Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
36 : Ibu Kalsum yang Tak Mau Ikut Campur


__ADS_3

Tak pernah terpikirkan bahkan sekadar membayangkannya, Arum akan di posisi sekarang. Ia yang baru saja meledak-ledak memberi Fajar pelajaran sekaligus peringatan keras, ternyata memergoki Kalandra, menjadi bagian dari saksi. Tak main-main, pria itu tak datang sendiri. Kalandra dan sang ibu berdiri di lorong menuju kantin.


Padahal yang Arum tahu, harusnya Kalandra di tempat lain, setelah beberapa jam lalu pria itu mengabarkan hasil dari persidangan perceraiannya. Dan kini, ketika tatapan mereka tak sengaja bertemu, Arum menjadi merasa agak gugup. Di depan sana, Kalandra yang sampai jongkok menahan tangan kiri Fajar yang berusaha menyeret kaki kanan ibu Kalsum, berangsur menuntun Fajar untuk berdiri.


“Ibu ke sini sendiri enggak mau, Mbak. Tadi, aku baru mau ke makam, langsung buru-buru disuruh pulang, dan ternyata Ibu minta diantar ke sini.” Kalandra duduk dengan lesu kemudian memeriksa ponselnya dan baru ia keluarkan dari saku bagian dalam jas depan dadanya.


“Mbak Arum, itu tadi ceritanya gimana? Beneran, kalian kenal? Ih, ada laki-laki macam gitu! Berasa pengin geprek kepalanya pakai gadanya Duryodana!” ucap ibu Kalsum.


Arum langsung tersenyum masam. “Itu temannya mantan suami saya, Bu. Di kerja di bang ... yang di sebelah pasar C, tempat dulu aku jualan nasi.”


Kalandra yang masih sibuk dengan ponselnya dan tengah mengecek setiap pesan masuk di WA-nya, berkata, “Mbak Arum bilang jualan nasi, tapi di sana ramenya enggak kira-kira, lho, Bu. Semacam nasi kotak pesanan juga harus bikin janji dulu. Jatah nasi kotak yang buat pabrik pun jadi aku kasih ke dia karena memang orang pabrik langsung cocok.”


Dipuji oleh Kalandra, Arum makin gugup. Ia melirik Kalandra sambil menahan napas. “Mas Kala berlebihan.”


“Yo wis, nanti beres kontrak di sini, langsung buka restoran!” ucap ibu Kalsum bersemangat.


“Eh, ya belum sanggup, Bu. Balung cilik ya pelan-pelan.” Arum makin gugup dan menjadi sibuk tersenyum masam.


“Kalau gitu saya yang modalin, terus Mbak Arum yang jalanin, gimana? Mau enggak?” todong ibu Kalsum yang memang telanjur cocok dengan masakan Arum. Kini saja, alasannya memaksa Kalandra mengantarnya ke sana, memang karena ia butuh masakan Arum dalam jumlah besar.

__ADS_1


“Nanti buat acara empat puluh hari, juga pesan dari kamu saja, yah, Mbak. Soalnya sewa tukang masak pun sama saja. Paling nanti di rumah khusus buat kue-kue saja. Apa kamu juga bisa urus pesanan roti, Mbak, biar sekalian?” lanjut ibu Kalsum.


Arum langsung tidak bisa berkata-kata. Sebab saat untuk acara tujuh hari meninggalnya Bilqis saja, sudah membuatnya kewalahan karena harus mengurus hampir empat ratus nasi kotak. Apa kabar jika sampai membuat kue, tapi Arum juga tak enak jika menolak.


“Jangan, Bu. Kuenya di rumah saja, rame-rame sama warga sama keluarga, buat jaga kerukunan kita juga. Lagian takutnya Mbak Arum memang enggak sanggup, tapi enggak berani menolak. Kasihan Aidan juga kalau Mbak Arum terlalu sibuk,” ucap Kalandra yang masih sibuk dengan ponselnya.


Lagi-lagi, Arum yang menjadi tidak bisa banyak bicara seperti saat tadi wanita itu mengomel panjang lebar kepada Fajar, tersenyum masam. Arum memilih fokus menyusun setiap nasi kotak pesanan dadakan dari ibu Kalsum. Ibu Kalsum sengaja memesan untuk acara mengaji rutin yang digelar di rumah ibu Kalsum.


