Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
110 : Luka Yang Paling Menyakitkan : Antara Rindu dan Menahan Malu


__ADS_3

Sorenya, Kalandra yang baru pulang, buru-buru mencari istrinya. Tanpa bersuara, kehadirannya yang melangkah cepat sambil menenteng dua tas kerja sekaligus, diberi kode keras oleh sang mamah yang ada di dapur.


Di dapur, ibu Kalsum tengah meracik bahan bumbu bersama ketiga pekerja, menunjuk-nunjuk ke arah depan sebelah kiri yang dengan kata lain, kamar Kalandra sendiri.


Setelah mengangguk-angguk, Kalandra langsung pergi dari sana. Awalnya, pria itu menerobos pintu kamarnya yang tidak dikunci, dengan buru-buru. Namun setelah mendapati sang istri yang meringkuk membelakangi pintu malah tidur, Kalandra langsung melakukan segala sesuatunya dengan hati-hati. Sekadar melangkah pun, pria itu melakukannya dengan mengendap-endap. Dan setelah meletakan kedua tas kerjanya di meja kerja, Kalandra sengaja menutup jendela berikut gorden yang membuat sorot cahaya matahari sore, nyaris mengenai wajah Arum.


Kalandra sengaja menyalakan AC untuk menjaga kesegaran udara di sana, sebelum ia masuk kamar mandi untuk mandi. Seperti biasa, apalagi setelah mengetahui sang istri hamil, ia baru berani mendekati setelah yakin dirinya benar-benar steril. Jadi, setelah sampai keramas dan ia pun sudah ganti pakaian, ia baru mendekati Arum. Di ranjang bayi depan Arum, Aidan juga tak kalah lelap dari sang mamah.


“Yang? Bangun ... bentar lagi magrib.” Kalandra yang berbicara lirih, memeriksa kedua tangan Arum maupun kedua kaki istrinya itu.


Kedua tangan Arum maupun kedua kakinya tidak ada yang terluka bahkan sekadar lecet, setelah hari ini Kalandra mengetahui istrinya baru saja melakukan penggerebekan kepada Fajar. Videonya sampai viral karena beberapa orang mengunggahnya ke FB. Namun tak seperti biasanya, Arum tidur sore-sore. Mirip Bilqis yang saat itu karena sangat kelelahan. Kalandra jadi khawatir.


“Aku mau makan es krim ih, Mas!”


Itulah kalimat pertama yang Arum ucapkan seiring ia yang berangsur duduk.


“Ih, Mas. Kok kamu natap akunya gitu? Aku beneran enggak kesurupan, ih. Ini aku ketiduran setelah ngeloni Aidan. Soalnya, rasanya capek banget juga. Badan nggreges gitu, ... ini kayaknya, aku sudah mulai rasain sensasi hamil.” Kali ini, Arum memang mengomel. Tapi tentu saja tidak separah dari ketika Arum mengomel kepada orang yang membuat wanita itu spaneng, dan terakhir itu korbannya ya si Fajar.


Omong-omong si Fajar, Arum langsung ngakak. Kalandra yang seolah tahu alasan sang istri tertawa, langsung membekap mulut istrinya menggunakan jemari tangan kanannya.


“Amit-amit, Yang.”


“Iya, Mas. Tapi ya gitu ....”


“Sudah, jangan dibahas. Sekarang jangan diingat-ingat saja. Yang penting sudah puas, kan? Viral itu videonya.”


“Belum, Mas. Belum beres sebelum Widy dapat ganti rugi.”


“Tapi kayaknya, korban-korbannya juga bakalan bermunculan, dan mereka akhirnya sadar kalau selama ini, Fajar hanya GIGELO!”


Ucapan Kalandra barusan tetap membuat Arum tertawa walau pria itu masih membekap mulut istrinya menggunakan jemari tangan kanan. Sedangkan tangan kiri Kalandra, sibuk mengelus perut Arum di tengah mulutnya yang tak henti berkata, “Amit-amit jabang bayi ....”

__ADS_1


“Mas ini aku udah mandi, belum?” tanya Arum setelah wanita itu berhenti tertawa, meski setiap Arum teringat pada nasib Kalandra, wanita itu juga akan kembali tertawa.


“Ya enggak tahu, kan aku baru pulang. Aku godokin air buat kamu mandi lagi, mau?” balas Kalandra.


“Tapi aku masih wangi, Mas,” yakin Arum sambil mengendus Aroma tubuhnya sendiri.


Kalandra langsung menahan tawanya, menertawakan Arum. “Mau mandi lagi enggak?”


“Ya sudah, Mas. Aku mau mandi lagi saja,” balas Arum yang kemudian merapikan rambutnya dan menguncirnya.


“Apa mau aku panggilin tukang urut? Badan kamu nggreges meriang gitu, kan?” tawar Kalandra yang padahal baru akan meninggalkan Arum.


