
Di swalayan kunjungannya, Arum nyaris khilaf mengambil setiap keperluan bayi yang memang selalu jauh lebih menggiurkan daripada keperluannya sendiri.
“Kenapa, Yang?” tanya Kaliandra bingung lantaran sang istri mendadak sibuk menyortir belanjaan di troli mereka kemudian menaruhnya di setiap rak.
Menatap sang suami dengan wajah manja, Arum yang masih menyusun setiap pakaian bayi yang ia kembalikan ke setiap raknya, berkata, “Belajar hemat.” Dan Kalandra langsung menertawakannya.
Kalandra yang sedari awal sama sekali tidak berkomentar, sampai lemas menertawakan kelakuan sang istri yang baginya sangat menggemaskan. Bayangkan saja, ranjang troli berukuran besar mereka yang awalnya sudah diisi penuh, kini hanya tersisa tak ada seperempatnya.
“Pilih yang beneran perlu sih. Yang tadi kalau mau ya sudah ambil saja. Toh, kamu saja punya banyak uang.”
“Kalau semacam pakaian bayi, kayaknya semakin hari akan ada saja yang baru dan lebih bagus juga pastinya. Akun pilih sesuai kebutuhan saja, lah. Sementara uangku, ... kan buat tabungan, Mas. Buat biaya pendidikan anak-anak.”
“Nanti pasti ada rezeki buat semua itu, Yang!”
Arum menggeleng. “Lebih baik dipersiapkan dari sekarang, apalagi kita enggak tahu, sampai kapan kita dikasih rezeki selancar sekarang. Maunya aku sih, saat tua nanti, kita enggak menghabiskan waktu kita dengan kesibukan. Agar kita bisa menikmati hidup bersama keluarga kecil kita.”
“Jadi, kayak papah mamah Mas. Dari muda sudah berinvestasi, nanti ke depannya kita tinggal menikmati. Biar kita enggak kerja setengah modar terus, Mas,” lanjut Arum.
Kalandra yang menyimak hanya mesem kemudian mengangguk-angguk. “Tapi tetap wajib kasih hadiah buat diri sendiri, ya?” ingatnya, takutnya Arum lupa melakukan itu.
Arum mengangguk-angguk sambil balas tersenyum kepada sang suami. Sebelum mereka benar-benar pergi dari area khusus menjual keperluan bayi dan anak di sana, Arum menjatuhkan pilihannya pada dua jaket dan juga dua pasang sepatu bayi yang keduanya serba berwarna kuning.
“Jangan hanya dua. Belikan yang sama juga buat Mas Aidan. Lucu kalau tigaan, dikira kembar tiga!” Kalandra yang memang mengemban Aidan, langsung antusias meninggalkan troli yang didorong. Ia langsung memilih apa hang ia maksud.
“Si paling penyayang,” batin Arum tersenyum damai mengawasi kesibukan sang suami dalam memilih.
“Kalau ada, aku juga ingin lihat Mas seragam juga sama anak-anak,” ucap Arum.
__ADS_1
“Wah, ide bagus itu Yang! Kita cari! Sekalian buat kamu juga!” Kalandra makin antuasias dan Arum langsung tertawa riang.
Pergi dari sana, Kalandra dan Arum langsung menuju sebelah, memilih pakaian untuk mereka yang sebisa mungkin mirip dengan pakaian anak-anak mereka. Suasana menjelang bulan ramadhan membuat suasana swalayan penuh dengan perlengkapan khas ramadhan. Dari aneka makanan, kue kering, sirup, kurma, pakaian muslim, juga perlengkapan ibadah lainnya khususnya aneka jilbab, peci, maupun mukena model terbaru.
Di titik ini, hati Arum terketuk. Terlebih Arum baru sadar, walau bukan terlahir di lingkungan yang kuat agama, ia juga dikelilingi oleh wanita-wanita yang sudah belajar untuk menutup aurat. Dari sang mamah mertua, adik, ibu, bahkan mantan rival ter menyebabkannya yaitu Septi.
Setelah membuat Kalandra melangkah sendiri sambil mengemban Aidan sekaligus tetap mendorong troli, Arum yang berdiri di antara deretan pakaian muslim wanita, memanggil suaminya.
“Aku mau ini, ... beberapa. Mau belajar jadi pribadi lebih baik lagi dengan menutup, ... aurat,” ucapnya canggung kepada sang suami yang sudah langsung tersenyum memandanginya. Hanya saja, senyum Kalandra kali ini sampai membuat wajah khususnya kedua mata pria itu merah. Kalandra nyaris menangis, hati Arum langsung terenyuh karenanya. Apalagi ketika sang suami menyodorkan tangan kanannya yang bebas, membentuk hati kepadanya. Arum yakin, saking bahagianya, suaminya yang sebenarnya gampang melow, sampai tidak bisa berkata-kata.
