Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
50 : Kedok


__ADS_3

Ibu Fatimah terduduk lemas. Gemetaran tubuhnya melihat apa yang telah terjadi. Apalagi ketika ia teringat apa yang telah terjadi, apa yang telah ia lakukan! Kenyataannya yang gagal meredam emosi nyatanya malah menciptakan petaka untuknya sendiri. Tak hanya Septi, tapi juga dirinya.


Bukankah alasannya selalu pasang badan untuk melindungi Septi dari segala bahaya termasuk cibiiran karena putrinya itu hamil di luar pernikahan karena ia sangat menyayangi Septi? Namun, kenapa beberapa saat lalu, malah ia sendiri yang meng-hajar bahkan nyaris meng-habisi, Septi?


“Septi ...?”


“Septi ...?”


Bibir ibu Fatimah tak hentinya bergetar menyebut nama putri semata wayangnya. Kedua tangannya yang gemetaran, mengacak kepalanya hingga pashmina yang hanya tersampir asal di sana, lolos dan terjatuh ke lantai. Di tengah jantungnya yang makin berdetak sangat kencang karena penyesalannya, ibu Fatimah yang teringat apa yang telah ia perbuat kepada Septi, buru-buru mencari keberadaan putrinya itu.


“Sep? Sep, maafin Mamah, Sep. Mamah khilaf ... Mamah enggak bermaksud melukai kamu, Sep. Kamu tahu, kan, kalau Mamah sayang banget ke kamu?” racau ibu Fatimah layaknya orang kehilangan akal.


Yang ibu Fatimah ingat, Septi dibawa pak Yusuf keluar dari kamar. Karenanya, ia juga buru-buru keluar dari kamar. Langkah buru-buru tapi ragu, mengantarkan ibu Fatimah ke ruang depan kediamannya. Ia memergoki pintu rumahnya dibuka sempurna. Karenanya, ia yang tak lagi menutupi wajah apalagi kepalanya, buru-buru lari menyusul.


“Septi pasti mau dibawa ke rumah sakit!” lirih ibu Fatimah yakin.


Langkah setengah berlari ibu Fatimah perlahan menjadi berhenti ketika wanita berambut panjang bergelombang warna pirang itu sampai di teras. Di luar sana, di depan gerbang rumahnya, sudah ada empat orang polisi, selain Arum dan Kalandra yang tampak ikut serta. Ketika pak Yusuf yang masih membopong Septi tampak mengobrol serius dengan rombongan polisi, tidak dengan ibu Sumini yang tengah memeluk Arum sangat erat.

__ADS_1


Baru saja, pak Yusuf balik badan, membuat tatapan pria itu bertemu dengan tatapan ibu Fatimah. Buru-buru ibu Fatimah masuk ke salam rumah dengan langkah cepat.


“Si Papah langsung laporin aku ke polisi? Kejamm banget!” batin ibu Fatimah. Ia sengaja masuk ke dalam kamarnya yang ada di sebelah ruang keluarga. Kemudian tak kurang dari lima menit, ia keluar menggunakan pakaian syari serba hitam lengkap dengan cadar. Penampilan yang juga sudah menjadi andalannya dan bagi ibu Sumini maupun orang lain yang mengetahui sifat asli ibu Fatimah, penampilan tersebut merupakan kedok.


“Ya sudah dulu, Pak. Saya harus membawa putri saya ke klinik terdekat.” Setelah pamitan kepada polisi di sana, pak Yusuf kembali balik badan, menatap sang istri yang sudah kembali datang dengan penampilan berbeda. Berbeda dari sebelumnya, kini sang istri sudah jauh lebih tenang. Ibu Fatimah bersikap, seolah semuanya baik-baik saja. Hingga dengan sangat mudah, wanita itu kembali berubah menjadi pribadi bersahaja.


“Mah, mereka tamu kamu. Aku mau ke klinik dulu,” pamit pak Yusuf.


Tanpa merespons pamit dari sang suami, ibu Fatimah langsung menerka-nerka. Kenapa sang suami menyebut polisi di depan sana merupakan tamunya? Dan kenapa juga harus ada Kalandra dan Arum? Juga, kenapa juga ibu Sumini malah memeluk Arum erat sambil terisak nelangsa, mengadu minta perlindungan kepada Arum? Terlalu banyak kemungkinan hingga yang ada, bu Fatimah makin bingung.


Setelah salah satu dari polisi menjelaskan, satu persatu pertanyaan yang memenuhi benak ibu Fatimah mengenai alasan semuanya ada di sana akhirnya terjawab.


“Innalilahi, bisa-bisanya kalian memfitnah saya? Baru juga keluar rumah dan itu pun untuk melakukan pengobatan kepada putri saya yang jatuh dan kepalanya terluka, kalian sudah mengatakan siang menuju sore hari ini, saya telah menggam-par saudara Arum?” ucap ibu Fatimah sambil menatap tak habis pikir wajah-wajah di sana.


