Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
248 : Jadi Liburan Ke Yogyakarta


__ADS_3

“Kamu habis makan orok, apa gimana? Itu bibir kenapa mirip darah begitu? Nanti yang ada dikira ondel-ondel mau m4ngkal!” tegur pak Haji ketika mendapati Anggun yang sempat mondar-mandir di depan kontrakan dokter Andri. Ia yang baru keluar dari kontrakan Septi, otomatis memergokinya.


Beda dari biasanya, kini Anggun tak sampai marah apalagi m3ngamuk. Wanita itu hanya tersipu malu kemudian kembali fokus menatap pintu kontrakan dokter Andri.


“Kayaknya memang ada yang enggak beres!” pikir pak Haji. “Jadi kemayu begini ... atau jangan-jangan, kes4mbet pas garap sawah, ya?” pikir pak Haji yang langsung terkejut karena dari dalam kontrakan dokter Andri, pintunya mendadak dibuka.


“Kenapa kalian hadi aneh begini? Ini yang satu jadi mirip ondel-ondel mau m4ngkal. Yang satunya lagi mendadak heboh padahal biasanya seadem es teh manis!” keluh pak Haji.


Dokter Andri menghela napas dalam kemudian menggeleng tak habis pikir. Ia minta maaf kepada pak Haji sekaligus meminta keamanan di sana diperketat.


“Mbak Anggun ngejar-ngejar saya terus, Pak Gede. Terus kemarin juga, ada pasien saya ibu-ibu sedang antar anaknya periksa di sini, eh dij4mbak sama Mbak Anggun. Mbak Anggun bersikap seolah dia istri saya. Dan saya merasa sangat terganggu!” tegas dokter Andri. “Ini saya berani keluar begini juga karena ada Pak Gede. Kalau sendiri mana berani. Takut saya diterk4m atau malah dip3rk0sa Mbak Anggun!”


Pintu kontrakan Septi baru saja dibuka dari dalam. Dengan segera, Sepri yang merangkak begitu cepat kabur kemudian melipir berpegangan pada bangku di sana hingga bocah itu bisa sepenuhnya berdiri. Hampir semua yang ada di sana langsung menjadikan Sepri sebagai fokus perhatian, termasuk juga Anggun yang sampai melirik sinis Sepri. Lain dengan ibu Fatimah yang baru keluar dan langsung menyikapi keadaan dengan serius. Ibu Fatimah menanyakan kembali keluh kesah dokter Andri yang tadi ia dengar sempat berkeluh kesah.


“Makin enggak jelas saja sih tingkah kamu, Nggun,” tegur ibu Fatimah sampai geleng-geleng menatap Anggun.


“Yang penting kan pekerjaan di sawah sama beres-beres rumah, sudah beres lah Bu Fatimah!” balas Anggun berusaha melakukan pembelaan diri.


“Ya bukan berarti kamu malah bikin warga kontrakan apalagi dokter Andri ketakutan begini,” tegas ibu Fatimah. “Pokoknya saya enggak mau tahu, ya. Saya enggak suka kalau warga kontrakan saya jadi enggak nyaman gara-gara sikap kemayu kamu!”

__ADS_1


Ketegasan ibu Fatimah membuat dokter Andri merasa sedikit lega.


“Ibu Negara dilawan,” lirih pak Haji sambil memalingkan wajah bahkan perlahan memunggungi istri barunya.


“Anggun, kamu maksud enggak kalau saya sedang menegur kamu?” kesal ibu Fatimah.


Dengan santainya, Anggun yang memang langsung kesal kepada ibu Fatimah sengaja berkata, “Enggak!” Ia menatap ibu Fatimah dengan tatapan menantang.


Ibu Fatimah menggeleng tak habis pikir menahan amarah yang langsung membuncah hingga ia sibuk istighfar. “Mbah ini diurus, dong. Peliharaan kamu!” kesalnya melampiaskannya kepada sang suami.


Anggun langsung tersinggung gara-gara disebut peliharaan oleh ibu Fatimah.


“Ibu Fatimah kalau bicara yang sopan, ya. Apa maksudnya bilang aku peliharaan?!” sewot Anggun.


“Mamahku bilang begitu karena sudah terlalu gedek ke kamu. Kamu tahu gedek, kan? Kebangetan! Sebenarnya apa yang kamu cari? Otak kamu itu isinya apa selain malas dan nyusahin orang?” lanjut Septi.


