Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
228 : Hamil Dan Kalau Sampai Nikah Lagi


__ADS_3

“Ada dokter Andri. Mau sekalian cek, enggak? Mana tahu kamu memang sakit, perlu penanganan. Enggak hanya mabuk kendaraan,” ucap ibu Rusmini.


Mendengar nama dokter Andri disebut, Sekretaris Lim dan Widy kompak celingukan. Tak semata karena kedatangan pria itu yang otomatis akan membuat mereka terlibat dalam acara sama. Melainkan kenyataan Widy yang sampai disarankan untuk menjalani pemeriksaan kepada pria itu.


Widy yang masih tiduran langsung melirik penuh arti sang suami. “Periksa ke dokter Andri ya nanti ada yang cemburu, Mamake!”


Sambil duduk sila dan terus memijati kaki Widy, Sekretaris Lim berkata, “Iya, ih ... Mamake!”


Melihat tampang teraniaya sang suami, Widy tidak bisa untuk tidak tertawa. Baginya, ekspresi Sekretaris Lim terlalu menggemaskan. Membuat kedua tangannya juga tak bisa diam dan langsung membingkai gemas wajah sang suami yang kemudian Widy dekap tengkuknya penuh sayang.


Sadar dirinya salah, ibu Rusmini yang menjadi tersenyum sungkan segera meminta maaf.


“Enggak apa-apa, Bu. Sekarang juga kalau Widy mau, kita ke rumah sakit atau klinik terdekat saja!” balas Sekretaris Lim.


Widy langsung menggeleng. “Tolong kerokin saja!” pintanya.


“Tapi nanti kalau enggak ada perubahan, kita—” ucap Sekretaris.


“Coba pakai ini. Cek, takutnya Widy memang sedang isi,” sergah Arum yang datang sambil membawa stok test pack miliknya.


Bukan hanya Sekretaris Lim yang langsung bengong melihat alat tes hamil yang Arum bawa. Karena Widy yang sudah terbiasa memakainya juga langsung bengong dan berakhir kikuk.


“Ya sudah, sini aku cek!” ucap Widy sembari berusaha duduk.


Penuh semangat, Sekretaris Lim langsung membantu Widy. “Hati-hati, Sayang!”


Arum yang melirik sebal Widy, sengaja berkata, “Lim, ... kalau Widy beneran hamil, ... Mbak mau tas mahal, ya! Maksudnya, beliin Mbak tas mahal kayak yang sosialita punya!”


Walau Arum terdengar mengomel, Sekretaris Lim tetap menanggapinya dengan senyum santai penuh kebahagiaan. “Siap, Mbak!”


Kesanggupan Sekretaris Lim yang malah kegirangan, membuat Arum bingung. “Iparku oleng apa gimana?” pikirnya tak percaya dan memang sulit percaya. Sekretaris Lim mau-mau saja ia pa*lak bahkan itu sekelas tas mahal khas para sosialita, padahal Arum hanya menggertak.

__ADS_1


Setelah sampai mengunci pintu kamar mandi yang masih ada di kamar tamu mereka tempati, Sekretaris Lim segera menyiapkan test pack. Ia membaca saksama cara penggunaan test pack-nya.


“Sayang, sini ... aku sudah paham,” ujar Widy sambil tersenyum lembut dan langsung dibalas senyum lembut juga oleh sang suami.


“Ya sudah, ... ayo cek. Nanti kalau beneran iya, kamu mau minta apa? Mbak Arum kan minta tas,” ucap Sekretaris Lim sambil bersedekap di tengah tatapan sendunya yang terus tertuju kepada wajah khususnya kedua mata Widy.


Widy menjadi salah tingkah dan tak kunjung memulai.


“Sudah, jangan malu. Kan aku sudah lihat semuanya!” ucap Sekretaris Lim yang yakin, alasan Widy tak kunjung mulai pemeriksaan karena istrinya itu malu kepadanya.


Padahal yang di luar pintu kamar mandi, Arum dan ibu Rusmini sudah mondar-mandir penasaran. Keduanya tal sabar menunggu hasil pemeriksaan yang Widy lakukan.


Di dalam kamar mandi, di depan wastafel yang dilengkapi hamparan cermin, Sekretaris Lim kian mengeratkan dekapannya seiring warna merah yang perlahan menghiasi kedua garis di test pack. Dengan sendirinya, kedua tangan Sekretaris Lim mengelus perut Widy yang masih rata.


“Nah, loh ... siap-siap tas sosialita!” ucap Widy.


Sekretaris Lim tak hentinya tersipu, mengiringi kebahagiaan yang membuncah membanjiri hatinya. Ia menggeleng enteng karena baginya, permintaan Arum sama sekali bukan masalah untuknya. “Enggak apa-apa. Pokoknya gampang. Nanti mbak Arum langsung pilih saja biar barangnya juga langsung dikirim ke sini!” yakinnya.


