Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
130 : Kamu Tetap Papah Terbaiknya, Mas!


__ADS_3

“Mas Aidan ... kangen Papah, enggak? Papah kangen banget sama Mas.” Kalandra langsung menghampiri Aidan yang tengah sibuk mencabut setiap helai tisu kering dari kotaknya. Bocah itu telah membuat ranjang tidurnya penuh tisu.


Arum yang tengah fokus mencatat di buku tulis berangsur melongok Kalandra yang sama sekali tidak menghampirinya. “Tumben aku dianggurin?” lirihnya. Namun setelah melihat isi ranjang tidur Aidan penuh tisu, ia langsung panik. “Itu kelupaan, tapi panen buat Mas Aidan. Ya Alloh ... tapi ini tanggung tinggal dikit lagi. Kok aku jadi pikkun, ya?”


Kalandra yang sudah mengemban Aidan dan bibirnya masih menempel di pipi kiri bocah itu, refleks menoleh kemudian menatap sang istri. Ia mesem kemudian menghampiri Arum. Bibirnya yang awalnya menempel di pipi kiri Aidan, berangsur pindah ke kening Arum.


“Kok Mas sedih gitu? Mas ada masalah, apa malah sakit?” Arum segera meninggalkan pulpen maupun buku tulisnya. Ia memeriksa suhu tubuh sang suami, meraba leher pria itu. Kali ini tidak ada yang lebih penting lagi selain kesehatan suaminya. Termasuk juga, catatan di nakas yang langsung ia tinggalkan.


Suhu tubuh Kalandra hangat, selain kepala Kalandra yang juga basah. Karenanya, Arum sengaja mengambil handuk dari lemari di sebelah kemudian menggunakannya untuk mengeringkan kepala suaminya. Tak biasanya Kalandra begitu, ditambah Kalandra yang kali ini terlihat sangat galau. Seolah memang ada masalah berat yang sangat mengganggu perasaan, dan juga menjadi beban pikiran tersendiri.


“Duduk,” lirih Arum menuntun Kalandra duduk di pinggir tempat tidur. Karena andai pria itu tetap berdiri, ia yang tidak bisa mengeringkan kepala Kalandra dengan leluasa.


Kalandra yang akhirnya duduk mengikuti tuntunan Arum, berkata, “Aku galau ... aku cemburu, Yang.” Ia tetap mengemban Aidan yang kini asyiik menyobek sehelai tisu yang terbawa. “Rasanya lebih galau dari pacar dideketi gebetan baru.”


“Ya sudah, ayo cerita Mas,” balas Arum jadi khawatir apalagi selama bersama, jangankan terlihat galau, mengeluh saja Kalandra tak pernah.


Tatapan Kalandra yang bergetar perlahan basah. Bersamaan dengan itu, Kalandra berangsur menunduk, membiarkan bibirnya mendarat di ubun-ubun Aidan. “Enggak kebayang kalau Aidan perempuan, dan pas ijab kabul bukan aku yang jadi walinya. Bisa-bisa, aku nangis sampai pingsan.”


Dunia seorang Arum seolah berputar lebih lambat hanya karena mendengar ucapan Kalandra barusan. Arum refleks menghentikan kesibukannya dalam mengeringkan kepala sang suami. Kemudian, kedua tangannya yang menjadi terasa berat, berangsur membingkai wajah Kalandra. Suaminya itu sudah sampai menangis. Kenyataan yang sangat menyesakkan bagi Arum. Baru Arum sadari, tetap akan ada celah yang diisi oleh luka atas hubungan mereka. Ibaratnya, hubungan mereka tak ubahnya pazzel yang walau sudah dipenuhi oleh setiap bagian, tetap ada lekuk celah yang terlihat sekaligus terasa sangat nyata. Dan Arum yakin kenyataan tersebut bukan hanya melukai Kalandra, tapi juga Aidan ketika nanti bocah itu tumbuh dan mulai paham.


“Aku cemburu karena tadi kamu bilang, siang ini Aidan habis ketemu Angga.” Kalandra benar-benar merengek nyaris menangis.


Seperti yang Arum duga, alasan Kalandra segalau sekarang karena status Aidan. Kalandra yang sudah telanjur sangat sayang, cemburu. Kalandra tak mau berbagi, bukan bermaksud jahat. Bukan juga membenarkan kecemburuan yang tak mau berbagi. Pasti memang akan sampai di titik itu. Apalagi Kalandra tahu proses kembang Aidan yang awalnya diabaikan bahkan tak diharapkan, sebelum akhirnya Aidan benar-benar dibuang. Bukan bermaksud terus menerus menghakimi Angga juga karena setiap orang bisa berubah. Ibaratnya, hal semacam ini terjadi karena memang hasil dari perbuatan Angga sendiri. Kalaupun berharap semuanya akan baik-baik saja dengan kata maaf dan penyesalan, itu tetap mustahil. Dan andaipun dibiasakan untuk terbiasa juga menjadi pilihan, ini tetap akan terasa sangat menyakitkan.


“Mas Kala tetap punya posisi paling spesial buat Aidan, Mas!” Dada Arum menjadi terasa sesak karena kebersamaan kini. Ia bahkan tak sanggup melihat Kalandra sesedih sekarang. Ia memilih mendekap kepala Kalandra.

__ADS_1


“Walau Aidan memang darah dagingnya mas Angga, Mas Kala tetap jadi orang pertama yang memberi Aidan banyak perhatian bahkan cinta. Mas Kala tetap menjadi orang pertama yang memberikan kasih sayang seorang papah kepada Aidan. Mas Kala orang pertama yang Aidan panggil papah.”


