Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
115 : Keren Banget Kamu Rum!


__ADS_3

“Baiklah, ... mulai sekarang aku bakalan ngikutin jejak si Jandes Arum. Aku juga mau jadi jandes yang bisa mincut banyak laki-laki. Mulai detik ini juga, aku bakalan diet! Cari kerja, eh tapi kerja apa?” pikir Septi yang masih sibuk mengurus Sepri. Bocah itu menangis, dan tengah ia ganti popoknya. Ia dapati, bokkong Sepri yang ruam parah.


“Sebenarnya Mas Angga baik sih. Dia tanggung jawab. Memang suami idaman. Namun kalau bisa, aku pengin dapat yang lebih. Kayak Kalandra gitu.”


Meninggalkan Septi yang tengah bermimpi ingin seperti Arum yaitu menjadi jandes elegan yang juga memiliki suami tajir sekaligus tampan, di kamarnya, Kalandra tengah mengaji untuk istri dan anaknya. Aidan yang tengah flue dan membuat Arum kerap mengelap ingusnya menggunakan tisu, sampai memakai peci hitam layaknya Kalandra. Sementara Arum masih memakai mukena. Ketiganya duduk di atas sajadah. Kalandra memangku Aidan, tapi tangan kirinya yang bebas juga bertahan di perut Arum, mengajak yang ada di dalam sana, berkomunikasi.


Lain dengan keluarga kecil Arum yang sudah sangat damai bahagia, di kontrakan sang mamah maupun adik tinggal, Angga masih sibuk bergelut dengan adonan bakal dagangan. Bersama adik dan sang mamah, ia bekerja sama menyiapkan segala sesuatunya di dapur di bawah penerangan remang.


“Oh iya ... aku belum cerita kalau tiga hari lalu, aku ketemu mbak Arum sama suaminya, ya?” Dika memulai obrolan di tengah kebersamaan yang terbilang sunyi.


Ketika ibu Sumini langsung antusias, tidak dengan Angga yang langsung nangis batin. Arum, biar bagaimanapun Angga mengakui, Arum telah menjadi cinta pertamanya yang selama ini hanya mengisi hidupnya dengan fokus kerja sekaligus mengurus keluarga.


“Gimana kabar mbak Arum? Kelihatan sehat kan? Kamu ketemu Aidan juga, enggak?” ibu Sumini menyambut hangat cerita Dika. Karena biar bagaimanapun, ibu Sumini sudah menyayangi sekaligus segan kepada Arum.


Bagi Angga, Arum tipikal wanita romantis. Yang memang meski sangat tegas cenderung galak, ada saat di mana wanita itu akan sangat perhatian bahkan manja. Dulu, Angga yang hanya peduli kepada keluarganya akan selalu merasa terganggu dengan kemanjaan seorang Arum. Namun kini, Angga malah rindu.


“Sumpah, Rum, aku kangen. Apalagi hujan-hujan gini. Kerjaan masih numpuk, biasanya kan kalau ada kamu, paling tidak kamu bakalan siapin minum, terus kamu juga serba cekatan,” batin Angga. Apalagi meski Dika dan sang mamah sudah membantunya, keduanya jauh dari kata cekatan.

__ADS_1


“Ya sudah yah, Rum mau bagaimana lagi karena ini pun salahku. Aku bakalan jadiin ini sebagai pelajaran berharga. Aku bakalan bangkit, mencoba merintis bisnis ini. Aku janji, aku enggak akan bikin malu Aidan lagi. Aku beneran bakalan jadi bapak yang baik buat Aidan, meski kita sudah enggak jadi suami istri,” batin Angga.


Dalam hatinya, Angga juga berujar. Sebenarnya pria itu ingin mencari pekerjaan di kota dengan gaji yang lumayan. Namun melihat mamahnya yang sudah tua, juga Angga yang khawatir sang adik kembali oleng, Angga tidak bisa melakukan itu.


“Gara-gara skandalku yang memilih mencuri uang Arum guna membiayai pernikahanku dan Septi, aku emang enggak hanya dipenjara. Karena aku juga dipecat enggak hormat dari pekerjaanku dan tentu saja, sejak itu aku jadi punya catatan jelek di mata hukum.” Angga masih bicara dalam hatinya. Kemudian diam-diam, ia yang tengah membulatkan bakso, menatap Dika. “Demi Dika agar tidak dipenjara. Semua ini benar-benar terjadi. Namun semuanya juga enggak luput dari kesalahanku yang sudah salah didik,” batinnya lagi.


Jujur, Angga sangat menyesali kebodohannya di masa lalu. Ia sungguh menyayangkan kehancuran hubungannya dan Arum. “Sementara untuk mbak Anggun, aku beneran angkat tangan. Biar dia dewasa dengan proses hidup yang harus dia jalani. Toh andai aku arahkan pun, dia tetap enggak terima. Yang ada dia bakalan minta serba diurusin kayak biasa.”