“Papah maunya anak cewek, apa cowok?” lirih Widy benar-benar manja.


“Cewek cowok, sama saja. Kan kita sudah punya tiga!” yakin Sekretaris Lim dan langsung membuat kedua mata Widy makin sipit akibat senyumnya.


“Namun yang sekarang, sepertinya bakalan sipit sama putih banget!” balas Widy.


“Kalau enggak sipit?” balas Sekretaris Lim lirih juga dan benar-benar manis.


“Nanti aku suruh dia buat sering senyum biar matanya selalu sipit. Jarang-jarang kan, orang senyum tapi bikin mata melotot apalagi beli?” balas Widy sambil menahan senyumnya. Ia membiarkan sang suami membenamkan wajah di wajahnya.


“Aku bahagia banget, ... sampai-sampai, aku bingung cara buat mengungkapkannya! Yang awalnya sudah terasa sempurna banget, sekarang juga jadi alhamdullilah banget! Bakalan nambah lagi, enggak sampai nunggu lama-lama!” lirih Sekretaris Lim yang kemudian menempelkan bibirnya di hidung, maupun bibir Widy.


Widy tersenyum cerah, tak kalah bahagia dari Sekretaris Lim yang sampai tidak bisa berkata-kata setelah mengetahui kehamilannya. Malahan sampai detik ini Widy masih sulit untuk percaya, membahagiakan sang suami cukup dengan kehamilannya.

__ADS_1


“Selain aku hamil, Papah mau apa lagi? Aku enggak menyangka, hanya karena aku hamil, Papah sudah sebahagia ini!” lirih Widy.


“Ssiiiit, jangan bilang ‘hanya karena hamil’ karena di luar sana, banyak pasangan yang harus susah payah berjuang hanya untuk mendapatkan momongan!” balas Sekretaris Lim, masih berbisik-bisik tepat di hadapan wajah Widy.


Widy langsung tersipu, memilih menunduk.


Kabar kehamilan Widy, langsung membuat Arum limbung. Arum nyaris oleng apalagi ketika Sekretaris Lim sampai mengucapkan terima kasih kepadanya. Iparnya memintanya untuk memilih tas yang diinginkan agar Sekretaris Lim segera mengurusnya.


“Ya Alloh, ini beneran? Aku beneran” batin Arum yang kemudian buru-buru duduk di sebelah Kalandra. Tak hanya itu karena Arum juga sampai mendekap lengan Kalandra menggunakan kedua tangannya untuk mendekap lengan Kalandra.


“Ciee, ... yang sebentar lagi, pada buka puasa!” goda pak Haji kepada Arum dan Kalandra.


Kalandra langsung tersipu sembari menahan tawanya. Lain dengan Arum yang langsung kikuk, sebelum akhirnya ia berbisik, mengabarkan kehamilan Widy kepada Kalandra.


“Wah, Mbah! Mantan janda idaman lagi hamil!” ucap Kalandra sengaja heboh.


“Siapa? Yang mana? Janda idaman saya kan banyak!” tanggap pak Haji tak kalah heboh.


Kabar kehamilan Widy tak hanya membuat yang mendengarnya bahagia. Karena bermula dari kabar tersebut jugs, pak Haji makin sibuk menjodohkan Septi dan dokter Andri.


“Apaan sih Pak Gede? Aku sama dokter Andri hanya buat rame-rame saja. Kami murni bestie apalagi aku mantap enggak mau nikah lagi!” yakin Septi sambil memangku Sepri. Seperti sebelumnya, Septi masih duduk di lantai.


Semuanya yang tengah menikmati es gepluk, kompak menyimak.


“Kalian semua jadi saksi! Kalau nanti Septi sampai nikah lagi, ... mau itu sama dokter Andri maupun laki-laki lain, kit wajib denda Septi. Pokoknya, Septi wajib kasih kita seekor sapi, buat di sate rame-rame!” tantang pak Haji.


“Loh ... loh! Kok gitu? Seekor sapi ya bisa buat cicil ruko yang kecil di dekat pasar, Pak Gede!” Septi tak kalah heboh, walau kenyataannya itu malah disambut tawa lepas oleh semuanya, termasuk Sekretaris Lim dan Widy yang baru bergabung.


Kedua anak Aleya sampai terbangun karena suasana di sana benar-benar heboh oleh tawa.


“Makanya jangan asal bilang enggak mau nikah lagi. Yang namanya jodoh kan enggak ada yang tahu. Mana tahu, nantinya kamu malah jadi musafir cinta pemuja duda, atau malah musafir cinta pemuja berondong! Yang penting bukan musafir cinta pemuja suami orang. Biar kamu enggak ditabokin orang!” balas pak Haji yang tertawa lepas.

__ADS_1


Tuan Maheza sampai tak sanggup mengemban kedua anak Resty secara bersamaan akibat tawa yang ditahan. Ia bertahan di sofa sambil mendekapnya secara bersamaan.


__ADS_2