
Kue lebaran memenuhi meja ruang tamu dan keluarga. Aneka opor dan masakan khas lebaran juga tengah Arum siapkan di meja makan. Ada opor dan juga ketupat, selain aneka pelengkap lainnya. Ditemani ocehan dari kedua bayinya yang ada di dalam troli, pagi ini urusan makanan sudah Arum selesaikan.
“Kangen suasana sahur lagi,” keluh Kalandra yang melangkah sambil memasang kancing koko lengan pendek warna lilac-nya. Ia merengek bak bayi, membiarkan Aidan lari ke samping menghampiri pak Sana.
Arum tersenyum hangat memandangi wajah suaminya. Satu bulan telah berlalu dan mereka lewati penuh warna. Banyak kejadian tak terlupakan di bulan puasa pertama mereka sebagai suami istri, walau Arum tak ikut menjalani puasa maupun salat tarawih layaknya anggota keluarga lain.
“Bismilah, bulan puasa besok lebih berwarna!” ucap Arum.
“Asal pak Haji masih hidup, saja!” celoteh ibu Kalsum yang baru datang dan juga memakai nuansa lilac yang memang mereka pilih menjadi warna pakaian keluarga mereka di hari yang fitri kini.
Walau semuanya kompak tertawa, pak Sana tetap menegur sang istri agar lebih menjaga ucapannya.
“Orang kayak pak Haji harusnya sih panjang umur. Ada ciri-ciri khususnya, kan?” ujar Kalandra yang kemudian juga berkata, “Kasihan. Dari awal puasa sampai puasa berakhir, tetap belum dapat janda pengganti.”
“Orang pilih-pilih. Andai mau sama sembarang janda, khususnya yang sudah berumur dan banyak tanggungan, pasti ya dapat!” sela ibu Kalsum yang kemudian mengemban Azzam. “Mamah mandi dulu, biar semuanya rapi.”
Arum langsung mengangguk-angguk paham kemudian pamit.
“Sayang, Widy sudah sampai mana? Kena macet, enggak?” tanya Kalandra sembari mengemban Azzura yang juga sudah memakai seragam gamis warna lilac lengkap dengan ciputnya.
“Bentar lagi paling sampai, Mas!” ucap Arum semringah. Ia sungguh bahagia karena setelah beberapa minggu terpisah, akhirnya mereka bisa bertemu bahkan bersama lagi.
__ADS_1
Tak hanya Arum yang merasakan kebahagiaan atas lebarkan dan tengah berlangsung. Karena Kalandra dan orang tuanya juga makin bahagia karena mudiknya Widy sekeluarga, menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Arum. Semenjak Widy sekeluarga beserta ibu Rusmini pergi, Arum telah menahan rindu yang kadang membuat wanita itu sibuk melamun atau malah tiba-tiba menangis.
“Mas Aidan, buka pintu dulu yuk! Bentar lagi nini Mas sampai!” ucap pak Sana ceria mengajak Aidan untuk ceria juga. Terbukti, bocah itu langsung menirukannya.
“Tapi kalau kejebak salat idul fitri ya bisa lebih dari perkiraan, Mbak. Coba dihubungi lagi. Biasanya sebelah jalan raya sama yang dekat gang kalau lewat belakang. Biasanya kan, salatnya sampai ke jalan-jalan,” ucap ibu Kalsum.
Arum yang awalnya akan masuk kamar, refleks menghentikan langkahnya. “Ah, iya, Mah!” ucapnya sembari menatap sang ibu mertua.
Sekitar satu jam kemudian, tak lama setelah Kalandra dan orang tuanya pulang dari salad idul fitri, dan mereka pun langsung halalbihalal di rumah, rombongan Sekretaris Lim datang. Mereka pulang bersama rombongan Tuan Maheza menggunakan mobil besar masing-masing.
Dari segi penampilan, Widy dan anak-anaknya termasuk ibu Rusmini sudah sangat berbeda. Kulit mereka terlihat jauh lebih bersih bahkan putih, selain pakaian mereka yang tentu saja sudah berkelas.
Air mata kebahagiaan tumpah mengiringi dekap erat yang mempersatukan mereka dalam kebersamaan penuh haru.
