
“Sudah, ... oke saja.” Arum tersenyum yakin kepada Widy.
Widy yang sempat bengong, berangsur mencabut colokan seterika. Takut ia lupa dan malah fatal. Buru-buru ia menghampiri sang kakak dan kiranya hanya berjarak sekitar dua meter dari keberadaannya.
“Mbak, yang namanya laki-laki, kalau sampai ngasih, itu karena mereka juga berharap imbalan. Bohong, apalagi dia laki-laki dewasa!” ucap Widy masih berbisik-bisik.
“Nah imbalannya biar kamu mau nikah sama dia!” Walau dengan suara lirih, kali ini Arum sampai mengomel.
Widy langsung menunduk. “Terlalu cepat kalau mendadak menikah. Dia orang kota, ... kaya. Takutnya imbalan yang dia mau semacam adegan macam-macam sebelum nikah. Mbak tahulah maksudku.”
“Kan sudah dikasih rambu-rambu, pendekatan dulu. Namun walau pendekatan, kamu sudah dikasih jatah uang hidup biar kamu enggak sibuk kerja. Dia mau kamu fokus urus anak. Termasuk untuk orang tua Resty, dia juga bakalan siapin biaya khusus, gitu Dy. Sudahlah, oke saja. Mengenai adegan macam-macam itu, andaipun ada, pasti enggak berlebihan seperti yang kita apalagi kamu bayangkan.” Arum sangat mendukung karena memang telanjur yakin sekaligus cocok.
Widy menghela napas, kemudian bersedekap. Setelah merenung sejenak, ia berangsur menatap Widy. “Memangnya kalau Mbak jadi aku, Mbak nggak bingung?”
Ditanya begitu, Arum langsung bingung. Arum mendadak tak bisa menjawab apalagi selancar sebelumnya.
“Aku masih trauma ditipu pongah Mbak.” Widy menunduk lesu dan memang sampai merengek.
“Yang sekarang pasti enggak mungkin, Dy. Ada pak Maheza dan ibu Aleya yang menjadi saksi sekaligus jaminan!” Arum kembali meyakinkan. Di hadapannya, sang adik yang menjadi kerap menunduk loyo tampak tetap ragu.
“Takutnya, pas aku telanjur sayang apalagi anak-anak sampai dekat, dia malah berulah, Mbak!” keluh Widy lagi.
“Kalau itu sampai terjadi, nanti Mbak yang urus! Sudah, Mbak pasti ikut urus!” Arum meraih kedua lengan Widy, masih berusaha meyakinkan.
Bagi Widy, dukungan dari Arum sangat berarti. Namun tentu, ia tetap meminta bantuan Arum dalam menjawab pesan Sekretaris Lim yang memintanya memberikan nomor rekening karena pria itu sudah ingin bertanggung jawab kepadanya, agar ia tidak bekerja dan fokus mengurus anak-anak.
“Kamu manggil dia apa?” tanya Arum.
“Lim.” Widy menatap ragu Arum, takut dijitak karena tentu, panggilannya kepada Sekretaris Lim, tidak sopan.
“Dia seumuran Mbak, loh!” omel Arum yang kemudian menyuruh Widy untuk mengetik pesan balasan.
__ADS_1
Widy : Kamu, yakin?
Lim : Yakin gimana?
“Ya ampun Dy, langsung dibalas. Berarti nih orang dari tadi nungguin!” omel Arum yang refleks menimpuk kepala Widy.
“Ya ampun, Mbak. Sakit,” rengek Widy.
“Ya salah kamu, bikin Mbak geregetan. Untung taflon mbak enggak melayang!”
“Lah, di kamar kok ada taflon?”
“Jangan bilang di kamar kok ada taflon, mas Kala saja setiap bulan selalu beliin Mbak taflon. Hadiah cinta dari mas Kala pun masih berupa miniatur taflon. Mahal!”
“Kalian aneh, ... masa iya serba taflon.” Widy menatap aneh sang kakak.
“Aneh buat orang lain, manis buat kami yang menjalani karena memang banyak momen spesial kami dari taflon!” yakin Arum.
Widy : Masa, belum nikah sudah dikasih uang jatah?
Dengan cepat, Sekretaris Lim yang memang masih menunggu balasan WA Widy membalas.