Ibu Fatimah menghela napas pelan sekaligus dalam. “Kalau memang dalam satu minggu ke depan, dia masih seenaknya, sudah dilepas saja, Mbah. Buat apa bantu orang ndablek macam dia? Jangankan terima kasih, mikir saja dia enggak!”


“Nah, iya ... kalau satu minggu lagi dia masih begini, sudah terserah dia. Jangan izinin dia di sini atau sekadar memasuki wilayah sini. Urusan dia termasuk anaknya, terserah. kalau memang dia tetap begini, mending anaknya suruh diadopsi orang saja karena mereka juga berhak memiliki hidup waras!” tambah Septi.

__ADS_1


Bukan hanya Septi dan ibu Fatimah yang penasaran karena dokter Andri dan pak Haji juga. Apakah tantangan yang Ibu Fatimah dan Septi berikan, bisa membuat Anggun berubah?


Ketika petang menjelang malam, keluarga kecil Septi harus disibukkan dengan menghadapi Anggun, hal yang manis bahkan indah justru tengah dirasakan keluarga kecil Arum. Bersama ketika anak mereka, Arum dan Kalandra tengah menikmati waktu santai di balkon hotel mereka menginap yang ada di Yogyakarta.


Mereka tengah duduk di karpet empuk. Aidan sibuk mencoba mengajak kedua adiknya mengobrol. Azzam dan Azzura yang sudah bisa diajak berinteraksi, menjadi kerap tersenyum merespons setiap usaha Aidan. Sementara baru saja, Kalandra mulai mengabadikan interaksi manis ketiga anaknya melalui bidik kamera. Termasuk mengabadikan momen Arum yang dengan hati-hati menyalakan lilin aroma terapi di sekitar mereka.


Selain manis sekaligus romantis, suasana di sana memang sangat tenang. Meski ketika mereka melongok keluar termasuk ke bawah, hiruk-pikuk di daerah istimewa dalam negara mereka, benar-benar ramai dan memang nyaris jarang lengah.


“S-sayang, kamu ke anak-anak dong biar aku foto sekalian,” pinta Kalandra.


Arum langsung mesem kemudian bergegas duduk di antara Azzam dan Azzura yang tiduran di tengah-tengah karpet. Arum sengaja memangku Aidan yang sudah sangat pintar bergaya jika sudah di depan kamera.


Setelah beberapa kali mengabadikan kebersamaan istri dan anak-anaknya, Kalandra juga sengaja bergabung dengan keempatnya. Kalandra meninggalkan kameranya di tempat kamera khusus dan akan merekam kebersamaannya dengan keluarga kecilnya. Kalandra sengaja duduk sila di sebelah Arum kemudian mengambil Aidan yang ia taruh di pangkuannya.


“Nanti, kalau semuanya sudah sebesar sekaligus seaktif Mas Aidan, mana bisa kita romantisan leluasa. Wajib pintar curi-curi kesempatan pokoknya!” ucap Kalandra sambil memeluk pinggang Arum dari samping, sementara yang dipeluk langsung tersipu.


Adanya mereka di Yogyakarta memang tak luput dari rombongan Tuan Maheza dan Sekretaris Lim. Mereka tengah liburan bersama menikmati sisa liburan lebaran mereka. Meski tentu saja, mereka menginap di kamar berbeda. Termasuk dengan pak Sana dan ibu Kalsum yang ada di kamar sebelah. Namun ketika untuk bepergian layaknya beberapa menit kemudian, mereka akan berbagi tugas mengasuh anak. Kadang Azzura bersama sang papah, atau bersama Arum, atau kakek neneknya.


“Bumil aman?” tanya Kalandra kepada Widy yang duduk di hadapannya.

__ADS_1


Mereka tengah menikmati makan malam di salah satu restoran lesehan dan di dalamnya sampai dihiasi hiburan musik sekaligus lagu Jawa.


Widy yang awalnya sedang menahan mual gara-gara ikan goreng tepung yang dimakan, langsung terusik. Ia menatap Kalandra sambil menahan tawanya. “Kurang rame kalau enggak ada pak Haji!” ucap Widy sambil menahan tawa, tapi ucapannya itu langsung dibenarkan oleh semuanya termasuk ibu Kalsum yang biasanya paling aktif mengomel ke pak Haji.


__ADS_2