Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
138 : Rasa Cinta Spesial


__ADS_3

“Kamu masih belum jujur ke Fajar, kalau kita sudah enggak tinggal di rumah lama?” tanya ibu Fatimah di keesokan malamnya karena saat pagi akan berjualan, Septi belum bangun.


Kenyataan Septi yang malah melengos membuat ibu Fatimah yakin, putrinya masih saja berbohong dan tak kunjung jujur kepada Fajar. Karenanya, ia berangsur duduk di sebelah Septi, di kasur busa yang sudah menemani mereka sejak tinggal di sana.


“Sep, kalau Fajar jadi enggak mau nikah sama kamu karena kamu bohong, bagaimana?” tanya ibu Fatimah.


“Ya enggak mungkin, Mah. Ibaratnya, Mas Fajar sudah mentok ke aku. Sia sayang banget ke aku!” yakin Septi sambil menatap sang mamah.


Ibu Fatimah yang masih menatap sang putri penuh keseriusan lantas bertanya, “Terus ke Sepri?”


Septi menggeleng. “Kayaknya sih enggak Mah. Kami enggak pernah bahas apa-apa masalah anak. Karena jangankan mas Fajar, aku saja malas ke Sepri.”


Ibu Fatimah menghela napas pelan, menatap tak habis pikir sang putri dan memilih mengakhiri obrolan sekaligus pembahasan mereka. Apalagi ia sadar, berbicara apalagi sampai berdebat dengan Septi hanya sia-sia.


“Ya sudah. Kalau kamu mau nikah sama Fajar, nikah saja. Urusan Sepri, biar jadi urusan Mamah. Soalnya Mamah juga yakin, andai Sepri bisa ngomong, andai Sepri bisa memilih mau dilahirkan oleh siapa, Sepri pasti enggak mau dilahirin sama kamu. Lihat saja, sehari-harinya kamu enggak ngapa-ngapain saja, Sepri enggak keurus kalau bukan Mamah yang urus,” ucap ibu Fatimah.


“Kok Mamah bilang begitu?” kesal Septi.


“Akan ada waktunya kamu sadar karena Mamah bisa begini saja, setelah Mamah merasakan hidayah. Kalau sekarang, mau dipaksa seperti apa pun, kamu pasti enggak bakalan mau!” ucap ibu Fatimah yang kemudian benar-benar mengakhiri obrolan mereka. Bu Fatimah memilih pergi, membawa Sepri ke kamar mandi dan memandikan bayi tak berdosa itu dengan air hangat yang sebelumnya sudah ia siapkan. Karena seperti yang ia katakan, walau seharian Septi di kontrakan dan tidak melakukan apa pun, Sepri tetap tidak terurus. Popok sekali pakai yang Sepri pakai tak hanya penuh ompol, tapi juga ee yang ditumpuk dari pagi.


“Mulai besok Sepri ikut Mamah, Mamah yakin Sepri juga bagian dari rezeki Mamah. Kamu mau ngapain terserah, daripada Sepri makin enggak keurus dan kamu bisa dilaporkan ke polisi.”


Mendengar itu, Septi langsung mendengkus sebal. Ia tetap bertahan duduk di kasur busa sambil melanjutkan berkirim pesan WA dengan Fajar, pria yang tengah membuatnya selalu kasmaran.


***


Di kamarnya, Arum tengah duduk selonjor sambil memandangi perutnya yang sesekali dihiasi guncangan pelan. Guncangan yang terus berlangsung dan kadang berbarengan.


“Yang?” ucap Kalandra yang baru datang, membuat musik klasik untuk bayi yang Arum setel di ponsel langsung menyeruak keluar kamar.

__ADS_1


Arum langsung menoleh menatap sang suami. Cukup terkejut karena pria itu membawa salah satu taflon miliknya, tapi kehadiran Kalandra juga disertai aroma wangi khas roti panggang dan juga parutan keju. Arum yakin aroma wangi yang turut menyeruakan aroma bawang bombai, aroma daging sapi, paorika, jamur, lada hitam khas aroma pizza, bersumber dari taflon yang Kalandra bawa.


“Pizza taflon, Yang! Aku bikin khusus buat kamu! Enak!” ucap Kalandra.


Arum langsung tersipu dan berangsur menegakkan punggungnya menyambut kedatangan Kalandra yang juga langsung duduk di sebelahnya. “Tapi masa iya, taflonnya sampai dibawa-bawa?” Tanpa bermaksud meremehkan, Arum tetap tidak bisa untuk tidak menertawakan ulah Kalandra.


“Biar makin kerasa nuansa taflonnya, Yang. Namanya saja pizza taflon. Awas panas,” balas Kalandra yang meletakan lap untuk dasar meletakan taflonnya di nakas.


“Roti tawar yang disusun ya, terus disatuin pakai keju mozerella?” tebak Arum setelah melongok isi taflon yang tengah suaminya ambilkan untuknya.


“Kok kamu tahu?” Kalandra terheran-heran menatap sang istri.


“Kan aku lihat, Masse itu tuh ....”


“Oh iya, ... kamu kan koki dan sudah terbiasa masak. Semacam baru aroma apalagi sampai lihat, pasti kamu sudah tahu komposisinya.” Kalandra berangsur memberikan suapan pertama pizzanya kepada Arum. “Gimana, enak?”


Arum yang tengah mengunyah, mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Ini enak banget. Pakai bumbu cinta spesial, ya?”


