Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
220 : Tetanggaan


__ADS_3

Suasana kediaman ibu Muji benar-benar sunyi. Tak ada tanda-tanda kehidupan lain selain ibu Muji yang terduduk kaku di kursi rodanya.


Tak ada dokter Andri dan sang putri, maupun sang suami yang biasanya setia menemani, walau kini di luar sana sudah sangat gelap. Sudah malam, tapi sang suami juga menyusul dokter Andri dan Nissa. Sang suami seolah tidak akan pernah kembali lagi, setelah kemarin malam ibu Muji memang mengusirnya.


“Mereka pasti akan segera kembali. Dan mereka pasti akan langsung menyesal jika sesuatu sampai menimpaku!” yakin ibu Muji dalam hatinya.


“Tapi aku haus. Aku juga kebelet kencing, tapi pembantu sudah pada pulang.” Setelah berucap demikian, ibu Muji berangsur menunduk. Ia dapati, cairan yang tak lain urine, mengalir dari pangkal pahanya dan berakhir banjir di lantai.


Di tempat berbeda, di kontrakan yang terbilang sederhana, dokter Andri tengah sibuk memasak di dapur. Nasi goreng menjadi hasil dari kesibukannya dan sampai membuat pria itu berkeringat. Sedangkan di wastafel sebelah, sang putri tengah mencuci piring dengan sangat hati-hati. Dan dari depan, pak Erdi yang baru pulang berseru penuh keceriaan membawa dua kantong belanjaan.


Kebahagiaan mewarnai kebersamaan ketiganya. Berbanding terbalik dengan ibu Muji yang jelas tersiksa oleh kesendirian akibat keegoisannya sendiri. Dokter Andri tersenyum bahagia melihat interaksi sang putri dengan sang kakek. Selain memperlakukan Nissa penuh sayang, pak Erdi membelikan banyak jajan kesukaan Nissa.


“Jika bertiga begini memang lebih baik, lebih baik selamanya kita juga begini,” batin dokter Andri sembari menyantap lahap nasi goreng racikannya walau rasanya agak keasinan.


Baru beres makan dan hendak melahap pisang matang yang baru ia kupas, seseorang dengan brut*al menggedor pintu kontrakannya dari luar.


“Dokter Andri, cepat tolong saya! Sepri demam tinggi dan sampai kejang! Matanya melotot terus!”


Itu suara Septi, meraung-raung menangis ketakutan dan benar-benar panik.


Di kontrakan barunya dan itu berlokasi di kecamatan biasa Septi jualan es, Septi memang menjadi tetangga baru dokter Andri. Septi berdalih sengaja memboyong anak dan ibunya pindah ke kontrakan lebih layak karena kini, wanita itu sudah miliki uang cukup.


Selain menjadi jauh lebih bertanggung jawab, Septi juga sudah mulai perhatian kepada Sepri. Malahan kemarin, Septi sudah sempat tanya-tanya mengenai kaki palsu untuk Sepri. Karena tampaknya, kehidupan yang keras memang telah mengubah Septi yang awalnya pemalas.

__ADS_1


Di kamar, Sepri sungguh kejang dan sudah ditangisi oleh ibu Fatimah yang membiarkan telunjuk kanannya berdarah-darah digigit Sepri.


“Ya Alloh ... baru juga belajar jadi orang baik. Baru juga berjuang buat jadi mamah yang baik, Engkau malah mendadak memberi Sepri sakit begini. Sudah, sakitnya dikasih ke saya saja,” batin Septi yang kemudian juga menelepon pak Haji. Karena sejauh ini, hanya pemuja janda itu yang ia andalkan. Semacam pindah ke kontrakan sekarang saja, masih berkat campur tangan pak Haji. Malahan pria tua itu juga yang memiliki usaha kontrakan baru tempatnya menyewa.


“Sepri ngidam, pengin bapak kayaknya Sep!” komentar pak Haji berbisik-bisik kepada Septi di awal kedatangannya.


Ketika pak Haji akhirnya datang dan itu masih memakai sarung, Sepri sudah tenang setelah diberi obat penurun panas yang dimasukkan lewat anu*s.


“Pak Gede ih ... aku beneran nyaris jantungan pulang kerja lihat Sepri begitu. Sempat berpikir, jangan-jangan kesu*rupan, juga orang matanya melotot ke atas terus!”


“Kesu*rupan gimana wong yang hobi nyurupin kamu, dan kamu pun baru pulang? Lagian anak sakit bukannya dirawat di rumah sakit.” Pak Haji mengomel.