“POTONG TANGAN SAYA JIKA SAYA TERBUKTI MELAKUKANNYA!” sergah ibu Fatimah meyakinkan. “Saya tidak mungkin melukai orang lain karena semacam melukai sekelas semut dan nyamuk yang menggigit saya saja, ... saya beneran enggak tega!” yakinnya sengaja bersedih demi membuat semuanya bersimpati.


“INSYA ALLAH, ceramah Ibu Fatimah akan mendapat banyak berkah sekaligus pahala, jika Ibu Fatimah melakukannya di penjara! Anggap saja ini bagian dari penebus dosa-dosa Ibu. Monggo dinikmati. Sebab, kesombongan sekaligus sifat arogan Ibu telah membuat Ibu mendapat kesempatan menginap di hotel prodeo! SELAMAT!” tegas Kalandra lantang. Ia menatap sadis ibu Fatimah yang masih memasang wajah sedih, seolah wanita itu hanya korban.

__ADS_1


“Pak, saya tidak bersalah!” yakin ibu Fatimah kepada polisi yang sudah mengeluarkan borgol dan tampaknya akan dipakaikan kepadanya.


“Kita jelaskan saja semuanya di kantor polisi, Bu. Maaf, tolong berikan tangan Ibu,” ucap si posisi.


“Hati-hati, Pak. Itu tangan terancam dipotong efek sumpahnya sendiri. Jadi tolong, tolong muliakan tangan-tangan itu walau sebentar, sebelum dipotong sama yang punya!” sergah Kalandra makin sinis. Tak semata karena ia telanjur muak pada orang munafik yang berlindung di balik penampilan bahkan agama sekelas ibu Fatimah. Sebab kenyataan ibu Fatimah yang tak segan menjadikan Arum sebagai korban, benar-benar membuatnya dendam. Kalandra sungguh tidak terima rahang calon istrinya sampai geser. Karena meski Arum juga tidak sampai mengeluh, Kalandra yakin seyakin-yakinnya, Arum sudah sangat kesakitan.


“Baik. Kita buktikan nanti di pengadilan. Dan andaipun hukum di dunia membuat saya menerima fitnah, saya percaya, hukum ALLOH akan jauh lebih adil apalagi bagi orang terzalimi seperti saya,” ucap ibu Fatimah benar-benar legowo.


Arum yang masih dipeluk ibu Sumini dan sampai sekarang tidak mau membalas karena memang tidak sudi, refleks menoleh sekaligus menatap Kalandra. Di waktu yang sama, ternyata pria itu juga menatapnya.


“Kok ada yah, Mas, orang kayak ibu Fatimah? Kok bisa-bisanya dia begitu tenang, drama banget. Apa yang seperti itu yang dinamakan psikopat? Terus, Mas percaya alasan Septi seka-rat seperti tadi memang karena jatuh?” lirih Arum.


“Yang seperti ini memang yang bahaya. Bahaya banget malahan. Apalagi kalau korbannya orang kecil dan lemah dalam segala segi. Soalnya kalau dilihat dari segi penampilan sekaligus perilaku, kebanyakan dari mereka yang beneran enggak kenal pasti enggak percaya kalau orang seperti ibu Fatimah, semengerikan itu. Penampilan sama perilaku ibu Fatimah beneran menipu, kan? Namun buat kita yang sudah terlibat kasus langsung dengan dia, yang ada kita sibuk nyebut.” Setelah sempat sangat emosi, Kalandra juga menjadi menahan senyumnya. “Ini sudah berapa kali kita diceramahi sama orang sakit? Ya Alloh, ada-ada aja.”


Arum turut sibuk menahan senyum. Kegelian seorang Kalandra langsung menular kepadanya. Ya Alloh, terima kasih banyak! Karena di tengah hidupku yang penuh cobaan sekaligus fitnah, Engkau mengirimkan mas Kala yang paham hukum dan selalu siaga membelaku! Batin Arum yang menjadi tertegun. Ia refleks menahan napas ketika tangan kanan Kalandra meraih rahang sebelah kirinya.


“Serius ini parah banget,” lirih Kalandra sangat menyayangkan keadaan rahang Arum. Menggunakan jempol tangan kanannya, ia mengelus pelan di sana. Dan baru ia sadari, kini ia tak hanya bersama Arum. Sebab meski polisi sudah kompak pergi membawa ibu Fatimah, di sana juga ada wanita tua lain dan bahkan tengah memeluk Arum. Wanita itu masih terisak, tampak jelas memohon perlindungan kepada Arum.

__ADS_1


__ADS_2