Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
188 : Masih Dibujuk Untuk Menikah


__ADS_3

Widy yang masih libur mengajar, efek libur menyambut awal bulan Ramadhan, menjadi tidak bersemangat. Ia yang sudah rapi dan memang sudah memakai jilbab, jadi takut sampai dipaksa nikah karena acaranya hari ini masih untuk menemani ibu Ripah dan pak Mul, selaku orang tuanya Resty.


“Enggak, lah. Pernikahan kan bakalan terjadi kalau ada dua pihak yang menginginkan. Kalau mereka tetap maksa, nanti aku minta bantuan Septi buat nyeruduk mereka. Atau malah, aku minta bantuan si Honey!” pikir Widy mencoba menyemangati dirinya sendiri. Segera ia beranjak dari pinggir kasur busanya kemudian keluar dari kamar.


Karena hari ini acaranya terbilang bebas, Widy sengaja mengajak Salwa yang kebetulan menangis. Sampai di rumah orang tua Resty, di sana sudah ada mobil Tuan Maheza. Benar-benar hanya ada satu mobil tanpa mobil yang sempat membawa Sekretaris Lim. Kenyataan yang langsung membuat Widy menghela napas lega.


“Mereka enggak mau keluar, Dy!” sergah ibu Aleya khawatir dan langsung mengadu kepada Widy. Wanita itu dan masih sigap.memakai masker mematuhi protokol kesehatan, buru-buru menghampiri Widy.


“Kayaknya memang takut dibawa ke Jakarta, sih, Bu!” balas Widy sambil menurunkan sang putri yang membonceng di depannya.


“Ih, masih panggil Bu, panggil Mbak saja, kenapa, kayak pas kamu ke Resty?” protes ibu Aleya, tapi Widy buru-buru menggeleng. “Ih, kamu!”


“Dy, ... kamu sudah datang? Itu orang mau culik Ibu sama Bapak, ke Jakarta lagi, Dy!” seru ibu Ripah dari dalam sana.


Ibu Aleya dan Tuan Maheza, menatap gundah Widy. Keduanya seolah tengah mengadu, bahwa bukannya luluh, orang tua Resty malah seolah ketakutan hingga keduanya kompak menghindari mereka. Pintu saja sampai dipepet menggunakan meja padahal sudah sampai dikunci.


Satu hal yang mengusik penglihatan Widy. Di sana, dirinya tidak hanya tidak mendapati Sekretaris Lim. Karena Cikho dan Cinta selaku anak Resty, juga sampai tidak ada.


“Pak, Bu? Ini Cikho sama Cinta, ke mana? Mereka sehat, kan?” tanya Widy memberanikan diri untuk bertanya. Karena jujur saja, bahkan walau kini ibu Aleya sampai mengemban Salwa, sebenarnya ia merasa sungkan bahkan takut berhadapan apalagi berurusan dengan orang kaya selevel Tuan Maheza.


“Mereka lagi demam, Dy. Makanya aku minta Lim buat jaga. Eh, kamu kenapa enggak mau sama Lim, sih? Lim, walau sekadar ngomong kelihatan susah karena dia memang pendiam banget, aslinya anaknya juga baik banget, loh. Ke anak-anak kecil, dia juga suka. Cikho sama Cinta saja aman kalau dijaga dia,” ucap Ibu Aleya, terkesan sengaja melakukan pendekatan dengan Widy.

__ADS_1


“Duh, Bu ....” Dalam hatinya, ia berkata, “Baru juga dibahas semoga enggak ada drama Sekretaris Lim, eh ini masih saja.”


“Dicoba dulu,” timpal Tuan Maheza. “Kita buoan orang lain.loh, Dy. Kami sama kakak kamu sudah kayak saudara. Ya kayak Resty ke kalian, walau memang kita jarang kumpul, kita tetap kompak.”


“Kamu enggak usah mikir macam-macam. Si Lim itu aslinya enggak mau nikah sama siapa pun. Tapi terakhir dia bilang, daripada diceramahi terus, ya sudah tolong siapin calon istrinya,” jelas ibu Aleya.


“Namun tetap saja, bukan berarti dia mau sama saya, Bu Aleya, Pak Maheza. Ya Alloh, anak saya tiga, masih balita. Belum lagi, saya masih punya ibu dan kami sudah telanjur betah di sini. Ditambah lagi, ... duh, enggak mungkin banget Pak Lim mau sama saya. Duh, jadi enggak enak gini kan,” ucap Widy.


