Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
73 : Rutinitas


__ADS_3

“Si Dika beneran mau pulang, kan?” tanya Kalandra pada Arum yang tengah mengambilkannya nasi di rice cooker, di hadapannya.


Sudah pukul sepuluh malam lebih, tapi Kalandra memang baru pulang. Kalandra langsung mandi, sementara Arum yang menunggu langsung menyiapkan makan malam untuknya.


“Harusnya. Kan aku kasih ultimatum sampai hari besok!” ucap Arum yang nyaris emosi hanya karena membahas Dika.


Kalandra mengangguk-angguk paham, menerima nasi yang Arum berikan kemudian mengucapkan terima kasih.


Arum akan duduk di depan Kalandra, tapi Kalandra berkata, “Kita terkesan lagi berantem loh, kalau kamu duduknya di benua seberang!”


Arum memelotot menatap tak percaya Kalandra yang jelas tengah menyindirnya. “Benua seberang,” lirihnya yang perlahan menahan senyum. Di depannya, Kalandra yang mulai meraih sendok, menggunakan tangan kirinya untuk menarik kursi di sebelahnya dan tentu saja, Arum langsung duduk di sana.


“Jadi tadi akhirnya gimana? Kamu jadi pinjemin si Angga uang?” tanya Kalandra sambil menikmati menu makannya.


Arum menggeleng. “Enggak, Mas. Aku kasih uang jalan saja dua ratus. Enggak ada pegangan uang blas kan dia.”


Kalandra mengangguk-angguk sambil mengunyah pelan makanan di dalam mulutnya.


“Sebenarnya aku kasihan. Kasihan banget malahan ke dia. Tapi ya ... dianya saja bikin geregetan banget!” lanjut Arum.


“Taflon sama wajan kamu, aman, kan?” balas Kalandra sambil menatap Arum.


“Hah ...?” Arum kebingungan menatap Kalandra, tapi pria itu perlahan menahan tawanya.


“Taflon ... kamu enggak gebu-gin Angga pakai taflon apa wajan kamu lagi?” jelas Kalandra santai di antara senyumnya.


Arum langsung tersipu. Ternyata Kalandra masih ingat kalau dirinya pernah memu-kuli Angga dengan taflon.


“Sayang taflon sama wajannya Mas. Soalnya pada sudah dicuci semua!” balas Arum.


“Berarti Angga sedang kurang hoki, enggak kebagian ta-bokkan taflon sama wajan kamu lagi!” Kalandra mulai lemas karena tawa yang ditahan.


“Oh, berarti Mas mau juga? Ta-bok taflon sama wajan?” sergah Arum sengaja menggoda calon suaminya yang langsung tertawa. Kalandra sampai terbahak.


“Kan, kan ...,” ujar Arum yang langsung membantu Kalandra, mengambilkan pria itu minum.


“Besok ke tukang jahitnya mau jam berapa?” lanjut Kalandra.


“Mas bisanya jam berapa?” balas Arum bersemangat.


“Jadi, kamu bisa menyesuaikan dengan jadwalku?” tanya Kalandra tak kalah bersemangat.

__ADS_1


“Y-ya iya ... aku ikut jadwal Mas. Jadwal Mas kan enggak bisa diubah, nah aku yang penting masak buat rumah sakit. Buka kantinnya menyesuaikan saja, kan enggak ada seminggu lagi kita nikah. Fokus ke persiapan dulu.”


“Berarti, kalau sudah nikah enggak fokus?” tanya Kalandra.


“Ih, ya fokus, ih!” balas Arum.


“Fokus ngapain?” balas Kalandra yang malah bercanda, sengaja menggoda Arum.


Arum menahan tawanya dan tak bisa berkata-kata.


“Berarti besok kayak biasa saja, ya. Kamu beres masak makan siang buat di rumah sakit, habis itu kamu langsung ke kantorku. Soalnya besok aku mau pura-pura lupa bawa bekal,” ujar Kalandra santai.


Arum makin lemas karena sibuk menahan tawa. “Mas niat banget sih pura-pura lupa bawa bekalnya?” balas Arum.


“Sudah terencana soalnya,” balas Kalandra yang kemudian melahap sayur bening di sendoknya.


“Enggak ada acara macam-macam, kan?” tanya Arum curiga.


“Enggak. Paling kenalin kamu ke teman kerja sekalian, siapa tahu kamu mau lihat-lihat tempat kerjaku. Kayaknya di pabrik juga ada tetangga kamu loh,” balas Kalandra masih saja santai.


“Besok aku pakai baju apa?” tanya Arum yang belum apa-apa sudah deg-degan.


Kalandra tak langsung menjawab dan menatap bingung Arum. “Yang mau nikah sama kamu aku, masa iya kamu mau tampil istimewanya di depan orang kantorku?”


“Malu-maluin gimana? Ya sudah kayak biasa saja.”


“Ih, Mas ... kalau Mas bilang gitu, berarti besok aku enggak ke tempat kerja Mas.”


“Ya sudah, kalau begitu berarti kamu lebih memilih aku kelaparan.”


“Mas ih, ... jangan gitu.”


“Gimana?”


