
Pagi menjelang siang, sekitar pukul sepuluh pagi, Arum dan Kalandra mengunjungi klinik Septi dirawat. Kedua sejoli itu datang tanpa Aidan maupun orang tua Kalandra. Bergandengan tangan, Kalandra sampai menentengkan tas Arum, sementara sang istri tampak fokus menatap layar ponsel yang menyala.
“Mas, aku seneng banget!” ucap Arum antusias. Ia tersenyum semringah menatap Kalandra dan nyaris menjerit saking bahagianya.
“Kenapa, gitu?” Kalandra menatap penasaran Arum. Wanita itu mendadak menghentikan langkah kemudian menghadap padanya, yang otomatis juga membuatnya melakukan hal serupa.
Kalandra tak sabar menunggu Arum cerita. Apalagi jika Arum terlihat sangat bahagia layaknya sekarang, Kalandra yakin kabar yang akan istrinya bagikan memang kabar sangat membahagiakan. Kenyataan yang belum apa-apa saja, sudah membuat hatinya berbunga-bunga. Membuatnya sulit mengakhiri senyum bahagianya.
“Ini di WA, si Widy bilang, sekarang dia sambil jualan masakan sama jajanan. Dia pinjam bank mingguan dan alhamdullilahnya, langsung jalan! Modalnya balik dan tiap minggu bisa lebih dari setor!” cerita Arum antusias. Tangan kanannya yang digandeng Kalandra sampai agak mengguncang-guncang gandengan tangan mereka.
Senyum Kalandra kian lepas seiring pria tampan itu yang mengangguk-angguk. Ia tak kalah bahagia dan mengatakannya kepada Arum.
“Wah, baru dengar gitu aku juga langsung bahagia! Alhamdullilah banget, Yang! Oh iya, si Agus bagaimana? Apa kabar tuh manusia? Beneran enggak ada kabar, apa malah sudah jadi ba-bi beneran tanpa harus capek-capek ngeppet?” ucap Kalandra sambil menahan tawanya.
Mendengar pertanyaan terakhir Kalandra, Arum menjadi heboh menahan tawa. Namun, kebersamaan mereka terusik karena pintu ruang rawat di belakang Arum terbuka. Ruang rawat yang tidak lain ruang rawat Septi karena yang membuka pintunya saja juga Angga.
Angga menatap gugup sekaligus gengsi bin iri, kebersamaan Arum dan Kalandra. “Kok hanya berdua? Aidan mana?”
Masih pertanyaan sama yang Angga tanyakan, seolah pria itu begitu peduli kepada Aidan. Padahal, alasan Angga bertanya seperti itu karena Angga marah. Rasa iri karena Arum malah bahagia bersama Kalandra, benar-benar membuat Angga marah. Angga menjadikan Aidan sebagai alibi. Merasa dirinya jauh lebih baik saking iri sekaligus egoisnya.
“Biasa saja kenapa, Mas? Masa iya, Mas masih pura-pura lupa kalau mertuaku yang sekarang, sayang banget ke Aidan? Lagian kan memang sudah aturannya, bayi yang enggak berkepentingan lebih baik jangan ke klinik atau semacam rumah sakit karena imunnya masih rawan.” Arum menghela napas dalam, telanjur kesal pada tingkah sang mantan yang sudah ia ketahu tabiatnya.
“Andai Septi enggak minta tolong dan pinjam uang ke kami, kami juga enggak akan ke sini, kok. Kami kan juga punya banyak urusan penting,” tegas Kalandra yang kali ini sewot.
Kalandra telanjur dendam karena di masa lalu, Angga tak segan ringan tangan kepada Arum. Sayang Kalandra telat mengetahuinya. Karena andai saat perceraian Arum dan Angga, Kalandra tahu kasus tersebut, sudah Kalandra masukkan kasus tersebut sebagai jejak kejahatan seorang Angga kepada Arum di masa lalu.