Arum tertawa kecil sebagai balasnya. Tak beda dengan Kalandra, ia juga sampai menitikkan air mata. Tak mau berlarut-larut dengan air mata apalagi kesedihan, Arum langsung memilih pakaian muslim yang ia rasa cocok untuknya. Kalandra yang berangsur putar balik menyusulnya juga langsung memilihkan beberapa.
“Kalau sudah gini, nanti enggak ada pahlawan taflon lagi, dong, Yang?” tanya Kalandra.
“Ah, kata siapa? Kalau memang ada yang keterlaluan dan diarahin enggak berubah-berubah, tabok saja kepalanya biar otaknya yang geser balik ke posisi seharusnya!” balas Arum yakin sekaligus emosional.
“Ehm!”
Suara deham barusan dan keduanya kenali sebagai suara perempuan bahkan tak asing untuk mereka, langsung membuat Kalandra maupun Arum, bertukar tatapan. Suara itu ada di sekat depan mereka, dan masih di area yang memajang pakaian wanita. Mereka dapati, Ririn pelakunya. Wanita berambut pirang yang hanya memakai celana levis sepaha dipadukan dengan sweter crop tersebut melirik mereka dengan sinis.
“Apakah dia jawaban dari bangkitnya pahlawan taflon?” tanya Kalandra yang langsung tak sudi melirik Ririn.
“Di bagasi mobil aku ada taruh dua taflon dan memang sengaja buat jaga-jaga kok, Mas!” balas Arum bersemangat.
“Oh, oke. Gampang kalau gitu. Tinggal ambil!” balas Kalandra yang mengajak Arum pergi dari sana tanpa peduli kepada Ririn.
“Si Kalandra enggak normal apa bagaimana? Aku kasih yang begini, padahal istrinya sudah mirip babi bunting gitu, masih saja. Apa jangan-jangan, Kalandra maunya diam-diam? Coba nanti aku cari situasi yang tepat saja,” pikir Ririn yang kemudian berangsur menghampiri sang suami yang ada di lorong sebelah, tengah memilih gaun malam untuk Ririn.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, pak Haji baru datang di jam makan siang. Seperti biasa, ia langsung masuk ke area dapur, seolah rumah makan yang bisa dihuni puluhan tamu itu milik sendiri.
“Arum ke mana, ya? Saya mau pesan tumpeng komplit buat sore, dan di makan di sini. Acaranya du lantai atas, di ruang biasa,” ucap pak Haji yang memang berniat merayakan batalnya rencana pernikahan Septi dengan Fajar.
Kasir yang diajak bicara oleh pak Haji langsung mesem.
“Mesem-mesem gitu, ... kamu pasti baru menyadari kalau saya terlalu ganteng, ya?” tuding pak Haji.
Sang kasir yang memang wanita muda berseragam khusus, menggeleng. “Ibu Harumnya ada di belakang Mbah.”
“Oh, mana?” sergah pak Haji sambil mengeluarkan satu slop rokok lengkap dengan korek bensol dari saku kiri celana panjang bahan warna hitamnya. Namun, baru juga ia menoleh dan mendapati wanita berhijab pink salem di belakangnya, ia langsung menjatuhkan keduanya dari tangannya.
“Masya Alloh, ini ada janda baru? Ukhti, ... Ukhti janda, kan?” ucap pak Haji yang sudah langsung kacau, terpesona pada wanita berhijab yang di maksud, padahal itu Arum dengan penampilan barunya.
“Janda lagi, janda lagi! Si Mbah ini, isi kepalanya cuma janda, janda, janda!” tegur ibu Kalsum mengomel.
“Ih, Ibu DPR! Asal Ibu tahu, ini otak saya saja bentuknya J, saking seriusnya saya jadi pengabdi janda.” Buru-buru pak Haji membuka kancing kemeja lengan panjang bagian dadanya, di sana berupa kaus putih bersablon huruf J. “Celana dalamnya pun masih J!”
“Heh, heh, jangan dilanjut! Ambil taflonmu, Mbak. Tabok kepala nih aki-aki biar otaknya enggak J lagi!” omel ibu Kalsum.
Pak Haji tidak mempermasalahkan omelan ibu Kalsum karena walau mereka kerap cekcok, pada kenyataannya mereka itu sudah jadi besti. Yang ia masalahkan, wanita berhijab yang ia kira janda baru malah, ...
“Ini istrinya Kalandra, Mbah. Arum! Lihat, perutku saja masih gede, masa iya dikira janda juga!” jelas Arum memang agak mengomel. Padahal jaraknya dari pak Haji tak ada dua meter, tapi masa ia pria itu pangling dan sampai tidak mengenalinya?
Bukannya merespons, pak Haji malah berakhir duduk terkapar di lantai dengan kedua tangan memegangi dada.
__ADS_1
“Nah, ... nah, ini langsung bawain keranda saja buat angkut. Enggak usah dimandiin apalagi dikafanin, bungkus saja pakai kantong keresek hitam yang gede!” semprot ibu Kalsum. Di hadapannya, pak Haji langsung tertawa lemas sambil tetap menggunakan kedua tangannya untuk memegangi dada.