
Baru berpisah sudah bertemu lagi, memang menjadi kebahagiaan tersendiri. Hanya saja jika alasannya seperti yang dialami Widy, tentu ada kesenjangan tersendiri.
Wajah Sekretaris Lim terbilang pucat ketika akhirnya pria itu sampai di kediaman Kalandra. Pria itu disambut oleh para wanita karena baik Kalandra maupun pak Sana sudah harus kembali bekerja.
“Baru sampai Jakarta sudah ke sini lagi, bagaimana rasanya? Aman, apa sudah oleng mirip baling-baling?” tanya Arum yang tak disertai kedua anaknya.
Sekretaris Lim yang sudah ditempeli oleh Salwa, berkata, “Semuanya benar, Mbak. Tapi ya daripada kenapa-kenapa.”
Melihat kedekatan Sekretaris Lim dan Salwa membuat Arum teringat pada awal mula hubungannya dan Kalandra. Sebab dulu, ketimbang dengannya, Kalandra jauh lebih dekat dengan Aidan. Lebih tepatnya, Kalandra ibarat cinta pertama Aidan. Karena dari Kalandra juga, Aidan mendapatkan cinta tulus seorang papah.
“Istirahat dulu, ya. Nanti ke kantor polisinya tunggu papahnya anak-anak pulang,” ucap Arum sekalian pamit. Ia meninggalkan Sekretaris Lim dan Widy berikut ketiga anak Widy, di ruang keluarga.
Kompak menghela napas pelan tak lama setelah Arum pergi, Widy dan Sekretaris Lim juga kompak saling menoleh hingga tatapan mereka bertemu.
“Bentar,” ucap Sekretaris Lim yang kemudian menurunkan masker Widy. Ia baru tahu, di wajah sebelah kiri Widy ada bekas luka dan itu terbilang mencolok.
Widy sampai menahan napas karena tangan kanan Sekretaris Lim sampai meraba bekas luka di wajah kirinya. Pria itu terlihat sangat terkejut, menyayangkan kenapa ada bekas luka di sana. Sekretaris Lim terlihat sangat peduli sekaligus menyayangi Widy.
“Ini gara-gara dia juga?” lirih Sekretaris Lim sengaja menjaga suaranya karena di sana juga ada anak-anak Widy yang harus ia jaga mentalnya. Namun, Widy buru-buru menggeleng.
“Bukan, Mas. Ini murni kecelakaan. Aku ditabrak motor tanpa pengendara. Motornya dokter Andri, yang Mas berobat ke kliniknya. Ingat? Itu kan ceritanya motornya lagi dia panasin, tapi ditinggal dan tanpa sepengetahuannya, anaknya malah main asal gas dan bikin motornya jalan sendiri. Nah kebetulan aku lewat dan akhirnya aku ketabrak!” Widy juga berbisik-bisik.
Sekretaris Lim langsung meringis ngeri. “Motor gede?” tebaknya.
“Iya, Mas. Motor gede,” balas Widy dan pria di sebelahnya makin sibuk meringis, seolah menahan rasa nyeri luar biasa.
__ADS_1
“Sakit banget?” lirih Sekretaris Lim masih meringis.
“Y-ya ... ya gitulah Mas. Pokoknya sakitnya sampai ke sendi-sendi.”
“Aku rasa kamu kurang amal, makanya jadi sering kena sial. Nanti deh kita semacam amal ke ... ke orang terdekat di sekitar rumah kamu saja kali, ya? Kalau gitu untuk beberapa waktu aku mau izin dulu ke koko. Aku kerja by online saja.”
Mendengar penjelasan dari Sekretaris Lim, Widy juga penasaran. Langkah apa yang akan pria itu ambil sebelum membawanya ke Jakarta. Apakah benar, mereka akan menikah dalam waktu dekat?
“Hah ...?” lirih Arum sengaja ditahan. Ia yang masih di kamar dan hendak menyeterika pakaian dinas Kalandra, menjadi urung melakukannya. Ia mencabut colokan setrikanya, kemudian duduk sembari berusaha fokus menyimak ucapan Aleya dari seberang sana. Wanita yang menolak dipanggil ibu itu tengah membahas niat baik Sekretaris Lim yang ingin segera meresmikan hubungannya dan Widy.
“Enggak apa-apa ijab qabul dulu, nanti satu bulan lagi baru gelar resepsi yah, Rum. Soalnya kalau aku harus bolak-balik, aku enggak kuat. Mabok bawaan hamil. Khawatir juga kenapa-kenapa. Tentunya aku enggak akan lepas mereka kalau sampai gelar resepsi tanpa aku. Sebulan lagi lah.”
Mendengar ucapan panjang lebar Aleya, jantung Arum sudah langsung berdebar-debar. Karena dengan kata lain, Widy akan segera mengakhiri masa jandanya. Bahagia, terharu, dan perlahan terenyuh. Itulah yang Arum rasakan hingga ia tak kuasa mengungkapkannya.