“Malahan kata termasuk panggilan pertama dari Aidan bukan mamah, melainkan papah dan itu buat Mas Kala.”


“Mas Kala tetap papah terbaiknya Aidan. Mas Kala yang selalu memperjuangkan kebaikan sekaligus kebahagiaan untuk Aidan. Mas Kala selalu jadi papah siaga tanpa kenal keadaan. Sampai detik ini bahkan aku yakin sampai nanti, enggak akan yang bisa mengubah itu.”


Arum yang berucap lirih menjadi ikut galau. “Nantinya kalau besar pun, Aidan pasti akan bisa menilai, betapa besar rasa sayang sekaligus cinta Mas kepada Aidan apalagi kepada mamahnya.”


Kalandra tetap diam, belum terbiasa berbagi Aidan dengan Angga. Malahan, Kalandra merasa tetap tidak akan pernah bisa melakukannya.


“Aku egois banget, ya?” lirih Kalandra sambil menatap mata tak berdosa Aidan yang kebetulan menengadah hanya untuk menatapnya.


“Pah!” seru Aidan.


“Nah kan ... tanpa pandang keadaan yang nomer pertama selalu papah,” ujar Arum menjadi terisak-isak.


“Aku siapin makan malam, ya?” lirih Arum berusaha mengalihkan perhatian suaminya karena ia sendiri tidak sanggup menghadapinya.


“Aku beneran enggak lapar, Yang.” Lebih tepatnya, Kalandra kehilangan rasa laparnya gara-gara galau sekaligus cemburu kepada Angga.


“Terus, aku harus gimana?” ucap Arum sambil duduk di sebelah Kalandra.


“Enggak tahu, beneran deh otakku lagi susah diajak kompromi,” balas Kalandra lagi. Ia mengambil semua tisu yang tersisa dari tangan Aidan. Sementara Arum ia dapati mengambil yang ada di ranjang bayi.


“Mas, kalau besar jangan lupa sama Papah, ya?” bisik Kalandra.

__ADS_1


“Mas ih, tolong jangan gitu, aku makin galau!” rengek Arum terisak-isak.


Kalandra menoleh ke belakang. “Sini-sini.”


Pada akhirnya, mereka malah sama-sama meringkuk berhadapan di tempat tidur, menjadikan Aidan yang ada di tengah mereka sebagai fokus perhatian.


“Andai bisa memilih, bukan hanya Aidan yang ingin langsung jadi anak Mas. Karena andai bisa memilih, aku juga inginnya langsung nikah sama Mas. Mas jadi suami pertama sekaligus satu-satunya buat aku,” lirih Arum. Ia menunduk sedih. Kedua matanya yang basah, makin lama makin terasa panas.


Kalandra yang awalnya menatap sendu setiap pergerakan Aidan yang tengah fokus joged menirukan video yang bocah itu tonton di ponsel Kalandra, langsung terusik. Pria itu merapatkan jaraknya dari Arum, mendekap wanita itu sangat erat, kemudian membenamkan wajahnya di sebelah wajah Arum.


“Memang mirip puzzel. Walau sudah utuh, tetap ada celahnya,” lirih Kalandra.


“Celah itu sengaja Tuhan ciptakan untuk diisi dengan keikhlasan. Keikhlasan yang akan menjadi kekuatan tersendiri untuk hubungan kita. Aku pikir begitu,” lirih Arum sambil menatap kedua mata Kalandra yang kembali basah layaknya kedua matanya.


Kalandra berangsur menunduk.


“Kita bisa melewatinya. Termasuk nanti ketika Aidan sudah paham dan aku yakin seyakin-yakinnya, akan ada gejolak batin yang bikin Aidan berpikir, ... kenapa papahnya bukan Mas saja, apalagi Aidan sayang banget ke Mas?”


Menyimak apa yang Arum katakan, hati Kalandra terenyuh. Pria itu menjadi berlinang air mata tanpa bisa mengurai isi hatinya. “Itu jauh lebih menyakitkan buat aku.” Ia menghela napas dalam, mencoba meredam perang batin jauh di dalam sana. “Aku akan selalu menjadi papah terbaiknya!” yakinnya sambil menatap kedua mata Arum yang langsung memberinya dukungan.


“Jangan sedih-sedih lagi,” lirih Arum. Kedua tangannya menepuk-nepuk pelan dada Kalandra. Suaminya itu mengangguk-angguk dan tampak sangat berat. Namun perlahan, Kalandra menyanggupi.


“Begini, aku jadi mikir, seperti apa kita nanti?” lirih Arum. Sedangkan Kalandra baru saja merengkuh tubuh Aidan. Kendati demikian, Aidan tetap fokus nonton video.


Kalandra sengaja menggelitiki Aidan dan bocah itu sungguh lupa dengan ponselnya. Karena Aidan dan Kalandra sibuk bercanda, Arum sengaja mengambil ponsel Kalandra kemudian mematikan videonya. Mendadak hati Arum terenyuh karena wallpaper ponsel Kalandra sudah berubah menjadi foto Aidan semua.

__ADS_1


Arum menghela napas pelan. Bisa ia pastikan kabar yang ia berikan mengenai pertemuannya dan Angga siang tadi, sudah membuat Kalandra galau parah. Terbukti, wallpaper saja sudah ganti foto Aidan.


“Kamu tetap papah terbaiknya, Mas ...,” batin Arum, makin cinta kepada suaminya.


__ADS_2