
“Fajar yang kerja di bank tempatku dulu itu?” Angga menatap kedua mata ibu Fatimah dengan saksama.
Ibu Fatimah yang masih memakai cadar, segera mengangguk. “Iya bener. Fajar yang itu!”
“Wah, ... dia kan penipu, Bu!” tanggap Angga syok.
“Penipu bagaimana?” ibu Fatimah makin ketar-ketir.
“Ya suka menipu wanita gitu, diambil uangnya awalnya modusnya pinjam!” balas Angga.
Beda dari sebelumnya, kali ini ibu Fatimah tak langsung menanggapi. “Tapi si Septi beda sih, Ngga. Malahan dia yang dikasih uang!”
Angga yang sempat heran mendengarnya segera berdeham, “Ya tetap saja Bu, wajib jaga-jaga. Takutnya itu juga uang hasil dari hal enggak benar yang ada nanti Septi ikut terseret. Terakhir itu bulan lalu, keluarga istri dia maksa Fajar cerai dari istrinya gara-gara istrinya ini terseret-seret kasus penipuan si Fajar!”
“Nah itu masalahnya. Si Septi susah banget dibilangin. Mau Ibu kirim ke bapaknya, takut malah di sana enggak diurusin dan makin parah!” balas ibu Fatimah.
Sepagi ini dan baru sekitar pukul lima pagi, tapi ibu Fatimah sudah datang ke kontrakan Angga untuk mengambil bahan dagangan. Jujur kenyataan tersebut tak hanya membuat Angga teringat Arum. Karena yang ada, Angga jadi kasihan kepada ibu Fatimah. Ditambah lagi, Angga tahu betul hidup dengan Septi tidaklah mudah.
“Ya sudahlah Bu. Dipantau saja, nanti Ibu coba ngobrol kalau hubungan mereka sudah mulai enggak bener, nikahin saja mereka!” ucap Angga yang memang bingung jika dimintai pendapat hubungan Septi dan Fajar. Namun jika dipikir-pikir, Angga merasa keduanya cocok.
“Ya paling gitu saja sih Ngga. Belajar dari yang sudah-sudah lah. Lagian gimana ya, yang namanya orang tua walau tentu inginnya yang terbaik buat anak-anak, kalau anak-anaknya yang menjalani saja malah enggak mau, mau bagaimana lagi?”
Angga mengangguk-angguk. Sejak satu bulan terakhir setelah pertemuan mereka dan ibu Fatimah sampai ikut membantu usahanya, mereka memang jadi nyambung.
“Memangnya kalau boleh tahu, itu si Septi dikasih pinjaman uang berapa sama si Fajar, Bu?” tanya Angga.
“Sepuluh jutaan, Ngga!”
“Wah, banyak loh itu. Memangnya mau buat usaha apa?”
__ADS_1
“Septi bilang mau buka rumah makan di dekat pasar kecamatan!”
Bukannya menanggapi dengan serius, Angga malah tertawa. “Ini pasti gara-gara Arum. Septi pengin kayak Arum. Dari awal sama aku kan, si Septi irii banget ke Arum. Apa-apa serba ingin kayak Arum!”
Dan ibu Fatimah tidak bisa menepis keyakinan tersebut. Bahwa memang alasan Septi begitu karena putrinya itu iri dengan Arum. Septi terlalu yakin bisa sukses asal mengikuti jejak Arum. Padahal membuka rumah makan dengan modal tidak sedikit, tak selamanya berhasil. Belum lagi jika memikirkan persaingan yang lebih ketat dari celana member boyband dan kadang sampai sobek di tengah panggung ketika manggung saking ketatnya. Tentunya, yang paling ibu Fatimah ragukan adalah kenyataan siapa yang masak kalau sekadar masak air saja, Septi melakukannya sampai gosong?
“Mamah perhatikan, makin hari kalian makin cocok?” ucap ibu Sumini tak lama setelah ibu Fatimah pergi. Tadi seperti biasa, Angga sampai membantu ibu Fatimah menyusun bahan dagangan di kedua ranjang bahan yang menghiasi motor wanita itu.
Mendapat pertanyaan tersebut, Angga yang baru masuk rumah langsung terbengong-bengong. “Maksud Mamah gimana?”
“Ya enggak apa-apa sih. Ibu Fatimah gitu-gitu juga pinter, maksudnya otak dagangnya bagus. Meski dia mantan mertua kamu, kalian kan sudah sama-sama enggak ada hubungan,” lanjut ibu Sumini dan bagi Angga makin ngawur sekaligus tidak jelas.
“Jangan mikir aneh-aneh lah, Mah. Sekarang aku hanya ingin fokus usaha, biar aku juga ada harga dirinya. Biar aku enggak bikin malu Aidan,” ucap Angga yang langsung fokus menyusun keranjang dagangnya di sepeda.
Angga tetap memilih sepeda sebagai transportasi dagangnya lantaran selain lebih irit tanpa harus memakai bahan bakar, dagang dengan sepeda juga membuatnya tak melewatkan pembeli yang juga tak harus berteriak-teriak ketika akan beli kepadanya.