***
Kalandra yang sempat terdiam serius untuk menyimak ucapan sang istri, langsung mengangguk-angguk. “Bagus! Memang lebih baik seperti itu! Alhamdullilah, ada hikmah dan berkah di balik musibah.”
Balasan Kalandra yang terdengar sangat tenang, juga membuat Arum turut merasakannya. Arum tersenyum bahagia. Ia mengambil alih tas kerja Kalandra, selain suaminya itu yang langsung pamit mandi.
“Lim mau ajak Mas ke kantor polisi. Lim pengin ketemu Agus!” sergah Arum mengabarkan niat baik Lim yang tampaknya akan memberi teguran khusus kepada Agus.
“Oh ....” Kalandra yang telanjur masuk kamar mandi berangsur balik badan seiring tatapannya yang akhirnya bertemu dengan kedua mata Arum. “Ya enggak apa-apalah mandi dulu biar bisa peluk anak-anak sekalian mamahnya!” yakinnya yang mengakhiri ucapannya dengan tawa renyah.
Arum langsung tersipu kemudian menggeleng geli.
__ADS_1
“Sayang, lebaran dua hari, aku diundang klien buat hadir di acara syukuran keluarga mereka. Mereka orang berada, tapi rumahnya masih di dekat rumah orang tua kamu. Namanya, ... pak Restu terus istrinya ibu Arnita. Kayaknya mereka sebaya kita sih. Kalai enggak salah, yang pak Restu asli Jakarta, tapi istrinya asli tempat tinggal kamu,” cerita Kalandra sebelum menutup pintu kamar mandinya.
“Arnita, nikahnya sama orang Jakarta namanya Restu, ... siapa, ya? Tapi namanya memang enggak asing,” ucap Arum menerka-nerka.
“Nah, ingat-ingat. Jangan-jangan, kalian malah teman bahkan dekat.” Kalandra menahan senyumnya menatap sang istri penuh rasa gemas.
Arum tersenyum sambil mengangguk-angguk. “Aku ingat-ingat dulu, Mas. Soalnya, rasanya kayak memang enggak asing.”
Sekitar dua puluh menit kemudian, Kalandra yang sudah mengembang Azzura, keluar dari kamar. Ia menghampiri kebersamaan Sekretaris Lim dan ketiga anak Widy di ruang keluarga. Keempatnya tengah duduk akur sambil menonton acara video anak di ponsel Sekretaris Lim.
“Lim, jadi pergi?” tanya Kalandra yang juga langsung heboh ketika disapa oleh Aidan. Aidan tampak sangat lesu dalam gendongan sang nenek dan Kalandra ketahui karena bocah itu baru bangun tidur.
“Bentar, ya. Lim, bisa tolong emban, atau gendong mbak Azzura?” pinta Kalandra karena ia ingin mengemban Aidan, tapi Sekretaris Lim langsung menggeleng sekaligus panik.
“Aku takut. Itu masih sekecil itu, takutnya aku matahin tulang-tulangnya. Cari aman lah, Mas!” ucap Sekretaris Lim sambil meringis karena merasa ngeri seperti yang baru saja ia sampaikan.
Kalandra menahan senyumnya, merasa lucu sekaligus gemas pada Sekretaris Lim yang tampak parno pada bayi merah. “Tapi anak-anakku beda dan memang tipikal yang kokoh enggak lemes, Lim. Ayo coba, belajar. Besok kamu juga punya. Masa iya takut, belajar, pelan-pelan.” Kalandra meyakinkan.
Belum apa-apa, Sekretaris Lim sudah tegang. Ia bahkan sampai panas dingin sekaligus berkeringat. “Oke. Tapi aku cuma berani sambil duduk. Aku belum berani sambil jalan kayak Mas Kala.” Ia benar-benar pasrah, tapi ia juga sadar, Kalandra sengaja menjailinya.
Benar saja, Sekretaris Lim makin tak karuan ketika si gembul mbak Azzura ada dalam dekapannya. Namun, melihat Azzura yang begitu menggemaskan, ia juga jadi ikut tersenyum.
“Kan, jadi pengin punya juga, kan?” Kali ini Kalandra sengaja menggoda. Apalagi di waktu yang sama, Widy datang sambil menuntun orang tua Resty. Ketiganya keluar dari kamar tamu.
“Dy, katanya si Lim pengin yang kayak Mbak Azzura!” ujar Kalandra yang kemudian tertawa.
__ADS_1
Ditodong begitu, Widy yang baru datang dan memang tetap membiarkan wajahnya tanpa rias hingga sisa bekas luka di pipi kirinya terlibat sempurna, langsung kebingungan. Tak kalah bingung dari Sekretaris Lim yang sudah sampai salah tingkah. Pipi putih Sekretaris Lim sampai sudah sangat merah. Namun melihat sang tunangan tengah belajar mengemban Azzura, Widy juga jadi gemas.
Ibu Kalsum sudah langsung tertawa lepas melihat ekspresi lucu Sekretaris Lim yang tampaknya memang ingin memiliki anak perempuan layaknya Azzura.