__ADS_1
Kini, Angga menatap kesal Kalandra. Karena meski keputusan Septi meminjam uang kepada kedua sejoli di hadapannya membuatnya merasa sangat malu, kalimat terakhir yang Kalandra katakan juga sukses membuat Angga tersinggung. Angga sakit hati, yakin alasan pengantin baru di hadapannya mau membantu Septi karena keduanya sengaja menginjak-injak harga dirinya.
“Kalandra sama Arum pasti sengaja balas dendam!” yakin Angga dalam hatinya. Alasan yang juga membuat kedua tangannya refleks mengepal di sisi tubuh.
“Jika pada Arum yang selalu mengabdi, kamu begitu ke-ji, kenapa kepada Septi yang selalu menginjak-injak harga diri kamu, kamu begitu tunduk?” lanjut Kalandra masih berucap lirih tapi menusuk.
“Jangan pernah menceraikan Septi apa pun yang terjadi. Anggap saja ini hukuman yang harus kamu jalani. Bukankah hanya wanita seperti Septi juga yang mampu membuatmu merasakan apa itu penyesalan? Bukankah hanya wanita seperti Septi yang bisa membuatmu jauh lebih menghargai?” sergah Arum yang juga menjadi berbicara lirih tapi tak kalah menusuk dari ucapan Kalandra.
Arum berangsur menggeleng tak habis pikir. “Harusnya setelah apa yang terjadi, kamu lebih wawasdiri. Namun sepertinya ini juga menjadi bagian dari takdir bahkan karma kamu. Bukankah karma memang kita yang buat dan akan selalu mengikuti sadar tidaknya kita akan keberadaannya? Ya inilah yang sedang terjadi. Tuhan menutup kemampuanmu untuk berpikir lebih baik. Agar kamu merasakan kesulitan sekaligus kesakitan yang sangat menyiksa.” Arum mengangguk-angguk, kemudian menghela napas pelan.
Kalandra yang masih diam, menganggap apa yang baru saja Arum katakan, masuk akal. Masuk akal jika sang Pemilik Kehidupan sampai membatasi atau malah menutup kemampuan Angga agar pria itu merasakan derita dan siksa cukup lama. Alasan yang juga langsung membuat Angga menyadarinya.
Kepada Arum, Angga begitu tega dan akan melakukan segala cara. Namun, kenapa kepada Septi tidak? Kenapa Angga tidak bisa melepaskan apalagi melarikan diri dari seorang Septi? Kenapa kemampuan yang Angga miliki juga seolah tak bisa Angga manfaatkan dengan semestinya lagi? Benarkah Tuhan sengaja membatasi bahkan malah meniadakan kemampuannya sebagai wujud dari hukuman yang juga belum ia sadari? Pikir Angga langsung berpikir keras.
“Aku akan meminjami kamu uang, tapi dengan syarat, tiap minggu kamu wajib mengembalikan. Mau dicicil atau langsung lunasi, terserah.” Arum berucap tegas sembari duduk cukup jauh dari Septi yang duduk selonjor di tengah-tengah tempat tidur.
Di sebelah Arum, Kalandra memilih berdiri sambil tetap menenteng tas Arum.
Kali ini, Septi tak sampai memakai hijab.
“Lah, nyicil tiap minggu bagaimana? Aku kan enggak kerja, dan suamiku pun kerjanya serabutan enggak jelas.” Septi refleks protes.
“Sekarang aku balikin ke kamu. Aku mau pinjam uang ke kamu, tapi niatnya cuma pinjam dan memang enggak ada niat balikin,” sergah Arum sambil tersenyum elegan. Rasanya terlalu sayang jika ia memberikan pertolongan cuma-cuma kepada Septi yang masih tidak tahu sopan santun. Apalagi Widy yang sudah ia gembleng semacam ia beri arahan keras saja, akhirnya sadar, mau memulai menjalani hidup lebih baik lagi.
“Ya ampun, Mbak. Kok kamu gitu banget, sih? Raffi Ahmed saja kalau kasih pinjaman enggak minta dibalikin!” balas Septi masih ngeyel.