Siangnya, Angga yang kebetulan lewat bank di sebelah pasar dulu ia sempat bekerja, sengaja berhenti di sana. Setelah sampai meladeni pembeli, ia memutuskan masuk ke bank yang kebetulan masih jam istirahat. Namun Angga melihat Fajar ada di kursi teller pria itu biasa bekerja.
Fajar yang masih memakai masker dan tengah berkirim WA dengan Septi, refleks mesem melihat Angga yang masih berpenampilan khas penjual gorengan. Angga menyampirkan handuk kecil di tengkuk dan memakai topi untuk melindungi kepala sekaligus sebagian wajahnya. Selain itu, Fajar yakin alasan kulit Angga menjadi jauh lebih hitam karena kesibukan mantan sahabatnya itu keliling untuk jualan.
Fajar berdeham. Berbeda ketika bersikap kepada wanita apalagi wanita cantik yang ia yakini kaya, kepada Angga ia sengaja jual mahal. Apalagi Fajar yakin, alasan Angga menemuinya karena pria itu sedang butuh bantuan.
“Kamu mau minta aku bantu apa, sih? Hidup aku beneran enggak seenak yang kamu bayangkan!” ucap Fajar setelah membawa Angga keluar dari dalam bank.
Mereka berada di kursi yang ada di taman depan bank. Tempat biasa dulu Angga sering curhat kepada Fajar tapi malah diberi saran sesatt.
Angga menatap sebal Fajar. “Jadi alasan kamu selalu menghindar dariku karena kamu takut aku mintai bantuan apalagi pinjaman uang?” ucapnya yakin.
“Sekarang si Angga jadi pinter, ya?” batin Fajar langsung ketar-ketir, tapi ia tetap berusaha cool. “Aku enggak pernah bilang begitu lih, ya. Kamu sendiri yang bilang.”
__ADS_1
“Namun kamu sengaja bikin aku bilang begitu!” sergah Angga yang memang telanjur muak kepada manusia seperti Fajar.
Fajar tersenyum geli menertawakan Angga sambil bersedekap. “Tuh ... tuh ... ada yang mau belu sempol kamu. Sudah sana pergi! Lima ratus lima ratus kalau dikumpulin kan tetap bisa bikin kaya, hahaha!” ledeknya sengaja tapi langsung mingkem ketika Angga menarik paksa maskernya.
Kini giliran Angga yang menertawakan Fajar. “Masih muda kok sudah ompong! Kebanyakan makan uang panas sih!”
“Kurang ajjar kamu yah, Ngga! Sini, balikin. Aku enggak bawa stok masker dan sebentar lagi ini mulai kerja lagi!” kesal Fajar yang harus menutupi mulutnya ketika berbicara karena nasib giginya yang masih pongah.
Angga makin terbahak. “Oh ternyata kamu enggak bawa stok masker?” Setelah berucap begitu, ia buru-buru lari menuju drainase sebelah dan sengaja membuang masker Fajar ke sana.
Fajar yang masih di taman dan jaraknya sekitar lima meter saja dari Angga, langsung teriak.
“Tutup tuh mulut, biar enggak ada yang tahu, walau kamu masih muda tapi sudah ompong!” seru Angga.
“Eh, emang dasar wedus(kambing) kamu yah, Ngga!” ucap Fajar buru-buru menghampiri Angga sambil tetap menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mulut.
Angga masih belum bisa mengakhiri tawanya. “Kamu begitu jadi kesannya kamu ini putra malu, padahal aslinya kamu tuti alias tukang tipu!”
“Sebenarnya masalah kamu ke aku apa, sih?” sergah Fajar ingin secepatnya mengakhiri urusan dengan Angga apalagi mereka yang ada di sana sudah langsung memperhatikannya.
“Kalau kamu memang serius dengan Septi, nikahin dia. Didik dia jadi istri yang baik karena kalau aku lihat, kalian sangat cocok!” tegas Angga langsung ke inti dari maksud kedatangannya ke sana.
“Oalah ternyata kamu cemburu?” Fajar merasa bangga bahkan menang.
“Sama sekali tidak! Malahan aku merasa merdeka setelah lepas dari dia!” balas Angga.
Fajar telanjur terlalu percaya diri, selain ia yang belum tahu jika Septi sudah jatuh kismin dan sekadar tinggal pun harus menyewa kontrakan sederhana.
“Kalau kamu memang enggak cemburu, BUKTIKAN! Karena setelah masa idah Septi beres, kami beneran akan menikah!” tegas Fajar.
__ADS_1
“Aku bakalan jadi saksi di pernikahan kalian! Dan aku akan menjadi orang paling bahagia atas pernikahan yang menyatukan kalian!” tegas Angga sebelum Fajar kembali mengejeknya hanya karena pria itu terlaku yakin ia cemburu. “Jangan lupa, undang semua pembaca untuk menyaksikan hari bahagia kalian apalagi kalian memang sangat cocok!”
Jadi, siapa yang akan datang ke pernikahan Septi dan Putra Malu Pongah?