Arum yang masih mengunyah, susah payah menahan tawanya. “Ya tahu lah, Mas! Aku kan istri Mas! Daripada tanya ke orang pinter sekelas dukkun, seorang istri jauh lebih paham suaminya! Mau kebiasaan termasuk watak suami, yang paling ngerti itu tetap istri!”


Lagi-lagi Kalandra tersipu. “Tapi jujur, bagiku ini enak sih. Makanya aku berani kasih ke kamu. Kalau rasanya enggak mendukung, mana berani aku kasih. Apalagi di perut kamu, lihat tuh mereka senam setiap waktu. Di perut kamu berasa ada sanggar yah, Yang!” Seperti biasa, sebelum benar-benar tidur, Kalandra akan sibuk dengan perut Arum yang tak jarang sampai diguncang-guncang olehnya saking gemasnya.


“Yang benar saja jangan diguncang gitu dong Mas!” omel Arum masih menghabiskan sisa pizzanya.


Di sebelah perutnya, Kalandra yang terbahak berangsur mendekap perut Arum. Kalandra menyemayamkan wajah maupun telinganya di sana.


Seseorang mengetuk pintu dari luar dan ternyata itu ibu Kalsum. Wanita itu membawa Aidan yang sudah terkantuk-kantuk dalam dekapannya.


“Ya Alloh, masa iya taflonnya sampai ada di situ juga?” ucap ibu Kalsum sambil menatap heran keberadaan taflon di sana.

__ADS_1


“Namanya juga pizza taflon, Mah ...,” balas Kalandra layaknya ketika Arum menegurnya.


Ibu Kalsum langsung menggeleng tak habis pikir kemudian menyerahkan Aidan kepada Kalandra.


“Mas juga masih makan pizza buatan Papah. Mau dihabisin apa mau langsung bobo?” lirih Kalandra sambil menimang Aidan, membawanya melangkah pelan meninggalkan kebersamaan di sana.


“Ya sudah kalian istirahat. Mamah juga istirahat. Ini yang di perut beneran, ya, enggak bisa diem!” pamit ibu Kalsum yang juga sampai mengusap-usap perut sang menantu. Apalagi makin hari yang di dalam perut Arum memang makin tidak bisa diam.


“Makasih banyak, Mah!” seru Arum sambil tetap menikmati pizzanya.


“Iya ....” Ibu Kalsum menutup pintu kamar Kalandra dengan sangat hati-hati mengakhiri kebersamaan mereka.


Kalandra yang masih mencoba menidurkan Aidan, berangsur menatap Arum. “Yang, besok tolong bikinin seblak ceker, ya?”


“Besok apa sekarang?” tebak Arum yang juga selalu siaga di setiap suaminya minta dibuatkan makanan atau minuman tertentu. Karena sejauh ini, masih Kalandra juga yang merasakan sebagian besar ngidamnya.


“Besok saja, Yang. Sekarang aku sudah kenyang banget!” dalih Kalandra yang berangsur melangkah pelan mendekati sang istri. Ia berangsur duduk di sebelah Arum, di temat sebelum sang mamah datang.


“Aku kok penasaran, kira-kira kenapa si Fajar beneran serius mau nikahi Septi, ya, Yang?” tanya Kalandra membuka obrolan mereka.


Arum langsung berpikir keras. “Jodoh kan cerminan diri, Mas. Dan mereka mirip banget. Ibaratnya, macam rahasia ilahi lah. Maaf ya bukan bermaksud menghina, tapi kalau dilihat dari segi fisik, sikap, sifat, sama materi Septi, itu sama sekali bukan kriteria Fajar banget. Aku bilang gini Mas juga tahulah korban-korban Fajar sebelumnya.”


“Nah iya gitu, makanya aku jadi heran sendiri,” balas Kalandra.


Arum tertawa. “Kita lihat saja sih, Mas.”


Kalandra mesem kemudian mengangguk-angguk. Ia mengalihkan tatapannya untuk mengawasi suasana sekitar. “Kamat ini terlalu sempit,” ucapnya yang sudah langsung dipotong oleh Arum.


“Enggak apa-apa, enggak usah ada renovasi-renovasi lagi. Nanti kan bisa langsung di kamat sebelah. Bolak-balik ke kamar sebelah enggak apa-apa daripada dijebol temboknya. Makan waktu dan makan biaya enggak sedikit. Mending uangnya ditabung buat masa depan. Buat biaya sekolah anak-anak contohnya,” ucap Arum meyakinkan. “Nanti aku sama Mamah pelan-pelan siapin kamar sebelah buat anak-anak kok. Semacam sebagian barang-barang mereka bakalan ditaruh sana. Kalau anak-anak ya tetap di sini. Pakai ranjang bayi nanti dijejer saja.”

__ADS_1


Menyimak itu, Kalandra langsung tersenyum hangat sambil mengangguk-angguk paham. “Jadi enggak sabar pengin cepat-cepat gendong mereka.”


“Tiga bulan lagi. Biarkan mereka lahir dengan normal!” balas Arum sambil mengelus-elus perutnya menggunakan tangan kiri yang tidak memegang pizza. Baru saja, Kalandra juga menuntun tangan kiri Aidan untuk meraba perut Arum. Bocah itu tampak belum paham, tapi akan menyimak setiap penjelasan Kalandra. Yang mana, Aidan juga akan ikut tersenyum atau bahkan tertawa di setiap Kalandra juga melakukannya. Benar-benar anak Kalandra, batin Arum.


__ADS_2