Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
167 : JANDA OH JANDA!


__ADS_3

“Septi ini punya tenaga sekuat badak sekaligus banteng, walau tubuhnya enggak lebih seksi dari gajah! Jadi, kalau kamu mau istri pekerja keras dan cocok diajak banting tulang sekaligus hidup susah, Septi lah jawabannya. Septi orang yang sangat tepat buat diajak hidup melarat!” Pak Haji masih berusaha meyakinkan sekaligus promosi Septi.


Kalandra, Arum, Widy, termasuk ibu Fatimah sudah langsung menahan tawa mendengarnya.


“Pak Gede ... bisa-bisanya, promosi kok bikin banting harga!“ sebal Septi sambil melirik sebal pak Haji.


Pak Haji berangsur menghela napas dalam sambil menatap Septi. “Biasa lah, Sep. Promosi tanpa bayaran ya kayak gini. Yang penting usaha syukur-syukur yang dikasih promosi, mau!”


“Bukannya mau yang ada takut!” sebal Septi.


Dokter Andri sengaja berdeham lantaran ia hendak mengambil pembicaraan. Setelah sampai meminta maaf, mohon izin untuk bicara, akhirnya ia berkata, “Daripada tukar tambah janda, mending mulai dari sekarang, Mbah banyak-banyak berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan sebelum ajal telanjur datang!” tegas dokter Andri serius.


“Kalau sama dia, jangan seserius itu. Sia-sia!” bisik Kalandra yang menjadi sibuk menahan tawa.


“Asal sama janda, katanya sakratulmautnya bisa didelay, Mas Andri! Sudahlah, harap maklum saja. Gini-gini Pak Gede saya orangnya baik, kok. Enggak berabies juga!” ucap Septi.


“Kok rabiesnya sampai dibawa-bawa?” protes pak Haji kepada Septi yang langsung ia tatap sebal.


Menghela napas dalam, Septi berkata, “Yang penting usahanya dulu kan, Pak Gede?”


“Kalau begitu, kita berarti sudah satu-satu, yah, Sep?” sergah pak Haji dan Septi yang masih menatap sekaligus menyimak, langsung mengangguk.


“Okelah, kalau gitu. Satu-satu, aku sayang janda. Dua-dua, tetap sayang janda. Tiga-tiga, tunggunya jangan lama-lama. Satu, dua, tiga, hei janda ayo kita nikah saja!” lantun pak Haji sambil tersenyum tak berdosa bak bayi kepada Widy.


“Innalilahi, Mbak. Untuk aku enggak lagi hamil. Enggak kebayang kalau jadi Mbak, apalagi kalau dia ke sininya juga tiap hari!” bisik Widy yang juga sudah sibuk menahan tawa. Jangankan ia, dokter Andri yang awalnya tegas juga sudah mesem apalagi Kalandra dan Septi, termasuk Arum, sudah terbahak selemas-lemasnya.

__ADS_1


“Ya sudah, sini-sini. Kamu duduk di sini!” Arum merengkuh Widy, memperlakukannya bak bocah. Ia membimbing Widy untuk kembali duduk di bekasnya duduk.


Alasan Arum begitu menjaga Widy dari godaan pak Haji lantaran, Arum pernah ada di posisi Widy dan rasanya sangat tidak nyaman. Ditunggui tanpa kenal waktu dan sampai menjadi omongan banyak orang.


“Ya sudah, Ndri. Kamu juga duduk di sini saja.” Kalandra juga membimbing dokter Andri untuk duduk persis di sebelah Nissa yang bersebelahan dengan Widy.


Setelah memastikan semuanya duduk kecuali pak Haji, Kalandra langsung mengajak Arum duduk. Ia dan sang istri duduk bersebelahan. Arum duduk di sebelah Widy, sementara di sebelah Kalandra masih ada kursi kosong di sebelah kursi bekas pak haji.


“Ya sudah, saya duduk di meja jadi tumpeng juga enggak apa-apa, yang penting masih bisa dekat Dek Widy!” sergah pak Haji bersemangat dan memang langsung oleng jika cintanya kepada janda incaran, belum juga diterima.


“Oleng udah kalau ketemu janda menggoda!” sindir Septi.


“Duduk, Mbah. Berani Mbah duduk di meja, bisulan segunung nanti pantat Mbah!” tegur Kalandra yang kali ini bertutur serius.