“Untung sayur sama lauknya baru pada mateng, ya, Mak. Masih seger gini. Berarti nanti ini kamu masak lagi, apa sudah, Mbak?” tanya ibu Kalsum.


“Masak lagi, Bu. Kebetulan setok sayur buat besok sudah diantar. Pakai stok itu dulu, terus yang buat besok paling pesan lagi,” jelas Arum.


“Iya, Bu. Masih langganan yang pas di warung. Sekarang mereka antarnya ke sini.”


Mendengar itu, ibu Kalsum mengangguk-angguk. “Ini nanti Mbak ada masak sayur belut cabe hijau lagi enggak? Kalau bisa, saya pesan juga tapi bukan buat nasi kotak, yah, Mbak.”


Di tengah kesibukan Arum yang makin sibuk karena ibu Kalsum yang sibuk mengajak wanita itu mengobrol, Kalandra malah kepikiran pada Aidan. Di mana bocah itu, kenapa saat ia melongok ranjang bayi di sebelah Arum dan biasanya menjadi tempat Aidan, di sana malah kosong.


“Si Aidan di mana, Mbak?” sergah Kalandra serius yang jujur saja khawatir.

__ADS_1


Arum yang langsung menatap Kalandra meski kedua tangannya tengah mencetak nasi menggunakan mangkuk, berkata, “Itu di taman sama Rani, Mas. Rani kan libur sekolah, nah dia daftar khusus buat jaga Aidan. Perhari ini sampai dua minggu ke depan, Aidan punya pengasuh dadakan selama dua puluh empat jam karena Raninya juga mau-mau saja nginep. Lagi belajar buat dapat penghasilan sendiri katanya.”


Kalandra mengangguk-angguk, kemudian pamit untuk menemui Aidan.


“Kalau kamu banyak orderan, kamu juga ada yang bantu, kan, Mbak?” tanya ibu Kalsum masih mondar-mandir di sekitar Arum sambil menikmati sayur beningnya.


“Iya, Bu. Bayar orang. Orang sini saja, sih. Mas Kala bilang, aku harus bisa mengatur semuanya biar aku kerjanya enggak setengah mati dan selain aku masih bisa istirahat, Aidan juga tetap terurus.”


Hubungan mereka memang dekat. Arum yang pekerja keras dan memang sopan, sedangkan Kalandra orangnya memang sebaik itu. Pantas mereka cocok. Apalagi, sepertinya Aidan juga sudah jadi obat mujarabnya Kala, pikir ibu Kalsum dan memang tidak mau ikut campur hubungan Arum maupun Kalandra, walau Kalandra merupakan putranya. Toh, ia percaya, baik Arum maupun Kalandra sudah sama-sama dewasa. Arum dan Kalandra bukan manusia yang bisa dengan mudah menerobos peraturan.


Arum dan Kalandra sama-sama terluka walau penyebabnya tidak sama. Arum baru cerai karena suaminya yang dakjal, sementara Kalandra ditinggal istrinya yang meninggal, batin ibu Kalsum lagi yang diam-diam mengamati wajah Arum. Cantik, Arum juga bukan yang suka dandan neko-neko. Bibirnya saja enggak pakai gincu merah. Cuma pakai lipstik warna kalem itu saja bukan yang tebal, beneran tipis. Aku suka cara pikir Arum, termasuk ketegasannya pas ngomel kayak tadi ke teman mantan suaminya, batin ibu Kalsum lagi.


Tatapan ibu Kalsum teralih dari Arum lantaran di depan sana, Kalandra datang mengemban Aidan. Sementara di belakang Kalandra, ada Rani yang bahu kanannya masih dihiasi jarit panjang berwarna merah.


“Ran, ... sini sambil makan,” sergah Arum yang mendapati kedatangan Rani.


“Ih Mbak Arum, aku disuruh makan terus. Ini jadi gendut gini akunya. Perutku jadi ada lipatan,” keluh Rani.


Balasan jujur Rani tak hanya membuat Arum tertawa. Sebab Kalandra yang sedang menimang Aidan juga refleks menahan tawanya. Lain dengan ibu Kalsum yang malah mendadak wawancara kepada Rani.

__ADS_1


“Takut pacarnya pangling yah, Nduk, makanya kamu enggak mau makan? Takut gendut, gitu?” ucap ibu Kalsum dan membuat Rani makin salah tingkah.


__ADS_2