Tuan Maheza menghela napas dalam. “Dicoba dulu!” yakinnya yang kemudian, “Yuk mumpung masih pagi, kita bawa orang tua Resty cek kesehatan ke klinik kemarin. Itu si Lim sudah langsung mendingan, cocok.”


“Duh, dan kenapa juga masih muter-muter di dekat dokter Andri,” batin Widy yang kemudian langsung terjaga karena biar bagaimanapun, pak Mul memang sedang batuk parah. Layaknya kini, kalau sudah batuk sulit berhenti. Pria itu sampai terkencing-kencing di celana.


“Kuncinya buka, Bu. Nanti aku dorong dari sini,” yakin Widy.


“Pak, tolong bantu!” sergah Tuan Maheza meminta bantuan sang sopir yang masih berdiri terjaga di depan mobil.


“Ibu sama Bapak puasa lagi, ya?” todong Widy sambil menepi karena yang mendorong pintu langsung diambil alih oleh Tuan Maheza dan sang sopir.


“Iya, Dy, puasa. Mumpung masih hidup!” balas ibu Ripah.


Walau jalan saja sudah tongkok sekaligus gemetaran, Ibu Ripah masih menjalani perannya sebagai istri yang baik kepada sang suami. Ia menuntun sang suami ke kamar mandi, dibantu juga oleh Widy mengingat kamar mandi di sana ada di luar rumah. Tepat di belakang rumah.

__ADS_1


“Pelan-pelan, Sayang. Percaya, Widy dan Arum orang baik. Mereka enggak mungkin menolak, apalagi kalau keadaannya seperti sekarang ini,” yakin Tuan Maheza.


“Sayang, kayaknya pak Mul batuknya serius. Kalau batuk ya kayak gitu. Memang belum sampai keluar darah, tapi sampai sesak napas,” ucap Aleya.


“Kayaknya paru-parunya bermasalah. Terus kalau aku lihat, dulunya beliau perokok akut, ya?” balas Tuan Maheza dan langsung dibalas anggukan cepat oleh sang istri. “Memangnya kamu tahu?” godanya.


Arwah Resty yang menempati tubuh Aleya dan tak mungkin jujur, sengaja berkata, “Kata Arum!”


Beres siap-siap, mereka pergi ke klinik milik dokter Andri menggunakan mobil Tuan Maheza. Di sana mereka langsung menjalani pemeriksaan, yang otomatis membuat Widy kembali bertemu dokter Andri.


“Susah banget sih, buat move on dari kamu. Ditahan-tahan buat enggak ketemu biar enggak terlalu rindu dan segera lupa, ketemu lagi-ketemu lagi!” lirih dokter Andri seraya membenarkan maskernya dan tentu saja sedang menyindir Widy.


Widy memang terpaksa menangani kedua orang tua Resty yang otomatis membuatnya bertemu dokter Andri secara langsung. Sungguh ia yang masuk ke ruang pemeriksaan karena selain Salwa ketiduran di pangkuan ibu Aleya, Tuan Maheza juga sedang mengurus pekerjaan penting. Tuan Maheza sedang meeting melalui sambungan video call di dalam mobil.


“Mau bagaimana lagi, Dok? Yang penting niat,” ucap Widy tanpa sedikit pun melirik Dokter Andri yang berdiri di sebelahnya karena pria itu tengah menginfus pak Mul.


“Niatnya sudah enggak kurang-kurang, Dy.” Dokter Andri masih berucap lirih mengingat di sana ada orang tua Resty yang tentunya menyimak.


“Alhamdullilah kalau gitu, Dok!” balas Widy masih berusaha cuek.


“Masalahnya selalu gagal, Dy. Ibaratnya, niatnya cuma buat wacana karena memang enggak niat-niat banget!” balas dokter Andri yang kemudian menatap melas ke Widy yang kebetulan meliriknya dengan lirikan khas orang takut. Namun, kenyataan tersebut hanya berlangsung sebentar karena seseorang datang mengetuk pintu dan itu ... sekretaris Lim.

__ADS_1


“Innalilahi, ... si Lim!” batin Widy belum apa-apa sudah gugup bahkan kacau. Batinnya menyesalkan, kenapa juga Lim harus datang?


__ADS_2