“Di sana sampai ke jalan-jalan, kan? Tapi walau ceramahnya belum beres, asal salat sudah beres, tahu-tahu sudah bubar kan yang di jalan?” ucap Kalandra yang mengakhirinya dengan tertawa.
Sekretaris Lim yang kini merasa jauh lebih dekat dengan Kalandra sekeluarga, mengangguk-angguk. “Bener. Aku sama Widy sempat bingung, orang-orang pada ke mana? Kok jalan sudah bersih?” ucapnya sembari menahan tawa, membiarkan sang istri kembali memeluk Arum sangat erat.
Mereka segera mengabadikan kebersamaan mereka melalui bidik kamera. Baik yang berupa foto maupun video.
“Ya sudah, ayo makan ketupat dulu!” sergah ibu Kalsum bersemangat.
__ADS_1
“Mamahnya anak-anak, masak banyak banget. Dari sore, Mas sampai ikut bantu isi beras ke kupat. Potong ini itu, heboh pokoknya!” cerita Kalandra sambil merangkul mesra sang istri masuk ke bagian rumah lebih dalam bersama rombongan.
“Kalian beneran mau nginep lama, kan? Terus, nginepnya di mana?” Arum mulai bawel. Apalagi tidurnya si kembar membuatnya melakukan segala sesuatunya dengan leluasa.
“Kami menginap di hotel sekalian mau liburan. Namun tiga hari lagi kami mau ke Yogakarta!” cerita Widy ceria dan memang melangkah di sebelah Arum sambil menggandeng sang suami.
Mendengar itu, Arum langsung cemberut iri. Tampang yang benar-benar manja. Buru-buru ia menoleh menatap sang suami. “Aku juga mau ke Yogyakarta, Pah!” bisiknya merengek.
“Tentu! Sekalian bulan madu lagi!” balas Kalandra sembari tersenyum ceria.
Arum langsung tersenyum tak kalah ceria. Malahan, Arum langsung kegirangan sembari mendekap Kalandra dan sampai menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu. Widy langsung geleng-geleng melihat tingkah kakaknya yang lebih manja dari wanita yang sedang mengidam.
“Nanti sore kami mau ke makam Resty, Mbak mau ikut sekalian, enggak?” lanjut Widy.
Arum berangsur menggeleng sembari menatap Widy. “Belum empat puluh hari dari lahiran, Mbak belum berani ke makam. Kemarin saja, yang ke makam bapak sama anak-anak, hanya mas Kala. Mbak belum ikut.”
Berbeda dengan kehangatan idul fitri di kediaman keluarga Kalandra, di kediamannya, ibu Muji yang masih duduk di kursi roda, malah menolak kehadiran dokter Andri yang memboyong Nissa dan pak Erdi.
“Yang Mamah cari dari keegoisan Mamah apa, sih?” kesal dokter Andri sembari menggeleng tak habis pikir. “Mamah sudah begini, masih saja enggak sadar kalau apa yang Mamah alami, merupakan teguran dari Alloh!”
“Sudah sana, pergi. Bukankah kalian bilang, kalian jauh lebih bahagia tanpa Mamah! Buktikan! Buktikan kalau tanpa harta Mamah pun, kalian bisa bahagia!” balas ibu Muji yang sekadar berbicara saja susah hingga bibirnya miring-miring.
__ADS_1
Dokter Andri yang tak mau melukai hati putrinya lag, berangsur mengangguk-angguk. “Baik, Mah kalau ini memang maunya Mamah! Karena seperti yang selama ini kami rasakan, tanpa Mamah dan semua keegoisan Mamah, kami jauh lebih bahagia. Kami sangat bahagia bahkan tanpa kemewahan dari Mamah. Lihat klinik Mamah, klinik yang awalnya sangat ramai itu nyaris tutup karena aturan tak manusiawi yang Mamah terapkan!”
Dokter Andri meninggalkan ibu Muji begitu saja di ruang keluarga. Namun, tidak ada sedikit pun penyesalan yang terlihat dari ibu Muji. Wanita itu tetap mempertahankan keegoisannya tanpa peduli pada hal lain termasuk keutuhan keluarganya. Karena baginya, harga dirinya jauh lebih berharga dari apa pun.