
“Aku kasih kamu gigi palsu bagus, tapi kamu harus setia ke aku, yah, Yang!” ucap Honey memaksa Fajar.
“Kalau aku sampai setia, yang ada aku dosa!” balas Fajar cuek.
“Dosa apa sih? Yang namanya cinta kan enggak kenal dosa. Aku bakalan jadi istri yang baik buat kamu. Buktinya, kemarin aku bantu bayarin hutang kamu, dan aku juga siap urus anak-anak kamu. Aku siap jadi mamah yang baik buat mereka, apalagi janda kamu sudah mau nikah sama pria kaya!”
Seperti hari-hari sebelumnya, kali ini Honey kembali menunggui Fajar bekerja. Karena walau Fajar pongah, cintanya tak berubah. Yang ada Honey si madu ingin membuktikan keseriusan cintanya. Hari ini saja sepulang Fajar kerja, Honey akan membawa Fajar ke dokter gigi terbaik kenalannya sekalian ngabuburit.
“Ya Ayang, yah!” rengek Honey memaksa.
“Apaan, sih. Dibilang enggak boleh, ya enggak boleh. Istighfar ih, Hon. Nama asli kamu siapa kalau sedang bukan jadi Honey?” balas Fajar masih menyikapi Honey dengan sabar. Ia menatap saksama wanita jadi-jadian yang nasih mendekapnya penuh kemanjaan.
Honey yang menjadi menatap ragu Fajar, beberapa kali mengerjap kemudian berkata, “Herman.” Suara yang ia keluarkan barusan merupakan suara godam yang juga langsung membuat Fajar mendelik ketakutan dalam menatapnya.
“Lah ngapain enggak jadi Herman saja?” lirih Fajar karena biar bagaimanapun, kini mereka tengah ada di teras bank. Sampai detik ini saja, Fajar masih bersikap cool.
“Aku enggak mau jadi Herman karena setiap jadi Herman, aku selalu kesepian,” jawab Honey masih dengan suara godamnya.
Fajar bergidik ngeri kemudian menggeleng tak habis pikir. Herman atau itu si Honey madu, masih saja bergelendot manja kepadanya. Fajar sampai merasa sangat malu lantaran semua mata sudah sibuk memperhatikan kebersamaan mereka. Teguran keras pun akhirnya Fajar dapatkan dari sang atasan yang menganggap ah Fajar sudah sangat meresahkan.
“Kalau kamu masih mau kerja di sini, tolong jaga sikap kamu. Sudah berulang kali kamu bikin keributan, apalagi saat dulu saja, Angga sudah langsung saya pecat. Terakhir itu saat mbak Arum bawa pak DPR ke sini. Saya sampai malu gara-gara kelakuanmu. Nah sekarang, kamu kok malah sama bencong.” Pak Mukmin menatap tak habis pikir Fajar, di ruang kerjanya.
__ADS_1
“Mau kamu sama bencong apa malah wewegombel, memang hak kamu. Namun tolong, jangan sampai di bawa ke tempat kerja!” lanjut pak Mukmin. Di hadapannya, Fajar tetap duduk sambil menunduk dalam.
“Sekarang saya tanya, kamu mau tetap kerja di sini dan janji tidak membuat masalah lagi. Atau tetap dengan cara hidupmu tapi silakan mengundurkan diri daripada saya menghentikan kamu dengan tidak hormat,” lanjut pak Mukmin dan kali ini sukses membuat Fajar menatapnya.
“Pak, saya mohon, saya sangat butuh pekerjaan ini. Sementara masalah Si Honey bencong itu, ... ya saya sendiri bingung mau gimana jurusnya soalnya diusir bahkan pakai cara kasar, dia tetap nempel,” balas Fajar.
“Ya pokoknya saya enggak mau tahu. Kamu wajib bikin dia jaga sikap, jangan jadi memedi di teras depan dan bikin nasabah enggan datang!” tuntut pak Mukmin. Kali ini, Fajar yang terlihat ketakutan, berangsur mengangguk-angguk.
Meninggalkan cinta Fajar dan Herman Honey yang berat di segalanya, di tempat berbeda dan itu di rumahnya, akhirnya Widy yang tengah menyusun setiap bahan takjil pesanan pembeli, membalas pesan dari dokter Andri. Pria itu berdalih akan mampir ke rumah karena khawatir pada Widy yang tak kunjung membalas WA.
Widy : Maaf, Dok. Saya baik-baik saja, kok. Dokter beneran enggak perlu ke sini. Alasan saya tidak menjawab WA dari Dokter memang karena ada perasaan yang harus saya jaga.