__ADS_1
Arum refleks mengerutkan bibir dan juga alisnya. “Aku kan memang bukan Raffi Ahmed, Sep. Aku enggak sekaya yang kamu kira. Sekarang pun, aku lagi butuh banyak modal. Makanya kalau kamu mau, nanti aku arahin pinjam ke bank mingguan. Adikku pun pinjam ke bank mingguan buat usaha. Asal niatnya baik dan bener, pasti amanah!”
Septi mendengkus kesal. Ia memalingkan wajahnya dari kebersamaan Arum dan Kalandra. Apalagi jujur saja, melihat Arum yang sampai memakai perhiasan lengkap layaknya toko perhiasan, sangat membuatnya iri.
“Pikirkan baik-baik.” Arum berangsur berdiri, dan sebelah tangannya sengaja berpegangan kepada Kalandra yang langsung sigap membantunya.
“Si Jandes Arum pengin kakinya kena kaki gajah juga apa gimana, sengaja banget bangun saja manja minta dibantu gitu!” batin Septi diam-diam melirik sinis kebersamaan Arum dan Kalandra sambil bersedekap.
“Kamu tahu, sekarang keadaan keluarga kamu benar-benar kacau. Dan kamu sadar salah satu penyebab itu terjadi gara-gara kamu. Mau enggak mau kamu harus berubah dan mulai hidup mandiri, kerja semacamnya,” ucap Arum.
“Kalau memang kamu enggak bisa kerja pergi-pergi, kamu bisa kerja dari rumah. Apa kek, anyam bulu mata palsu juga bisa banget karena ibu-ibu tetanggamu pun banyak yang gitu! Jualan masakan, jadi online shop! Banyak banget pokoknya kalau kamu memang niat cari rezeki!” lanjut Arum.
“Aku, ... seorang aku, kerja?” gumam Septi benar-benar tak percaya. Ia menatap bingung Arum sebagai wujud dari kesedihannya yang mendadak turun level bahkan derajat. “Aku mau jual rumah. Kamu mau beli, enggak, Mbak?”
“Tanyakan ke yang lain karena aku beneran enggak minat. Kan sudah aku bilang, aku enggak sekaya yang kamu pikirkan.” Kali ini Arum sampai mengomel.
“Itu loh yang ada di sebelahmu, Mbak! Dia kan duitnya banyak!” Kali ini Septi berbisik-bisik lantaran baginya, apa yang tengah ia bahas sangat rahasia.
Padahal Kalandra sendiri sudah sangat muak berurusan dengan Septi. “Kamu enggak lupa kan, betapa jahatnya kamu dan keluarga kamu menghakimi Arum? Jadi mulai sekarang aku enggak mau, aku beneran enggak akan toleransi lagi kalau kamu masih macam-macam ke Arum. Semacam pesan pun harus dijaga. Belajar yang sopan, jangan asal panggil, makii-makii.”
Kemudian Kalandra juga berkata, “Jangan pernah berpikir untuk jadi pengemis karena sekali dua kali kena razia, bisa jadi setelah itu kamu dipenjara. Lihat saja nanti kabar Supri dan keluarganya. Kecuali kalau kamu memang pengin reuni sama mereka. Lagian, apa susahnya sih kerja? Enggak kerja pun pasti capek. Ya mending kerja walau capek ada penghasilan!”
Septi langsung tak berani bersuara. Kali ini ia menunduk dalam, teringat betapa dirinya sudah sangat kejjam kepada Arum apalagi Aidan. Ia membuat Arum menjadi janda. Membuat Aidan tak punya bapak. Kekejaman kini tengah turut ia rasakan walaupun bukan Arum dan Aidan yang menyebabkannya.
“Masa iya, ini karma?” pikir Septi yang tak jadi meminjam kepada Arum jika ia harus mencicilnya dalam waktu dekat seperti syarat yang wanita itu berikan.
__ADS_1