
Bangun tidur, Kalandra yang langsung mengisi paginya untuk menjaga Azzura dan Azzam, dikejutkan oleh pesan tak biasa. Pesan yang dikirimkan oleh Tuan Maheza. Tuan Maheza mengucapkan selamat atas kelahiran si kembar, selain pria itu yang berdalih akan memboyong keluarga kecilnya untuk main di lusanya.
Masih terbengong-bengong, pintu kamar mandi dibuka dari dalam dan itu Arum. Istrinya menang baru beres mandi dan langsung menatapnya penuh terka.
“Kenapa, Pah?” tanya Arum sambil memijat-mijat kepalanya yang dibungkus handuk.
“Tuan Maheza WA, katanya lusa dia mau ke sini, Yang!” Kalandra berbisik-bisik lantaran kedua anaknya memang masih tidur. Lain dengan Aidan yang sudah keliling kompleks dibawa pak Sana salat subuh ke masjid.
“Kalian, janjian? Ada urusan?” Arum makin menurunkan suaranya Apalagi Azzura sangat anti suara.
Kalandra menggeleng. Ia berangsur menyodorkan sekaligus memberikan ponselnya kepada sang istri. Membuat Arum membaca pesan dari Tuan Maheza kepada sang suami.
“Wah, ... malah jadi teman, ya?” lirih Arum.
“Memang enggak bakalan rugi kalau kita jadi orang baik, kan? Yang rugi itu mamahnya si Andri. Lihat saja apa yang akan terjadi ke depannya!” balas Kalandra.
Membahas dokter Andri apalagi wanita yang telah melahirkan pria itu, hati Arum langsung nyeri.
“Yang, kamu enggak tahu, yah, aku kedinginan gini!” sergah Kalandra mendadak memeluk erat Arum.
“Ih, ih, kumat ini, kumat!” Arum menertawakan Kalandra, tapi tentu saja ia sengaja menahan tawanya demi menjaganya dari kedua bayinya.
“Kalaupun sekarang kumat, sampai bulan depan pun aku bekalan sabar sih! Makin sabar malahan!” ucap Kalandra masih memeluk erat Arum di tengah kedua matanya yang masih terpejam.
“Alhamdullilah kalau begitu. Yang biasa saja sudah sabar benget, eh ini bakalan makin sabar. Alamatnya ya jadi makin sayang!” ucap Arum sambil menatap wajah sang suami. Hanya sebatas itu lantaran kedua tangannya terjerat oleh dekapan pria itu. Kalandra terkikik dan berangsur menatapnya.
“Besok jadi puasa pertama kita. Eh aku enggak ikut puasa, tapi enggak apa-apa sih, aku mau tetap ikut sahur sama buka puasa!” ucap Arum.
__ADS_1
“Puasa kamu jadi gampang, Yang! Puasa yang setiap saat boleh saur!” Kalandra terkikis lagi. “Lihat tuh si Azzura! Masya Alloh banget bidadarinya Papah. Ini aku ramal, Azzura bakalan jadi pembasmi para musafir cinta di luar sana, sih!”
“Astaga Bapake, bisa-bisanya sampai mikir ke situ!” Arum tak kuasa menahan tawanya, hingga ia merengek, “Pah, jangan bikin aku ketawa. Jahitanku masih sakit dan beneran enggak toleransi kalau dibawa ketawa terus.”
“Ya ampun, Yang, maaf!” balas Kalandra buru-buru menunduk lantaran ia belum bisa menyudahi senyumnya. “Sakit banget pasti ya. Berarti kedepannya, mending kamu jangan keluar rumah dulu, takutnya ketemu pak Haji apa Septi. Gitu-gitu kan, karena lawakan mereka juga kamu kontraksi!”
Susah payah Arum menahan tawanya lantaran saat bersamanya dan suasananya memang santai sekaligus mendukung, Kalandra memang tidak pernah bisa serius. Yang akan suaminya itu lakukan pasti bercanda atau malah modus.
“Sayang, ... lebaran besok, suasananya sudah beda, ya? Aku mau hadiah yah!” lanjut Arum.
“Catat saja hadiah yang kanu mau, nanti serahin ke aku!” yakin Kalandra dan kali ini sampai menatap Arum. Istrinya itu tersenyum ceria menatapnya.
“Suami idaman memang!” ucap Arum sengaja memuji Kalandra.
“Mau bulan puasa ini, Yang! Harus banyak-banyak ibadah khususnya membahagiakan pasangan!” balas Kalandra. “Harusnya ibadahnya digas lagi!”