Di teras depan pintu masuk puskesmas, dokter Andri yang sudah siap pulang, berangsur membalas pesan Widy.
Dokter Andri : Memangnya kalau kita dekat, perasaan yang harus kamu jaga, enggak izinin? Jujur, kamu enggak sedang dekat dengan siapa pun, kan?
Pesan dokter Andri lagi-lagi tak berbalas hingga pria itu sengaja mengemudikan motornya menuju rumah Widy tanpa janji. Tepat ketika Widy nyaris pergi mengemudikan motornya untuk mengantar setiap pesanan, dokter Andri datang. Terkejut, tentu saja. Namun Widy berusaha bersikap bisa saja. Wanita itu langsung pamit kepada mamak dan juga anak-anaknya. Begitupun kepada dokter Andri yang langsung ia tinggal pergi setelah sebelumnya sampai dipamiti.
“Mas Dokter, ayo masuk. Widy cuma bentar, kok. Mau keliling antar pesanan bahan takjil, baru ke pasar lagi buat beli pesanan sayur. Bulan puasa begini, alhamdulliah pesanan tambah.” Ibu Rusmini sengaja basa-basi karena tadi, cara Widy menyikapi dokter Andri terbilang keji.
Dokter Andri yang baru turun dari motor matic-nya segera tersenyum kepada ibi Rusmini. termasuk juga kepada anak-anak Widy yang mengintip dari balik pintu. Mata-mata tak berdosa itu menatapnya dengan tatapan berminat, tapi hanya sebatas itu karena ketiganya yang sedang minum es menggunakan wadah plastik, berangsur masuk rumah.
__ADS_1
Ibu Rusmini memperhatikan reaksi dokter Andri. Ditambah Widy yang langsung mengabaikan pria itu, ibu Rusmini yakin memang ada yang tidak beres.
“Izin bertemu anak-anak, Bu!” sergah dokter Andri santun.
“Oh, iya ... silakan, silakan.” ibu Rusmini membalas dengan sangat hangat. Ia bahkan sengaja memanggil anak-anak Widy, mengabsennya sesuai nama.
Tak sampai tiga puluh menit, Widy sudah kembali. Keranjang yang menghiasi belakang motornya sudah kosong. Namun, motor dinas dokter Andri masih ada di sana. Kali ini Widy tak akan menghindari lagi agar tidak ada yang salah paham, merasa berharap, atau malah merasa tersakiti lagi.
Di ruang keluarga yang juga sudah merangkap menjadi warung keduanya duduk berhadapan tapi tetap berjarak di tikar karakter yang gambarnya sudah menjadi bahan kreatifitas anak-anak Widy. Sebagian dari tikar malah banyak yang nyaris bolong.
“Saya merasa kamu jadi menghindari saya, sejak mbak Arum lahiran,” ucap dokter Andri langsung terus terang. Di hadapannya, Widy langsung mengangguk-angguk, dan sepertinya memang sengaja membenarkan.
“Iya, Mas. Saya memang sengaja menghindari Mas. Saya tidak bermaksud memfitnah, tapi malam saat saya mengantar Nissa, mamah Mas memang membuat saya melakukan ini semua. Saya rasa, memang sudah sepantasnya begitu. Dan sekarang, setelah Mas tahu alasan saya, saya harap Mas mau mengerti,” jelas Widy tegas sekaligus tenang.
“Ya baiknya memang begini. Kita kan juga sudah enggak ada urusan, kasus kecelakaan beneran sudah selesai. Jadi, orang yang enggak tahu sekelas mamahnya Dokter, juga enggak akan salah paham lagi,” lanjut Widy. Di hadapannya, dengan jarak mereka yang tak sampai dua meter, kedua mata dokter Andri sudah langsung merah sekaligus basah. Dokter Andri terlihat nyaris menangis.
“Nanti saya bicarakan ini dengan mamah saya,” ucap dokter Andri berat.
Widy mengangguk-angguk. “Itu terserah Dokter baiknya mau bagaimana? Saya hanya menyampaikan apa yang ingin Mas tahu saja,” balas Widy tam mau ambil pusing karena beban hidupnya saja sudah sangat berat.
“Berat banget ya Alloh. Kenapa Mamah lagi-lagi rusuhin urusan aku? Kenapa Mamah enggak bisa kayak mamahnya Kala? Padahal pas aku tanya Nissa, Nissa mau Widy jadi mamahnya,” sedih dokter Andri dalam hatinya.
__ADS_1