Arum langsung menggeleng. “Enggak, Mas. Enggak perlu. Nanti kalau memang kerasa banget, baru deh aku panggil tukang urut!”


“Ya sudah, ... nanti biar aku saja yang jadi tukang urut buat kamu!” ucap Kalandra di sela kesibukannya menahan tawa.


“Nah, mending gitu saja, Mas!” sergah Arum bersemangat walau ia juga menjadi kembali menahan tawa. “Soalnya jujur, kalau urut-urut ke orang, meski sama-sama perempuan, aku isin, Mas. Malu.”


“Ya orang, dan Mas suami aku. Jadi ya walau masih malu, ya mending loh!” balas Arum.


Kalandra yang kembali menahan tawanya kemudian berkata, “Oh iya ... aku belum peluk kamu. Pantes rasanya masih berat banget! Kamu tahu, kan, kalau luka paling menyakitkan itu rindu?”


Walau tersipu, Arum tetap sibuk menahan tawa. Ia yang membiarkan Kalandra memeluknya malah berkata, “Luka paling menyakitkan itu nahan malu, Mas. Kayak kasus si Fajar, setelah dia histeris aku kejar, dia kepleset dan giginya patah dua. Jadi pongah.”


“Jujur pas tahu videonya, aku ya langsung ngakak. Apalagi di videonya pun langsung pada ngakak. Tapi kalau ingat kamu hamil, aku langsung istighfar, Yang!” balas Kalandra yang kemudian juga menjadi terbahak.


Arum juga menjadi tertawa sampai lemas. “Itu videonya, emang heboh banget, yah, Mas?”


“Rame. Banget. Tapi istrinya tetap bela karena mungkin sudah tahu, usaha sampingan suaminya jadi GIGELO!” balas balas Kalandra.


“Oalah ... pancen angel kalau kayak gitu, Mas. Angel yang maksudnya susah yah, Mas. Bukan malaikat!” balas Arum yang pada akhirnya tertawa. Membuat sang suami makin terpingkal-pingkal saja.

__ADS_1


“Namun kasus semacam ini memang banyak, Yang. Apalagi kan dua ribu dua puluh tiga, ekonomi dunia saja sudah diprediksi gelap. Manusia-manusia gelap macam Fajar, otomatis menghalalkan segala cara buat bisa bertahan.”


Sore menjelang petang, setelah Arum juga sampai kembali mandi menggunakan air hangat yang Kalandra siapkan, mereka sengaja jalan-jalan di kompleks rumah. Tak sampai menggunakan kendaraan, benar-benar jalan kaki tanpa membawa Aidan yang memang masih tidur. Bocah itu dijaga oleh ibu Kalsum. Satu hal yang tidak akan pernah Arum lupa dari tanggapan mamah mertuanya itu. Karena setelah mengetahui apa yang terjadi pada Fajar, ibu Kalsum berdalih bangga kepada Arum.


“Yuk lihat renovasinya sudah sampai mana,” ajak Kalandra yang memang sampai menggandeng Arum.


Saking akurnya hubungan Arum dan Kalandra, tetangga yang melihat, termasuk itu bidan yang mengurus kehamilan Arum, sampai memuji. Mereka berdalih selalu merasa adem di setiap mereka melihat kebersamaan Kalandra dan Arum.


“Satu bulan lagi, harusnya sudah bisa beroperasi, kan, Mas?” tanya Arum.


“Bentar coba, aku lihat,” balas Kalandra.


Mereka baru sampai di depan gerbang rumah Kalandra yang memang sudah sampai direnovasi habis-habisan menjadi rumah makan yang jatuhnya malah mirip restoran mewah.


“Ih, Mas! Ada tukang sempol! Telur gulung sama baso goreng! Aku mau!” rengek Arum tiba-tiba.


Di seberang mereka, abang-abang tukang sempol dan aneka gorengan, memang tengah jadi rebutan anak-anai yang mau berangkat ngaji.


“Oke, oke ... kita antre! Tuh anak-anak saja antre!” Kalandra membawa Arum mengantre.


“Mamah sama Papah kayaknya juga suka. Nanti kita beliin sekalian,” ucap Kalandra.


Setelah semua anak-anak yang jumlahnya ada sebelas bocah, pergi, giliran Arum dan Kalandra yang maju.


“Tinggal dikit, yah, Mas?” tanya Arum basa basi.


“Iya, Mbak. Tinggal ini,” ucap penjualnya santun.


Suara lembut dari pria muda bertubuh gempal di hadapannya, membuat Arum terusik. Arum menatap saksama wajah di hadapannya, dan ....


“Di-ka? Sekarang kamu jualan keliling?” sergah Arum.

__ADS_1


Kalandra yang juga langsung penasaran, berangsur melongok wajah si pria yang sebagiannya memang tertutup topi. Benar, itu wajah Dika. Wajah yang memang sangat mirip dengan wajah yang ada di foto karena biar bagaimanapun, sebelumnya, mereka belum pernah bertemu secara langsung.


__ADS_2