“Y-ya dikasih arahan dong. Ini belum apa-apa saja, aku sudah deg-degan banget, loh, Mas.”


Kalandra menertawakan Arum.


“Mas Kala, aku beneran serius, jangan diketawain gitu. Nanti aku pinjem taflon sama wajan mamah loh!” Arum sengaja memberi Kalandra peringatan keras dan pria itu langsung terbahak.


“Serius aku takut. Apalagi, enggak ada taflon sama wajan kamu, pakai punya mamah, tetap jadi,” ucap Kalandra yang kemudian meminum segelas air putih pemberian Arum.

__ADS_1


“Pepatah saja bilang, banyak jalan menuju Roma!” balas Arum masih pura-pura marah.


“Kamu bilang gitu, yang ada di otak aku langsung Roma Irama Bang haji, dan otomatis aku keingat pak Haji si Mbah gan-jen itu!” Kalandra tak jadi makan karena sibuk tertawa.


“Makan dulu, ketawanya nanti.” Arum benar-benar mengomel, tapi Kalandra tetap membenamkan wajahnya di atas kedua tangannya yang terlipat di pinggir meja.


“Mas, sudah malam, ih. Habisin makannya dulu biar cepat istirahat. Nanti Aidan keburu bangun, Mas malah makan sendiri.”


“Aku ingat itu, loh, Yang. Pas kepala pak Haji masuk got dan airnya beneran keruh kan di got depan rumahku itu. Aku aja, iiih ... ya jiiijik, ya kasihan, ya kesel, ya ngakak. Apalagi mamah suruh kepalanya pak Haji dicegurin sekalian dibentu-rin lagi sampai amnesia. Ngakak sumpah!”


Setelah acara makan malam Kalandra berakhir disuapi oleh Arum lantaran pria itu sibuk tertawa, kebersamaan mereka malam ini diakhiri dengan Kalandra yang memberikan satu kantong besar berwarna cokelat berisi pakaian seragam.


“Itu buat besok. Ya soalnya aku tahu, kamu kalau enggak disiapkan gitu pasti mogok enggak mau pergi,” ucap Kalandra yang kemudian membuka satu botol air mineral.


“Ya enggak harus beli baru juga, kan?” balas Arum.


“Punyaku juga ada, seragam sama kamu sama Aidan juga. Kita bertiga beneran kembaran,” balas Kalandra yang kemudian meminum air mineralnya.


“Berarti acaranya lumayan resmi, yah, Mas? Batik gini,” lanjut arum penasaran, tapi Kalandra malah menahan tawanya kemudian buru-buru meninggalkannya di ruang keluarga pria itu menyerahkan kantong belanjaan berwarna cokelat berukuran besarnya.


“Mas Kala, sengaja banget. Jailnya malah nambah gini. Aku ambilin taflon sama wajan mamah loh!” tegur Arum buru-buru menyusul Kalandra. Pria itu lari ke arah kamar tamu yang memang ada di sudut depan ruang keluarga. Kamar yang menjadi tempat tidur Kalandra selama Arum dan Aidan tinggal di sana.


Kalandra keluar dari kamar sambil menahan tawanya, tapi tangan kanannya masih memegang air minum yang sudah ditutup. “Sudah besok berangkat saja. Besok dianterin sopir papah.”


“Iya, tapi ya jangan ditinggal begitu, aku mau tanya lagi takutnya salah karena belum jelas,” balas Arum, tapi lagi-lagi Kalandra menertawakannya.


“Ya sudah, sini,” ucap Kalandra yang kemudian memeluk Arum.


Arum yang langsung gugup menjadi ingat agenda pamit Kalandra tadi pagi, di depan Angga.


“Mas sengaja bikin si Angga cemburu?” tanya Arum balas memeluk Kalandra.


“Ih, ngapain juga bikin dia cemburu. Begitu kan bakalan jadi rutinitas!” balas Kalandra yang langsung membuat Arum menahan tawa.


“Ya iya, rutinitas sebelum kerja. Kamu sudah ambil cuti belum, buat gantiin kamu masak dari satu hari sebelum hari pernikahan sampai empat atau satu minggu setelah pernikahan?” balas Kalandra.


“Hah ...? Memangnya buat apa, Mas?” Saking seriusnya, Arum buru-buru menarik diri, menatap saksama Kalandra yang ia takutkan masih meledeknya karena akhir-akhir ini, pria itu makin sibuk menjailinya.


“Ya ampun, ... kejem banget kamu enggak mikir ke situ? Kamu beneran enggak akan ambil cuti kalau aku enggak bilang? Memangnya kamu enggak mau bulan madu dan sebagainya?” Kali ini, Kalandra benar-benar mengomel, dan Arum langsung memasang wajah tak berdosa.


“Kalau gitu nanti aku bilang ke ibu Nur sama Rani buat gantiin,” balas Arum yang kemudian juga minta maaf.

__ADS_1


“Pokoknya aku enggak mau memaafkan kamu semudah biasanya!” ancam Kalandra mengancam tapi masih sibuk menahan tawa.


Arum yang melihatnya malah ikut menahan tawa, selain Arum yang menjadi gemas sendiri kepada Kalandra.


__ADS_2