Di kontrakannya, Septi yang tidak bisa tidur bersama hujan deras yang mengguyur dilengkapi guntur, malah berpikir untuk kembali pada Angga. “Bisa enggak sih, ya? Tapi talaknya itu sudah tiga, apa masih bisa diperbaiki, sih?”


Septi berangsur meringkuk ke kiri, membuatnya mendapati Sepri yang sudah lelap. “Tunggu dulu, deh. Si mas Angga kan lagi merintis bisnis. Biarin dia sukses dulu, nanti kalau sudah sukses, aku baru deketin,” pikir Septi. “Lagian lusa kan katanya mamah keluar dari penjara. Nah, mamah pasti bakalan ambil alih uang-uangnya, terus aku pasti bisa hidup normal lagi. Besok lah, aku minta bantuan pak Gede buat jenguk mamah. Daripada pak Gede ngapelin Arum mulu.”


****


Keesokan harinya, siang menuju jam makan siang, Angga yang mengayuh sepedanya sengaja mendatangi lokasi yang Dika ceritakan ketika adiknya itu bertemu dengan Arum. Angga rindu Arum maupun Dika. Ia sengaja berjualan di perumahan Dika bertemu Arum. Kebetulan, di sana banyak anak-anak yang langsung beli. Lebih kebetulannya lagi, ia juga sampai bertemu pak Haji. Yang dengan kata lain, kemungkinannya bertemu Arum dan Aidan semakin besar. Apalagi yang Angga tahu, slogan hidup terbaru pak Haji ialah, “Di mana ada Arum, pak Haji akan menyusul.”


Pak Haji yang mengenali Angga, walau Angga sampai memakai masker, refleks menertawakannya. Pria tua tidak jelas tujuan hidupnya itu turun dari motor, menghampiri Angga yang mangkal di seberang gerbang calon rumah makan milik Arum dan Kalandra.

__ADS_1


“Padahal harusnya pak Haji tahu, setelah dipenjara, aku jadi susah cari kerja. Eh malah diketawain gini,” batin Angga sibuk misuh-misuh dalam hatinya.


“Kalau keluargaku punya gen pemalas, di keluarga Septi kayaknya kompak punya gen sintingg deh. Lihat saja sekarang, si Pak Haji makin enggak jelas,” batin Angga sibuk menggoreng setiap pesanan pembelinya yang sampai disertai ibu-ibu.


Dalam diamnya Angga berpikir, kabar penculikan terhadap anak kecil yang tengah marak, membuat orang tua khususnya ibu-ibu makin memperhatikan keamanan anak-anaknya. “Kalau dipikir-pikir, maraknya penculikan juga ada hikmahnya sih. Karena semenjak itu jadi banyak orang tua yang makin peduli ke anak-anaknya,” pikir Angga.


“Om Sempol, ... Om Sempol. Itu kakek-kakek, waras apa setres, sih? Dari tadi ketawa terus?” bisik dua ibu-ibu yang tengah antre dan ternyata tak kalah risi dari Angga yang ditertawakan oleh pak Haji.


“Mari kita balas dendam,” batin Angga yang kemudian berkata, “Tuh kakek memang rada setress, Bu. Kalau lihat ada yang cantik dikit pasti diikutin. Hati-hati saja, takutnya makin parah. Lontang-lantung terus kan orangnya mirip setrika butut?” Angga sengaja berbisik-bisik apalagi kedua ibu-ibu di sebelahnya juga iya.


“Nah kan, soalnya memang mencurigakan, tapi tiap hari dia ngikutin istrinya Mas Kala terus.”


“Istrinya Mas Kala?” sergah Angga langsung penasaran karena pria itu langsung yakin, yang sedang dimaksud ibu-ibu itu, Arum. Benar saja, kedua ibu-ibu tersebut langsung menceritakan siapa Arum dan Kalandra yang memang terbilang tersohor di sekitar sana.


“Nah ini, rumah makannya, Om. Minggu depan bakalan buka. Eh, enggak tahu rumah makan, enggak tahu restoran. Wong sebagus ini, tapi dilihat dari menunya, harganya ramah. Jadi enggak sabar buat kuliner di sini.”


“Rumah makan bahkan restoran?” batin Angga langsung tercengang. Ia refleks menatap takjub bangunan di seberangnya. Bangunan rumah makan mewah yang sampai bertingkat dan juga menjadi alasan pak Haji sibuk nongkrong di sana.

__ADS_1


“Keren banget kamu Rum!” batin Angga lagi kagum pada mantan istrinya.


__ADS_2