“Ini juga baru pulang dari klinik setelah sebelumnya rawat inap selama dua hari dua malam, Pak Gede. Masa iya, Pak Gede amnesia. Kemarin Pak Gede sampai ikut menginap buat jaga, kan? Ya meski aku enggak yakin, yang niat Pak Gede jagain itu memang si Sepri apa neneknya!” balas Septi masih sesenggukan.


“Kasih tanah makan saja, biar diam. Tanah makan di kampung kan gratis, beda sama di kota yang wajib beli apalagi kalau pemakaman mahal,” balas Septi yang buru-buru menghampiri dokter Andri. Pria itu baru saja selesai memerban telunjuk tangan kanan ibu Fatimah.


“Sepri panas banget. Tadi panasnya lebih dari empat puluh. Lain kali jangan dibiarkan begini. Apalagi kalau sudah kejadian, biasanya bakalan jadi langganan. Tips-nya kalau Sepri mulai panas, langsung wajib jaga-jaga. Ini kayaknya Sepri ada riwayat tifus karena dia tipikal yang sangat aktif. Sepri ini sebenarnya kecapaian, tapi dia maunya belajar hal baru terus gitu. Apalagi sekarang kan dia juga mulai belajar lari.” Dokter Andri menatap saksama kedua mata Septi maupun ibu Fatimah, silih berganti.


“Pas berobat, pihak sana bilangnya Sepri kenapa?” lanjut dokter Andri.


Septi yang selama Sepri sakit hanya menjaga ketika malam karena sibuk bekerja, berkata, “Kata Mamah, dokter sana bilang, baru gejala. Katanya karena memang Sepri terlalu aktif, sama pola makannya yang wajib dijaga. Harus lebih banyak makan sayur, dan semacam air minum pun, wajib yang serba direbus lagi. Pokoknya, harus serba steril.”


“Duh si Sepri, apa-apa harus steril berasa jadi cucunya Ratu Elisabet!” lirih pak Haji sambil mengawasi keadaan Sepri yang sudah jauh lebih tenang. Bayi yang tidak memiliki kaki kanan akibat kelainan pertumbuhan dalam kandungan itu tampak tidur pulas.

__ADS_1


Dokter Andri mengangguk-angguk paham menyimak penjelasan Septi. “Namun bagi saya, Sepri sudah positif tifus dan harusnya dia masih diinfus.”


“Jadi ini mending bawa ke klinik saja, yah, Dok?” balas Septi meminta pendapat. Tak apa harus keluar banyak uang lagi untuk biaya pengobatan. Septi sanggup bekerja keras asal Sepri sehat.


“Enggak perlu juga enggak apa-apa. Nanti saya infus di sini saja,” yakin dokter Andri.


Septi mengangguk-angguk setuju. “Alhamdullilah kalau begitu. Ya sudah, tolong banget yah, Dok!” Ia menatap dokter Andri penuh rasa terima kasih dan kemudian buru-buru sungkem. Namun, dari belakang ada yang meno*yor kepalanya.


“Modusmu kuat banget! Lebih kuat dari sinyal jandaku!” semprot pak Haji.


“Sumpah ih Pak Gede! Ini saya begini murni karena saya merasa ditolong banget!” yakin Septi masih menyalami tangan kanan dokter Andri menggunakan kedua tangannya walau ia tengah berbicara sekaligus menghadap pak Haji.


Pak Haji yang gemas sampai menjewer Septi. “Tangannya itu dikondisikan.”


“Oalah iya ... kok bisa nempel begini yah Pak Gede?” ucap Septi yang sampai meringis kesakitan akibat jeweran pak Haji.


“Nempel, dikiranya pakai lem!” cibir pak Haji.


“Namun sepertinya tangan dokter Andri mengandung lem deh Pak Gede. Buktinya, sekali nempel tanganku susah dilepasnya!” yakin Septi.


“Kalau tangannya sampai mengandung lem, wajar karena dia ganteng dan punya kemampuan mengobati sakit. Nah kalau tangannya sampai mengandung janin, serem kan!” balas pak Haji.


“Innalilahi Pak Gede, mengandung janin gimana ceritanya?” balas Septi yang segera menyiapkan segelas air minum. Pak Haji akan mendoakan Sepri untuk kesembuhan bocah itu, tapi juga sengaja ditampung dalam segelas air yang nantinya untuk Sepri minum maupun membasuh wajah.

__ADS_1


Yang digombali sudah sampai menangis, kaku menahan tawa. Dokter Andri sampai kewalahan memiliki dua tetangga somplak level Septi dan pak Haji.


__ADS_2