“Aku enggak maun kalah dari Azzam, Azzura, bahkan Mas Aidan yang setiap saat kamu timang, Yang!” rengek Kalandra.
Arum menyimak sambil mesem sekaligus mengangguk-angguk. “Oke. Iya, aku paham. Tapi, bukannya dari beres lahiran, aku juga enggak libur, ya? Coba lepasin tanganku, Pah. Aku beneran pengin cubit pipi atau malah bibir Mas!”
Kalandra langsung tersenyum pasrah kemudian melepas tangan kanan Arum dari dekapannya. Tangan tersebut langsung mencubit gemas bibirnya.
“Tapi hari ini aku pulangnya agak telat, yah, Yang.”
“Berarti enggak tarawih, dong?”
Kalandra berangsur menggeleng. “Kayaknya enggak, Yang. Soalnya ada rapat besar-besaran buat kepentingan lebaran di pabrik.”
__ADS_1
“Oh iya, aku lupa belum bikinin Mas minum. Mas mau teh apa kopi?” Arum beranjak berdiri, tapi Kalandra menahan karena pria itulah yang pergi dan berdalih akan mengambilkannya makanan.
“Ya sudah, aku mau pompa ASI dulu. Banjir kan apalagi habis keramas.” Arum baru akan berdiri, tapi Kalandra mendadak kembali.
“Aku juga butuh asupan nutrisi sekaligus gizi lebih, Yang!” sergah Kalandra.
Arum yang sempat tak bisa berkata-kata perlahan kelepasan tawanya. “Ya ampun, si paling enggak mau kalah!” ucapnya sambil menggeleng tak habis pikir.
“Ambil di kulkas saja. Stok ASIP si kembar banyak bisa buat asupan gizi Papah juga!” ucap Arum yang perlahan meringis menahan rasa sakit di kedua *********** yang ternyata sudah bengkak parah.
“Aku siapin air kompres kalau gitu,” sergah Kalandra langsung siaga apalagi bengkak di kedua payudara Arum sangat parah. Otot halus di sepanjang sana tampak menegang bahkan seolah akan mencuat dari daging dan kulit yang membalut. Selain itu, ASI-nya juga sudah mengalir deras mirip kran bocor. Pakaian Arum saja sudah basah apalagi sumpal untuk ASI-nya juga sudah basah.
“Sayang, tolong bantu colokin mesin pompanya dulu,” sergah Arum menahan sakit yang juga menjadi bagian dari suka-duka setelah melahirkan. Drama ASI deras sekaligus bengkak dan biasanya baru akan normal setelah dua minggu setelah melahirkan yang benar-benar menyiksa. Malahan kemarin saja, Arum sampai demam karena kasus tersebut. Padahal saat lahiran Aidan, Arum sangat tahan banting. Namun kini mungkin efek tubuh tahu sana sini peduli, tubuh Arum menjadi manja.
“ASI yang bening buat Papah saja, enggak apa-apa,” ucap Kalandra yang sudah kembali sambil menyuapi sang istri makan.
Arum yang juga masih memompa ASI-nya, langsung menahan tawanya. Di tengah rasa tegang sekaligus sakit akibat drama ASI, Kalandra masih saja bisa menjadi pelawak setianya. Sesekali, Kalandra juga akan membantunya mengompres *********** yang tetap besar.
“Kok tetap besar padahal sudah diperah banyak gitu yah, Yang?” Kalandra mulai khawatir. Hatinya juga langsung disambangi rasa takut.
“Proses, Pah. Nanti biasanya kalau sudah lewat dua minggu, baru mendingan. Kalau sekarang sampai tujuh harinya biasanya lagi parah-parahnya gini. Ini kalau aku sih, enggak tahu wanita lain. Pas Aidan pun gini, tapi aku enggak ngerasa sesakit ini.” Arum masih sibuk meringis.
“Bukannya enggak merasa, tapi memang sengaja enggak dirasa. Atau malah, saat itu kamu sempat mati rasa saking keselnya ke Angga dan keluarganya!” balas Kalandra.
Arum tersenyum damai memandangi wajah sang suami. “Makasih banyak buat semuanya. Karena Mas juga, aku jadi sibuk minta maaf ke aku yang dulu karena di masa lalu, aku sudah keterlaluan ke diriku.”
Kalandra mengangguk-angguk kemudian menggunakan tangan kanannya untuk melakukan gerakan finger heart kepada Arum yang detik itu juga langsung tersipu.
__ADS_1