Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
225 : Masih Suasana Lebaran


__ADS_3

“Susahnya jadi duda, makan saja enggak ada yang masakin. Apalagi kalau tidur, boro-boro ada yang dikel*onin!” Pak Haji sengaja bernyanyi dengan suara lantang ketika memergoki dokter Andri pulang bersama Nissa dan juga pak Erdi.


“Mohon maaf lahir dan batin, Mbah!” ucap dokter Andri yang memang sudah kebal dengan ledekan pak Haji.


Pak Haji yang tengah keliling di halaman depan kontrakan, langsung sibuk menggeleng sembari menyilangkan kedua tangannya bak super hero akan berubah. “Jangan minta maaf dulu, Pak Dokter! Soalnya saya mau bikin dosa lebih banyak lagi ke Pak Dokter. Barulah nanti setelah saya puas bikin dosa, kita tinggal halalbihalal!” yakin pak Haji. “Yuk makan opor sama ketupat dulu. Ibu Fatimah janda kesayangan bikin opor yang rasanya aduhai kayak kecantikannya!”


Dokter Andri dan sang papah refleks menahan tahan mereka.


“Namun walau mamahnya jago masak, yah, Dok. Septi beneran minus urusan masak. Dia cuman jago makan, biar pas nyeruduk sama ban*ting, dia ada tenaga!” ucap pak Haji yang kemudian berkata, “Ayok ... ayok, ikut ke rumah. Yang lain dan kebetulan enggak ada acara di luar pun, sudah bergabung di sana Yuk Nissa sekalian. Nanti Pak Haji kasih amplop gendut, tapi enggak segendut Septi, ya!”


Separah apa pun pak Haji dalam bersikap, pada kenyataannya pria itu memiliki sisi baik kepada sesama yang patut diacungi jempol. Dokter Andri yang awalnya serba punya, tapi harus menjalani kehidupan yang serba kurang, selalu merasa terenyuh di setiap menerima kebaikan pria tua itu.


“Ciee Septi langsung deg-degan gara-gara dokter Andri datang!” ledek pak Haji pada Septi yang tengah makan opor di meja makan bersama anggota keluarga yang lainnya.


Septi menggeleng tak habis pikir. “Pak Gede ih, biasa saja kenapa!”


“Lah, yang biasa saja harusnya kan kamu. Itu kenapa sampai nangis gitu?” balas pak Haji sampai melongok wajah Septi. Janda yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri itu memang sampai menangis.


“Ini kepedasan Pak Gede. Gara-gara kasih sambalnya kebanyakan!” sebal Septi masih kebanyakan.


Dokter Andri mengambil segelas teh hangat manis, kemudian memberikannya kepada Septi.

__ADS_1


“Ciiee ... ciee ... cieee! Fuiwittt!” Pak Haji heboh, padahal yang digoda biasa saja.


“Minumnya jangan air es terus karena bukannya reda, minum air es malah bikin efek pedasnya makin bertambah!” ucap dokter Andri. “Terus kalau memang itu terlalu pedas, jangan dilanjutkan takutnya malah bikin lambung kamu enggak kuat.”


Septi mengangguk-angguk sanggup. Masih santai saja karena Septi tahu, dokter Andri tipikal orang baik yang akan selalu baik pada siapa pun, termasuk itu kepada Septi. Ledekan yang pak Haji lakukan, sama sekali tidak mempan.


Mereka makan di meja yang sama. Meja bundar berbahan kaca tebal dan ditemani langsung oleh kedua istri pak Haji.


“Gini loh, Dok. Saya lihat, dokter kan sampai buka praktik di kontrakan. Gimana kalau saya bikin klinik, terus Dokter Andri yang urus?” ucap pak Haji.


Mendengar itu, jantung dokter Andri seolah lepas dari posisi semestinya. Bahagia, dokter Andri sungguh merasakannya.


“Enggak usah ditanya, Pak Gede. Sudah langsung dibuatin klinik saja dokter Andrinya. Pasti dijamin maju kliniknya. Nanti kalau enggak maju, aku bantuin majuin dengan cara tak gendong kliniknya!” ucap Septi yang kemudian langsung tertawa.


