” balas Widy.


“Belum, Dy. Saya belum mati. Namun ditinggal nikah apalagi hijrah ke Jakarta sama kamu, saya nyaris hilang arah. Apalagi sampai sekarang, saya belum menemukan janda pengganti! Gini loh, Dy. Dua minggu lagi saya ada hajatan. Kamu saya undang dan wajib datang. Acaranya di rumah makan Mbak Kamu. Kalau kamu sampai enggak datang, saya kirim tel*luh dari sekarang!” ucap pak Haji langsung heboh.


Widy langsung sibuk menahan tawa.

__ADS_1


“Jangan ketawa-tawa, kamu! Soalnya kamu tambah cantik kalau ketawa. Nanti saya makin susah mo-op on-nya!” protes pak Haji.


Seorang pramusaji datang dan mengabari Arum bahwa di bawah ada tamu yang mencari Arum. Walau tidak merasa membuat janji, Arum pun tetap menemui tamu yang dimaksud. Seorang wanita paruh baya dan wajahnya sangat Arum hafal walau mereka jarang bertemu. Wanita itu berdiri di sebelah kasir sembari menyunggingkan kemarahan dari tatapan tajam dan juga gerak bibirnya. Ibu Lasmi, mamahnya Bilqis. Wanita itu merupakan tamu yang dimaksud.


__ADS_2