Lim : Ya enggak apa-apa. Biar kamu fokus urus anak dan kamu bisa istirahat.
Kemudian, Sekretaris Lim menulis lagi.
Lim : Satu bulan lagi kita nikah bagaimana? Enggak usah mewah, yang penting Sah.
Di kamar Arum, Arum yang masih menyimak Widy berkirim pesan dengan Sekretaris Lim, buru-buru mengambil alih ponsel Widy. Karena selain takut Widy masih bingung, adiknya itu juga tak kunjung menulis balasan.
Widy : Baiklah Mas.
__ADS_1
“Loh, Mbak. Kok jadi Mas?” heboh Widy.
“Dikasih uang jatah, jadi Mas. Nanti kalau sudah nikah dan dia makin perhatian, manggilnya papah apa sayang!” balas Arum tak kalah heboh dan berakhir ngakak bersama Widy.
Ibu Rusmini yang memergoki ulah keduanya langsung geleng-geleng. “Kalian habis jailin siapa lagi? Pongah, apa pak Haji? Sudah jangan jailin mereka terus, nanti yang ada mereka terus berharap.”
Namun di teras musholah, Sekretaris Lim yang memang pendiam, menjadi tersipu.
“Jadi, apa yang bikin kamu mendadak berubah pikiran dan mau menikahi Widy?” tanya Tuan Maheza yang sedari tadi duduk sila di hadapan sang adik.
Sekretaris Lim yang awalnya tersipu tak langsung menjawab. Seperti biasa, tingkahnya mirip mayat hidup yang tidak memiliki semangat.
“Gara-gara dia urus dan rawat kamu pas kamu baru sampai di sini?” Dengan sabar Tuan Maheza menebak. Namun, Sekretaris Lim tetap menunduk.
“Setelah aku tahu, ... anaknya banyak. Dan dia sibuk kerja buat kasih anaknya kehidupan layak. Selain ternyata ayah anak-anaknya enggak tanggung jawab. Dan terakhir aku tahu, ternyata dia sampai diancam oleh mamahnya dokter yang punya klinik karena dokter yang punya klinik itu suka Widy juga. Hubungan mereka terhalang restu gitu, dan ... ya ancaman andalannya, anak-anak.” Sekretaris Lim berangsur menatap sang kakak yang menyimak.
“Aku dibuang oleh mamahku sendiri hanya karena hubungan orang tua kita tidak baik. Dia tega membuangku, membuangku berjuang sendiri di tengah suasana keluarga kita yang tidak sehat. Mamah Koko yang lebih mirip nenek sihir, papah yang kaku, ... juga semua peraturan yang membuat hidup kita lebih mirip robot.”
“Namun setelah melihat Koko dan Aleya, aku jadi punya motivasi buat menjadi diriku sendiri, apalagi sekarang, mamah Koko sudah enggak ada.”
“Terakhir, setelah kenal Widy, dia sangat bekerja keras, mengurus anak, tapi masih bisa bantu sesama, ... aku beneran ingin berterima kasih.”
“Kerja keras sekaligus perjuangannya beneran bikin dia spesial.”
“Jadi, mulai sekarang aku ingin, dia fokus urus anak-anak. Urus orang tua Resty juga tanpa sibuk bekerja agar dia juga masih bisa istirahat. Tubuhnya kurus gitu kan.”
Tuan Maheza yang menyimak setiap ucapan sang adik yang memang memanggilnya Koko karena biar bagaimanapun, darah chinese masih mengalir di tubuh mereka, menjadi berkaca-kaca. “Maaf karena selama ini, aku belum bisa jadi kakak yang baik.”
“Iya, ... aku maafkan,” balas Sekretaris Lim.
“Hah? Kok jawabanmu gitu?” balas Tuan Maheza kaget.
__ADS_1
“Jawaban gitu, gimana maksudnya? Berarti Koko minta maafnya cuma buat iklan? Memang selama ini, Koko belum jadi kakak baik buat aku. Yang baru bisa jadi kakak yang baik ya Aleya. Terhitung sejak dia bangun dari koma, ya. Dia beneran jadi matahari pagi dalam kehidupan kita. Nyatanya Koko sampai klepek-klepek ke dia,” balas Sekretaris Lim yang langsung membuat sang kakak tersipu malu menatapnya. Wajah Tuan Maheza menjadi sangat merah.