“Sayang, ambilin dua taflonku yang ada di bagasi mobilku dong. Ini si Mbah Haji enggak ngerti-ngerti!” sebal Arum.


“Oke, Dek Arum. Oke. Jangan sampai, pusaka keramasmu, eh maksudnya pusaka keramatmu, bikin aku mirip Fajar. Aku takut ... aku takut tapi aku tetap sayang janda.” Pak Haji buru-buru duduk di bekasnya duduk.


“Janda yang mana? Terus Bu Fatimah bagaimana?” balas Kalandra. Di sebelahnya, pak Haji tampak kebingungan melirik ibu Fatimah maupun Widy. Pria itu terlalu sulit memilih.


“Ini sudah mau gelap, loh,” ucap Arum mengingatkan lantaran awal mula kedatangan pak Haji yang membawa keluarga ibu Fatimah ke sana, untuk potong tumpeng, syukuran tak jadi menikahnya antara Septi dan Fajar.


“Mirip masa depan hubunganku dan dek, Widy.” Pak Haji menunduk sedih dan tentu saja hanya sedang berpura-pura demi meluluhkan hati janda incarannya. “Namun tenang Dek, saya bakalan sewa lampu. Lampu penerang masa depan!” yakin pak Haji kemudian.


“Alhamdullilah, enggak mempan!” lirih Widy masih sibuk membuangi setiap biji jeruk yang ia suapkan kepada Nissa.

__ADS_1


“Ya Alloh, Dek. Andai kita bisa bertukar tempat. Maulah disuapi gitu sebelum puasa ramadan!” rengek pak Haji lagi.


“Ya sudah Mbah. Tunjukan pesonamu!” tegas Kalandra yang kemudian berkata, “Pimpin doa buat syukuran enggak jadi menikahnya Septi dan si pongah Fajar!”


“Oalah, oke! Urusan ngaji, saya ahlinya.” Pak Haji beneran bersemangat, sekalian ingin tebar pesona kepda Widy.


“Mbak, Mbak ... itu tadi beneran enggak salah omong? Di dunia ini yang namanya Fajar Pongah, hanya satu dan itu mantan yang menipu aku, kan?” bisik Widy yang memang langsung buru-buru memastikan kepada sang kakak.


Arum nyaris tertawa, tapi ia juga buru-buru membenarkan.


“Masyaaaa Alloh, Mbaaaaaak! Padahal ngakunya calon istrinya yang namanya Septi, mirip bidadari. Anak orang kaya dan orangnya enggak perhitungan kayak aku. Sudah janda, orang susah, kalau enggak kerja jungkir balik enggak bisa makan, perhitungan pinjam uang dikit diungkit-ungkit, sok cantik!” balas Widy masih berbisik-bisik.


“Sumpah Fajar Pongah bilang gitu?” balas Arum yang sudah gemetaran menahan emosi.


“Sumpah, Mbak! Nih kalau Mbak enggak percaya! Aku simpan WA dari dia. Belum ada dua hari!” Widy buru-buru mengeluarkan ponselnya dari tas selempang warna kuning yang dipakai. Ia langsung membuka WA dari Fajar yang baru saja ia ceritakan, kepada Arum. Detik itu juga, sang Kakak terlihat makin emosional. Arum langsung memberikannya kepada Kalandra.


“Enggak ada tobat-tobatnya tuh orang. Hanya karena chat dicuekin enggak dibalas, dia gitu.” Arum masih berbisik-bisik di tengah doa yang masih pak Haji pimpin.


“Kenapa enggak diblokir saja nomornya?” balas Kalandra kepada sang istri.


“Kan memang masih ada sisa pinjaman dia ke Widy. Tiga ratus ribu kan ibarat hasil dagang dua sampai tiga hari! Itu pun kerjanya setengah modar dari pagi ketemu pagi lagi!” balas Arum.


“Ya sudah. Anggap saja uang sisanya uang buat solawatan. Biar jadi urusan Fajar sama Tuhannya. Nanti aku ganti.” Kalandra langsung mengeluarkan dompet dari saku celana bahan sebelah belakangnya. “Daripada enggak diblokir, nanti yang ada jadi sumber penyakit hati bahkan mental Widy sekaligus kita!”


“Besok aku mau datengin dia lagi ke bank. Aku mau bawa papah lagi!” kesal Arum yakin.

__ADS_1


__ADS_2