“Kalau begitu, oke, ya?” ucap pak Haji memastikan dan benar-benar semringah.


Dokter Andri langsung mengangguk-angguk sanggup kemudian tak hentinya mengucapkan terima kasih.


“Sama-sama, Dok. Biar kita sama-sama maju, yah!” ucap pak Haji sangat ceria. “Ayo, dihabiskan, tapi wadah dan gerabahnya jangan! Takut cacingnya pada sakratulmaut enggak bisa giling gara-gara terlalu keras!” Lagi, ia tertawa.


Septi yang sudah lemas karena sibuk tertawa, sengaja mengeluarkan ponselnya. Ia memeriksa aplikasi WA-nya, hingga ia memergoki status WA Arum.

__ADS_1


“Lihat, Pak Gede!” heboh Septi memamerkan ponselnya yang dihiasi status WA Arum dan berisi foto lebaran Arum sekeluarga lengkap dengan rombongan dari Jakarta.


“Arrrrrghhh!” Pak Haji langsung histeris, tak sanggup melihat layar ponsel Septi. Akan tetapi, tetap saja pria itu curi-curi kesempatan untuk melirik layar ponsel Septi. “Itu si Widy, kan? Kenapa jadi secantik itu!”


Pak Haji jadi uring-uringan. “Kenapa janda idamanku makin menggoda di setiap mereka dinikahi laki-laki lain!”


“Pak Gede memang pekok!” ucap Septi yang kemudian ngakak sambil membawa mangkuk opornya pergi dari sana.


“Widy benar-benar sudah bahagia. Syukurlah, memang seperti ini yang aku inginkan. Enggak kebayang kalau aku memaksanya bersamaku. Yang ada pasti hidupnya sengsara, apalagi mamah yang otomatis enggak tinggal diam!” batin dokter Andri.


“Disusulin saja, enggak usah bingung. Biar sekalian halalbihalal!” tegur ibu Fatimah yang sesekali menyuapi Sepri dan kali ini ia biarkan duduk sendiri di sebelahnya.


“Hah? Kamu minta dihalalkan, Fat? Ayolah langsung ke KUA bareng calon pengantin lain yang sudah pada antre!” ucap pak Haji mendadak bersemangat menatap wanita bercadar hitam di hadapannya.


Ibu Fatimah langsung geleng-geleng. Ia sudah terbiasa mendapatkan rayuan gombal pak Haji. Jadi rayuan yang kali ini sengaja ia anggap sebagai angin lalu.


“Sep, mau ikut lebaran ke rumah Kalandra enggak? Nanti kita ke sananya rame-rame naik mobil, tapi kamu duduk di atap biar aman enggak bikin yang lain kesempitan!” lanjut pak Haji sengaja berteriak lantaran Septi tengah meracik opor baru, di meja prasmanan yang ada di sebelah.


“Tapi sebelum ditaruh di atas mobil, dikasih garam dulu yah, Pal Gede. Garamnya pakai yang krosok, biar jadi asinan manusia!” ucap Septi santai-santai saja.


“Kayaknya kalau kamu jadi gesek (ikan asin) rasanya enak banget yah, Sep! Daripada dijadikan istri! Hahahaha!” balas pak Haji tak lagi galau. Meski setiap ia kembali teringat foto Widy dan Sekretaris Lim yang memang sangat romantis, ia kembali menjadi kembali galau parah.

__ADS_1


Pada akhirnya, mereka sungguh mengunjungi kediaman orang tua Kalandra. Pak Haji sampai memboyong kedua istrinya. Sementara Septi yang diajak walau tak sampai ditaruh di atap mobil layaknya rencana awal, sengaja memboyong sang anak maupun sang mamak.


Dokter Andri juga tak kalah berlapang dada. Pria itu sengaja mengemudikan motornya, membawa sang papah yang ia bonceng di belakang, juga Nissa yang ia bonceng di depannya, ke kediaman orang tua Kalandra untuk halalbihalal bersama rombongan pak Haji.


__ADS_2